Home Pemuda & Mahasiswa GENERASI MUDA SEBAGAILOKOMOTIFPEMBANGUNAN BANGSA

GENERASI MUDA SEBAGAILOKOMOTIFPEMBANGUNAN BANGSA

1,028
GENERASI MUDA SEBAGAILOKOMOTIFPEMBANGUNAN BANGSA

GENERASI MUDA SEBAGAILOKOMOTIFPEMBANGUNAN BANGSA

GENERASI MUDA SEBAGAILOKOMOTIFPEMBANGUNAN BANGSA

TEPAT pada tahun 1928, para pemuda mengikrarkan sumpahnya, mulai dari Young Java, Young Sumatera dan Young Ambon, bahwa seluruh pemuda yang ada di Indonesia harus bersatu.

Tujuan dari ikrar sumpah ini adalah bagaimana pemuda bisa bersatu dalam segala hal. Tidak saja berjuang dalam hal merebut kemerdekaan dari tangan penjajahan Belanda ketika itu, akan tetapi juga bersatu dalam membangun bangsa Indo­nesia tercinta. Karena generasi muda ini merupakan masa depan pemimpin bangsa dan juga sebagai lokomotif pembangunan bangsa.

Untuk itu, Koordinator Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kabupaten Rokan Hulu Syamzaimar  SP MSi menilai, sudah sepatutnya masyarakat berterima kasih kepada pemuda terdahulu, yang telah banyak berkontribusi dan mencurahkan pemikirannya dalam mempenuangkan Republik Indonesia,

Dengan ikrar janji itu pula, hari ini selu­ruh pemuda di Indonesia bisa dapat ber­satu padu dalam melanjutkan pembangunan bangsa. Kalau dulu pemuda harus berkorban darah dan nyawa, sekarang pe­muda cukup berkorban untuk mengisi pembangunan. "Sudah sepatutnya kita bersyukur? ujarnya.

Riau sampai hari ini memang masih memiliki kekayaan alam yang melimpah. Mulai dari minyak bumi, perkebunan, pertanian hingga sampai kepada sektor perikanan. Dengan hasil tersebut, tentunya ini merupakan kesempatan terbesar bagi generasi muda, Riau umumnya dan Kabu­paten Rokan Hulu khususnya untuk dap­at berkarya. Sehingga dengan karya yang ada itu, bisa menjadi pemersatu ikatan pe­muda itu kembali.

Pemuda tidak zamannya lagi berpikir bagaimana bisa bekerja di salah satu perusahaan setelah menyelesaikan pendidikan. Akan tetapi yang harus dipikirkan adalah bagaimana bisa berkarya dan membuka lapangan usaha baru.

Kekayaan alam yang dimiliki Riau hari ini diyakini cepat atau lambat akan habis, karena setiap harinya terus dikerok, Untuk mengatasi persoalan ini ke depan, maka generasi muda tidak boleh lagi menggantungkan hidupnya pada alam. Generasi muda harus bisa untuk menggantungkan hidupnya pada sumber daya manusia yang sudah dimiliki.

"Ini bisa kita lihat di beberapa negara, seperti China, Singapura, dan Amerika. Mereka tidak punya lahan sawit, tapi mereka punya minyak sawit. Ini bisa karena mereka menggunakan ilmu. Sementara Riau yang punya lahan dan yang punya minyak sawitnya justru menjual CPO-nya ke negara luar. Lalu kemudian Riau beli kembali minyak gorengnya dengan harga yang lebih tinggi. Ini terjadi karena sumber daya manusia yang kita dimili­ki belum mampu untuk itu," ucapnya. (adv)

Profil 

                       

Nama                                       : Syamzaimar SP MSi

TTL                                         : Bunga Tanjung, 09 Juli 1974

Pendidikan                              : Strata Dua (S2)

Istri                                          : Asmah

Anak                                       : 1. Aulia Delfakhira

                                                  2. Fadhila Nurul Gafizah

                                                  3. Azzakiya Mufidah Kusuma

Riwayat Pendidikan               : SD Bunga Tanjung 1969

                                                      MTs KotaTengah 1991

                                                      SMAN 1 Kota Tengah 1994

                                                     Pesantren Arroyan, Jamblang, Cirebon

Perguruan Tinggi                     : S1 Uniwersitas Lancang Kuning 2004

                                                        S2 Universitas Riau 2009

 

Sumber : RIAU POS, 28 OKTOBER 2015