Home Opini \"Jangankan Internet, Menelepon Saja Kami Susah\"

\"Jangankan Internet, Menelepon Saja Kami Susah\"

26
\"Jangankan Internet, Menelepon Saja Kami Susah\"

 

   
DAMPAK COVID-19

"Jangankan Internet, Menelepon Saja Kami Susah"

 Rabu, 29 Juli 2020 - 10:28 WIB

PEKANBARU (RIAUPOS.CO)  -- Senyum riang terpancar dari salah seorang murid yang menyambut kedatangan gurunya, Senin (27/7) pagi. Dia adalah Aditya Saputra (9), salah seorang murid Sekolah Luar Biasa (SLB) Sekar Meranti, di Kecamatan Rangsang Barat Kepulauan Meranti.

Belum sempat gurunya masuk ke rumah, ia bergegas mengambil buku dan meja kecil yang dibuat seadanya oleh sang ayah. Tidak ada sedikit pun keluh kesah terpancar dari wajahnya. Lembar demi lembar buku tercerna. Seolah-olah menjadi asa di tengah keterbatasan mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Karena keterbatasan itu juga, belajar tatap muka terpaksa ditempuh. Tidak seperti daerah lain yang difasilitasi teknologi dan perangkat-perangkat yang mumpuni. Saat itu dia dituntun oleh sang guru yang kerap dipanggilnya Bunda Rameliana.

"Mengunjungi setiap kediaman murid secara bergiliran terpaksa ia lakukan. Kerena tidak memiliki fasilitas untuk belajar secara daring dan luring (luar jaringan, red) seperti sekolah lain. Jangankan fasilitas internet, di sini nelepon saja susah," kata Bunda Rameliana.

Sehingga dapat dikatakan bertolak belakang dengan edaran dari Kementerian Pendidikan. Setiap sekolah mewajibkan belajar secara daring dan luring di rumah masing masing.

"Kita harus tetap menjaga SOP kesehatan. Social distancing sebagai upaya pencegahan Covid-19, makanya tidak kami terapkan sistem kelompok, me­lainkan mendatangi setiap rumah murid," ungkapnya.

Diambahkannya, meski corona menjadi pandemi yang mempengaruhi kondisi masyarakat, namun hiruk pikuknya seperti tidak sampai ke telinga para murid. Mereka tetap menikmati hari tanpa sedikit pun kekhawatiran. Kebijakan merumahkan aktivitas sekolah malah disambut gembira.

 
 

"Begitulah anak-anak, bermain masih jadi fokus mereka," ujarnya.

Ditambahkan oleh Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Sekar Meranti, Kecamatan Rangsang Barat Syafrizal, kebijakan atas pola belajar tersebut berjalan lebih kurang sebulan.

"Sudah berjalan empat minggu pola ini kami laksanakan. Sampai saat ini tidak ada masalah. Malah para murid dan guru lebih fokus mengajar dan belajar," ujar Syafrizal.

Walaupun demikian ia tidak menyangkal jika bertambahnya beban para guru. Selain waktu, biaya operasional juga ikut bertambah.

"Memang terbilang berat, tapi kita tidak persoalkan yang terpenting ini semua demi anak-anak bisa mendapat pelajaran secara efektif," tutur Syafrizal.

Dikatakan Syafrizal saat ini ada sembilan guru yang mengajar di sekolah yang dipimpinnya, empat orang berstatus sebagai tenaga honor yang sedang magang. Selebihnya tetap. Sementara itu jumlah murid mereka ada 45 orang. Menurutnya jika dibagi, setiap guru harus mendatangi lima kediaman murid-muridnya.

"Setiap guru mulai bergerak sejak pukul delapan pagi. Dan baru bisa pulang tengah hari," ujarnya.

Walaupun demikian Syarizal merasa puas dengan metode yang dilakukan pihaknya, mengingat dengan begitu para orang tua juga terbantu dan bisa sekalian mendapatkan bekal untuk mendidik anak-anak mereka.

Siapkan Beberapa Alternatif
Kepala Dinas Pendidikan Riau Zul Ikram mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan terkait keluhan pelaksanaan sekolah secara daring atau online untuk tingkat SMA sederajat di Riau. Namun demikian, jika nantinya ada keluhan berupa kesulitan pelaksanaan sekolah daring, maka pihaknya sudah menyiapkan beberapa cara.

"Alhamdulillah sampai saat ini belum ada keluhan tentang pelaksanaan sekolah daring," kata Zul Ikram.

Lebih lanjut dikatakannya, jika nantinya ada keluhan terkait pelaksanaan belajar daring, pihaknya sudah menyiapkan beberapa skema. Yakni dengan menerapkan sekolah secara langsung atau luar jaringan (luring).

"Kalau permasalahannya terkait jaringan, maka bisa saja berkemungkinan dilakukan secara langsung atau tatap muka, namun dengan menerapkan protokol kesehatan," sebutnya.

Namun demikian, menurut Zul, saat ini secara umum daerah di Riau sudah mencukupi di bidang koneksi internet. Hanya tinggal beberapa daerah saja yang kondisi jaringan internetnya masih fluktuatif.

"Secara umum pelaksanaan belajar daring masih lancar. Saya hingga saat ini belum ada terima laporan," ujarnya.

Gunakan Sistem Luring
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Dumai membuat kebijakan terkait pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dilaksanakan di tengah Pendemi Covid-19. Pembelajaran jarak jauh dilakukan dengan dua sistem. Yakni daring dan luring. Dua sistem itu sudah berjalan sejak pandemi Covid-19 mewabah dan sekolah-sekolah diliburkan.

"Memang tidak semua orangtua murid yang mampu dan bisa menggunakan smartphone untuk belajar dengan sistem online makanya kami juga gunakan sistem luring," ujar Kadisdikbud  Kota Dumai, Syaari.

Ia mengatakan sistem luring yakni orangtua murid mengambil tugas-tugas yang diberikan guru ke sekolah. Selain itu, ada juga sekolah yang berada di pinggir kota yang akses internetnya terbatas juga menggunakan sistem luring. Jadi tidak dipaksa harus menggunakan sistem online.

"Makanya kami menyebutnya dengan sistem PJJ di tengah pandemi Covid-19. Alhamdulillah, selain itu tidak ada permasalahan dan kendala yang lainnya," tuturnya.

Di Kabupaten Kuansing, untuk proses belajar mengajar dengan cara tatap muka memang tidak dilakukan. Sehingga sekolah di sana masih belajar daring.

Menurut Kadisdikpora Kuansing Jupirman SPd melalui Sekretaris Masrul Hakim mengakui bahwa ada beberapa persoalan seperti jaringan internet. Banyaknya sekolah yang menggelar sistem luring dikarenakan jaring internet di pelosok belum bagus. Sehingga tidak memungkinkan untuk menggelar pembelajaran secara daring.

"Kendalanya karena jaringan internet yang belum merata. Sehingga kadang siswa mengambil tugas ke sekolah," kata Masrul.

Masrul membeberkan, jumlah SD yang bisa menggelar belajar mengajar secara daring hanya sedikit. Pembelajaran lebih banyak luring (offline). Dari data Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kuansing, dari 244 SD, hanya 26 SD yang bisa me­nerapkan pembelajaran secara daring. Sisanya, luring. Begitu juga dengan SMP yang hanya sebagian kecil yang bisa daring.

Kalau untuk evaluasi dari kementerian, lanjut Masrul, pihaknya menyebutkan belum ada. Tetapi implementasi di lapangan kita buat surat edaran bersama kepala Kemenag.

"Edaran tentang panduan penyelenggaraan proses belajar di Kuansing. Di situ juga kami sampaikan tugas kepala sekolah dan guru. Termasuk ada imbauan untuk wali murid dan murid," kata Masrul.

Di Kabupaten Kampar masih ada keluarga pelajar yang mengeluhkan ketidakmampun membeli paket internet bagi anak-anaknya. Hal ini memunculkan sebuah imbauan dari perwakilan orang tua kepada mereka yang punya Wifi atau hot spot internet untuk membebaskan password-nya. Salah satu orang tua yang melakukannya adalah Nur Adlin. Warga Kota Bangkinang ini menyebar sebuah video imbauan ke sejumlah grup media sosial lokal Kampar. Video tersebut beredar sejak akhir pekan kemarin.

Dalam video berdurasi sekitar dua menit tersebut, pria yang akrab disapa Delin mengimbau kepada para para orang tua atau siapa saja yang memiliki Wifi di rumah untuk membebaskan password-nya. Ajakan Delin ini berangkat dari keluhan sejumlah orangtua pelajar kepadanya. Pembebasan password Wifi atau membantu dalam berbagai bentuk agar pelajar kurang mampu dapat memanfaatkan jaringan internet ini menurut Delin sangat penting.

"Sekarang pendidikan kita menggunakan sistem daring. Namun ada sebagian masyarakat memiliki keterbatasan di dalam memiliki paket data atau memasang wifi di rumah. Pembebasan password atau memberikan akses hot spot ini adalah bentuk kepedulian kita sesama bangsa yang sedang berada dalam kondisi yang sulit," kata Delin yang memiliki kafe ber-Wifi ini.

Izinkan Jaringan Internet Kantor Pemerintah Dimanfaatkan
Penjabat Sekretaris Daerah Kota (Pj Sekdako) Pekanbaru H Muhammad Jamil SAg MAg MSi mempertimbangkan untuk memberikan izin jaringan hot spot internet di kantor jajaran Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru dimanfaatkan warga untuk anaknya bisa sekolah dalam jaringan (daring). Dia akan memastikan terlebih dahulu apakah hingga ke tingkat kantor kelurahan sudah tersedia hot spot jaringan internet.

Di Pekanbaru, sejak Maret lalu sudah diterapkan pola pembelajaran online ketika pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) merebak. Dalam dua pekan terakhir, wacana untuk dilakukan sekolah sekali sepekan sempat dibahas intensif karena Pekanbaru berada dalam zona kuning penyebaran penyebaran Covid-19.

Namun, terjadinya peningkatan jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 baru sejak 20 Juli lalu membuat rencana ini ditunda. Dirinci, 20 Juli kemarin bertambah tiga kasus dari sebelumnya 98 menjadi 101 kasus. Kemudian, sehari berselang 21 Juli terjadi kembali penambahan tiga kasus membuat angka positif menjadi 104 kasus. Lonjakan kemudian terjadi 22 Juli lalu, ini dengan penambahan 24 kasus.  Terakhir, Senin (27/7) terjadi penambahan empat kasus membuat total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 menjadi 149 orang dan Kota Pekanbaru kembali berada pada zona merah penyebaran Covid-19.

"Sebelum ada penambahan klaster baru ini, kami berencana kalau sudah hijau zonanya kami akan berlakukan sekolah sekali sepekan. Ternyata penambahan luar biasa. Rencana itu masih tertunda karena kita sekarang masih zona merah," kata Jamil pada Riau Pos, Senin (27/7).

Pembelajaran online yang sudah berbulan-bulan berjalan sendiri mulai terasa memberatkan wali murid. Karena semua keperluan belajar, seperti kuota internet hingga smartphone yang akan digunakan anak belajar harus dipenuhi sendiri tanpa ada bantuan dari pemerintah.

Ketika ditanya apakah Pemko Pekanbaru menyiapkan fasilitas penunjang belajar online bagi masyarakat umum, dia menyebut belum.

"Masalah fasilitas untuk belajar di luar sekolah, Pemko Pekanbaru sampai sekarang belum membuat tempat tertentu yang bisa dijadikan hotspot untuk belajar," ucapnya.

Namun, dia menegaskan fasilitas kantor yang memiliki jaringan hot spot boleh dan bisa dimanfaatkan untuk belajar online oleh masyarakat.

"Tapi di fasilitas perkantoran yang ada seperti di MPP (Mal Pelayanan Publik, red) sebetulnya bisa kita gunakan bagi anak-anak yang memerlukan jaringan hot spot. Kalau mau dimanfaatkan silakan saja dan dapat digunakan untuk semua orang," tegasnya.

Sedangkan untuk di kantor milik Pemko Pekanbaru yang dekat dengan permukiman warga seperti kantor camat dan lurah, dia terlebih dahulu akan memastikan ada atau tidak jaringan hot spot internet yang bisa digunakan masyarakat.

"Nanti kami cek dulu sampai ke tingkat kelurahan apakah sudah memasang jaringan hot spot agar bisa digunakan juga oleh masyarkat. Tapi rata-rata di kecamatan sudah ada jaringan hot spot," imbuhnya.

Sementara itu, sebelumnya pembahasan untuk mematangkan rencana sekolah sekali sepekan digesa jajaran Pemko Pekanbaru. Bahkan, penerapan rencana ini sudah pada tahap Wali Kota (Wako) Pekanbaru Dr H Firdaus ST MT menyurati Kemendikbud agar rencana ini mendapat lampu hijau. Namun penundaan kini dilakukan dan Kemendikbud urung disurati.

"Kan zona merah lagi.  Kalau merah tidak bisa kita kirim," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Pekanbaru Ismardi Ilyas.

Dia kemudian menjelaskan bahwa rencana ini dicetuskan karena Pekanbaru saat itu sekitar dua pekan lalu masih berada di zona kuning, dengan kondisi bahaya penularan rendah.

"Kita mencoba untuk menawarkan ke pusat kalau kuning. Kemarin kan kita kuning. Tapi sekarang kan merah lagi. Makanya kita tahan dulu. Karena kalau merah pasti tidak dikasih. Jadi sekarang tetap pembelajaran online. Pembelajaran online diakuinya memang tak maksimal. Namun, hanya cara itu yang kini bisa dilakukan. Pasti tidak maksimal. Tapi sekarang kita dalam minimal kita maksimalkan," imbuhnya.

Pembelajaran online saat ini dikeluhkan wali murid. Karena biaya penyiapan kuota internet yang diperlukan juga tidak sedikit. Belum lagi smartphone yang diperlukan tak semua wali murid bisa menyiapkan khusus untuk anaknya.

Ismardi saat ditanyakan menyebut Pemko Pekanbaru memberi izin dana BOS untuk digunakan sekolah membeli kuota internet. Tapi Pemko Pekanbaru belum menyiapkan fasilitas khusus untuk fasilitas pembelajaran online siswa di rumah.

"Belum (disiapkan khusus, red). Sekarang masih yang kita izinkan dana BOS bisa digunakan paket.  Karena sekokah yang tahu apa kebutuhannya. Tiap sekolah tidak sama," ungkapnya.

Sulap Kantor Desa Jadi Tempat Belajar Online
Kepala Desa Batang Duku, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis memfasilitasi kantor desa sebagai tempat belajar online bagi para siswa setempat yang memerlukan jaringan internet untuk belajar.

Kendala susahnya jaringan internet di desa ini menjadi hambatan bagi para siswa dalam menjalani proses belajar mengajar daring di tahun ajaran baru 2020/2021. Inilah yang mendorong pemerintah desa tersebut untuk menyediakan fasilitas secara gratis.

"Masa pandemi ini anak-anak kita mesti belajar daring. Terpanggillah hati nurani untuk membantu penyediaan fasilitas dan jaringan, kebetulan basis saya juga di pendidikan," kata Kepala Desa Batang Duku Sapri SPdI, dihubungi Riau Pos, Senin (27/7).

Dia menjelaskan, desa yang memiliki luasan 34.000 hektare ini tak seluruhnya terjamah oleh jaringan internet, apalagi yang berada di pelosok. Makanya inilah yang mendorong pihaknya untuk menyediakan fasilitas dan Wi-Fi di kantor desa agar bisa dinikmati anak bangsa.

"Di desa kita masih ada wilayah yang tidak dapat jaringan internet. Jangankan internet, jaringan telepon aja pun susah, mesti manjat-manjat baru dapat. Inilah yang menjadi dorongan tadi," ujarnya.

Masa pandemi ini mengharuskan para siswa untuk belajar secara daring. Di desa tersebut, ada sekitar 25 anak setempat yang memanfaatkan fasilitas itu setiap hari. Mereka berasal dari segala tingkatan, mulai dari SD hingga mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan.

Mantan wartawan ini sadar, bahwasanya inilah sebagai upaya yang dilakukannya untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat dan anak-anak desa Batang Duku sendiri.

"Selain wifi kita juga sediakan tempat. Yaitu di aula, balai pelatihan, ruang rapat, ruang perpustakaan dan di ruang kepala desa sendiri. Ini sudah seminggu berjalan," tuturnya

Selain belajar daring, para siswa yang menikmati fasilitas desa juga diharuskan mengikuti kegiatan yasinan setiap Jumat yang menjadi program rutin perangkat desa tersebut.  "Jadi mereka kami upayakan terdidik juga moralnya," ungkap­nya.(wir/sol/hsb/yas/ali/end/p)

Sumber : RIAUPOS.CO

- Pucuk Suku Nan Sepuluh -
Banner Pucuk Suku Nan Sepuluh
- Makna dan Arti Logo -
Banner makna Logo luhak kepenuhan
Gssb
Banner gssb
Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
New Poster Luhak Kepenuhan Beradat
Jadwal Sholat & Imsakiah 1441 H
Banner Waktu Sholat dan Imsakiyah 1441 H
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Petuah Ketua LAM Rohul
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Sambutan Ketua LKA Kepenuhan
Banner Ketua LKA Kepenuhan
Banner Ketua LKA Kepenuhan
Sekapur Sirih Mamak Sutan Kayo Moah
Banner Sekapur Sirih
Banner Sekapur Sirih
Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Banner Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Banner Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Add
Banner ADD
Banner ADD
One Day One Juz
Banner One Day One Juz
Banner One Day One Juz
Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur
Banner Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur
Banner Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur
Banner Gerakan Negeri Beradat
Banner Gerakan Negeri Beradat
Banner Buku Super Quotion
Banner Buku Super Quotion
Banner Lam Kabupaten ROkan Hulu
Banner Lam Kabupaten ROkan Hulu
Banner LKA Kepenuhan
Banner LKA Kepenuhan