Home Opini Jenderal Soleimani dan Opsi Perang Amerika-Iran

Jenderal Soleimani dan Opsi Perang Amerika-Iran

27
Jenderal Soleimani dan Opsi Perang Amerika-Iran

Anggota Garda Revolusi Iran memegang foto almarhum Mayor Jenderal Iran Qassem Soleimani, selama protes menentang pembunuhan Soleimani, kepala Pasukan elit Quds, dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis, yang tewas dalam serangan udara di Baghdad bandara, di depan kantor PBB di Teheran, Iran 3 Januari 2020. Soleimani, seorang jenderal berusia 62 tahun yang mengepalai pasukan elit Quds, dianggap sebagai sosok paling kuat kedua di Iran setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. [WANA (Kantor Berita Asia Barat) / Nazanin Tabatabaee via REUTERS]

 

Senin, 6 Januari 2020 08:07 WIB

Ibnu Burdah
Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam UIN Sunan Kalijaga

Para pemimpin dan publik Iran geram atas pembunuhan jenderal kebanggaan mereka, Qassem Soleimani. Pemimpin tertinggi negeri itu, Ayatullah Ali Khamenei, menyatakan Iran akan membalas dengan keras aksi brutal di bandar udara Bagdad tersebut. Kemarahan pemimpin spiritual Iran ini sepertinya mencerminkan kemarahan luas masyarakat Syiah di Timur Tengah, bahkan dunia.

Sebagaimana luas tersiar, Jenderal Soleimani, pemimpin Brigade Al-Quds dalam Garda Revolusi Iran, terbunuh oleh serangan rudal tak lama setelah pesawatnya mendarat di Bagdad. Pemerintah Amerika Serikat mengakui bahwa aksi itu dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump. Trump bahkan mengibarkan bendera Amerika di akun Twitter-nya sebagai pernyataan kemenangan. Pentagon menyebut Soleimani sebagai orang yang bertanggung jawab atas terbunuhnya ratusan tentara Amerika dan sekutunya serta ribuan orang lain yang terluka.

Soleimani memang merupakan seorang kombatan sejati yang dielu-elukan di Iran. Sejarah penyebaran pengaruh Iran di kawasan serta solidnya kekuatan poros Syiah di Timur Tengah dalam konflik Suriah, Yaman, Irak, dan lainnya tak lepas dari tangan dingin tokoh yang selama hidupnya berada di garis depan perang ini. Bagi musuh-musuh Iran, tokoh ini jelas dianggap sebagai monster pembunuh yang menebar kematian di mana-mana. Ia memang aktif di hampir semua front perang di luar negeri yang melibatkan Iran. Ia merupakan simbol sekaligus kunci penting yang menghubungkan Teheran dengan poros-poros sekutunya di berbagai kawasan.

 

Apakah pembunuhan sang jenderal akan mendorong Iran mendeklarasikan perang terhadap Amerika? Apakah Iran memiliki kapasitas untuk berhadapan dengan Amerika, yang memiliki banyak pangkalan militer dan sekutu di Timur Tengah?

Iran memiliki cukup kapasitas untuk mengganggu kepentingan Amerika dan sekutunya di kawasan. Mereka juga memiliki jutaan milisi yang tersebar di berbagai negara. Jika Iran mengobarkan perang melawan Amerika dan sekutunya, ada kemungkinan perang itu berlangsung tidak sebentar. Tapi, saya cukup yakin, Iran tak akan mengambil opsi perang terbuka dengan Amerika. Deklarasi perang melawan negara adidaya jelas memerlukan pertimbangan-pertimbangan sangat panjang dan kompleks. Risiko berhadapan langsung dengan Amerika terlalu besar untuk siapa pun, termasuk Iran. Apalagi pangkalan militer Amerika tersebar di sekitar wilayah Teluk Arab/Persia. Amerika dengan mudah dapat menggerakkan pasukan dalam jumlah besar untuk melakukan serangan ke wilayah Iran dalam hitungan menit. Apalagi kapal induk Amerika diberitakan masih berlayar tak jauh dari kawasan itu.

Ada dua kemungkinan yang lebih masuk akal bagi Iran untuk melakukan aksi balasan yang setimpal terhadap Amerika dan kepentingannya. Pertama, Iran akan melakukan serangan dengan target terbatas terhadap pasukan militer Amerika, sekutu, atau kepentingan keduanya. Misalnya, serangan terhadap ladang-ladang minyak Arab Saudi bagian timur atau negara Teluk lain yang jelas berada di wilayah sangat dekat dengan Iran. Iran punya kapasitas untuk melakukan itu semua dan diyakini pernah melakukannya dan berhasil.

Pilihan lain, Iran akan menutup Selat Hormuz atau setidaknya mengganggunya. Jelas, produsen dan konsumen minyak, termasuk Amerika dan sekutunya, akan sangat terganggu oleh penutupan selat yang dilalui lebih dari 10 juta barel minyak mentah setiap hari itu. Sebagian besar minyak mentah itu merupakan sumber utama ekonomi negara sekutu Amerika, dan Amerika adalah salah satu konsumen utamanya.

Iran mungkin juga akan melakukan aksi balasan terhadap Israel, sekutu Amerika di kawasan. Tapi Amerika pasti tidak akan tinggal diam. Kapasitas militer Israel juga tak bisa dianggap enteng. Israel merupakan salah satu negara dengan industri militer tercanggih di dunia. Hanya, keuntungan Iran menyerang Israel adalah dari sisi heroiknya. Iran akan menjadi pahlawan dan menjadikan Israel sebagai musuh akan semakin menyatukan para pendukungnya.

Kedua, opsi yang juga mungkin diambil Iran adalah mengaktifkan kekuatan-kekuatan proksinya yang tersebar di berbagai negara di Timur Tengah. Qassem Soleimani adalah pahlawan dan pemimpin kekuatan-kekuatan proksi Iran di luar negeri. Kematian Soleimani dengan cara mengenaskan seperti ini jelas akan memompa semangat para kombatan dan milisi yang berkiblat ke Iran, seperti Hizbullah di Libanon, Hasy Syabiy di Irak, dan Houtsi di Yaman.

Kebetulan pula, semua kekuatan proksi Iran itu memiliki target sekutu Amerika yang sangat dekat, terutama Arab Saudi. Maka, negara yang paling ketar-ketir dengan situasi ini jelas Arab Saudi, di samping negara-negara Teluk kaya raya lain yang berada persis di halaman muka Iran, terutama Bahrain dan Uni Emirat Arab.

Iran jelas bersiap sejak dulu untuk menghadapi kemungkinan berperang melawan Amerika dan sekutunya di kawasan. Tapi kematian Jenderal Soleimani belum membuat negara itu mengambil opsi deklarasi perang melawan Amerika. Saya yakin, meskipun suasana berkabung dan marah meliputi seantero Iran, rezim negeri ini akan memilih tindakan rasional daripada menuruti emosi kemarahan.

 

sumber ;TEMPO.CO