Home Opini Menelisik Esensi Makna Qurban

Menelisik Esensi Makna Qurban

199
Menelisik Esensi Makna Qurban

Menelisik Esensi Makna Qurban

Selasa, 21 Agustus 2018 

Oleh: Karnadi Kesuma, S.Pd., M.M.

Insya Allah dalam waktu dekat ini kita Umat muslim akan tiba pada hari yang agung yaitu ‘Idul Adha’. Pemerintah sudah menetapkan bahwa Idul Adha tahun ini akan jatuh pada tanggal 22 Agustus 2018. Bagi kita yang tidak melaksanakan ibadah haji, Idul Adha ini identik dengan Idul Qurban Hal ini disebabkan karena umat Islam ketika Idul Adha ini melaksanakan pemotongan hewan qurban yang terdiri dari sapi, lembu, kerbau, atau kambing. Dalil atau ayat dalam al-Quran yang berbicara tentang ritual qurban antara lain: “Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (Q.S. al-Kautsar: 2).

Oleh karena itu, berkaitan de­ngan perayaan Idul Adha/ hari raya Qurban tersebut bagaimana esensi qurban di zaman now? Apakah ha­nya sekedar menyembelih hewan Qurban (lembu, kambing, kerbau, sapi) atau ada makna yang lebih besar dibalik hewan yang kita sembelih tersebut? Esensi yang utama adalah bagaimana tingkat kepatuhan kita kepada Allah SWT untuk menjalankan perintah dan larangan-Nya.Selanjutnya adalah bagaimana kita mampu menghilangkan sifat hewani yang ada pada diri kita.. Berikutnya adalah semangat berbagi kepada sesama yang harus kita tumbuhkembangkan di negara tercinta ini.

Bentuk Ketaqwaan kepada Allah SWT

Salah satu esensi berqurban ada­lah wujud ketaqwaan kepada Allah SWT. Dalam sejarah Islam dikisahkan bagaimana ketaqwaan Nabi Ibrahim diuji oleh Allah untuk menyembelih putranya Nabi Ismail. Hal ini ternukil dalamQ.S. Ash-Shaffat: 102 – 107) yang artinya: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab: “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas peli­pis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia: “Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami mem­beri balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” 

Secara garis besar dapat kita simpulkan bahwa oleh karena kuatnya keyakinan (iman) Nabi Ibrahim AS kepada Allah, maka ketika Allah memerintahkan untuk mengorbankan (menyembelih) anak yang dicintainya (Nabi Ismail AS) maka Nabi Ibrahim dengan kesungguhan hati melaksanakan perintah terse­but,hingga pada titik tertentu Allah menyeru kepada Nabi Ibrahim AS, bahwa ia telah lulus dari ujian Allah dan Allah menebus anaknya (Nabi Ismail as) dengan binatang sembelihan (domba) yang besar.

Dengan demikian, kita sebagai umat Islam tidak meragukan lagi derajat ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT.Artinya, takwa yang bermakna melaksanakan perintah dengan ikhlas, bagaimanapun beratnya, itulah yang menjadi penilaian Allah. Anak satu-satunya yang sangat dicintainya, tergeser dengan sendirinya dibandingkan kecintaan kepada Allah, pemberi segalanya.

Berbanding terbalik dengan fenomena yang kita jumpai saat ini. Kehidupan yang serba hedonis, menuhankan benda, mensakralkan sesuatu, menganggap pemimpin sebagai wali, atau manusia yang menganggap dirinya sebagai nabi atau bahkan tuhan yang tentunya merusak aqidah dan keimanan seseorang. Ironis memang. Bandingkan dengan Nabi Ibrahim dengan anaknya Nabi Ismail, yang memang kecintaan kepada Allah SWT melebihi segalanya. Sementara itu, fenomena kehidupan di zaman now, banyak kita jumpai orang tua yang lebih menyayangi anaknya melebihi apa yang seharusnya. Fasilitas, materi yang diberikan membuat anak lupa diri sehingga terjerumus pada perbuatan negatif seperti pergaulan bebas, narkoba, tawuran. Lebih parahnya lagi ketergantu­ngan pada android seakan melupakan ibadah kepada Allah SWT. Mungkin sudah jarang kita jumpai di Mesjid atau Mushalla selepas Magrib anak/remaja belajar mengaji. Berganti dengan memegang android atau menonton tayangan sinetron atau yang lainnya di televisi. Bagai­mana nasib remaja atau generasi muda 5 bahkan 10 tahun mendatang? Wallahu alam Bissawab.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya umat Islam meneladani karakter dan sifat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Sebagai orang tua, figur dan sosok Nabi Ibrahim pantas kita contoh, sedangkan sebagai anak, Nabi Ismail cocok dijadikan suri tau­ladan yang baik. Sedangkan untuk se­orang ibu, Siti Hajar pantas kita jadikan figur yang yang dihormati dan diteladani.

Membuang Sifat Hewani

Esensi lainnya dibalik makna penyembelihan hewan qurban ada­lah, bagaimana kita sebagai umat Islam membuang sifat hewani yang ada pada diri manusia. Kita sembelih sifat-sifat kehewanan yang mondok dalam diri setiap orang. Kita sembelih dan bumihanguskan, se­gala sifat hewani, misalnya sifat serigala, yang melambangkan kekejaman dan penindasan. Kita sembelih sifat tikus, yang melambangkan kelicikan dan korupsi. Dan kita sembelih sifat domba, yang melambangkan perhambaan kepada benda dan manusia.

Oleh sebab itu, perintah berqurban adalah kebutuhan primer setiap manusia, agar hidup ini tidak terkontaminasi sifat hewan. Bahkan, kita butuhkan agar lestari, seimbang dan harmoni dalam fithrah (suci). Suatu kekeliruan besar, jika seseorang hanya mampu mencicil kendaraan atau rumah atau mendemonstrasikan gensi dalam perkawinan keluarga, lalu tidak mampu menunjukkan kemampuan berqurban sekali setahun. Sabda Nabi Muhammad SAW terhadap mereka yang enggan melakukan qurban, yaitu : “ Barangsiapa yang mempunyai kesempatan (mampu berqurban), lalu tidak melakukannya, maka janganlah ia mendekati tempat kami salat. “ (H.R.Muslim). Artinya, su­dah di cap diluar ummatnya. Hadis ini juga memberikan makna bagimana sifat pelit, kikir, tamak, harus kita buang dalam diri kita.

Oleh karena itu, berkaitan de­ngan perayaan Idul Adha/ hari raya Qurban mari kita buang sifat hewani yang melekat pada diri kita. Apakah hanya sekedar menyembelih hewan Qurban (lembu, kambing, sapi) atau ada makna yang lebih besar dibalik hewan yang kita sembelih tersebut? Ya tentunya bagai­mana kita mampu menghilangkan sifat hewani yang ada pada diri Apalagi kita hidup di zaman yang serba masif. Kasus, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, narkoba, jual beli(baca perdagangan manusia makin marak terjadi.. Pembunuhan melalui jarum suntik HIV/AIDS dan Narkoba, juga memangsa manusia, secara berencana. Pokoknya, mengorbankan manusia, dalam bentuk ritual dan pemuasan nafsu seks, yang beritanya marak kita jumpai di media elektronik, media massa maupun media sosial. Nauzubillahi Min Zalik.

Semangat Berbagi

Esensi lain dari spirit qurban ada­lah bagaiman kita peduli dan sadar untuk membantu saudara-saudara seimannya. Selain itu, sadar untuk memperhatikan nasib saudara-saudaranya. Selanjutnya, se­nantiasa da­lam keadaan lapang mau­pun sempit, tetap menginfakkan sebagian hartanya. Jadi orang takwa itu, harus peduli kepada nasib umat Muslim di mana saja berada, baik dalam maupun luar negeri. Sebab, Muslim dengan Muslim itu bersaudara.

Oleh karena itu, masih banyak saudara-saudara kita yang mengharapkan uluran tangan. Hal ini tidak terlepas akibat terjadinya bencana seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus, PHK, kemiskinan, penggusuran, maupun hal lainnya. Terkait dengan bencana yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (baca Lombok) tentu mereka membutuhkan bantuan dari kita. Bantuan tenda, pakaian, ataupun da­ging qurban untuk mereka yang tertimbas musibah perlu kita salurkan. Agar mereka turut juga merasakan kebahagiaan di Idul Adha tahun ini. Bukankah diajurkan kepada kita yang berqurban untuk membagi da­ging hewan yang kita qurbankan ke­pada fakir miskin, tetangga baik yang miskin ataupun kaya sekalipun nonMuslim? Dus khususnya bagi sau­dara-saudara kita Muslim yang terimpa musibah (baca Lombok) tentu saluran daging qurban tersebut akan lebih bermanfaat bagi mereka.

Apalagi mungkin selama mereka berada di pengungsian tentu faktor gizi ma­kanan yang diterima jauh dari yang di­harapkan. Tentunya mereka akan bersuka cita dengan bantuan daging qurban yang dimasak bersama –sama di pengungsian. Dengan begitu, Umat islam bisa menjadikan Idul Adha sebagai momen untuk berbagi. Semua memiliki kesempatan yang sama untuk menunaikan ibadah sekaligus menebarkan kebaikan.

Dengan demikian ibadah qurban juga menebarkan kebahagiaan kepada sesama. Kebahagiaan yang tanpa disadari bisa mengeratkan rasa kasih sayang di antara mereka, sekalipun yang tak saling mengenal. Akan ada banyak kalangan yang akan terbantu, terutama bagi kaum fakir dan mis­­kin, korban bencana alam, umat Islam yang berada di daerah pedalaman/terpencil.

Atas dasar itulah maka hingga saat ini umat Islam selalu dapat mengenang sejarah dan makna dari Idul Qurban. Namun demikian makna Idul Adha atau kurban sejatinya tidak hanya bagaimana mengenang sejarah keikhlasan serta rela berkorban Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS, tetapi juga bagaimana kemudian dari kurban itu muncul nilai-nilai sosial yang dapat diambil pelajarannya. Dengan berkurban kita me­ngimplementasikan nilai-nilai sosial dengan diharuskan peka terhadap kondisi masyarakat di sekitar, untuk kemudian mau membagi hasil dari kurban kepada saudara-saudara yang tidak mampu. Proses berbagi ini tentunya diyakini juga dapat menumbuhkan rasa kebersamaan di antara sesama anggota masyarakat. Dalam konteks yang lebih luas lagi tentu akan menimbulkan semangat persatuan dan nasionalisme dalam konteks berbangsa.

Akhirnya, untuk membuktikan nilai takwa dan kemanusiaan yang terlindung didalam jiwa kita, yang maka tiada lain kecuali kita harus kobarkan revitalisasi kemanusiaan, yang sudah mulai redup. Serta membuang jauh-jauh sifat hewani yang ada dalam diri kita. Jadi, jika kita sudah berhasil berfitrah dengan beras pada Idul Fitri yang lalu, ma­ka sekarang, kita lengkapi dengan berqurban daging hewan pada Idul Adha. Menurut Nabi SAW “Apa yang kamu makan habis ke belakang, apa yang kamu pakai, habis terkubur ke da­lam tanah, dan hanya yang kamu be­rikan kepada saudaramu (yang miskin), itulah yang abadi (HR.Muslim). Semoga Allah tetap memberikan taufik untuk berqurban. Amin.***

Penulis Alumni PascaSarjana UISU/Anggota AGBSI Sumatera Utara.

Sumber HArian analisa