Home Bumi Melayu PANCANGKAN BUDAYA MELAYU

PANCANGKAN BUDAYA MELAYU

9,559
PANCANGKAN BUDAYA MELAYU

Rida K Liamsi (foto:internet)

Sebagai Tonggak Visi mau 2020

KEMILAU cahaya warna-warni menyorot kesana kemari. Lantunan alat musik tradisional dan modern saling bersahut-sahutan. Suara retusan tepuk tangan tak henti-hentinya menggema selama prosesi acara Anugerah Sagang 2015 di Lantai II Gedung Graha Pena Riau, Rabu (28/10) malam.

Malam itu kembali menjadi hari bersejarah bagi Rida K Liamsi. Sebagai Pembina yayasan Sagang, malam puncak iven seni dan budaya tajaan Riau Pos dan Yayasan Sagang itu sukses terlaksana. Sebagai Chairman Riau Pos Group (RPG) dia mendapat apresiasi sebagai rekoris baru Museum Rekor Indonesia (MURI). Karena pada hari itu telah menerbitkan koran dengan 280 halaman edisi khusus Sumpah Pemuda.

Dipersembahkan di Hari Sumpah Pemuda, agar Riau terus bersemangat. Khususnya dalam menapakkan jejak atas pancang budaya Melayu yang konsisten dilakukan selama 20 tahun beruntun. Anugerah Sagang ini merupakan salah satu tonggak dalam mendukung visi Riau 2020. Rida pun mengungkapkan rasa bangga ini dalam sambutannya.

"Malam ini adalah yang ke-20 kali digelar berikut hari jadi Yayasan Sagang ke-20, dan sudah 20 tahun Riau Pos memancangkan budaya sebagai wujud tonggak visi Riau 2020," kata Rida lantang di hadapan hadirin.

Karena menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara juga menjadi komitmen Riau Pos melalui Yayasan Sagang sebagai wadah apresiasi para seniman dan sastrawan serta budayawan, Di tengah keinginan menjadikan Riau sebagai puncak tertinggi melaksanakan The Homeland of Melayu, katanya usaha-usaha akan terus dilakukan Riau Pos.

Karena lanjutnya, dalam usia seperempat abad Riau Pos pada Januari 2016 nanti. Separo lebih usianya fokus datam mewujudkan kebudayaan Melayu sesuai Visi Misi Provinsi Riau itu sendiri. Seperti sudah diterbitkannya ratusan judul buku sastra dan budaya, dan sudah menjadi salah satu lembaga pendidikan kebudayaan.

"Kampus baru akan siap tahun depan, AKMR juga berubah statusnya menjadi Sekolah Tinggi Seni Riau. Selain itu iven-iven sakral bertaraf nasional dan bertaraf internasional sudah pula kami wujudkan demi menjaga marwah kebudayaan Melayu ini sendiri," sambung Rida.

Dicontohkannya, seperti puisi, festival penyair, juga selaku inisiator dan inspirator lahirnya Hari Puisi Indonesia, Serta inspirator dalam berkiprah membangun dan membina kebudayaan, melahirkan beberapa yayasan yang seluruhnya dipersembahkan Rida bagi kebudayaan Melayu.

Dalam malam puncak Anugerah Sagang 2015 ini, diceritakan Rida diberikan penghargaan kepada lima sosok penuh pengabdian. Di mana mereka menerima Anugrah Sagang Kencana  yangs etiap lima tahun diberikan. Yakni kepada almarhum Ibrahim Sattah, almarhum Umar Umayyah, Prof Tabrani Rab, drh Chaidir, dan Eri Bob.

Dimana yayasan Sagang memberikan apresiasi berupa sagu hati bagi penerima Anugerah Sagang Kencana mendapat hadiah Rp25 juta, Rp l5 juta untuk penerima penghargaan lain-nya, dan Seniman/Budayawan Sagang mendapatkan Rp25juta.

Kegiatan yang diawali dengan in memoriam Dr (Hc) H Tennas Efendi tersebut dilakukan melalui pemutaran video. Karena tahun lalu, budayawan penerima Sagang tersebut masjh hadir dalam puncak Anugerah Sagang 2014. Dengan suasana lampu dipadamkan, menambah khidmat acara mengenang sosok Tennas tersebut. Kemudian diselipkan dengan penghargaan berupa penyerahan rekor MURI kepada Rida K Liamsi.

Sementara itu Ketua Yayasan Sagang Kazzaini KS menegaskan pihaknya terus mempertahankan pelaksanaan Anugerah Sagang dalam kondisi apapun. Sehingga mampu menuju pelaksanaan ke-20 tahun ini,

"Kami terus mernpertahankan kegiatan ini sebagai sumbangsih apa yang didengar bersama dalam visi Riau 2020. Kami ada dan masih bisa berbuat," katanya,

Namun demikian, dalam kaitan mewujudkan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu tentunya diperlukan pula dukungan pemerintah. Di mana pada pelaksanaan ke 20 dirasakan panitia semakin minim dan perlu dukungan moril dan materil yang lebih lagi tentunya.

"Perhatian pemerintah belum maksimal karena belum berkontribusi lebih dalam mendukung penvujudan visi misi Riau 2020 yang diaplikasikan melalui Anugerah Sagang ini," tambahnya.

Sementara itu penerima Anugerah Sagang 2015 ini keseluruhannya mengapresiasi peranan dan langkah yang dilakukan Yayasan Sagang. Karena terbukti terus berkomitmen dalam mewujudkan kelestarian adat budaya Melayu melalui penghargaan untuk kategori-kategori yang diberikan.

Seperti pilihan Serantau Sagang yang diterima Ahmad Dahlan dengan bukunya Sejarah Melayu. Menurutnya buku yang lahir atas kecemasan tersebut muncul untuk menjaga kalau-kalau nantinya anak-anak Melayu tidak mengetahui sejarahnya sendiri.

"Kurang sekali literatur lengkap tentang sejarah dan budaya Melayu di Indonesia, karenanya saya menulis buku ini. Penghargaan Sagang barangkali bonus," ujarnya.

Penerima anugerah selanjutnya adalah Sanggar Batin Galang, Kepulauan Meranti, diterima ketua sanggarnya Sopandi. Dalam kesempatan tersebut diserahkan oleh pihak LAM Riau. Ia menyampaikan apresiasi kepada Prof Yusmar Yusuf yang banyak memberi dukungan dalam mengembangkan kebudayaan di Kepulauan Meranti. Menurutnya kreativitas dari Bokor tak terlepas dari keinginan sanggar tersebut untuk terus membesarkan kampong halaman. Karenanya penghargaan Sagang menurutnya diharapkan mampu memotivasi seluruh karya anak-anak jati Melayu di manapun berada.

"Kawan-kawan di AKMR, mari kita kembali ke kampung dan membangun kampung kita, menggali akar budaya di situlah tempatnya di kampung," ujarnya.

Kemudian dilanjutkan dengan Karya Non Buku Pilihan Sagang 2015 diraih oleh Sindikat Kartunis Riau (SiKari) melalui pameran bertajuk Pekanbaruko. Diterima Ketua SiKari Furqon LW diserahkan oleh Asisten II Pemkab Siak, Drs H Syafri Lenti. Menurutnya apa yang diterima dari Yayasan Sagang merupakan penyeimbang antara keperluan rohani seniman dan kebudayaan Riau.

"Berupa biaya, apresiasi dalam kebudayaan dan berkesenian. Adalah bukti Yayasan Sagang melihat dan berempati terhadap seniman dan budayawan untuk tetap berprestasi melalui karya," sebut Furqon.

Untuk penerima Anugerah Sagang Kategori buku pilihan Sagang, diterima oleh karya kumpulan puisi Bahtera karya Ahmad Ijazi Abdullah yang dalam kesempatan tersebut diserahkan Wako Pekanbaru H Firdaus MT.

"Diharapkan selalu digelar setiap tahun dan tetap eksis, dalam mengapresiasi kami penulis-penulis" singkatnya.

Sementara itu Seniman Pilihan Sagang 2015 diraih Sastrawan Husnu Abadi yang diserahkan oleh Plt Gubri diwakilkan Kadisparekraf Riau Fahmizal. Plt Gubri sendiri malam tadi tidak hadir karena dikatakan tengah mengikuti rapat. Sejak 20 kali pelaksanaan Anugerah Sagang, baru kali ini Gubernur tidak hadir memberikan penghargaan kepada seniman/budayawan/sastrawan penerima sagang.

Menurut Husnu Abadi, Sastrawan adalah sang pencatat zaman, melahirkan optimisme, warna-warni yang dimunculkan adalah keceriaan, harapan, ketenangan, kemakmuran dan saling menghargai. Dalam iklim demikian seorang budayawan harus menawarkan harapan-harapan,

"Sehingga terus berbuat demi pembangunan dan kemajuan daerah. Sagang harus dipertahankan sehingga kami bisa terus. berkarya," sebutnya.

Sementara itu salah seorang penerima anugerah Sagang Kencana, drh Chaidir, berterima kasih kepada RPG dan Rida K Liamsi. Menurutnya budaya Melayu yang setiap tahun terus digaungkan seorang Rida diharapkan bisa terus dilaksanakan. "Sehingga Riau tetap ada menjadi sebuah nama," katanya.

Kadisparekraf Riau Fahmizal dalam sambutannya di pengujung acara menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya dari Plt Gubri yang belum selesai rapat hingga malam tadi. Menurutnya diperlukan suatu usaha agar budaya dan identitas itu berkembang, identitas budaya yang dimiliki dan diapresiasi seniman dan budayawan.

"Yayasan Sagang harus tetap terdepan dalam menjaga kearifan lokal. Pemprov mengapresiasi atas seluruh karya seni dan sastra yang dihasilkan," sebutnya.(ted)

Sumber : RIAU POS, 29 OKTOBER 2015