Home Opini Perang Dunia III dan Nasib Indonesia

Perang Dunia III dan Nasib Indonesia

39
Perang Dunia III dan Nasib Indonesia

 

 

Rabu 08 Jan 2020 14:52 WIB

Oleh: Dr Syahganda Nainggolan, Pendiri Sabang Merauke Circle

Mantan Presiden Susilo Bambanb Yudhoyono (SBY) telah menulis pikirannya tentang situasi global saat ini, dan viral, dengan judul "Perang Besar Bisa Terjadi Karena Miskalkulasi, Pemimpin Yang Eratik dan Nasionalisme Yang Ekstrim". Tulisan SBY ini berlatarbelakang pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani atas order Presiden Amerika Donald Trump. Soleimani adalah jenderal penting di Iran karena mengurusi pasukan elit Iran, pasukan Quds. Iran marah dan akan membalas dendam.

Menurut analisa SBY, 1) Ada  gejolak sosial global, dilebih 30 negara, melawan pemerintahannya, yang merupakam ancaman serius sebagai situasi sebelum terjadinya kasus pembunuhan Soleimani. 2) Paska pembunuhan Jenderal Qassem, geopolitik Timur Tengah. memanas. Karena soal Iran di Timur Tengah begitu luas meliputi kawan maupun musuh yang selama ini terlibat konflik, termasuk  Rusia, Turki, Israel, Suriah, Saudi Arabia, Libya, Mesir, Qatar, Afghanistan, Yaman dan NATO. Jika negara-negara ini kemudian terlibat perang, maka skala perangnya bisa menjadi perang dunia.

 

3) SBY tidak mudah percaya krisis saat ini akan menimbulkan perang besar, namun jika hanya membiarkan para jenderal di Amerika, Irak dan Iran memutuskan, sedangkan para pemimpin dunia lainnya "do nothing", maka kepastian ada tidaknya perang, menurut SBY, bersifat tidak menentu.

4) Perang dunia menurut SBY, yang pertama, karena "kecelakaan sejarah" (unexpected accident). Sedangkan perang dunia kedua karena "startegic miscalculation", di mana serangan dadakan Jepang ke Pearl Harbour, USA, membangunkan "macan tidur" Amerika. Perang ke depan sangat ditentukan miskalkulasi para politisi dan jenderal di Amerika maupun Iran. Juga, faktor lainnya, apakah ada aksi yang tidak terduga di mana aset-aset militer Amerika entah dimanapun berada diserang, tanpa sepengetahuan para jenderal/politisi di Iran maupun Amerika. Karena berbagai elemen tanpa garis komando, seperti Hesbollah, Hamas, organisasi teroris, dll bisa bergerak begitu saja.

5) Faktor pemimpin yang "erratic" (gelisah/kurang bertanggung jawab) dan "gemar perang" juga pemicu perang. Sby berdoa pemimpin Iran dan Trump memilih jalan diplomasi. SBY mengatakan Iran terhina dengan pembunuhan Jenderal besarnya, namun menurutnya Amerika juga pernah terhina dengan kasus penyanderaan 52 warga Amerika selama 444 hari di Taheran, tahun 1979-1981.

(6). Dunia saat ini berada pada  kondisi panas. Gelombang Nasionalisme, populisme, rasisme dan radikalisme menguat. Trend sejarah begitu, tidak dapat menyalahkan sebuah negara. Nasionalisme negara2 ini mengurangi apa yang dialami dan dirasakan SBY di masa kepresidenannya, yakni dulu semua serba senang dialog dan diplomasi, sekarang tidak.

7) Di luar 3 faktor: a) miskalkulasi, b) pemimpin eratik dan c) nasionalisme ekstrim, SBY melihat baik Trump maupun Ayatollah Khamenei, menyadari beban yang terlalu berat apabila mereka menyatakan perang, baik dampak pada ratusan juta rakyat mereka maupun pada kawasan Timur Tengah. SBY yakin kedua mereka akan rasional dan "bermoral". Sangat mungkin ketegangan yang ada berujung pada "great deal", sebuah kesepakatan besar strategis dan adil, sebuah "take and give".

Tiga Catatan Kritis

1) 3 Trillion Dollar War

SBY sebagai doktor ekonomi politik pedesaan melupakan kajian penting politik ekonomi, mengapa Trump harus membunuh Jenderal Qassem Soleimani di Irak? Menurut Professor Stiglitz (dan Linda Bilmes) dalam bukunya "The Three Trillion Dollar War", 2008, harga perang Irak itu senilai 3 Triliun Dollar. Penggulingan Saddam Hussein dan perebutan Irak dalam kontrol Amerika sangat mahal. Bahkan, jika pengkritik buku Stiglitz tersebut  memperkirakan hanya sekitar 1-2 trillions dollar. Jika dikumpulkan semua uang para taipan Indonesia, tidak sanggup membiayai perang Irak itu. Bahkan jika ditambahkan semua PDB (GDP) kita untuk itu.

Sebagai mantan menteri energi, SBY sangatlah paham siapa bandar perang Amerika di Iraq itu. Bagimana penguasaan ladang minyak dan gas bumi. Membangun ISIS agar menguasai ladang-ladang minyak bukan hanya di Irak, tapi juga ke Suriah. Bagaimana "Food for Oil Policy" di masa krisis perang untuk membiayai perang.

Dengan digulingkannya Saddam Hussein yang memimpin dengan mayoritas Islam Sunni, digantikan dengan rezim selanjutnya yang dominan Syiah, maka penetrasi Iran ke Iraq membesar. Trump melihat ini sebagai ancaman besar. Jika Trump kehilangan kepercayaan dari bandar-bandar minyak, yang umumnya pendukung setia partai Republik, maka nasib Trump untuk periode ke dua akan hilang.

2) Imperium

Perang besar bukan soal hanya 3 faktor yang disebut SBY, yakni miskalkulasi, pemimpin erratic dan Nasionalisme Ekstrim. Perang karena sebuah bangsa dan pemimpinnya memang ingin membangun imperium. Imperium Romawi, Imperium Kristen Romawi, Kalifah Islam, Kolonialisme Barat,  dan semangat OBOR (Belt and Road Initiative) RRC saat ini adalah contoh di mana kekuasaan itu bersifat yang besar menguasai yang lemah.

Kekuasaan Amerika di Timur Tengah sudah berlangsung puluhan tahun menggantikan sekutunya eropa paska perang dunia ke dua. Keributan-keributan di Timur Tengah ekskalasinya selalu dalam kontrol Amerika untuk mengatur energi dunia. Namun, belakangan ini Amerika kesulitan karena biaya kontrol kekuasaan di Timur Tengah lebih mahal dari yang seharusnya dia keluarkan. Beberapa tahun lalu, Trump bertengkar dengan para pemimpin eropa dalam pertemuan NATO, di mana Trump meminta iuran pengamanan dunia yang dibebankan kepada para anggota NATO harus dinaikkan.

Disamping itu, Trump juga harus merubah pola kontrol kekuasaan, karena dukungan Putin atau kemesraan Putin atas Trump, membuat pengaruh barat selama ini harus dikurangi dan di share kepada Rusia.

Sikap Trump melumpuhkan ISIS, yang awalnya dibesarkan Amerika untuk menghadapi pengaruh Rusia-Iran-Suriah, ternyata semakin memperburuk situasi, karena ternyata Iran dan Suriah, tanpa ISIS, semakin kuat di Timur Tengah. Jika itu terus terjadi, imperium Amerika dan Barat akan hancur di sana.

Trump melihat perlu koreksi atas sikapnya selama ini, yang berbelok dari kebijakan rejim Obama. Pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani adalah simbol pengukuhan kekuasaan Amerika di Iraq.

Jadi, pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani adalah pembunuhan yang terencana dan presisi. Itu adalah sebuah perang dari keharusan Amerika mempertahankan imperium kekuasaannya.

3) Hubungan dengan Indonesia.

SBY telah menulis dunia yang diambang perang tanpa melihat apa pentingnya, sebuah kalimatpun, bagi Indonesia.

Memang Indonesia mungkin tidak menarik dalam "Global Power Game". Namun, sejarah  mencatat Indonesia merdeka karena ada perang dunia kedua. Tanpa ambisi Jepang membangun imperium Asia Raya, Sukarno, dan lainnya masih hidup dipengasingan.

Mengaitkan Indonesia bukan berarti harus menunjukkan peran Indonesia dalam perdamaian dunia atau menciptakan perang dunia. Namun, kita bisa melihat apakah perang yang kepastiannya tidak menentu itu punya manfaat bagi kita?

Situasi memanas di Timur Tengah sudah pasti akan memperburuk Indonesia, 1) harga minyak dunia pasti akan menjulang. Kita adalah net importir minyak. Rakyat akan semakin susah dengan akan naiknya BBM. 2) pertumbuhan ekonomi dunia semakin buruk. 3) Ketegangan hidup minoritas ummat Syiah membesar.

Kalau situasi memanas menjadi perang, maka yang perlu dilihat dalam analisa SBY adalah apakah ada sasaran asset (militer) Amerika yang penting di Indonesia yang akan jadi sasaran teroris global? Siapa yang akan jadi "teroris" nya?

Apakah perang di Timur Tengah akan berkembang sekaligus dengan Laut China Selatan? Mengingat RRC merupakan "musuh Amerika" dan cenderung lebih dekat dengan Iran dan Rusia.

Apabila ini terjadi, bagaimana situasi di Indonesia?

Dalam tulisan saya sebelumnya, "Militanisme Islam dan Laut China Selatan", saya meyakini bahwa situasi Timur Tengah akan sampai ke Indonesia, karena Islam Militan Indonesia akan memanfaatkan kekuatan-kejuatan anti RRC di Asia Tenggara yang mana mereka adalah sekutu Amerika. Sebagai fakta, dalam rezim yang cenderung pro RRC saat ini, ummat Islam tidak mengalami keuntungan politik, apalagi pemertaan ekonomi.

Penutup

Tulisan SBY memberi kesegaran bagi kita untuk mengetahui situasi krisis dunia paska pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani, di Irak, beberapa hari lalu. Tulisan SBY ini terlalu hati-hati sekali, karena mungkin SBY tidak gampang membuka pengetahuan dan info yang dia miliki ke publik.

Namun, dengan memasukkan kajian ekonomi politik dalam penguasaan energi di Timur Tengah, memasukkan unsur imperiumisme negara super power, kita melihat bahwa perang itu hanya sebuah keniscayaan saja. Yang kuat pasti memakan yang lemah. (Planduk mati di tengah).

Persoalannya adalah bagaimana kita merespons ke depan. SBY dalam tulisannya mengambil "no sympathy" atas pembunuhan Jenderal Iran dengan membandingkan penyanderaan warga Amerika di masa lalu. Artinya SBY bisa menerima tindakan Amerika ini.

Kita yang saya maksudkan adalah para pemimpin bangsa, baik pemerintah maupun oposisi. Pemerintah pasti cenderung melihat sikap RRC. Namun, bagaimana Habib Rizieq dan kelompok-kelompok ulama lainnya?

Yang pasti waktu bagi datangnya gelombang perubahan besar akan  semakin cepat datangnya, termasuk di Indonesia. Siapa cepat dia memimpin.

 

Sumber : Republika.co.id