Home Berita Dalam Koran Setelah Melanglang Buana, Akhirnya Bermukim di Basilam

Setelah Melanglang Buana, Akhirnya Bermukim di Basilam

37,643
Setelah Melanglang Buana, Akhirnya Bermukim di Basilam

Setelah Melanglang Buana, Akhirnya Bermukim di Basilam

Menelusuri Jejak Sejarah Syeh Abdul Wahab Rokan (2-Habis)
Setelah Melanglang Buana, Akhirnya Bermukim di Basilam

22 Juni 2013 - 09.19 WIB > Dibaca 1664 kali

 

 

Sungai Rokan merupakan alat transportasi yang bisa menghubungkan Rantau Binuang Sakti ke beberapa wilayah di pesisir Timur Selat Melaka. Dari jalur Sungai Rokan ini, Tuan Guru Abdul Wahab bisa mengenal dunia luar.

Laporan JARIR AMRUN, Pasirpengaraian

PADA abad sembilan belas, banyak muncul ulama-ulama besar. Biasanya para ulama ini menuntut ilmu ke Makkah. Mereka berguru kepada Syeh (imam besar) di Masjidil Haram. Di antara Syeh yang tenar pada masa Syeh Abdul Wahab Rokan hidup yakni Syeh Muhammad Saleh, lahir 1810 M dan wafat 1933 di Kuala Lumpur, Malaysia. Syeh Muhammad Saleh ini 17 tahun belajar di Makkah. Kepada Syeh Muhammad Saleh inilah Tuan Guru belajar.

Pada rentang 1846-1848, Tuan Guru Abdul Wahab merantau ke Semenanjung Malaya. Ia pernah tinggal di Johor dan Melaka. Dalam tempo lebih kurang dua tahun itu digunakannya kesempatan mengajar dan belajar.

Di antara gurunya ialah Tuan Guru Syeh Muhammad Saleh, seorang ulama yang berasal dari Minangkabau.

Syeh Muhammad Saleh bukan hanya tenar di Sumatera, tetapi juga di semenanjung Malaysia. Ia pernah menjadi Syeikh al-Islam (ulama besar) di Kerajaan Perak, bahkan juga pernah memegang jabatan Hakim di Kerajaan Riau-Lingga. Pelantikan beliau sebagai Hakim Riau-Lingga adalah atas kehendak Yam Di Pertuan Muda Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi. Sebab Syeh Muhammad Saleh diminta oleh Tuan Muda Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi. Artinya, Syeh Muhammad Saleh juga merupakan salah seorang guru Raja Ali Haji yang lahir 1808 dan wafat di Pulau Penyengat 1873.

Maka Tuan Guru Syeh Abdul Wahab Rokan dan Raja Ali Haji memiliki guru yang sama yakni Syeh Muhammad Saleh. Hal ini belakangan nampak pada karya tulis Tuan Guru yang berisi nasihat, cara penulisannya sangat baik, seperti 44 Wasiat Syeh Abdul Wahab Rokan.

‘’Tuan Guru ternyata miliki guru yang sama dengan Raja Ali Haji,’’ ujar Prof Dr H Muhammad Hatta, guru besar IAIN Sumut.

Setelah belajar dari Syeh Muhammad Saleh, pada 1848 Tuan Guru berangkat ke Makkah dalam rangka belajar selama enam tahun (1848-1854). Tuan Guru memiliki perbedaan dengan ulama lainnya, jelas Muhammad Hatta, ia lebih banyak mendalami ilmu tasauf. Ulama besar saat seperti Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ahli Falak (1860-1916), ada juga Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, ulama besar dari Fatani (Thailand Selatan) yang juga menjadi guru Tuan Guru Abdul Wahab Rokan. Namun Tuan Guru belajar tasauf secara mendalam kepada ulama tasauf terkenal di Makkah, yakni Syeh Sulaiman Zuhdi di puncak Jabal Abi Kubis. Syeh Sulaiman Zuhdi dikenal sebagai penganut tarekat Naqsyabandiah.

Sepulang dari Makkah, ia kembali pesisir Sumatera, yakni membangun sebuah kampung, yang disebut dengan Kampung Masjid di wilayah Kubu, yakni di Muara Sungai Rokan (sekarang Rokan Hilir). Kesoharan Tuan Guru sampai ke beberapa daerah di Sumut seperti Negeri Bilah, Kualuh, Asahan dan mendapat perhatian raja-raja di pesisir Timur Sumatera. Sekembali dari Kualuh, ia membangun Kampung Masjid di Dumai. Tahun 1872, Sulthan Zainal Abidin menikahkan putrinya, Tengku Paduka Siti dengan Syeh Abdul Wahab. Ini artinya selain ia berdakwah, dia juga tetap tidak lupa dengan kampung halamannya.

Kemudian Tuan Guru diundang Raja Kualuh untuk mengembangkan ajaran tariqat, dan membangun Kampung Masjid. Namun tak lama di Kualuh, tuan guru mendapat undangan untuk berceramah di lingkungan keluarga Istana Langkat. Saat itu Kesultanan Langkat sangat maju hal ini disebabkan Traktat (MoU) Siak pada 1858, kesepakatan antara Siak dan Belanda.

 Mula-mula Sultan Langkat memberikan lahan untuk Tuan Guru tanah di Gebang (pesisir antara Pangkalan Brandan-Tanjung Pura), kemudian sultan menawarkan tanah di Kampung Lalang, namun Tuan Guru tetap menolak. Ia hanya meminta lahan hutan yang akan dibuka menjadi perkampungan. Kemudian Tuan Guru menyusuri Sungai Batang Serangan dan ketika berhenti di sebuah wilayah, Tuan Guru pun memilih tanah itu. Menurut Tuan Guru tanah di wilayah ini subur. Tuan Guru pun memilih kampung ini dan menyebutnya dengan Babussalam, artinya pintu keselamatan atau kesejahteraan. Namun warga setempat menyebutnya dengan Kampung Besilam, bukan Basilam. Wilayah mirip dengan Rantau Binuang Sakti, tak jauh dari sungai, yakni dekat Sungai Batang Serangan.

Tepat pada 15 Syawal 1300 H (1881), pindahlah Tuan Guru Syeh Abdul Wahab Rokan bersama rombongan yang terdiri dari 160 orang dengan menggunakan 13 perahu. Mula-mula yang dibangun adalah Musalla, kemudian rumah tempat tinggal. Musalla sederhana ini dinamakan ‘’Madrasah’’ atau ‘’Mandrasah’’ menurut dialek warga setempat dan tidak diberi nama Masjid walau fungsinya sama dengan masjid. Kabarnya tidak diberi nama masjid, agar jamaah perempuan bisa beriktikaf di madrasah ini. Setelah berhasil mengembangkan Kampung Besilam pada 1345 H (1926) tuan guru pun wafat. Saat Tuan Guru wafat, kesultanan Langkat dipimpin Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah (1893-1927). Saat ini merupakan masa jayanya Kesultanan Langkat, hal ini dikarenakan Belanda mendapatkan hasil minyak bumi dari wilayah Kesultanan Langkat di Pangkalan Berandan, juga hasil tembakau di wilayah dekat Deli seperti Hamparan Perak, Sunggal dan wilayah Langkat dekat Kerajaan Deli lainnya.

Saat meninggal, menurut cicit Syekh Abdul Wahab Rokan, HM Fahmi El Fuad, bahwa Tuan Guru meninggalkan empat istri, 26 anak, dan puluhan cucu. Jumlah zuriat (keturunan) Tuan Guru tersebar di wilayah Melayu Serantau. Seperti Dr Zikmal Fuad yang menjadi dosen di University Islam Antar Bangsa di Selangor Malaysia. Kelebihan Tuan Guru ini usia panjang, 115 tahun sehingga banyak berguru kemana-mana.

Ketua Panitia Peringatan Kelahiran Tuan Guru Sueh Andul Wahab Rokan Se-Asia Tenggara, Ismail Hamkaz MSi didampingi Sekretaris Panitia Zulkifli Mansur MH menjelaskan, agenda berikutnya pada Oktober nanti akan diselenggarakan Suluk Se-Asia Tenggara, karena saat ini sudah dibangun madrasah suluk dari APBD Rohul Rp2 miliar.

‘’Agenda berikutnya peringatan kelahiran Tuan Guru Syeh Abdul Wahab Rokan, yakni 20 Februari 2014. Hal ini berdasarkan penjelasan Tuan Guru Basilam Langkat saat ini, Syeh Hasyim Syarwani. Ia menjelaskan haul dilaksanakan di Basilam dan memperingati kelahiran dilaksanakan di Rantau Binuang Sakti,’’ ujar Ismail Hamkaz.***

- Pucuk Suku Nan Sepuluh -
Banner Pucuk Suku Nan Sepuluh
- Makna dan Arti Logo -
Banner makna Logo luhak kepenuhan
Gssb
Banner gssb
Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
New Poster Luhak Kepenuhan Beradat
Jadwal Sholat & Imsakiah 1441 H
Banner Waktu Sholat dan Imsakiyah 1441 H
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Petuah Ketua LAM Rohul
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Sambutan Ketua LKA Kepenuhan
Banner Ketua LKA Kepenuhan
Banner Ketua LKA Kepenuhan
Sekapur Sirih Mamak Sutan Kayo Moah
Banner Sekapur Sirih
Banner Sekapur Sirih
Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Banner Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Banner Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Add
Banner ADD
Banner ADD
One Day One Juz
Banner One Day One Juz
Banner One Day One Juz
Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur
Banner Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur
Banner Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur
Banner Gerakan Negeri Beradat
Banner Gerakan Negeri Beradat
Banner Buku Super Quotion
Banner Buku Super Quotion
Banner Lam Kabupaten ROkan Hulu
Banner Lam Kabupaten ROkan Hulu
Banner LKA Kepenuhan
Banner LKA Kepenuhan