Home Haji dan Umroh Suhu 44 Derajat Celsius, Tawaf Tetap Penuh

Suhu 44 Derajat Celsius, Tawaf Tetap Penuh

227
Suhu 44 Derajat Celsius, Tawaf Tetap Penuh

Suhu 44 Derajat Celsius, Tawaf Tetap Penuh

 

Rabu, 08 Agustus 2018 - 12:21 WIB

MAKKAH (RIAUPOS.CO) - Suhu di Makkah Al-Mukarramah, Selasa (7/8) mencapai 44 derajat celsius. Kendati demikian, semangat beribadah jamaah calon haji (JCH) tetap tinggi. Bahkan ibadah tawaf, yakni mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh putaran, tetap padat. Panas terik 44 derajat celsius tak menghalangi JCH melakukan tawaf di siang hari itu.

Sebagian JCH berpakaian ihram atau melakukan rangkaian tawaf untuk ibadah umrah. Dengan ha­nya berlapis dua lembar pakaian tak berjahit berwarna putih, ratusan JCH tetap bersemangat mengelilingi Kakbah. Bagi yang sedang ihram, kaum lelaki tak boleh menggunakan penutup kepala, juga alas kaki karena berada di dalam Masjidil Haram. Matahari langsung di atas kepala. Kaki menginjak lantai yang panas.

Selain itu, ada juga yang tidak berpakaian ihram atau hanya melaksanakan tawaf sunnah. Tapi kebanyakan tawaf sunnah dilakukan di area dalam Masjidil Haram yang beratap. Ada juga yang memilih tawaf di petang atau malam hari.

Seperti yang dilakukan Rosman, JCH asal Pekanbaru Kloter 7 Bth. Dia bersama istrinya Yuningsih melakukan tawaf sunnah di malam hari. Juga beberapa jamaah lainnya melakukan hal yang sama pada Senin (6/8).

Sementara itu dua JCH saat ini diisolasi di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKIH) karena sakit. Dua orang JCH itu bernama Lili Novira yang mengalami penyakit cacar air, dan Helmi Saleh yang mendapatkan perawatan khusus karena kaki yang membusuk.

Dikatakan Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan Haji dan Umrah Bidang Penyelanggaraan Haji dan Umrah Kemenag Riau H Abdul Wahid SAg MI Kom kepada Riau Pos dua orang JCH itu merupakan jamaah yang tergabung dalam kloter dua Embarkasi Batam. “Kaki agak membusuk, mungkin karena gula. Sementara itu keadaan jamaah sampai hari ke-11 di Makkah secara umum sehat, semuanya sudah melaksanakan umrah wajib, bahkan ada yang umrah sunat 2 hingga 3 kali,” ujarnya.

Berbagai kegiatan seperti ziarah di Makkah, tausiah dan pemantapan sebanyak tiga kali dalam sehari, hingga berbelanja oleh-oleh juga telah dilakukan para jamaah.  “Info dari kloter dua, jumlah tarwiyah yang melapor sampai sekarang sekitar 80 orang,” katanya.

Kloter Terakhir Tiba di Makkah
Kloter terakhir JCH akhirnya diberangkatkan ke Makkah, Selasa (7/8). Dengan demikian, tidak ada lagi JCH gelombang pertama yang tersisa di Madinah. Rombongan terakhir itu berasal dari kloter 9 Embarkasi Palembang (PLM). Total ada 488 jamaah yang tergabung dalam kloter tersebut. Mereka diberangkatkan menggunakan 10 bus dari Hotel Rehab Al-Masi.

Pelepasan dilakukan dengan seremonial sederhana oleh Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama (Kemenag) Nizar Ali di lobi hotel. ’’Secara keseluruhan, hari ini ada 6.166 jamaah yang kami berangkatkan ke Makkah,’’ ujar Nizar.

Semua rombongan akan mampir di Bir Ali untuk salat sunat dan membaca niat umrah wajib. Pelepasan itu menandai berakhirnya aktivitas JCH gelombang pertama di Madinah. ’’Totalnya ada 218 kloter dengan 88.927 jamaah (yang masuk gelombang pertama, red),’’ jelasnya.

Perjalanan ke Makkah diperkirakan memerlukan waktu lima jam. Di Makkah, rombongan dari Madinah akan disebar ke 164 hotel yang telah disewa Kemenag. Nizar menyebutkan, pihaknya telah melakukan evaluasi terkait kedatangan JCH gelombang pertama di Madinah. Ada beberapa hal yang perlu dibenahi. Terutama soal perubahan aturan yang terbilang mendadak.

Dia mencontohkan fast track di Bandara Jeddah dan Madinah. JCH yang melalui jalur cepat itu memang tidak perlu berlama-lama menjalani pemeriksaan imigrasi di bandara. Mereka bisa langsung menuju hotel. Namun, kedatangan yang terlalu cepat membuat mereka tidak bisa langsung masuk kamar hotel. ’’Karena jamaah datang sebelum jam check-in hotel,’’ katanya.

Perubahan lain adalah batasan jumlah JCH yang boleh berangkat ke Makkah. Kini, pemerintah Arab Saudi membatasi maksimal hanya 3 ribu JCH yang boleh berangkat di saat bersamaan. Pembatasan mendadak itu membuat keberangkatan beberapa JCH harus diikutkan pada bus berikutnya. ’’Ada juga jamaah yang tertinggal bus karena paspornya belum diregistrasikan di Majmuah,’’ terangnya.

Kepada para jamaah, Nizar berpesan agar mengatur ritme ibadah selama di Makkah. Jamaah tidak perlu bolak-balik melakukan umrah sunah jika kondisi fisik tidak memungkinkan.(muh/cr9/oni/ttg/jpg)

 

Sumber : RIAUPOS.CO