Home Internasional Indonesia Perjuangkan Gaza di PBB

Indonesia Perjuangkan Gaza di PBB

8
Indonesia Perjuangkan Gaza di PBB

Bahas Gaza: Delegasi Indonesia dan Mesir bertemu di markas PBB di New York bahas Jalur Gaza.

 

Rabu 08 May 2019 06:03 WIB

 ​​

Menlu RI akan menemui Sekjen PBB soal Jalur Gaza dan Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, Laporan Subroto, dari New York, Amerika Serikat

NEW YORK — Pemerintah Indonesia dan Mesir bertemu untuk membahas situasi keamanan yang makin panas di Jalur Gaza, Palestina. Pertemuan itu terkait serangan udara militer Israel ke Jalur Gaza yang menewaskan sedikitnya 27 warga Palestina, termasuk anak-anak dan ibu hamil, sejak akhir pekan lalu.

Menteri Luar Negeri RI Retno L Marsudi melakukan pembicaraan terkait persoalan terkini Gaza dengan Wakil Tetap Mesir untuk PBB Duta Besar Mohamed Edrees di markas PBB di New York, Amerika Serikat, Senin (6/5) waktu setempat. Mesir saat ini adalah salah satu pihak penengah perundingan damai antara Israel dan kelompok Hamas.

“Saat ini kita (Indonesia dan Mesir) duduk di DK PBB, kita melakukan compare notes tentang peran apa yang bisa diambil untuk berkontribusi agar situasi di Gaza tidak memburuk. Untungnya sudah ada gencatan senjata," kata Retno di New York, kemarin.

Retno menjelaskan, pihaknya melakukan pembicaraan mengenai upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah meningkatnya ketegangan Israel dan Palestina di Jalur Gaza. “Sebagai negara tetangga dekat, Mesir punya peran berkontribusi dalam rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah," ujar dia.

Sementara, Mohamed Edress menyampaikan selamat kepada Indonesia yang menjabat sebagai presiden DK PBB untuk satu bulan ke depan. Saat Indonesia menjadi presiden DK PBB, menurutnya, dunia menghadapi persoalan yang akut, termasuk di dunia Arab dan Timur Tengah.

“Bagian dari masalah itu adalah Gaza, Palestina, yang skalanya makin meningkat,” kata Mohamed. Ia menjanjikan, Mesir sebagai negara terdekat dengan wilayah Jalur Gaza melakukan upaya-upaya penyelesaian bersama dengan rekan negara lain.

Retno menambahkan, Wakil Tetap RI untuk PBB Duta Besar Dian Triansyah Djani juga telah bertemu dengan Duta Besar Palestina untuk PBB demi membahas situasi di Gaza. Sedangkan pada Selasa (7/5) waktu setempat, Retno dijadwalkan bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk membahas persoalan itu.

Situasi di zona perbatasan Gaza-Israel telah memanas sejak Maret 2018, tepatnya ketika warga Palestina menggelar aksi bertajuk “Great March of Return” alias “Gerakan Pulang Akbar”. Dalam aksi itu mereka menuntut Israel mengembalikan lahan dan tanah yang didudukinya pasca-Perang 1967 kepada para pengungsi Palestina.

Aksi demonstrasi yang berlangsung di sepanjang perbatasan Gaza-Israel itu direspons secara represif oleh Israel. Sebanyak 189 warga Palestina gugur sepanjang aksi Great March of Return dilaksanakan. Sementara itu, sekitar 6.016 lainnya mengalami luka ringan dan berat.

Pada Jumat (3/5) pagi lalu, aksi itu kembali ditingkahi militer Israel dengan kekerasan dan mengakibatkan empat pengunjuk rasa gugur. Dua prajurit penjaga perbatasan dari Israel kemudian ditembak dan mengalami luka-luka pada hari yang sama. Militer Israel (IDF) lalu melancarkan serangan udara yang menewaskan dua petempur sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam, pada Jumat malam.

Serangan udara itu kemudian dibalas peluncuran ratusan roket oleh kelompok jihad Islam ke wilayah Israel pada Sabtu (4/5). Membalas roket-roket itu, pesawat tempur dan kapal perang Israel terus menargetkan Jalur Gaza sejak Sabtu (4/5) malam hingga Senin (6/5).

Israel berdalih menyerang pos-pos Hamas, sementara pihak Palestina menyatakan bahwa serangan-serangan itu juga menghancurkan rumah penduduk dan belasan sekolah.

Gencatan senjata kemudian dicapai kedua pihak pada Senin malam. Namun, juru bicara sayap militer Hamas, Abu Obadiah, mengatakan, gencatan senjata tak akan berarti bila Israel tak mengambil langkah-langkah untuk melonggarkan blokade di Gaza.

Tak lama setelah gencatan senjata dilaporkan diberlakukan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengatakan bahwa perang belum selesai. "Kampanye militer ini belum berakhir. Kami sedang bersiap untuk melanjutkan," kata dia.

Hingga Selasa (7/5), Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mencatat sedikitnya 27 warga Palestina gugur. Korban jiwa teranyar adalah sepasang suami istri dan putra mereka yang berusia 12 tahun. Seorang pekerja Palestina juga ditembak pasukan Israel di perbatasan Gaza, kemarin.

Sementara dari Tanah Air, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk keras kebiadaban militer Israel terhadap warga sipil di Jalur Gaza, Palestina. "MUI mendesak Pemerintah Indonesia yang saat ini sebagai presiden Dewan Keamanan PBB agar menggunakan kesempatan emas tersebut untuk menciptakan kedamaian di Palestina," kata Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, KH Muhyiddin Junaidi, kepada Republika, Selasa (7/5).

Kiai Muhyiddin menegaskan, MUI mendesak kepada kedua belah pihak yang berkonflik agar menahan diri dan menggunakan jalur diplomatik untuk menghentikan peperangan dan konflik berkepanjangan.

(fuji e permana/umar mukhtar ed: fitriyan)

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID,