Home Pemilu Presiden/ Legislatif 2019 Jokowi-Ma\'ruf Belum Aman, Prabowo-Sandi Masih Punya Harapan

Jokowi-Ma\'ruf Belum Aman, Prabowo-Sandi Masih Punya Harapan

57
Jokowi-Ma\

Survei terakhir Indikator menyatakan Jokowi-Ma'ruf meraih elektabilitas 54,9 persen.

Rabu 09 Jan 2019 07:52 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Febrianto Adi Saputro, Haura Hafizhah, Antara

Indikator Politik pada Selasa (8/1) merilis hasil survei terbarunya terkait elektabilitas pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres). Kesimpulan dari survei Indikator adalah angka elektabilitas pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin yang belum aman dan peluang bagi pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Hasil survei Indikator menunjukkan, pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf meraih elektabilitas 54,9 persen atau unggul 20,1 persen dibandingkan dengan pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandi yang memiliki elektabilitas 34,8 persen. Jokowi-Ma'ruf akan memenangkan pilpres jika, pilpres diselenggarakan saat ini.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Buhanuddin Muhtadi menyatakan, pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf tidak boleh merasa puas, karena tingkat elektabilitas 54,9 persen itu belum aman, jika pilpres yang akan diselenggarakan pada 17 April 2019. "Swing voters yakni pemilih yang masih dapat mengubah pilihannya masih tinggi, yakni mencapai 25 persen, kata Burhanuddin, Selasa.

Burhanuddin menegaskan, elektabilitas kedua pasangan capres-cawapres masih bisa berubah karena pelaksanaan pemilu presiden masih sekitar tiga bulan lagi. Elektabilitas Jokowi dan Prabowo pada Desember 2018, menurut dia, mengalami sedikit peningkatan jika dibandingkan survei pada Oktober 2018. Adapun, pemilih yang belum menentukan pilihan undecided voters cenderung menurun.

Besarnya angka undecided voters yakni 9,2 persen, menurut Burhan, juga membuat pasangan Jokowi-Ma'ruf masih belum aman. Sehingga, katanya, pasangan Prabowo-Sandi pun masih memiliki peluang memenangi Pilpres 2019.

"Masih ada peluang pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandi untuk memenangkan Pemilu 2019," kata Burhanuddin

Survei dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia terhadap sebanyak 1.220 responden berusia 17 tahun ke atas dengan sampel acak di 34 provinsi di Indonesia, pada 6-16 Desember 2019. Metode survei yang digunakan yakni wawancara tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Adapun, margin of error rata-rata sebesar plus minus 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

 

Komentar dua kubu paslon

Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, mengatakan, hasil survei Indikator menjadi rujukan untuk membuat langkah-langkah terorganisir yang akan dilakukan ke depannya. Menurut Hasto, masih unggulnya Jokowi-Ma'ruf membuktikan serangan hoaks dan fitnah tidak terlalu memiliki dampak elektoral.

"Ini semakin memperkuat strategi komunikasi politik yang disampaikan oleh Pak Jokowoi- Ma'ruf," kata Hasto, Selasa ( 8/1).

Meskipun elektabilitas Jokowi-Ma'ruf meningkat dari survei sebelumnya, kata Hasto, Tim Kampanye Nasional (TKN) akan tetap bekerja keras. TKN juga akan berupaya menangkal hoaks dan fitnah yang terus menyebar di masyarakat.

"Hoaks dan fitnah hanya memperkuat militansi internal dan tidak memiliki dampak elektoral yang signifikan dalam kontestan," ucapnya.

Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Dahnil Anzhar Simanjuntak menyebut angka elektabilitas hasil survei Indikator masih mengkhawatirkan bagi pejawat. Dahnil menilai, elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf stagnan.

"Yang namanya survei kalau petahana itu angkanya stagnan di angka 50 itu mengkhawatirkan dan mengerikan," kata Dahnil di sela-sela mendampingi aktivitas cawapres Sandiaga Salahuddin Uno di Jakarta, Selasa (8/1).

Dahnil menambahkan, hal itu berbeda seperti ketika Pemilu 2009 lalu, elektabilitas Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono diketahui mencapai 70 persen. Oleh karena itu ia optimistis bahwa Prabowo-Sandiaga bisa menang jika melihat angka survei tersebut.

"Kami yakin gelombang perubahan itu semakin membesar ya. Dan terus terang suasana yang ada di BPN itu suasana menang, kami terus terang akui itu," ungkapnya.

Dahnil menilai, ada beberapa indikator penyebab stagnannya elektabilitas Jokowi-Ma'ruf. Salah satunya yaitu banyaknya janji Jokowi yang tidak ditepati.

"Karena kan publik sudah cerdas ya, informasi dari teman-teman media, sosial media banyak sekali janji-janji kalau kita catat ada puluhan janji yang disampaikan Pak Jokowi tidak terpenuhi," ungkapnya.

Ia juga melihat bahwa masyarakat kini lebih banyak yang hidupnya merasakan lebih sulit. Selain tingginya harga-harga kebutuhan sehari-hari, kurangnya lapangan kerja juga kerap dirasakan masyarakat.

"Dan itu yang selalu diulang-ulang bang Sandi," ucap mantan ketua PP Pemuda Muhammadiyah itu.

 

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

Sumber Fhoto : Kompas.co