Home Nasional Mendagri Pertimbangkan Sistem Pilkada Asimetris, Artinya?

Mendagri Pertimbangkan Sistem Pilkada Asimetris, Artinya?

26
Mendagri Pertimbangkan Sistem Pilkada Asimetris, Artinya?

Wakil Wali Kota Solok Reinier, menerima penghargaan dari Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di Jakarta. Selasa (19/11). Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan memberikan penghargaan kepada kota Solok yang lolos verifikasi dokumen dan lapangan yang telah dilaksanakan pada 6-7 Agustus 2019.

 

 

Rabu, 20 November 2019 01:40 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Mendagri Tito Karnavian menyebut tengah mengkaji sejumlah opsi sebagai solusi atas evaluasi pemilihan kepala daerah atau Pilkada langsung. Salah satu opsi yang disebut Tito adalah Pilkada asimetris.

"Kami di Kemendagri terutama Pak Menteri betul-betul mengingat pilkada ini dilakukan by riset. Sejauh mana keefektifannya selama ini, tentu risetnya dilakukan dengan metodologi yang empiris dan melibatkan peneliti-peneliti yang berintegritas," kata Kepala Pusat Penerangan Kemendagri, Bahtiar dalam siaran pers tertulisnya, Selasa, 19 November 2019.

Pilkada asimetris yang dimaksud adalah sistem yang memungkinkan adanya perbedaan pelaksanaan mekanisme pilkada antar daerah. Perbedaan tersebut bisa muncul dikarenakan suatu daerah memiliki karakteristik tertentu seperti kekhususan dalam aspek administrasi, budaya ataupun aspek strategis lainnya.

Misalnya, seperti di DKI Jakarta yang wali kota dan bupati tidak dipilih melalui Pilkada. Hal tersebut dikarenakan status daerah tingkat II di DKI Jakarta bukanlah berstatus daerah otonom tetapi sebagai daerah pembantu. Kondisi ini membuat posisi wali kota dan bupati ditentukan oleh gubernur dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

 

Opsi tersebut didukung oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Ia menyatakan, partainya mendukung penuh usul Tito untuk memberlakukan Pilkada secara asimetris sebagai bagian dari hasil evaluasi sistem pemilihan langsung.

"Daerah-daerah yang potensi konfliknya besar, maka di daerah tersebut dengan hikmat kebijaksanaan, kita galakkan pemilu asimetris," ujar Hasto lewat keterangan tertulis pada Selasa, 19 November 2019.

 

Senada dengan Tito Karnavian, Hasto menilai Pilkada langsung saat ini memiliki potensi konflik akibat polarisasi masyarakat dan juga memakan ongkos politik yang tinggi. Sehingga, ujar dia, kerap kali Pilkada langsung menghadirkan bohir-bohir tertentu untuk membiayai pertarungan antarcalon. Dampaknya, ketika pemenang pilkada menjabat, eksploitasi sumber daya alam daerah terjadi demi membayar kembali biaya pilkada dimaksud.

"Karena kepentingan investor politik, sehingga di daerah dilakukan berbagai eksploitasi alam luar biasa. Mengeruk kekayaan alam kita luar biasa karena Pilkada dengan biaya politik mahal," ujar Hasto.

 

Sumber : TEMPO.CO