Home Opini Menjemput Optimisme di Pilpres 2019

Menjemput Optimisme di Pilpres 2019

12
Menjemput Optimisme di Pilpres 2019

Petugas dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) memperlihatkan surat suara Pilpres yang rusak ketika menyortir dan melipat surat suara di gudang penyimpanan logistik KPU Kota Bandar Lampung, Lampung, Jumat (8/3/2019).

 

Selasa 12 Mar 2019 12:51 WIB

Mengapa perlu menjemput optimisme? Karena optimisme telah tertanam di dalam diri kita

Oleh: Sutia Budi

( Wakil Rektor ITB Ahmad Dahlan Jakarta, Koordinator Nasional Jaringan Matahari ) 

 

Suatu waktu, penulis berbincang dengan seorang petani di Dusun Mekarsari, Sarimukti, Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya. "Aa Jaka, jang saha hayoh melakan tatangkalan?"_ (Aa Jaka, buat siapa menaman pohon terus?). Ia menjawab, "aeh, engke mah jang saha wae, anak incu, da engke mah bakal butuh"_ (aeh, nanti buat siapa saja, anak cucu, kan nanti akan butuh).

Penggalan dialog itu cukup menarik dicermati. Seorang petani lulusan sekolah dasar, terus-menerus menanam pohon untuk bekal generasinya. Ia sadar bahwa ke depan, pohon akan selalu dibutuhkan. Ia juga paham bahwa belum tentu pohon yang ditanamnya itu akan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh dirinya.

Sesungguhnya ia telah melakukan “investasi besar” untuk kebaikan dan kebutuhan generasinya di kemudian hari. Lalu apa yang mendorongnya untuk terus menanam pohon? Harapan baik. Itulah Optimisme.

Optimistis adalah suatu sikap mental yang berpengharapan baik dalam menghadapi berbagai keadaan. Orang optimistis adalah orang yang selalu mengharapkan yang baik-baik saja dalam menghadapi segala hal. Sehingga optimisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), didefinisikan sebagai paham (keyakinan) atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan; sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal.

Hajatan demokrasi pilpres kian mendekat. Perbincangan-perdebatan di media cetak, elektronik, media sosial, hingga obrolan warung kopi dan pinggir jalan, seakan tak ada habisnya. Sayangnya, pesta rakyat yang semestinya disambut riang gembira itu, terkadang mempertontonkan perdebatan yang sangat tajam, hitam-putih, optimistis-pesimistis, bahkan tidak jarang menyeruak kata-kata "surga-neraka".

Harapan kita, yang muncul ke permukaan adalah sikap politik kritis. Namun tidak jarang, yang membuncah justru sikap politik sinis.

Pada titik inilah, kita harus kembali kepada tujuan demokrasi dan mesti menyadari bahwa kemajuan Indonesia akan dapat disongsong jika kita bersikap optimistis. Sama halnya dengan optimisme seorang petani desa yang terus-menerus menanam pohon. Demi pemenuhan kebutuhan, kebaikan, dan kemajuan generasinya.

Ketika debat para capres yang digelar pada 17 Februari 2019 lalu, banyak momen menarik dan gagasan yang muncul dari kedua kandidat. Di antara momen yang menarik untuk dicermati adalah ketika Prabowo mengkritisi dan menyindir Jokowi pada tema energi dan pangan.

Jokowi menanggapi kritikan Prabowo dengan kalimat, "Pak Prabowo ini kelihatannya ke depan kurang optimis". Sontak penonton menjadi riuh-ramai dan sebagian tertawa lebar. Terlepas apakah itu bagian dari strategi debat, bertahan ataupun menyerang, namun yang jelas, kata “optimis” menjadi demikian penting untuk dihadirkan.

Dalam alinea ketiga UUD 1945, dinyatakan dengan jelas bahwa kemerdekaan Indonesia, berkehidupan kebangsaan yang bebas itu adalah “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur”. Itulah optimisme. Menggapai cita mulia dan kebulatan tekad untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan dibangun atas dasar optimisme yang kuat. Menghadirkan optimisme dalam pikiran dan perkataan, akan mendorong kebaikan dalam gerak dan laku.

Karena itu kita berharap, optimisme tidak berhenti pada sebuah tema kampanye misalnya. Tetapi harus mampu dinarasikan, diaktualisasikan, dan digelorakan dalam berbagai dimensi kehidupan.

Agama mengajarkan kita untuk selalu optimis dalam menghadapi segala kondisi. Tuhan telah berfirman dalam Alquran, "... Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah..." (QS. Az-Zumar: 53 dan QS. Yusuf: 87). Artinya kita harus selalu optimis, tidak boleh pesimis, manusia tidak pantas putus asa, karena sudah dikaruniakan akal dan pikiran yang sehat.

Penelitian yang dilakukan Parashar (2009) telah menunjukkan optimisme berkorelasi dengan banyak hasil kehidupan positif termasuk peningkatan harapan hidup, kesehatan umum, kesehatan mental yang lebih baik, peningkatan keberhasilan dalam olahraga dan pekerjaan, tingkat pemulihan yang lebih besar dari operasi jantung dan strategi koping (coping) yang lebih baik ketika dihadapkan dengan kesulitan. Sehingga tidak ada penelitian sampai saat ini yang menunjukkan pesimisme sebagai prediktor untuk hasil yang sehat terkait dengan kesehatan fisik. Menurut Haber dan Runyon (1984), coping adalah semua bentuk perilaku dan pikiran (negatif atau positif) yang dapat mengurangi kondisi yang membebani individu agar tidak menimbulkan stres.

Disadari bahwa tantangan Indonesia ke depan semakin kompleks, detail, dan dinamis. Namun peluang Indonesia untuk menjadi negara maju dan besar sangat terbuka lebar. Berbagai potensi yang dimiliki harus mampu digali, dikembangkan, dan dipertahankan secara berkelanjutan. Berbagai modal yang sudah digenggam harus mampu didayagunakan untuk menopang proses pembangunan yang akan terus berlangsung.

Lima modal sebagaimana disebutkan Ellis (2000) sebagai livelihood assets yaitu modal alam, modal fisik, modal manusia, modal finansial, dan modal sosial itu telah kita miliki. Termasuk juga modal-modal lainnya yang dimiliki negeri ini merupakan rahmat Tuhan yang harus dimanfaatkan secara benar, untuk wujudkan cita mulia, menjaga kebersamaan, memelihara kemajemukan, dan menggapai kemajuan. Lagi-lagi, “sebuah keyakinan” dan sikap mental yang dibutuhkan untuk mengiringi proses pembangunan itu bernama "optimisme". 

Menghadapi pilpres 2019, kita semua harus optimis dan selalu menjaga kebersamaan. Pilihan boleh beda, tetapi persatuan Indonesia adalah hal utama. Ketenangan jiwa, rasionalitas, dan sikap optimistis itu harus dimiliki para pendukung dan terlebih para kontestan yang didukung. Karena dukungan politik karena ketakutan amat berbahaya.

Teringat nasihat Dosen Ekologi Politik dan Sosiologi IPB, Dr. Arya Hadi Dharmawan yang mengatakan bahwa dukungan politik karena ketakutan, memunculkan perasaan depresif dan kepasrahan tanpa motivasi. The culture of fear (Glassner) adalah budaya ketakutan yang membayang di pikiran sebuah masyarakat.

Bias pikiran ke arah negatif tersebut, berpotensi untuk diinstrumentasi (oleh segolongan orang) sebagai alat untuk mencapai kekuasaan. Alhasil ia menghasilkan the politics of fear (Furedi, 2005). Politik ketakutan. Politik berbasis rasa takut dimainkan oleh segolongan orang untuk meraih dukungan politik dari orang-orang yang dilanda kecemasan dan ketakutan luar biasa. Dukungan yang didapat adalah dukungan karena dorongan oleh rasa ketakutan, kecemasan, ketidakpastian. Bukan, dukungan yang didapat dari keberanian menghadapi risiko, kekuatan hati, dan harapan serta optimisme.

Mengapa harus "menjemput optimisme"? Karena sesungguhnya optimisme itu telah tertanam sejak lama dalam diri kita. Ia sudah dilahirkan, tapi ia perlu dibathinkan, perlu dikuatkan dalam diri (internalisasi). Ia sudah berada di dalam jiwa, tetapi ia perlu dihadirkan di alam nyata. Pertanyaannya, maukah kita menjemputnya?

 

 REPUBLIKA.CO.ID,