Home Opini Mewujudkan Mudik Aman dan Nyaman

Mewujudkan Mudik Aman dan Nyaman

95
Mewujudkan Mudik Aman dan Nyaman

Pemudik yang menggunakan sepeda motor melintas di Jalan Raya Kalimalang, Jakarta, 1 Juli 2017. Memasuki H+6 Hari Raya Idul Fitri 1438 H, arus balik pemudik yang menggunakan sepeda motor mulai meningkat, dan diperkirakan puncak arus balik mudik lebaran terjadi pada hari ini Sabtu, 1 Juli dan Minggu, 2 Juli 2017. ANTARA/Galih Pradipta

 

Selasa, 28 Mei 2019 07:30 WIB

Oleh : Wihana Kirana Jaya 
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM

Dari sudut pandang teori ekonomi transportasi, mudik berimplikasi pada peningkatan permintaan jasa transportasi untuk mobilitas pemudik dari kota menuju kampung halamannya dan sebaliknya, ketika kembali saat arus balik. Meningkatnya permintaan ini kemudian direspons, terutama oleh pemerintah, dengan meningkatkan sarana dan prasarana transportasi serta pasokan bahan bakar minyak.

Berdasarkan hasil survei Kementerian Perhubungan pada Maret 2019, sekitar 14,9 juta atau 44 persen penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi akan mudik untuk merayakan Lebaran. Pemudik yang memilih moda transportasi bus sebanyak 4,46 juta (30 persen), mobil pribadi 4,3 juta (28 persen), kereta api 2,49 juta (16,7 persen), pesawat terbang 1,4 juta (9,5 persen), dan sepeda motor 0,94 juta ( 6,3 persen). Dari sekitar 1 juta mobil pribadi pemudik, jalan tol Trans Jawa menjadi rute favorit yang akan dilalui 40 persen pemudik. Jalur favorit berikutnya adalah Pantura (27,3 persen). Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada H-5, yakni pada 31 Mei 2019.

Kualitas mudik tahun ini jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya dengan ketersediaan infrastruktur transportasi yang juga lebih baik, seperti tersambungnya seluruh ruas jalan tol Trans Jawa, dari Merak hingga Probolinggo. Demikian pula berbagai ruas tol operasional dan fungsional di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.

Selain kesiapan sarana dan prasarana transportasi, prinsip dan strategi "3S" (safety, security, services) harus diterapkan secara konsisten di lapangan demi mewujudkan mudik Lebaran 2019 yang aman dan nyaman bagi masyarakat.

Aspek keselamatan (safety) diterapkan untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas. Namun hal ini harus dimulai oleh para pengendara sendiri, yang perlu memastikan kelaikan kendaraannya dan kondisi fisik pengemudi, khususnya yang menggunakan mobil pribadi, dan lebih khusus lagi para pemudik bersepeda motor.

Lokasi-lokasi rawan kecelakaan dan rawan tanah longsor perlu dipetakan pemerintah jauh hari sebelum hari-H untuk kemudian diantisipasi, seperti dengan menyiapkan alat berat dan pos-pos tanggap darurat, juga menambah rambu. Truk-truk bertonase besar untuk sementara perlu berhenti beroperasi pada hari-hari kritis untuk mengurangi angka kecelakaan lalu lintas, kecuali truk-truk bermuatan bahan pokok. Untuk meningkatkan inklusivitas sekaligus keselamatan pemudik, program mudik gratis dan pengangkutan sepeda motor gratis sangatlah bermanfaat.

Aspek keamanan (security) sama pentingnya dengan keselamatan karena keamanan juga berkorelasi positif dengan keselamatan. Titik-titik rawan tindak kriminalitas, terlebih pada jalur non-tol, perlu dipetakan sebagaimana titik-titik rawan kecelakaan. Beberapa lokasi telah dikenal sebagai jalur rawan tindak kejahatan, seperti jalur lintas Sumatera di sekitar perbatasan Sumatera Selatan dengan Lampung, Bengkulu, dan Jambi. Jalur mudik Lampung-Sumatera Selatan, baik jalan tol fungsional maupun jalur lintas non-tol, yang melewati wilayah rawan tindak kriminalitas layak menjadi salah satu prioritas pengamanan oleh pihak kepolisian.

Aspek layanan (services) dari pihak-pihak terkait mulai H-8 hingga H+8 akan menambah kenyamanan mudik. Layanan ini termasuk penyediaan toilet bergerak, pijat gratis, layanan kesehatan, dan lain-lain di rest area jalan tol, bahkan pada jalan arteri nasional non-tol, seperti jalur Pantura.

Pelaksanaan prinsip 3S itu membutuhkan koordinasi yang baik antar-instansi terkait, baik tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota.

Pengelolaan tradisi mudik yang lebih berkualitas tentu akan memberikan dampak sosial-ekonomi yang juga lebih baik pada daerah atau desa yang menjadi tujuan mudik. Sebab, mudik juga berimplikasi pada redistribusi pendapatan, aset, dan sumber daya ekonomi lain ke perdesaan.

Para pemudik cenderung membawa uang untuk zakat, infak, dan sedekah. Para pemudik yang merupakan pekerja informal akan membelanjakan tabungannya untuk memperbaiki rumah, membeli perkakas elektronik, bahkan membuka usaha mikro di kampung halamannya. Yang bekerja sebagai pegawai negeri dan badan usaha milik negara akan berbagi uang dan oleh-oleh untuk sanak saudaranya. Omzet warung, toko, dan restoran di sekitar kampung halaman akan meningkat karena kedatangan pemudik. Tingkat okupansi fasilitas akomodasi pun akan naik. Kehadiran para pemudik yang merupakan pebisnis dapat dimanfaatkan oleh badan usaha milik desa setempat untuk menambah modal atau bermitra bisnis.

Dengan terus membaiknya kualitas infrastruktur transportasi dan dukungan implementasi 3S serta persiapan yang baik dari para pemudik sendiri, akan terwujud mudik Lebaran yang aman, nyaman, dan membahagiakan.

 

Sumber : Tempo.co