“KEBERADAAN SEJARAH SYEKH ABDUL WAHAB ROKAN : PELUANG PENGEMBANGAN PARIWISATA UNTUK PENINGKATAN POTENSI EKONOMI MASYARAKAT”

Diposkan Oleh : Luhak Kepenuhan |
“KEBERADAAN  SEJARAH SYEKH ABDUL WAHAB ROKAN :  PELUANG PENGEMBANGAN PARIWISATA UNTUK  PENINGKATAN POTENSI EKONOMI MASYARAKAT”
Achyaruddin SE. MSc Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi, Insentif dan Even Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

KEBERADAAN  SEJARAH SYEKH ABDUL WAHAB ROKAN :

PELUANG PENGEMBANGAN PARIWISATA UNTUK  PENINGKATAN POTENSI EKONOMI MASYARAKAT

Oleh : Achyaruddin SE. MSc

Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi, Insentif dan Even

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

 

 

  • LATAR BELAKANG

SYEKH ABDUL WAHAB ROKAN. Beliau Lahir di Rantau Benuang Sakti Kecamatan Kepenuhan Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau, pada tanggal 10Rabbi’ul Akhir 1239 H bertepatan tanggal 28 Desember 1811 M, beliau bernama Abu Qassim oleh kedua orang tuanya, ibunya bernama Arbaiyah dan ayahnya bernama Abdul Manaf Bin M. Yasin Bin Maulana.Dengan Rahrnat dan Nikmat Allah SWT beliau menjadi guru besar mengajar Ilmu Syari’at, Ma’rifat dan Haqiqat di Sumatera Utara, setelah belajar di Makkatul Mukarromah dengan gelar Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi.

Dalam mengajar agama di Sumatera Utara di daerah langkat semasa Raja Sultan Musa Muazzamsyah,  menyerahkan sebidang tanah di Hulu Sungai Batang Serangan yang kemudian diberi nama Babussalam (Besilam) untuk kegiatan Tarekat Naqsabandiyah sehingga beliau menjadi Tuan Guru Babusalam. Banyak murid-murid beliau yang belajar ilmu agama dan Tarekat Naqsyabandi yang berasal dari berbagai daerah di Sumatera bahkan negara tetangga (kawasan ASEAN).  Saat ini  Zuriyat Syekh Abdul Wahab Rokan   sudah tersebar diseluruh Indonesia dan manca negara yang meneruskan Amiliyah Syekh Abdul Wahab Rokan sehingga Babussalam dikenal dimana-mana. Saat ini pengikut-pengikut beliau diseluruh dunia juga mengenal daerah Rantau Binuang Sakti yang terletak di Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau sebagai tanah kelahiran Syekh Abdul Wahab Rokan dan disinilah beliau mulai melangkahkan kakinya untuk mengembangkan agama Islam dan tarekat Naqsabandi di Asia Tenggara.

Sebagai seorang ulama, beliau banyak  melahirkan Faqih (ahli agama), dan sebagai ahli Ma’rifat, beliau telah melahirkan khalifah (ahli tarekhat). Para faqih dan khalifah yang datang dilantik, dan kemudian dikembalikan kedaerahnya. Dengan demikian Tarekat Naqsyabandi menyebar dimana-mana seperti daerah Aceh, Sumut, Riau, jambi, Jawa bahkan ke manca negara seperti Malaysia, Thailand, Singapore dan Brunei Darussalam.  Saat ini para khalifah turunan dan jemaah tersebut sudah mencapai puluhan ribu orang tersebar di Nusantara dan di seluruh dunia  (sumber : Panitia pelaksana Maulid Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan, Panitia 2013).

Eksistensi sejarah Syekh Abdul  Wahab Rokan yang lahir di desa Rantau Binuag Sakti Kab. Rokan Hulu  memberikan peluang untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata minat khusus ziarah. Dalam hal ini, basis khalifah  turunan Tharikat Nagsyabandi yang sekarang sudah tersebar ke berbagai daerah dan kawasan  merupakan segmentasi pasar yang sangat potensial untuk ditarik berkunjung ke desa  tersebut.

  • EKSISTENSI SEJARAH SYEKH ABDUL WAHAB ROKAN  DALAM KONTEKS PENGEMBANGAN DAYA TARIK WISATA WISATA BUDAYA (ZIARAH/RELIGI).

Wisata Budaya kedepan akan menjadi bagian dari sebuah kegiatan yang bersifat serious leisure yaitu sebuah cara berwisata yang tidak hanya bersenang-senang tetapi juga memerlukan ketrampilan (skill) dan wawasan pengetahuan (knowledge). WTO (World Tourism Organization) memprediksikan bahwa wisata budaya (disamping ecotourism) akan menjadi sangat dominan dalam abad ke 21.

 

Menurut Picard (2006), yang dimaksud pariwisata budaya adalah jenis pariwisata yang dalam pengembangan dan perkembangannya menggunakan kekayaan budaya sebagai basis daya tarik dan atraksinya. Konsep pariwisata budaya yang dirumuskan dalam Undang-undang No. 10 tahun 2009  tentang Kepariwisataan menjelaskan bahwa pariwisata budaya merupakan satu jenis kepariwisataan yang bertumpu pada kebudayaan, yaitu kebudayaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Setiap gerak dan langkah dalam kerangka pengembangan pariwisata, secara normatif diharapkan tetap bertumpu pada kebudayaan bangsa. Dengan demikian, kedudukan seni dan budaya dalam pengembangan dan pembangunan pariwisata Indonesia bukan hanya sebagai media pendukung, melainkan juga sebagai pemberi identitas kepada pariwisata itu sendiri.

 

Pariwisata budaya merupakan jenis wisata minat khusus (special interest tourism) karena wisatawan yang melakukan kegiatan wisata tersebut didorong oleh motivasi khusus, yaitu untuk mengunjungi tempat atau sesuatu yang memiliki keunikan budaya, seperti tata upacara tradisional, bangunan bersejarah, peninggalan yang sakral/religius, seni pertunjukan, seni kerajinan, dan sebagainya. Wisata budaya (culture tourism) juga termasuk kegiatan yang dilakukan wisatawan dalam mengunjungi berbagai peristiwa atau kegiatan khusus (special events), seperti upacara keagamaan, upacara penobatan raja, upacara pemakaman raja maupun tokoh yang mempunyai kharisma, pertunjukan rombongan kesenian, dan sebagainya (Avi Marlina, 2008).

 

Salah satu produk wisata berbasis budaya yaitu wisata ziarah (pilgrimage tourism). Wisata ziarah atau pilgrimage tourism adalah wisata atau perjalanan yang dilakukan individu atau kelompok untuk tujuan ziarah atau untuk menjalankan bagian dari kepercayaan spiritual atau agamanya, untuk misionari, atau untuk kesenangan spiritual. 94 Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 12, No. 2, Agustus 2011: 91-99; Inskeep (1991) menyebut wisata ziarah dengan istilah wisata religius (religious tourism), yaitu perjalanan/wisata dengan maksud berziarah ke suatu tempat yang suci untuk keperluan religius, seperti perjalanan haji ke Mekah, kunjungan ke Vatikan di Roma, dan sebagainya.

 

Menurut data World Tourism Organization (WTO), situs-situs ziarah masih menjadi tujuan utama para wisatawan seluruh dunia. Setiap tahun sekitar 330-350 juta wisatawan dari berbagai macam agama dan kepercayaan mendatangi situs-situs ziarah di seluruh dunia. Dari ritual Haji ke Mekah bagi Muslim, hingga ritual penyucian diri dengan mandi di Sungai Gangga bagi umat Hindu India.

 

Satu bentuk baru dari wisata ziarah adalah secularism tourism atau wisata sekuler, yakni wisata ziarah yang bukan berdasarkan motif agama atau kepercayaan adat, tetapi karena latar belakang ikatan spiritual, kekaguman, dan popularisme.

 

 

  • PENGEMBANGAN WISATA ZIARAH/RELIGI SYEKH ABDUL WAHAB ROKAN

 

  1. 1.     Perjalanan Tokoh Islam Tuanku Syekh Abdul Wahab Rokan

 

Syekh Abdul Wahab Rokan dikenal juga dengan Syekh Basilam yang merupakan murid dari Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Qubais Mekkah. Beliau lahir pada tanggal 19 Rabiul Akhir 1230 H di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Negeri Tinggi, Rokan Tengah, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau dan diberi nama Abu Qosim. Ayahnya bernama Abdul Manaf bin Muhammad Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tambusei, seorang ulama besar yang ‘abid dan cukup terkemuka pada saat itu. Sedangkan ibunya bernama Arbaiyah binti Datuk Dagi bin Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim yang memiliki pertalian darah dengan Sultan Langkat. Syekh Abdul Wahab meninggal pada usia 115 tahun pada 21 Jumadil Awal 1345 H atau 27 Desember 1926 M.

 

Setelah menamatkan pelajarannya dalam bidang al-Quran, Syekh Abdul Wahab melanjutkan studinya ke daerah Tambusei dan belajar pada Maulana Syekh Abdullah Halim serta Syekh Muhammad Shaleh Tembusei. Dari kedua Syekh inilah, ia mempelajari berbagai ilmu seperti tauhid, tafsir dan fiqh. Disamping itu ia juga mempelajari “ilmu alat” seperti nahwu, sharaf, balaghah, manthiq dan ‘arudh. Diantara Kitab yang menjadi rujukan adalah Fathul Qorib, Minhaj al-Thalibin dan Iqna. Karena kepiawaiannya dalam menyerap serta penguasaannya dalam ilmu-ilmu yang disampaikan oleh guru-gurunya, ia kemudian diberi gelar “Faqih Muhammad”, orang yang ahli dalam bidang ilmu fiqh.

 

Syekh Abdul Wahab kemudian melanjutkan pelajarannya ke Semenanjung Melayu dan berguru pada Syekh Muhammad Yusuf Minangkabau. Ia menyerap ilmu pengetahuan dari Syekh Muhammad Yusuf selama dua tahun, sambil tetap berdagang di Malaka. Hasrat belajarnya yang tinggi, membuat ia tidak puas hanya belajar sampai di Malaka. Ia seterusnya menempuh perjalanan panjang ke Mekah dan menimba ilmu pengetahuan selama enam tahun pada guru-guru ternama pada saat itu. Di sini pulalah ia memperdalam ilmu tasawuf dan tarekat pada Syekh Sulaiman Zuhdi sampai akhirnya ia memperoleh ijazah sebagai “Khalifah Besar Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”.

 

Syekh Abdul Wahab, juga memperdalam Tarekat Syaziliyah. Hal ini terbukti dari pencantuman namanya sendiri ketika ia menulis buku 44 Wasiat yakni Wasiat Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi Naqsyabandi as-Syazali…”. Selain itu, pada butir kedua dari 44 Wasiat, ia mengatakan apabila kamu sudah baligh berakal hendaklah menerima Thariqat Syazaliyah atau Thariqat Naqsyabandiyah supaya sejalan kamu dengan aku. Hanya saja sampai saat ini, penulis belum memperoleh data kapan, dimana dan pada siapa Syekh Abdul Wahab mempelajari Tarekat Syaziliyah ini.

 

Di sela-sela kesibukannya sebagai pimpinan Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Wahab masih menyempatkan diri untuk menuliskan pemikiran sufistiknya, baik dalam bentuk khutbah-khutbah, wasiat, maupun syair-syair yang ditulis dalam aksara Arab Melayu. Tercatat ada dua belas khutbah yang ia tulis dan masih terus diajarkan pada jamaah di Babussalam. Sebagian khutbah-khutbah tersebut -enam buah diantaranya- diberi judul dengan nama-nama bulan dalam tahun Hijriyah yakni Khutbah Muharram, Khutbah Rajab, Khutbah Syaban, Khutbah Ramadhan, Khutbah Syawal, dan Khutbah Dzulqadah. Dua khutbah lain tentang dua hari raya yakni Khutbah Idul Fitri dan Khutbah Idul Adha. Sedangkan empat khutbah lagi masing-masing berjudul Khutbah Kelebihan Jumat, Khutbah Nabi Sulaiman, Khutbah Ular Hitam, dan Khutbah Dosa Sosial. Wasiat atau yang lebih dikenal dengan nama “44 Wasiat Tuan Guru” adalah kumpulan pesan-pesan Syekh Abdul Wahab kepada seluruh jamaah tarekat, khususnya kepada anak cucu / dzuriyat-nya. Wasiat ini ditulisnya pada hari Jumat tanggal 13 Muharram 1300 H pukul 02.00 WIB  kira-kira sepuluh bulan sebelum dibangunnya Kampung Babussalam (sekarang dikenal dengan nama desa Basilam).

 

Karya tulis Syekh Abdul Wahab dalam bentuk syair, terbagi pada tiga bagian yakni Munajat, Syair Burung Garuda dan Syair Sindiran. Syair Munajat yang berisi pujian dan doa kepada Allah, sampai hari ini masih terus dilantunkan di Madrasah Besar Babussalam oleh setiap muazzin sebelum azan dikumandangkan. Dalam Munajat ini, terlihat bagaimana keindahan syair Syekh Abdul Wahab dalam menyusun secara lengkap silsilah Tarekat Naqsyabandiyah yang diterimanya secara turun temurun yang  terus  bersambung  kepada  Rasulullah Saw.  Sedangkan  Syair Burung Garuda berisi kumpulan petuah dan nasehat yang diperuntukkan khusus bagi anak dan remaja. Sayangnya, sampai saat ini Syair Burung Garuda tidak diperoleh naskahnya lagi. Sementara itu, naskah asli Syair Sindiran telah diedit dan dicetak ulang dalam Aksara Melayu (Indonesia) oleh Syekh Haji Tajudin bin Syekh Muhammad Daud al-Wahab Rokan pada tahun 1986.

 

Selain khutbah-khutbah, wasiat maupun syair-syair, Syekh Abdul Wahab juga meninggalkan berbait-bait pantun nasehat. Pantun-pantun ini memang tidak satu baitpun tertulis namun sebagian diantaranya masih dihafal oleh sebagian kecil anak cucunya secara turun temurun. Menurut Mualim Said, -salah seorang cucu Syekh Abdul Wahab yang menetap di Babussalam saat ini- ia sendiri masih hafal beberapa bait pantun tersebut, seperti halnya dengan Syekh H. Hasyim el-Syarwani, Tuan Guru Babussalam sekarang. Dalam karya-karya tulisnya inilah, akan terlihat pemikiran-pemikiran sufistik Syekh Abdul Wahab seperti yang akan dijelaskan lebih lanjut.

 

  1. 1.   Gagasan Pengembangan Wisata Ziarah di Desa Rantau Binuang Sakti

 

Melihat sejarah perjalanan tokoh Islam Tuanku Syekh Abdul Wahab Rokan yang lahir di Desa Rantau Binuang Sakti di Kab. Rokan Hulu  maka perlu dipikirkan dan digagas untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata ziarah (pilgrimage tourism) telelbih apabila di integrasikan (dipadukan)dengan pengembangan desa Basilam di Sumatera Utara (sebagai pusat penyebaran Tarikat Naqsyabandiah dan makam Syekh Abdul Wahab Rokan) . Wisata agama (religi) atau yang lebih dikenal sebagai pilgrimage tourism bukanlah hal baru dalam industri pariwisata. Tren pariwisata internasional telah mengindikasikan semakin berkembangnya jenis wisata psikis-spiritual (psychic-spiritual travel), yaitu munculnya kelompok-kelompok wisatawan yang berminat terhadap pengayaan mental dan spiritual (Vukonic, 1996). Salah satu jenis wisata semacam ini adalah wisata religi atau wisata ziarah.

 

Kecenderungan melakukan perjalanan ziarah (pilgrim tourism) semakin berkembang sehingga perlu mendapat perhatian khusus dalam dunia pariwisata. Dalam hal ini wisata ziarah dapat dikategorikan sebagai wisata budaya, namun juga dapat dikategorikan dalam wisata alternatif atau wisata minat khusus (special interest tourism). Pengembangan wisata ziarah yang berbasis kepercayaan dan tradisi perlu memperhatikan kemungkinan timbulnya dampak negatif dari kegiatan tersebut. Dunia wisata selalu mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dan bahkan bangsa dengan berbagai sikap dan kebiasaannya masing-masing. Pertemuan berbagai adat dan budaya yang dibawa para wisatawan (lebih-lebih wisatawan mancanegara) ke daerah tujuan wisata sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupan masyarakat sekitar objek wisata. Hal ini memerlukan kecermatan dan kecendekiaan pandang, baik dalam pemikiran, perencanaan, maupun pelaksanaan kepariwisataan sehingga dapat menghindarikan atau setidaknya mengurangi akibat dan pengaruh negatif tersebut (Supariadi, 2008).

 

Bertolak dari potensi, kondisi kepariwisataan dan dikaitan dengan keinginan untuk mengembangkan kegiatan ziarah/religi Syekh Abdul Wahab Rokan maka perlu dilakukan upaya mengembangkan beberapa unsur yang berhubungan dengan kegiatan wisata ziarah/religi. Mengacu pada pendapat Cooper (1993) tentang unsur/komponen yang menentukan keberhasilan sebagai destinasi wisata maka peluang pengembangan potensi pariwisata ziarah Syekh Abdul Wahab Rokan dapat dilihat dari beberapa komponen yaitu :

 

  • daya tarik wisata (attraction)

Daya tarik wisata merupakan potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu destinasi wisata karena terkait dengan motivasi/keinginan wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata. Dalam hal ini, eksistensi desa Rantau Binuang sebagai tempat kelahiran tokoh Islam yang menyebarkan tarikat Naqsyabandi dapat diandalkan sebagai daya tarik utama untuk dikunjungi oleh para turunan jemaat Tharikat Nagsyabandi yang sekarang sudah tersebar ke seluruh Indonesia bahkan mancanegara seperti Malaysia, Thailand, Brunei dan Singapura).

2) aksesibilitas (accessibility)

Aksesibilitas adalah semua yang dapat memberi kemudahan bagi wisatawan untuk berkunjung ke lokasi daya tarik wisata (dalam hal ini petilasan di desa Rantau Binuang). Jarak yang dekat pelabuhan udara, kota Kabupaten Rokan Hulu, kualitas jalan menuju lokasi, ketersediaan dan kepastian sarana angkutan transportasi menuju lokasi wisata akan  mempermudah jangkauan wisatawan/pengunjung ke lokasi. Dengan upaya peningkatan kualitas jalan dan penyiapan trayek sarana transportasi umum darat (yang saat ini tidak bersifat reguler) menuju ke lokasi wisata ziarah maka unsur aksesibilitas wisata sudah akan terpenuhi.

            3)  fasilitas/kenyamanan (amenities)

Fasilitas yang dimaksud adalah segala fasilitas dan sarana pendukung (penginapan, rumah makan, kepemanduan, sarana telekomunikasi, tempat parkir, toilet umum, toko cinderamata, fasilitas kebersihan, dll) yang memberikan kenyamanan bagi wisatawan selama berkunjung dan melakukan aktifitas wisata. Penyediaan fasilitas tersebut baik di kota Kab. Rokan Hulu maupun di lokasi wisata merupakan salah satu modal dalam pengembangan daya tarik wisata karena wisatawan akan cenderung mencari tempat yang tenang dan nyaman dalam melakukan kegiatan ziarah/religi/spiritual.

           4)  jasa tambahan (ancillary services

                 Jasa tambahan adalah jasa pendukung yaitu kualitas pelayanan. Dalam hal ini fungsi pelayanan pemerintah antara lain seperti keamanan, informasi, aturan kunjungan, pengelolaan daya tarik wisata  akan memberikan kenyamanan dan kepuasan bagi wisatawan yang berkunjung yang nantinya akan menjadi awal keputusan untuk kembali berkunjung (repeating).

 

Dilihat dari komponen-komponen tersebut diatas, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam rangka upaya pengembangan wisata ziarah sebagai wisata minat khusus khususnya di Rantau Binuang Sakti, Kabupaten Rokan Hulu. Langkah-langkah tersebut meliputi pengembangan produk, pengembangan pemasaran wisata ziarah, pengembangan potensi budaya kabupaten Rokan Hulu, dan pengendalian dampak. Berikut pengembangan unsur-unsur tersebut dan diagram pengembangan wisata ziarah Syekh Abdul Wahab Rokan di desa Rantau Binuang Sakti :

 

  1. Pengembangan aktivitas atau atraksi wisata ziarah tergantung pada karakteristik dan potensi yang dimiliki objek wisata, karakteristik wisatawan, kebutuhan pasar, serta karakteristik lingkungan dan masyarakat di sekitar objek. Pengembangan ini harus disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas penunjang agar wisatawan mendapatkan pengalaman berwisata yang utuh. Karakter wisatawan yang berkunjung ke objek wisata ziarah dapat dikategorikan menjadi dua kelompok yaitu (1) wisatawan minat khusus, yang datang dengan tujuan untuk melakukan kegiatan ziarah berdasarkan tingkat kesadaran dan kepercayaan yang dimiliki, untuk memperoleh pengalaman-pengalaman maupun pengayaan spiritual. Aktivitas yang umumnya dilakukan antara lain meditasi, berdoa, nyekar, dan memperdalam pengetahuan spiritual dan ; (2) Wisatawan umum, yaitu wisatawan yang datang dengan tujuan untuk rekreasi atau penelitian dan dilakukan berdasar pada persepsi bahwa tempat tersebut hanyalah suatu objek yang mempunyai nilai sejarah tertentu. Aktivitas yang biasa dilakukan adalah fotografi, pembelajaran, penelitian, dan sebagainya. Oleh karena itu penyiapan Tourism Information Center (TIC) yang saat ini telah diinisiasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merupakan modal dasar yang sangat penting sebagai awal pengembangan daya tarik wisata ziarah/religi. Fasilitas dimaksud harus dikelola tidak hanya sebagai tempat informasi tetapi lebih daripada itu harus dikembangkan sebagai sebuah atraksi/museum yang dapat meng-intepretasikan ketokohan seorang ulama Islam terkemuka dan karya yang telah beliau hasilkan seperti kumpulan petuah dan nasehat, karya tulis syair, buku-buku pemikiran sufistik Syekh abdul Wahab dan lain-lain sehingga akan memberikan keteladanan, pengetahuan (edukasi) dan pemikiran baru (inspirasi) bagi masyarakat dan generasi selanjutnya.

 

  1. Penyediaan fasilitas perlu disesuaikan dengan lingkungan kehidupan religius atau spiritual yang kemudian diperluas dengan kebutuhan yang dapat melayani wisatawan antara lain adalah toilet, tempat penyediaan konsumsi (kantin), penginapan secukupnya, tempat penjualan cenderamata, tempat ibadah, dan sebagainya. Fasilitas ini  dapat dibangun melalui model kemitraan dengan masyarakat dengan membangun homestay, rumah /warung makan/minum (kantin) dengan menu sehari-hari yang terjangkau oleh wisatawan, kios cenderamata yang menyediakan souvenir khas dan bernuansa lingkungan wisata yang bersangkutan. Fasilitas lain, antara lain MCK, parkir, tempat ibadah, tempat pembuangan sampah, dan sebagainya.

 

  1. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan dan pelayanan di lingkungan objek wisata ziarah. Kualitas SDM yang tersedia berpengaruh terhadap kualitas pelayanan yang akan diberikan kepada wisatawan. Pelayanan yang baik merupakan komponen kunci untuk memenuhi kebutuhan wisatawan selama berkunjung ke suatu objek. SDM dalam hal ini bukan hanya pengelola, melainkan juga masyarakat sekitar sebagai pihak yang turut memberikan kontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan wisata yang ada. Kualitas pengelola dapat ditingkatkan dengan upaya memberikan pelatihan mengenai cara berkomunikasi dan melayani wisatawan yang baik, peningkatan keterampilan sesuai bidangnya masing-masing, serta memberikan pengetahuan tentang produk wisata yang ada (product knowledge). Pengembangan kepariwisataan harus mengacu pada konsep pembangunan berwawasan lingkungan yang memberikan kesempatan luas kepada masyarakat setempat untuk ikut andil di dalamnya. Oleh karena itu, keterlibatan aktif masyarakat diharapkan memberikan dampak positif bagi masyarakat maupun objek wisata itu sendiri, baik yang bersifat lingkungan fisik, sosial budaya, maupun ekonomi. Peluang keterlibatan masyarakat sekitar dalam usaha pengembangan wisata ziarah Syekh abdul Wahab Rokan antara lain adalah sebagai pemandu wisata lokal, pengelola usaha makanan dan minuman, pengelola usaha souvenir atau cenderamata, pengelola usaha akomodasi lokal (homestay), dan sebagai pengelola atraksi pendukung, seperti kelompok kesenian dan kelompok usaha cenderamata sebagai atraksi tambahan di lingkungan daya tarik wisata.

 

  1. Pengendalian dampak sebagai implikasi pengembangan kegiatan pariwisata perlu mempertimbangkan hal-hal berikut: (a) penjagaan kebersihan lokasi (memberikan peringatan kepada pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan), (b) mengantisipasi munculnya dampak negatif kegiatan pariwisata, seperti tindakan amoral, asusila, dan sebagainya, (c) memberikan himbauan kepada pengunjung agar tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan, memahat (menggrafir) batang pohon, mencorat-coret dinding, dan sebagainya, dan (d) perlu mengontrol jumlah dan intensitas kunjungan wisatawan pada satu waktu agar dapat mengantisipasi kepadatan yang berlebih yang dapat merusak site yang ada.

 KESIMPULAN

 

Berdasarkan tinjauan tersebut diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

 

  1. Eksistensi sejarah tokoh Islam Syekh Abdul Wahab Rokan dengan segala karya semasa hidupnya memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata ziarah/religi dengan segmentasi wisatawan yaitu kalangan umat tarikat Naqsyabandiah yang memiliki ikatan spiritual dan kalangan muslim lainnya yang memiliki kekaguman terhadap ketokohan beliau.
  2. Pengembangan wisata ziarah/religi Syekh Abdul Wahab Rokan  dikemas dalam atribut wisata edukasi, intepretasi, wisata budaya  yang tidak bertujuan untuk mengkultuskan tokoh tetapi sebagai monumen keteladanan, pendidikan dan pengetahuan agar dapat menginspirasi dan mengilhami generasi sekarang.
  3. Pengembangan wisata ziarah/religi Syekh Abdul Wahab Rokan  dapat menjadi lokomotif bagi pembangunan ekonomi lokal melalui usaha masyarakat seperti homestay, rumah/warung makan, cinderamata, parkir, toilet umum, kepemanduan dan lain-lain sehingga akan memberikan dampak peningkatan potensi ekonomi masyarakat setempat.
  4. Pengembangan wisata ziarah/religi Syekh Abdul Wahab Rokan  membutuhkan kerjasama dan komitmen lintas stakeholder baik institusional stakeholder (pemerintah, masyarakat dan swasta) maupun sectoral stakeholder (lintas instansi pemerintah terkait) sehingga unsur-unsur yang menjadi prasyarat dalam pengembangan wisata dapat segera diwujudkan.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Cousineau, Phil. 1998. The Art of Pilgrimage: The Seekers Guide to Making Travel Sacread. California: Cobari Press.

 

Departemen Pariwisata, Seni, dan Budaya. 1999. Studi Rencana Pengembangan WisataBorobudur. Jakarta.

 

Direktorat Jenderal Pengembangan Produk Pariwisata – Departemen Kebudayaan danPariwisata. 2001. Panduan Wisata Ziarah. Jakarta.

 

Inskeep, Edward. 1991. Tourism Planning an Integrated and Sustainable DevelopmentApproach. New York: Van Nostrand Reihold.

 

Mulder, Neils. 1981. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Yogyakarta: GadjahMada University Press.

 

Picard, Michel. 2006. Bali : Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata.Jakarta : KepustakaanPopuler Gramedia.

 

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kepariwisataan – Departemen Kebudayaan dan Pariwisata2006.Penelitian Pengembangan Wisata Religi. Laporan Akhir. Jakarta.

 

Soekanto, Soerjono. 1989. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali.

 

Sugiarti, Rara. 2004. Pengembangan Interpretasi Folklor Objek Wisata untuk Meningkatkan

Kualitas Sadar Wisata di Kabupaten Grobogan.Laporan Penelitian Hibah Bersaing XII/1 Perguruan Tinggi Tahun 2004. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

 

Supariadi.2008. Pengembangan Wisata Budaya Berbasis Wisata Ziarahdi Kabupaten Klaten.

 

Thalia, Najma. 2009. “Pengembangan Wisata Ziarah sebagai Wisata Minat Khusus: StudiKasus di Astana Mangadeg, Astana Girilayu, dan Astana Giribangun. Tesis. Surakarta: Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret.

 

Vukonic, Boris. 1996. Tourism and Religion. British: Pergamon.

 

Weiler, Betty and Hall, Colin Michael. 1992. Special Interest Tourism. London: Bellhaven

 

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA