Luhakkepenuhan.com Agama & Sosial

Seikh Abdul Wahab Rokan Tuan Guru Babussalam

Diposkan Oleh : Luhak Kepenuhan |
Seikh Abdul Wahab Rokan Tuan Guru Babussalam
Syeikh Abdul Wahab Rokan

Syekh Abdul Wahab Rokan Tuan Guru Basilam

Pengarang dan penulis : H. Ahmad Fuad Said

Cetakan kesembilan (9) Tahun 2001

188 halaman

Diterbitkan Oleh :

Pustaka “Babussalam” medan 2001

Berisikan sejarah kelahiran , perjuangan, pengembangan thariqat nagsabandi sampai beliau wafat  di besilam

Riwayat Singkat Syekh Abdul Wahab Rokan

 

Syekh Abdul Wahab dilahirkan dan dibesarkan dikalangan keluarga bangsawan yang taat beragama, berpendidikan dan sangat dihormati. Ia lahir pada tanggal 19 Rabiul Akhir 1230 H[13] di Kampung Danau Runda, Desa  Rantau Binuang SaktiKecxamatan Kepenuhan Kabupaten rokan hulu -  Propinsi Riau dan diberi nama Abu Qosim. Ayahnya bernama Abdul

Manaf bin Muhammad Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tambusei, seorang ulama besar yang “abid dan cukup terkemuka pada saat itu   Sedangkan ibunya bernama Arbaiyah binti Datuk Dagi bin Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim yang memiliki pertalian darah dengan Sultan Langkat. Syekh Abdul Wahab meninggal pada usia 115 tahun pada 21 Jumadil Awal 1345 H atau 27 Desember 1926 M.

 

Masa remaja Syekh Abdul Wahab, lebih banyak dipenuhi dengan mencari dan menambah ilmu pengetahuan. Pada awalnya ia belajar dengan Tuan Baqi di tanah kelahirannya Kampung Danau Runda, Kampar, Riau. Kemudian ia menamatkan pelajaran Alquran pada H.M. Sholeh, seorang ulama besar yang berasal dari Minangkabau. Setelah menamatkan pelajarannya dalam bidang al-Quran, Syekh Abdul Wahab melanjutkan studinya ke daerah Tambusei dan belajar pada Maulana Syekh Abdullah Halim serta Syekh Muhammad Shaleh Tembusei. Dari kedua Syekh inilah, ia mempelajari berbagai ilmu seperti tauhid, tafsir dan fiqh. Disamping itu ia juga mempelajari “ilmu alat” seperti nahwu, sharaf, balaghah, manthiq dan “arudh. Diantara Kitab yang menjadi rujukan adalah Fathul Qorib, Minhaj al-Thalibin dan Iqna”. Karena kepiawaiannya dalam menyerap serta penguasaannya dalam ilmu-ilmu yang disampaikan oleh guru-gurunya, ia kemudian diberi gelar “Faqih Muhammad”, orang yang ahli dalam bidang ilmu fiqh.

 

Syekh Abdul Wahab kemudian melanjutkan pelajarannya ke Semenanjung Melayu dan berguru pada Syekh Muhammad Yusuf Minangkabau. Ia menyerap ilmu pengetahuan dari Syekh Muhammad Yusuf selama kira-kita dua tahun, sambil tetap berdagang di Malaka.    Hasrat belajarnya yang tinggi, membuat ia tidak puas hanya belajar sampai di Malaka. Ia seterusnya menempuh perjalanan panjang ke Mekah dan menimba ilmu pengetahuan selama enam tahun pada guru-guru ternama pada saat itu. Di sini pulalah ia memperdalam ilmu tasawuf dan tarekat pada Syekh Sulaiman Zuhdi sampai akhirnya ia memperoleh ijazah sebagai “Khalifah Besar Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”.

 

Syekh Abdul Wahab dalam penelusuran awal yang penulis lakukan, juga memperdalam Tarekat Syaziliyah. Hal ini terbukti dari pencantuman namanya sendiri ketika ia menulis buku 44 Wasiat yakni “Wasiat Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi Naqsyabandi as-Syazali...”. Selain itu, pada butir kedua dari 44 Wasiat, ia mengatakan “apabila kamu sudah baligh berakal hendaklah menerima Thariqat Syazaliyah atau Thariqat Naqsyabandiyah supaya sejalan kamu dengan aku”. Hanya saja sampai saat ini, penulis belum memperoleh data kapan, dimana dan pada siapa Syekh Abdul Wahab mempelajari Tarekat Syaziliyah ini.

 

Pada saat belajar di Mekah, Syekh Abdul Wahab dan murid-murid yang lain pernah diminta untuk membersihkan wc dan kamar mandi guru mereka. Saat itu, kebanyakan dari kawan- kawan seperguruannya melakukan tugas ini dengan ketidakseriusan bahkan ada yang enggan. Lain halnya dengan Syekh Abdul Wahab. Ia melaksanakan perintah gurunya dengan sepenuh hati. Setelah semua rampung, Sang Guru lalu mengumpulkan semua murid-muridnya dan memberikan pujian kepada Syekh Abdul Wahab sambil mendoakan, mudah-mudahan tangan yang telah membersihkan kotoran ini akan dicium dan dihormati oleh termasuk para raja. Salah satu kekhasan Syekh Abdul Wahab dibanding dengan sufi-sufi lainnya adalah bahwa ia telah meninggalkan lokasi perkampungan bagi anak cucu dan murid-muridnya. Daerah yang bernama “Babussalam” ini di bangun pada 12 Syawal 1300 H (1883 M) yang merupakan wakaf muridnya sendiri Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja Langkat pada masa itu. Disinilah ia menetap, mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah sampai akhir hayatnya.

 

Di sela-sela kesibukannya sebagai pimpinan Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Wahab masih menyempatkan diri untuk menuliskan pemikiran sufistiknya, baik dalam bentuk khutbah-khutbah, wasiat, maupun syair-syair yang ditulis dalam aksara Arab Melayu. Tercatat ada dua belas khutbah yang ia tulis dan masih terus diajarkan pada jamaah di Babussalam. Sebagian khutbah-khutbah tersebut -enam buah diantaranya- diberi judul dengan nama-nama bulan dalam tahun Hijriyah yakni Khutbah Muharram, Khutbah Rajab, Khutbah Sya”ban, Khutbah Ramadhan, Khutbah Syawal, dan Khutbah Dzulqa”dah. Dua khutbah lain tentang dua hari raya yakni Khutbah Idul Fitri dan Khutbah Idul Adha. Sedangkan empat khutbah lagi masing-masing berjudul Khutbah Kelebihan Jumat, Khutbah Nabi Sulaiman, Khutbah Ular Hitam, dan Khutbah Dosa Sosial.

 

Wasiat atau yang lebih dikenal dengan nama “44 Wasiat Tuan Guru” adalah kumpulan pesan-pesan Syekh Abdul Wahab kepada seluruh jamaah tarekat, khususnya kepada anak cucu / dzuriyat-nya. Wasiat ini ditulisnya pada hari Jumat tanggal 13 Muharram 1300 H pukul 02.00 WIB   kira-kira sepuluh bulan sebelum dibangunnya Kampung Babussalam. Karya tulis Syekh Abdul Wahab dalam bentuk syair, terbagi pada tiga bagian yakni Munajat, Syair Burung Garuda dan Syair Sindiran. Syair Munajat yang berisi pujian dan doa kepada Allah, sampai hari ini masih terus dilantunkan di Madrasah Besar Babussalam oleh setiap muazzin sebelum azan dikumandangkan. Dalam Munajat ini, terlihat bagaimana keindahan syair Syekh Abdul Wahab dalam menyusun secara lengkap silsilah Tarekat Naqsyabandiyah yang diterimanya secara turun temurun yang terus bersambung kepada Rasulullah Saw. Sedangkan Syair Burung Garuda berisi kumpulan petuah dan nasehat yang diperuntukkan khusus bagi anak dan remaja. Sayangnya, sampai saat ini Syair Burung Garuda tidak diperoleh naskahnya lagi. Sementara itu, naskah asli Syair Sindiran telah diedit dan dicetak ulang dalam Aksara Melayu (Indonesia) oleh Syekh Haji Tajudin bin Syekh Muhammad Daud al-Wahab Rokan pada tahun 1986.

 

Selain khutbah-khutbah, wasiat maupun syair-syair, Syekh Abdul Wahab juga meninggalkan berbait-bait pantun nasehat. Pantun-pantun ini memang tidak satu baitpun tertulis namun sebagian diantaranya masih dihafal oleh sebagian kecil anak cucunya secara turun temurun. Menurut Mualim Said, -salah seorang cucu Syekh Abdul Wahab yang menetap di Babussalam saat ini- ia sendiri masih hafal beberapa bait pantun tersebut, seperti halnya dengan Syekh H. Hasyim el-Syarwani, Tuan Guru Babussalam sekarang. Dalam karya- karya tulisnya inilah, akan terlihat pemikiran-pemikiran sufistik Syekh Abdul Wahab seperti yang akan dijelaskan lebih lanjut.

 

Martin van Bruinessen menggambarkan sosok Syekh Abdul Wahab sebagai khalifahnya Sulaiman Zuhdi yang paling menonjol di Sumatera, seorang Melayu dari Pantai Timur... Ia mengangkat seratus dua puluh khalifah di Sumatera dan delapan orang di Semenanjung Malaya. Syekh Melayu ini memiliki pengaruh yang demikian luas di kawasan Sumatera dan Malaya sebanding dengan apa yang dicapai para Syekh Minangkabau seluruhnya...”.   Bahkan menurut Zikmal Fuad, mengutip pernyataan Nur A.Fadhil Lubis dalam sebuah seminar “Perbandingan Pendidikan Indonesia Amerika” di Aula 17 Agustus, Pesantren Darul Arafah Medan, tahun 1992 nama Syekh Abdul Wahab sangat dikenal dan diperhitungkan dikalangan Misionaris dan Orientalis di Amerika.

 

TAHUN SEJARAH BABUSSALAM

 

1230 H                  :  19 Rabiul Akhir 1230 H (28 Sept. 1811) Abu Kasim yang kemudiannya terkenal dengan Syekh A.Wahab Tuan Guru Babussalam, dilahirkan di Kampung Rantau Binuang Sakti, Danau Runda, Rokan Propinsi Kiau.

 

1270 H                  :  Panglima Itam atau Panglima Hasyim kemanakan Syekh A. Wahab termasyhur di desa Pantai Sumatera dan Malaysia, ia tobat setelah dipanggil Tuan Guru, akhirnya digelar dengan Khalifah Abdullah Hakim (Tuan Hakim), kuburannya di Selingkar, Kecamatan Gebang Kabupaten Langkat, Prop. Sumatara Utara.

 

1275 H-1279 H     :  Orang Indonesia asal Kubu, Tembusai dan Tanah Putih banyak mengerjakan ibadah haji ke Mekah.

 

1277 H                  :  Syekh A. Wahab pindah ke Sungai Ujung (Simujung) di Negeri Sembilan (Malaysia) dan mengembangkan agama di sana.

 

1279H-1285H       :  Syekh A. Wahab mengaji di Mekah dan bersuluk kepada Syekh Sulaiman Zuhdi di puncak Jabal Abi Kubis.

 

1285 H                  : Syekh A. Wahab kembali ke Indonesia dari Mekah.

 

1286 H                  :  Syekh A. Wahab pertama kali tiba di kerajaan Langkat, dari Kualuh, atas undangan Sultan Musa Al-Muazzamsyah,  dan bertempat tinggal sementara di Gebang.

 

1290 H                  : Syekh A. Wahab menyiarkan agama dan thariqat Naqsyabandiah di Riau, dan membangun sebuah kampung di Dumai, yang dinamakannya dengan Kampung Mesjid.

 

1291 H                  :  Syekh A. Wahab berkunjung ke Rantau Binuang Sakti, tempat kelahirannya, menziarahi famili.

 

1292 H                  :  Syekh   A.    Wahab   membangun    sebuah perkampungan baru di Kualuh Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara dinamakannya dengan "Kampung Mesjid". Di daerah ini beliau mengembangkan agama dan thariqat.

 

1294 H                  :  Syekh A. Wahab meninggalkan daerah Kualuh, pindah ke Langkat, H. Yahya putera Tuan Guru lahir.

 

1300 H                  :  13 Syawal Syekh A. Wahab dengan rombongan 160 orang pindah ke Babussalam.

 

1307 H                  :  Syekh A. Wahab dituduh membuat uang palsu di Kampung Babussalam. Akibatnya beliau pindah ke Malaysia. Madrasah Besar Babussalam diperluas menjadi 23 x 8 depa.

1308 H                  :  Kelihatan Syekh A. Wahab ikut dalam perang Aceh melawan Belanda, padahal beliau senantiasa di Babussalam.

 

1311 H                  :  Kampung Babussalam dalam keadaan sepi, ditinggalkan Tuan Guru.

1893 H                  :  Sultan Musa menyerahkan kerajaan Langkat kepada puteranya, Sultan A. Aziz A. Jalil Rahmatsyah, Syekh A. Wahab menghadap Sultan Siak di Siak.

 

1312 H                  : Syekh A. Wahab kembali ke Babussalam,dari Ma­laysia, setelah meninggalkannya selama 32 bulan. BPM (Pertamina) mulai dibangun di Pangkalan Brandan. H. Bakri, dikirim Syekh A. Wahab mengaji ke Mekah.

 

1314 H                  :  30 Zulhijjah, Sultan Musa Al Muazzamsyah mangkat di Tanjung Pura.

1316 H                  :  Syekh A. Rahman tiba kembali di Babussalam dari Tanah Suci Mekah. Anak-anak Tuan Guru mengerjakan ibadah haji ke Mekah atas biaya Tuan Guru. H. Bakri putera Tuan Guru tiba kembali ke Babussalam, atas panggilan Tuan Guru.

 

1320 H                  : H. Bakri diperintahkan Tuan Guru mengajar agama di Babussalam.

 

1325 H                  :  Syekh A. Wahab membangun Madrasah baru di Babussalam, pengganti Madrasah lama, berukuran 25 x 52 m, ditempat yang sama. Madrasah inilah sampai sekarang menjadi tempat orang sholat jamaah dan Jum”at dan disampingnya tempat kediaman Tuan Guru.

 

1330 H                  :  H. Bakri putera Tuan Guru diangkat menjadi Guru Keliling (pada masa itu disebut Guru Jajahan) di kerajaan Langkat.

 

1322 H                  :  Syekh A. Wahab mengutus puteranya, Pakih Tuah dan Pakih Tambah ke Jakarta (tempo dulu disebut Betawi), untuk mengadakan hubungan dengan pimpinan PSII H.O.S Cokroaminoto, Raden Gunawan, dan lain-lain.

 

1339 H                  :  H. Bakri diangkat menjadi guru keliling dikerajaan Asahan.

 

1340 H                  :  Ulang tahun ke 40 Kampung Babussalam, yang dihadiri puluhan ribu umat Islam dari berbagai penjuru. Karena banyak orang yang datang dengan kereta api, maka diadakan stasion yang sampai sekarang terkenal dengan stasion Kwala Pessilam.

 

1341 H                  :  11 jumadil Akhir (18 Januari 1924) : Syekh A. Wahab mendapat bintang kehormatan dari Kerajaan Belanda yang diserahkan langsung oleh Residen Van Aken.

 

1342 H                  : Kaedah, janda M. Yasin ipar Syekh A. Wahab meninggal dunia di Selingkar, Gebang dan dikuburkan di tempat itu juga.

 

1343 H                  :  H. Bakri mendirikan sebuah perkumpulan amal sosial di Sungai Pasir, Asahan, dengan nama Al-Jami”yatul Musa”adah, 24 Syawal 1343 H, H.A. Fuad Said (pengarang kitab ini), lahir di Babussalam Tanjung Pura.

 

1345 H                  :  21 Jumadil Awal (27 Desember 1926) Syekh A. Wahab wafat, dikebumikan di Babussalam, Pusarannya sampai kini setiap hari ramai diziarahi orang. Makam dan Maktab dibangun.

 

1346 H                  :  1 Muharram (1 Juli 1927): Sultan A. Aziz A. Jalil Rahmatsyah mangkat di Tanjung Pura.

 

1400 H                  :  15 Syawal 1400 H (27 Agustus 1980), peringatan ulang tahun satu abad Babussalam, perletakan batu pertama Gedung Serbaguna di desa Babussalam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Buku sejarah adat istiadat masyarakat kepenuhan

Penulis : Ismail Hamkaz, S.Ag, M.Si

Khairul Fahmi, S.Pd

504 halaman

Cetakan pertama 1999 dan cetakan kedua 2006

ISBN: 979-3494-17-4

Diterbitkan oleh :

Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Rokan Hulu

Berisikan sejarah dan adat istiadat luhak kepenuhan, setelah dilakukan penelitian selama 7 tahun dan dilakukan pengkajian tentang adat Luhak kepenuhan 1 & 2 serta di syahkan melalui rapat di kerapatan adat luhak kepenuhan untuk di bukukan.

 

 

Luhak Kepenuhan merupakan salah satu daerah diantara empat Luhak lainnya di wilayah Kabpaten Rokan Hulu yaitu Luhak Rambah, Luhak Tambusai, Luhak Kunto dan Luhak Rokan VI Koto sebelum akhirnya berga-bung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1945. Masing-masing Luhak ini juga memiliki kerajaan, antara satu dengan yang lain saling berkaitan dan tak terpisahkan, dan dilengkapi dengan alim ulama sebagai pembawa dan penyeru agama dalam kehidupan, disinilah muncul potatah potith " Tigo tungku sojorangan, tali bopilin tigo".

 

Pengertian Luhak menurut adat adalah suatu wilayah yang telah ditetapkan berdasarkan ketentuan adat, dan dalam ketentuan itu hanya dapat dipahami dan dimengerti berdasarkan adatsedio lamo, dimana dia tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas, sampai kapanpun sudah menjadi hukum tetap dan tak dapat diubah dalam bentuk apapun.

Memang diakui bahwa ada lima Luhak di wilayah Rokan ini, dan ini sudah menjadi ketentuan hukum, sekalipun ada perkembangan dan perluasan atau pemekaran wilayah dalam suatu Luhak, maka pemekaran tersebut masih dalarn koridor Luhak dari yang di mekarkan. Dalam hal ini untuk lebih dapat dipahami bahwa Luhak dipahami oleh sebagian tokoh adat dengan Kecamatan.

 

Dengan ketentuan sekalipun daerah ini dimekarkan maka dalam pandangan adat dalam Luhak, mereka masih dalam koridor dari luhak yang bersangkutan, dan dalam pengertian bahwa perlakuan tata cara di laksanakan dengan adat dan ketentuan adat. Sebagai misal, Datuk Bendahara sakti tetap satu dalam luhak sekalipun ada pemekaran wilayah berdasarkan Negara Kesatuan Repulik Indonesia, termasuk Gelar yang sudah ada dan para pejabat adat berjalan seperti biasanya dalam menjalankan aktivitas keadatan.

Kecuali ada suatu suku dalam induk disuatu Luhak untuk menambah Mato Buah Poik, maka jika sudah saatnya menambah diperbolehkan namun harus mengkaji secara mendalam tentang keturunan yang ada. Hal ini harus lebih dahulu dipahami, khususnya di Luhak Kepenuhan, dasar hukum atau ketentuan ini sudah dapat disosialisasikan sedini mungkin, sehingga keutuhan dari luhak Kepenuhan dapat di pertahankan eksistensinya dari membumi, sesuai pepatah adat "dimana bumi di pijak, disitu. langit dijunjung".

Sosialisasi akan pentingnya adat ini sungguh mendapat perhatian khusus dari pejabat adat dari semua tingkatan "bojanjang naik, botanggo turun", rasa tanggung jawab inilah akan mengembalikan semangat yang selama ini sudah agak memudar. Tentunya bagi mereka yang dapat memahami adat dapat menyampaikan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan dimiliki. Begitu pula halnya dengan keberadan dari kerojaan di Kepenuhan. Zaman dahulu Kerajaan Kepenuhan terletak di daerah Nogoi Tanjung Padang Kelurahan Kepenuhan tengah. Kecamatan Kepenuhan. Namun sayangnya tanda kebesaran dari peninggalan sejarah di Luhak Kepenuhan ini sudah agak sulit ditemukan, salah satu peninggalan yang penting adalah Istana. kerajaan yang megah pada jayanya, namun saat ini sudah diratakan dengan tanah, tempat kerajaan tersebut telah pula berdiri diatasnya sebuah bangunan Balai Desa (Bahasa dalam tulisan ini sebelum edisi revisi).

 

Untuk Angaran tahun 2005 oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Rokan Hulu dan usulan dari berbagai elemen masyarakat Kepenuhan, maka telah pula didirikan Rumah Godang di Kecamatan Kepenuhan, berarti masyarakat dan perangkat serta keturunan kerajaan yang ada di Kepenuhan memahami dan mengerti akan makna keberadaan dari situs sejarah. Bukan hanya sebagai situs sejarah tapi merupakan nilai-nilai budaya yang tak ternilai harganya. Mudah-mudahan rumah godang ini akan memberikan suatu kekuatan tersendiri dari keluarga kerajaan dan masyarakat Kepenuhan.

 

Sedangkan peninggalan-peninggalan lain dari sisa-sisa kerajaan tersebut dapat disaksikan di Balai Adat Luhak Kepenuhan yang terletak di wilayah Gelugur Kota Tengah, itupun hanya sedikit saja yang tersisa, keluarga kerajaan dari raja Kepenuhan ini banyak berdomisili di Pekanbaru khususnya diwilayah Kecamatan Sail dan di wilayah Kulim Pekanbaru. Untuk melihat kehidupan keluarga kerajaan dapat juga ditemukan di wilayah Kasimang di Desa Kepenuhan Hilir Kecamatan Kepenuhan.

 

Dalam perjalanannya, kehidupan rnasyarakat Kepenuhan juga tidak terlepas dari tradisi atau adat yang menjadi sandaran hidup dalam keseharian. Tata. laksana yang ada baik pada waktu kerajaan masih berkuasa maupun sudah bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia sedikit banyak mengalami suatu perubahan dari waktu ke waktu. Ini terlihat dari perkembangan kehidupan masyarakat yang lebih terlihat dari kehidupan adat yang mereka jalani, berdagang, bersosialisasi dan bermusya-warah akan terlihat suatu suasana kekeluargaan yang tidak tertulis dalam mengambil suatu kebijakan menjadikan hidup dan kehidupan sesuai dengan tradisi yang ada.

 

Kehidupan ini sebenarnya sudah turun temurun semenjak Datuk Bendahara sakti mempersatukan seluruh anak kemenakan dilingkungannya maupun para pendatang untuk mencari perlindungan kepada datuk tersebut (lihatbahasan tentang Datuk Bendahara Sakti), ajaran yang diajarkari oleh datuk menjadi pedoman masyarakat Kepenuhan untuk masa-masa selanjutnya sampai pada saat ini. Hal ini dikuatkan kembali dengan nilai-nilai keagamaan yaitu pada tahun 1930-an yang dipimpin oleh Datuk H. Yahya Anshoruddin, perkembangan ilmu pengetahuan cukup tiiiggi, khususnya pendidikan agama Islam, dan suatu keberhasilan Kepenuhan pada waktu itu bahwa Kepenuhan merupakan Pusat ilmu pengetahuan di Wilayah kabupaten Kampar, banyak para santri yang datang untuk menuntut ilmu di Pondok Pasantren Darul Ullum dan juga Madrasyah Suluk Kepenuhan.

 

Perkembangan pendidikan agama islam di Kepenuhan ini sangat mempengaruhi cara pandang masyarakat Kepenuhan dalam menjadikan kehidupan kesehariannya, yaitu adanya, agama sebagai sandaran utama dan disisi lain adat sebagai cara atau sarana tunjuk ajar dalam mengaplikasikan dari norma agama yang dianut, maka munculah pepatah Adat bersendikan Syara” dan syara” bersendikan Kitabullah. Disinilah mulai terlihat suatu pandangan baru bagi masyarakat Kepenuhan dalam menjadikan kebiasaannya, karena agama yang dapat menuntunkan mereka kepada yang lebih baik dalam mengarungi hidup dan kehidupan yang sampai pada akhirnya diselenggarakanlah Musyawarah Besar (MUBES) masyarakat Kepenuhan pada tahun 1968 yang di ketuai oleh Datuk Haji Abdul Djalil sebagai penggerak untuk kembali membicarakan adat kebiasaan di Kepenuhan untuk menginterprestasikan dari pepatah adat tersebut.

Mulai tahuri inilah (1968) kehidupan keadatan sudah menampakkan wujudnya tanpa menghilangkan dasar agama yaitu Islam. Kebiasaan-kebiasaan atau adat istiadat pun digelar yang ada hubungan dengan agama, walaupun bukan merupakan sebuah yang disyariatkan tapi menjadikan adat tersebut sebagai tradisi yang dapat menambahkan pendekatan diri kepada pencipta-Nya. Seperti Acara khitanan, Pencak silat, berlimau, Perkawinan, dan lain sebagainya yang dapat saudara baca pada bab-bab berikutnya.

Penguatan nilai-nilai adat ini kembali terasa oleh masyarakat Kepenuhan yaitu diadakan kembali pengkajian tombo Adat Luhak Kepenuhan, sekalipun tidak menggunakan nama yang sama dengan Musyawarah Besar tahun 1968, namun nilai yang terkandung dari penyelenggaraan acara tersebut merupakan fin­ishing dari hasil penelitian dan pengkajian terhadap adat di Luhak, Kepenuhan untuk dijadikan pegangan seluruh anak kemenakari dan para pejabat adat. Sehingga terbitlah buku untuk pertama kalinya di Kecamatan Kepenuhan malahan di Kabupaten Rokan Hulu tentang adat adat istiadat, yaitu dengan judul" Sejarah dan Adat Istiadat masyarakat Kepenuhan" karya anak negeri Kota Tengah yaitu Ismail Hamkaz.

 

 

 

 

Biografi tuan haji yahya ansharuddin dari kepenuhan merintis maktab modern

Penulis : Zulkifli Syarief, S.Ag

317 halaman

Cetakan pertama 2003

ISBN 979 – 3297 – 41 – 7

Penerbit

UNRI Press Pekanbaru 2003

 

Berisikan tentang perjuangan dan dedikasi dari beliau dalam membangun dan mngembangkan lembaga pendidikan di tengah penjajahan belanda dan jepang di indonesia yang bernama PP Darul Ulum atau lebih dikenal dengan Ummuh Kitab dengan Kleh Tujuhnya.

 

 

 

BIOGRAFI TUAN HAJI YAHYA ANSHARUDDIN

 

Sejarah Hidup Syaikh Yahya Ansharuddin dari Kepenuhan Rokan - Riau

 

Salah seorang tokoh agama dari Rokan - Riau yang cukup ternama adalah Tuan Syekh Yahya Ansharuddin. Beliau merupakan tokoh pengembang Tarikat Naqsyabandiah di Kepenuhan, Rokan. Beliau lah penerus syiar agama Islam setelah Syekh Abdul Wahab Rokan yang ternama di rantau Melayu.

Tuan Syekh Yahya Ansharudin lahir di Kota Tengah pada tahun 1886 Masehi. Pada awalnya, beliau bekerja sebagai pegawai raja dengan gelar Menteri Raja.

Kemudian, karena belum mendapat ketenangan jiwa sebagai pedoman hidup, dia meninggalkan Luhak Kepenuhan setelah meletakkan jabatannya dengan hormat lalu merantau ke Basilam, negeri Langkat, untuk menuntut ilmu kepada ulama-ulama di negeri tersebut.

Setelah beberapa tahun belajar di Langkat, Tuan Syekh Yahya Anshoruddin di Basilam meneruskan perjalanan musafirnya dalam mencari ilmu hingga ke negeri Kedah, rantau Melayu yang sekarang berada di wilayah negara Malaysia.

Selama beberapa tahun menuntut ilmu di Kedah, beliau melanjutkan perjalananthalabul ilmi ke tanah suci Mekkah sambil menunaikan rukun Islam yang kelima.

Terbilang lima tahun lamanya beliau menuntut Ilmu di Mekkah, belajar ilmu-ilmu nahwu, sharaf, bayan, ma”ani, bad”i, arudh, tauhid, mantiq, tafsir, hadist, usul fiqh, musthalah hadist, dan ilmu agama lainnya.

Setelah menamatkan pelajaran di Mekkah, Syekh Yahya kembali ke Kepenuhan sekitar dua tahun kemudian, dan beliau langsung mendirikan sebuah kampung di Gelugur, yang saat ini berada di wilayah Kelurahan Kepenuhan Tengah.

Pada tahun 1929, di Gelugur baru ada enam buah rumah beserta sebuah nosah(berasal dari kata madrasah, yang tempat belajar atau difahami masyarakat sebagai rumah suluk), di nosah inilah  masyarakat belajar Al-Qur”an.

Tak lama setelah kepulangan tersebut, beberapa waktu kemudian Syekh Yahya Ansharuddin kembali menunaikan ibadah haji ke Mekhah dan menetap lagi menyambung pelajaran di kota suci tersebut selama empat tahun, beliau merasa apa yang beliau tuntut selama ini belum lah cukup.

Pada tahun 1934 beliau kembali lagi ke Kepenuhan dan mulai memberikan pelajaran kitab berbahasa Arab pada sore hari bertempat di nosah. Setelah mengajar setahun di nosah tersebut, maka pada tahun 1935 didirikannya Maktab (Kuttab) Darul Ulum, sebuah lembaga pendidikan yang cakupannya lebih besar. Pada masa itu, lembaga-lembaga pendidikan Islam di Timur Tengah memang biasa disebut dengan Kuttab atau Katibah.

Pada tahun 1935 itu juga dibangun pula maktab bagi kaum ibu, tempatnya persis pada rumah di depan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Kota Tengah sekarang.

Menjelang maktab baru selesai dibangun, murid-murid mengaji di rumah suluk. Setelah Maktab Darul Ulum selesai didirikan, maka pada tahun 1936 dimulailah belajar di sana dengan sebanyak tujuh kelas atau lebih dikenal dengan koleh tujuh. Pada saat itu, pada maktab baru tersebut dimulai dengan belajar sampai kelas IV, demikianlah pelajaran setiap tahun sehingga sampai kelas VII tahun 1939 M.

Para murid ketika itu telah dapat memulai pelajaran pada waktu pagi. Demikian terus berjalan sampai tahun 1942 M dengan kekalahan Belanda yang digantikan dengan kedudukan tentara Jepang.

Maktab mulai berangsur sunyi disebabkan muridnya banyak yang pulang ke kampung masing-masing karena alasan ekonomi yang mengalami kemerosotan di segala bidang. Sementara itu, oleh pemerintah ketika itu, Syekh Yahya Ansharuddin dibawa bekerja pada Majelis Islam Tinggi (MIT) yang kadang-kadang mengikuti konferensi ke Pekanbaru. Adapun Maktab Darul Ulum dikepalai oleh H. Abdurahman yang baru kembali dari Mekah. Kepulangan H. Abdurahman tersebut adalah disebabkan akan pecahnya perang dunia ke-II.

Murid beliau berasal dari berbagai daerah yakni, Rambah, Rambah Hilir dan berbagai daerah Rokan Hulu dan Hilirm bahkan ada yang datang dari Sumatera Selatan untuk menuntut ilmu di lembaga pendidikan beliau ini, Pada masa kejayaannya, beliau juga mengirimkan siswa nya sebanyak 5 orang untuk melanjutkan pendidikan di Mekkah.

Orang-orang yang berada di Mekkah disuruh pulang ke negaranya masing-masing dengan kalahnya Jepang pada perang dunia ke-II pada bulan Agustus 1945.

Tuan Syekh Yahya Ansharuddin hidup mengajar di masa Kepenuhan dipimpin oleh seorang Raja bernama Tengku Sultan Sulaiman, yang mana waktu itu Tengku Sulaiman pun ikut mengaji di rumah kuttab yang beliau dirikan.

Pasca diumumkanya Ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dan dinyatakannya Riau bergabung dalam Republik Indonesia, wilayah Kepenuhan dan Rokan secara umum juga mengalami perubahan suasana. Pada saat itu, Syekh Ansharuddin diangkat menjadi Qhadi (hakim) di Rokan Kanan yang terdiri dari tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Rambah, Kecamatan Tambusai dan Kecamatan Kepenuhan. Adapun letak aktifitas Qhadi berada di sebuah Mahkamah yang berada di Pasir Pengaraian.

 

TENTANG PENULIS

Zulkifli Syarif, S.Ag penulis buku ini lahir di Kota Tengah, Kecamatan Kepenuhan Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 3 Juli 1971. la menyelesaikan Pendidikan terakhirnya sebagai Sarjana Strata (S1) di Institut Agama Islam Negeri Pekanbaru tahun 1996 dengan judul skripsi: Konsep Dakwah Menurut Buya Hamka Dalam Tafsir AI-Azhar. Pada tahun 1996-1997 penulis mendalami ilmu-ilmu Al-quran pada Pondok Pesantren AI-Fatah Temboro Magetan Jawa Timur. Dan selama 2 tahun pula (1997-1999) penulis diberi kesempatan menjadi Dosen Luar Biasa pada Fakultas Ushuludin IAIN Susqa dan Sekolah Tinggi Agama Islam AI-Azhar Pekanbaru dan Pasir Pangarayan. Pada tahun 1999 diangkat pula menjadi Pegawai Negeri Sipil pada Kantor urusan Agama Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu. Dan pada tahun 2000 penulis diamanahkan pula menjadi Kepala KUA Kec. Rambah hingga saat ini. Selain menyibukkan diri sebagai PNS dan tenaga pengajar penulis juga menyibukkan diri dalam berbagai Organisasi Sosial Kemasyarakatan. Seperti Angkatan Muda Islam (AMII) Tingkat I Riau (1993-1996), Pengurus Cabang Nakhdatul Ulama Kab. Rokan Hulu (2000-2005), Ketua Majlis Ulama (MUI) Kab. Rokan Hulu (2001-2006), Pengurus Ikatan Pemuda Melayu Riau Rokan Hulu (2001-2005), Pengurus Forum kebangkitan Rokan Hulu (2000-2002), Pengurus LPTQ Rokan Hulu (2000-2003), dan Pengurus BAZ Rokan Hulu (2001-2006).

Karya tulis yang telah dihasilkan adalah Konsep Dakwah Menurut Hamka Dalam Tafsir AI-Azhar, Tuan Haji Yahya Ansharuddin: Kisah Hidup dan Kontribusinya dalam mencerdaskan Bangsa, Memulai Langkah Pembangunan Kab. Rokan Hulu: Memori Setahun Rokan Hulu, Demi Sebuah Marwah: Sejarah Perjuangan Sulthan Zainal Abidin Syah (dalam proses penelitian) dan Bintang Gemintang Dalam kegelapan: Sejarah hidup dan Perjuagan 10 Ulama Besar Negeri Seribu Suluk (dalam proses Penelitian).

 

 

Buku Sejarah Dan Perjuangan Sultan Zainal Abidin

Penyusun : Ismail Suko dkk

255 halaman

Cetakan pertama 2005

Diterbitkan oleh Dinas Sosial Provinsi Riau

Berisi tentang sejarah dan perjuangan Sultan Dzainal Abidin dalam melawan penjajahan belanda serta berisi tentang pengusulan beliau menjadi pahlawan nasional dari provinsi riau.

 

Bahan Usulan sebagi pahlawan nasional dari provinsi riau

Sejarah perjuangan Sultan Mohammad Dzainal Abidin menentang kolonial Belanda di Rokan Hulu – Riau – Indonesia 1887 – 1916

Tim Penyusun

Drs. H. Ismail Suku, Prof. Sumardi, Ms, Dr.M.Dien Madjid, Drs. Rustam efendi, M.Si, Drs. Umar Ahmad Tambusai, Dra. Darmiati, Asral Rahman. SH, Dr. Wan Darlis Ilyas. SH. MH, Safwanor, SE, Richard, SE dan Ir. Radios.

Cetakan Pertama : Juni 2006

Diterbitkan pertama kali Oleh Badan Kesejahteraan Sosial (BKS) Provinsi Riau, Pekanbaru, 2006

Jumlah Halaman 265 Halaman.

RIWAYAT HIDUP, PERJUANGAN

DAN AKHIR HAYAT MOHAMAD

DZAINAL ABIDIN

 

RiwayatHidup

Di Negeri Tinggi, Rantau Binuang Sakti, termasuk wilayah Rokan-Hilir sekarang (Ket: Rantau Binuang sakti adalah nama Desa di kecamatan kepenuhan Kabupaten Rokan Hulu - Riau), seorang laki-laki bertubuh tegap, ganteng, dan berkumis, tinggi bagaikan orang keturunan Eropa, lahir pada tanggal 29 Agustus 1854 diberi nama Mohamad Dzaenal Abidin. Ayahnya bernama Abdul Wahid dan ibu kandungnya dipanggil Siti" Salinah. Kisah kelahirannya menurut tutur yang berkembang di tengah masyarakat dalam situasi malam mendung, bumi diguyur hujan terus-menerus, deras, terlihat sambaran kilat, terdengar dentuman guruh sekali-sekali mengiringi lahirnya seorang putra bernama Dzainal Abidin dengan sehat walafiat tanpa ada kekurangan apapun.

Dari hari ke hari Dzainal Abidin kecil gemar bergaul dengan teman sebayanya. Saat-saat menjelang sore hari ia suka mengumpulkan teman-teman sebayanya untuk latihan perang-perangan. Selesai bermain perang-perangan itu barulah mereka mandi ditepi sungai Sosah. Pada malam hari Dzainal Abidin dan kawan-kawannya belajar mengaji untuk menambah pengetahuan dibidang Ilmu Agama Islam.

Pada usia 14 tahun Dzainal Abidin dibawa ayahnya ke Malaka dan terus ke Kampung Kedah untuk melanjutkan Pendidikan Agama Islam selama 10 tahun sampai menyelesaikan pelajaran agama tersebut. Setelah tamat belajar dia kembali ke Danau Runda Rantau Binuang Sakti. Kemudian ayahnya Abdul Wahid menyarankan dan membawanya ke Rokan Hilir yaitu di Tanah Putih sampai ke Bagan Siapiapi, Pulau Lalang. Di daerah-daerah tersebut diupayakan menyebarkan ilmu pendidikan Islam. Pada masa itu kerajaan Danau Runda Rantau Binuang Sakti yang dipimpin Sultan Abdul Wahid telah memperluas daerah kekuasaannya sampai Bagan Siapiapi, Pulau Lalang. Akibat dari politik adu domba Belanda terjadilah konflik antara Sultan Abdul Wahid dan Sultan Siak tentang kekuasaan wilayah di daerah Kondisi ini mempengaruhi sikap, Dzainal Abidin sermkin membenci tentara Belanda.

Pada usia 35 tahun sejak 1889 (setelah mendampingi ayahnya dalam perang Mondang Komango 1887-1889) Dzainal Abidin dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahnya Abdul Wahid. Untuk memperkokoh keyakinan Abdul Wahid, ia meminta pertimbangan kepada Pak Cik nya, Sultan Kahar agar Mohamad Dzainal Abidin dapat dinobatkan menjadi Sultan XVI Kerajaan Tambusai. Permohonan itu dikabulkan oleh Sultan Abdul Kahar.

Semasa hidupnya, Dzainal Abidin didampingi enam saudara laki-laki dan 5 perempuan. Anak-anak dari saudaranya inilah yang ikut membantu perjuangannya melawan Belanda. Kedekatan kemenakan dengan Dzainal Abidin tidak diragukan lagi, karena mereka itu telah diangkat menjadi anak.

Kekuasaan Dzainal Abidin didukung oleh keluarga besarnya terutama dari saudara-saudaranya dan putranya sendiri. Keluarga besar yang mendukung perjuangannya itu adalah:

  1. Saudara tertua Mohamad Zainal Abidin (perempuan) menikah dengan Sutan Jumadil Alam, tinggal di Dalu-Dalu. la mengangkat anak-anak Sutan Jumadil Alam 5 orang, yakni 4 anak laki-laki. Kedua termuda berusia 14 dan 12 tahun. Satu perempuan, menikah dengan putra kakak pe­rempuan Mohamad Dzainal Abidin, sementara yang lainnya bernama Sigung gelar Sutan Dzainal saat berusia 19 tahun telah meninggal dunia.
  2. Ada pula saudara perempuan (kakak) Mohamad Dzainal Abidin juga telah meninggal dunia tapi mempunyai 3 orang anak. Dua anak laki-laki, Sigunung bergelar Sutan Dzainal, umur 19 tahun, menikah dengan anak perempuan Sutan Jumadil Alam. Saudaranya yang satu lagi (laki-laki) Si Maun (19 th) menikah dengan putri bungsu Sutan Badullah. putra Raja Nikoon dari Rambah dan ketiga perempuan. Mereka itu semua sejak kecil telah diangkat anak oleh Mohamad Dzainal Abidin.
  3. Kakak laki-laki Mohamad Dzainal Abidin bernama Yang Dipertuan Saleh menikah dengan kakak perempuan Sutan Jumadil Alam dari Dalu-dalu. Dari perkawinan mereka menurunkan seorang putera bernama Si Kenik dan seorang putri. Si Kenik gelar Tuanku Maharaja Lela, ketika berumur 18 tahun menikah dengan putri Tuanku Muda Sahak dan memilih tinggal di Sintung.
  4. Kakak perempuan Mohamad Dzainal Abidin yang lain (tidak disebut namanya) menikah dengan Tuanku Muda Sahak dari Kapanuhan. Mereka dikaruniai 4 orang anak, yakni 3 laki-laki dan seorang perempuan yang kemudian hari menikah dengan Si Kenik putra Yang Dipertuan Saleh yang telah disebutkan di atas.
  5. Kakak perempuan lainnya mempunyai seorang anak laki-laki bernama Si Tempeng terkenal dengan gelar Tuanku Haji Abdul Murad. la tinggal di Tanah Putih.
  6. Ada pula yang bergelar Permaisuri, kakak perempuan Mohamad Dzainal Abidin, menikah dengan Muhammad Silung gelar Sutan Mansur alias Tuanku Haji Ahmad. Mereka tidak punya anak.
  7. Isteri Mohamad Dzainal Abidin adalah kakak Mohammad Silung gelar Sutan Mansur alias Tuanku Haji Ahmad. Dari perkawinannya dikaruniai seorang putri. Selain itu mereka mengangkat anak (anak angkat) dari kakak perempuan, termasuk anak Yang Dipertuan Saleh, karena isterinya telah terlebih dahulu dipanggil menghadap Illahi Rabbi. Anak dari Yang Dipertuan Saleh yang dijadikan anak angkat itu adalah Si Gunung gelar Sutan Dzainal (19 tahun) menikah dengan putri Jumadil Alam. Si Ma”un (18 tahun) menikah dengan putri bungsu Sutan Badullah, putra Raja Nikoon dari Rambah dan seorang perempuan tidak luput menjadi anak angkat Mohamad Dzainal Abidin.

 

Keluarga besar ini sangat men-support untuk tegaknya kekuasaan Mohamad Dzainal Abidin di Tambusai. Mereka mempunyai konstribusi dalam perjuangan yang dibangun Mohammad Dzainal Abidin sesuai dcngan kemampuan dan kapasitas masing-masing.

Pada tahun 1901 Dzainal Abidin menunaikan ibadah haji ke Mekah dan kemudian meneruskan perjalanan ke Turki untuk meminta legitimasi dan bantuan dalam menghadapi Belanda. Sebelum kembali ke kampung asal terlebih dahulu ia singgah di Perak, Malaysia, untuk memperdalam ilmu agama sehingga ia termasuk seorang yang memiliki wawasan ilmu pengetahuan yang bersifat global. Di samping itu sekaligus mengamati sepak terjang Kolonial Belanda di Wilayah Sumatera khususnya Rokan.

Pada tahun 1902, Dzainal Abidin mulai menyusun perjuangan untuk menguasai wilayah Rokan yang sebelumnya telah dikuasai Kerajaan Siak Sri Indrapura. Rantau Kasai awal terdiri dari beberapa perkampungan, tetapi setelah menjadi pusat kekuasaan terdapatlah kampung-kampung antara lain Kampung Rimba Tikamiang, Kampung Manggis Tobal, Kampung Tongah, Kampung Sekaki, dan Kampung Kuniang. Orang-orang yang ikut membantu perjuangan Mohamad Dzainal Abidin dapat diketahui dengan ditemukannya makam-makam para ulama yang terdapat di beberapa kampung antara lain Datuk Merah Matuo, Syaldi Said Abdurrahman, T. Abdullah, Kh. Abbas, Gowak Gompuo, Sutan Jena, Datuk Hulubalang, Datuk Rambai dan Datuk Kancil (Dua terakhir terdapat di Kecamatan Kubu).

Dari tahun ke tahun ia mengatur strategi memperkuat pertahanan dan ketahanan dalam menghadapi intervensi Belanda di Rokan. Perjuangan itu berlangsung sampai tahun 1904 bertepatan dengan ditangkapnya Dzainal Abidin tanggal 5 Juli 1904. Beliau kemudian dibawa ke Medan untuk diinterogasi guna mempertanggungjawabkan perjuangannya melawan Belanda yang selama ini telah menimbulkan antipati Belanda terhadapnya.

Setelah ada komunikasi dan korespodensi antara Residen Sumatera Timur dengan Residen Madiun tentang status tahanan Mohamad Dzainal Abidin, diambil keputusan bahwa ia dibawa dari Medan dengan kapal laut ke Batavia dan kemudian dengan kereta api sampai di Madiun. Di sana beliau dimasukan dalam penjara.

Rumah tahanan sebagai rumah singgah Mohamad Dzainal Abidin terletak di daerah Pengangongan, Madiun. Melihat kondisi fisik bangunannya kini dapat memberi gambaran bahwa dahulu cukup kokoh dan layak sebagai rumah tahanan. Dinding luar terdiri dari tembok kekar, tinggi sekitar 6 meter pada areal 50 x 50 m, terdiri atas 3 gedung utama dan satu untuk perkantoran. Bangunan yang berfungsi sebagai tempat tahanan dibagi menjadi tiga kelas; ada kelas satu, kelas dua dan kelas tiga.

Mohamad Dzainal Abidin, seorang raja, tergolong sebagai tahanan kelas satu. la ditempatkan pada ruangan khusus. Ruangan tersebut hanya terdapat tiga pintu. Salah satu dari dua pintu itulah tempat Mohammad Dzainal Abidin. Ruangan itu terletak pada bagian sudut sebelah timur, berukuran 1.5 m x 9 m. Pada 4.5 m bagian depan sebagai tempat tahanan dan 4.5 bagian belakang dipergunakan untuk tempat masak, kamar mandi dan lainnya sebagaimana layaknya sebuah rumah. Pintu dan jendela serta bagian atas (internit) terpasang jeraji besi, sehingga tidak ada kemungkinan siapapun yang telah masuk ruangan itu untuk dapat melarikan diri.

Selama dalam penantian menjalani vonis 1 tahun, Mohamad Dzainal Abidin memiliki reputasi, dedikasi dan kualitas tinggi, baik terhadap pemerintah Belanda maupun sama kawan senasib sepenanggungan dalam penjara. Ia memiliki tingkah laku yang tidak pernah bertentangan dengan peraturan yang diterapkan dalam penjara. Bertutur sopan dan ramah bahasa jika berkomunikasi sesama teman. Hanya saja ada kesulitan yang dirasakan beliau jika berbicara dengan kawan yang berasal dari suku lain, tidak dapat berkomunikasi dengan baik, karena ia tidak menguasa beragam bahasa. Meskipun demikian, bahasa Melayu tetap dijadikan sebagai bahasa lingua franca karena penghuni rumah tahanan itu terdiri dari berbagai suku dan datang dari berbagai daerah misalnya Medan, Jawa Barat, sekitar Pulau Jawa dan daerah lainnya, karena banyak keluarga tahanan tempo dulu kini datang berziarah ke rumah tahanan ini.

Setahun telah berlalu menjalani vonis. Berita baru keluar dari penjara tidak kunjung datang. Mohamad Dzainal Abidin mejalani penantian sampai 9 tahun putusan apakah yang harus diterima, tidak jelas. Ini semua karena kelicikan dan kekhawatiran Belanda atas sikap politik beliau. Berbagai upaya yang dilakukan, mulai dari keinginan pindah ke Surabaya sampai ingin kembali ke kampung asal, Rokan, tidak diizinkan Belanda, karena dikenal di kalangan Belanda sebagai Tiger van Rokan (Harimau dari Rokan). Bahkan simbol kegagahan dan keberanian Sang Raja di kalangan masyarakat Kubu di Kecamatan Kubu, Rokan Hilir sengaja dipampangkan dua symbol, yakni Singa dan Buaya sebagai perwujudan kemampuan raja di darat dan di laut.

Pada tahun ke-9 di penjara Madiun, datanglah menjenguk sang isteri didampingi tiga anaknya. Itu pula sebabnya Mohamad Dzainal Abidin memohon kepada Belanda agar diperkenankan keluarganya menetap di Madiun dan menambah biaya hidup dari 25 gulden menjadi 50 gulden seperti halnya masa tahun pertama ditahan. Belanda tidak mengabulkan permintaan itu. Kecuali kedua putranya yang boleh menetap di Madiun, sementara istri dan anaknya yang perempuan harus kembali ke Rantau Kasai.

Hidup dan kehidupan Mohamad Dzainal Abidin berjalan terus dari tahun ke tahun selama 12 tahun hingga beliau wafat tanggal 5 September 1916 di Desa Panggungan, dekat desa Barat tidak jauh dari kebun tebu rakyat (kini) dalam  kecamatan Maospati, Madiun, Jawa Timur.

Upaya Belanda untuk menghilangkan jejak dan pengaruh Mohamad Dzainal Abidin, kuburannya ditempatkan di Kediri, desa Mbesuk (busai= Tambusai), sekarang Desa Toyoresmi. Di sana di kenal sebagai Syekh Zainal Abidin yang datang dari Barat atau disebut juga Mbah Kabul. Menurut penuturan Mbah Dahlan umur 100 tahun, tutup usia 15 tahun yang lalu (1991) menceritakan kepada cucunya, kini sebagai kuncen makam almarhum, bahwa almarhum dikenal sebagai Wong Pesakitan londo teko kulon.

Sampai akhir hayatnya, Mohamad Dzainal Abidin berjuang mendermabaktikan jasa dan pengorbanannya dengan tindak kepahlawanan untuk membela nusa dan bangsa, khususnya wilayah Rokan dari belenggu kolonial Belanda. Dalam akhir hayatnya sedikitpun tidak ternoda suatu tindak atau perbuatan yang menyebabkan menjadi cacat nilai perjuangan. berjuang dan berkorban adalah suatu sikap yang telah melekat pada diri beliau. Sikap itu sungguh sangat diketahui masyarakat, khususnya masyarakat Rantau Kasai. Karena itu nama almarhum tetap harum di tengah masyarakat. Sebaliknya membuat khawatir dan cemas di Belanda, karena dimungkinkan terjadi perlawanan di berbagai kampung dalam sebagai perwujudan rasa simpati mereka terhadap Mohamad Dzainal Abidin.

Kisah Pencarian makam Sultan Zainal Abidin pernah dilakukan oleh almarhum Tengku Muhammad (dari Rokan) tahun 1969 langsung ke Pemakaman Taman di depan alun-alun Madiun dan beberapa lokasi makam lainnya di Madiun, namun tidak berhasil. Haji Tengku Syamsul Makmur S. Sos, putera ke-8 dari almarhum H. Tengku Uyas (Gelar Tengku Sulung) menerima pesan dari kedua orang tuanya sebelum mereka meninggal dunia supaya H. Tengku Syamsul Makmur mencari makam moyangnya yang bernama sultan mangkat di Madiun.

Banyak cerita yang disampaikan oleh kedua orang tua Tengku Samsul Makmur mengenai Sultan Mangkat di Madiun. Karena amanah dari kedua orang tua yang wajib dilakukannya, maka awal tahun 2002, setelah mempunyai banyak waktu, mulailah Tengku Syamsul Makmur melakukan pencarian informasi mengenai Sultan Mangkat Madiun. Informasi yang diperoleh dari berbagai nara sumber di Dalu-Dalu, Rantau Kasai, dan tempat lainnya ditulis kronologis berikut :

  1. April 2002 pencarian data melalui Arsip Nasional RI di Jakarta, nama Sultan/Tengku Zainal Abidin ditemukan dalam Arsip Nasional. Karena tulisannya halus dan kabur dimakan waktu dan berbahasa Belanda sehingga tidak terbaca.
  2. Pencarian dilanjutkan ke Madiun melalui Kantor Urusan Purbakala Depdikbud Madiun (Dra. Listiyani, Darmo, dan Sutrisno). Data mengenai Sultan Zainal Abidin tidak ada dalam arsip mereka. Sesuai saran dari kantor Urusan Purbakala Depdikbud Madiun pencarian makam diteruskan ke lokasi Makam Taman di Madiun, kemudian makam Alim Ulama/Kiyai-Kiyai Pejuang Muslim di Kecamatan Dagangan (Banjarsari) 10 Km arah ke Ponorogo, namun makam Sultan Zainal Abidin belum berhasil ditemukan.
  3. Pada bulan juli 2002 setelah mendapat berita dari beberapa nara sumber, pencarian makam dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa tempat pemakaman di Ponorogo, Magelang, Nganjuk. Makam Sultan Zainal Abidin tidak ditemukan pula.
  4. Pada bulan Oktober 2002 dilanjutkan pencarian makam ke Magelang berdasarkan informasi yang diperoleh dari Saudara Rudi mantan supir sewaktu bertemu dengannya di Warung As”ar di Dalu-Dalu pada tanggal 12 Oktober 2002. Saudara Rudi mengatakan bahwa kira-kira 6 Km sebelum masuk kota Magelang Saudara Rudi pernah melihat tulisan nama kampung/ nama jalan "Tambusai". Mungkin saja nama kampung/jalan "Tambusai" tersebut ada kaitannya dengan Sultan Zainal Abidin. Setelah menemui pejabat kantor Bupati Magelang ditanyakan hal tersebut, mereka mengatakan di Kabupaten Magelang tidak ada nama kampung dan jalan Tambusai. Makam Sultan Zainal Abidin belum juga berhasil ditemukan.
  5. Pada Bulan Desember 2002 pencarian makam dilanjurkan ke Kediri Jawa Timur, setelah memperoleh informasi yang lebih mengkristal dari salah seorang teman Ir. Adi. B (Putera dari Tengku Taufick Iljas). Kata teman Ir. Adi. B tersebut bahwa di daerahnya di Kediri ada makam Zainal Abidin yang sudah dikenal oleh masyarakat Kediri. Tanggal 26 Desember 2002 mengunjungi lokasi makam sesuai informasi dari teman Ir. Adi. B dan makam Sultan Zainal Abidin berhasil ditemukan di Pesa Toyoresmi, Kecamatan Gempengrejo, Jl. Pemenang Kabupaten Kediri - Jawa Timur.

 

Keterangan yang diperoleh langsung dari Kyai Imam dan Pak Sulis (pengurus makam) dapat dicatat sebagai berikut:

-            Makam Sultan Zainal Abidin ditemukan oleh almarhum Kyai Sotik, almarhum Kyai Dolah dan Kyai Imam Murohidin (Masih Hidup) pada tahun 1963. Menurut taksiran Kyai yang menemukan makam Sultan Zainal Abidin, umur makam waktu ditemukan betumur kira-kira 46 tahun. Menurut Kyai Imam, makam Zainal Abidin yang ada di Dusun Besuk Desa Toyoresmi, Kecamatan Gampengrejo hanyalah satu-satunya makam Zainal Abidin di Jawa Timur, tidak ada lagi makam Zainal Abidin Lainnya. Makam Zainal Abidin termasuk 210 makam syuhada yang ditemukan oleh masyarakat Jawa Timur, Makam baru dipugar pada tahun 2000. Zainal Abidin bukan orang Jawa, beliau adalah orang pendatang, karena itu kuburannya pada waktu itu tidak diketahui orang banyak. Zainal Abidin berasal dari Arab, pernah tinggal di Johor/Malaysia, pernah di Riau/ Sumatera dan di Madiun. Zainal Abidin adalah orang alim/ulama semasa hidupnya, di Madiun Zainal Abidin bersama santrinya berjuang melawan Kolonial Belanda. Karena Belanda terus menerus mengejar Zainal Abidin maka Zainal Abidin bersama santrinya terpaksa meninggalkan Madiun menyingkir ke Gresik/Sedayu. Di Geresik/Sedayu beliau masih terus dikejar-kejar Belanda dan akhirnya secara diam-diam menetap di Desa Toyoresmi, Kecamatan Kampengrejo Kediri.

-            Masyarakat Jawa Timur, khususnya masyarakat Kediri sangat menghormati makam Zainal Abidin tersebut. Banyak pengunjung dari sekitar Jawa Timur datang berziarah, bahkan juga pernah datang penziarah dari Malaysia. Air sumur bor yang terletak disebelah makam, airnya jernih dan langsung bisa diminum. Air sumur tidak pernah kering walaupun dalam musim kemarau panjang, banyak Penziarah mempercayai bahwa. air sumur bor tersebut bermanfaat juga sebagai obat. Pada hari-hari besar Islam banyak penziarah datang berziarah ke makam (pernah sampai 1000 penziarah). Setiap malam Jum”at dan Sabtu Mesjid Makam dijadikan tempat Sholat Istigosah, Kyai-Kyai dari Ponpes Kapu bergantian datang ke mesjid makam memberikan ceramah agama kepada penziarah.

-             Masyarakat memberi beberapa nama pada makam tersebut. Akhirnya hasil musyawarah Kiyai Ponpes Kapu, nama makam dikembalikan kepada nama asli isi kubur (Zainal Abidin), untuk menghilangkan pro dan kontra masyarakat setempat, (Kyai Imam adalah keturunan santri/Kyai-Kyai lama yang mempunyai kelebihan bisa berhubungan dengan arwah-arwah kubur).

 

Gaung makam almarhum tidak saja dalam wilayah Kediri, tetapi banyak orang datang ziarah dari Surabaya, Jawa tengah, Nangro Aceh Darussalam, Pekanbaru, dan Yogyakarta menyampaikan do”a dan memohon sebagai wasilah mengahajat yang dikehendaki. Dan, ini berjalan hingga sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Buku Potatah Potitih Luhak Kepenuhan

(dilengkapi dengan ayat Al-qur”an dan Hadits Nabi Muhammad SAW )

Penulis : Ismail Hamkaz

413 Halaman

Cetakan pertama 2012

Diterbitkan oleh

Dinas kebudayaan dan pariwisata rokan hulu.

Berisikan tentang potatah potitih luhak kepenuhan sebagai dasar berpijak dalam menuntaskan perkara atau penguatan kata dalam penyampaian adat baik secara adat maupun dapat dilakukan dalam pembicaraan keseharian.

 

POTATAH POTITIH LUHAK KEPENUHAN

Potatahpotitih Adat Luhak Kepenuhan adalah dasar yang dijadikan pedoman bertingkah laku. baik lisan dan perbuatan dalam kehidupan beradat, bermasyarakat. beragama, berbangsa dan bernegara, yang kesemuannya sudah ada aturan tersendiri untuk digunakan sesuai dengan tempat dan kejadian.

 

Dari dulu sampai sekarang, potatah potitih selalu digunakan sebagai dasar pembicaraan dalam berbagai bentuk aktifitas di masyarakat, khususnya oleh para pejabat adat di Luhak Kepenuhan, dan masyarakat Kepenuhan pada umumnya.

Penggunaan potatah potitih selalu dikuti oleh ayat-ayat Alquran dan Hadits Nabi Muhammad SAW, begitulah yang sering digunakan para pendahulu di Kepenuhan. Saat ini sudah jarang didengar pengungkapan potatah potitih yang diikuti oleh ayat Alquran dan Hadits Nabi. Inilah yang membuat penulis prihatin dan khawatir. bahwa tanpa disadari khazanah itu akan hilang ditelan masa.

 

Adat bersendikan syara”, syara” bersendikan kitabullah, mayoritas penduduk Kepenuhan adalah muslim, dan potatah potitih dijadikan sebagai dasar berpijak dalam pengambilan keputusan. Islam dengan azas Alquran dan Hadits menjadi pedoman dan pogangpakai (petunjuk) pedoman hidup bagi muslim untuk mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Demikian pula dengan potatah potitih adat Luhak Kepenuhan, berfungsi sebagai pedoman yang dijadikan sandaran dalam tindakan dan perbuatan keseharian. Kesemuanya itu bermuara, bersandar, serta berpijak pada Alquran dan Hadis Nabi Muhammad SAW, sebagaimana salah satu potatah potitih menyatakan Adat unciang, pusako tajam, digayak layu, diubah mati, disalai botuneh. Eksistensi potatah potitih dalam masyarakat Kepenuhan tidak dapat terpisah, dan sudah menjadi kesatuan utuh dengan Alquran dan Hadits Nabi Muhammad SAW.

 

Isi yang terkandung dalam potatah potitih, banyak mengajarkan akan tingkah laku manusia untuk lebih memantapkan tata cara kerja dalam bermasyarakat,khususnya dalam adat, seperti tentang pernikahan, berlimau, botinik, sunat rasul, salah malah dalam sengketa, dan lain sebagainya (Lihat Buku Adat dan Istiadat Masyarakat Kepenuhan, Ismail Hamkaz). Kebanyakan datuk-datuk adat atau para pejabat adat banyak menggunakan potatah potitih sebagai sandaran bahasa, untuk dijadikan pedoman ajaran kepada anak kemenakan mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Buku Dan Agenda Luhak Kepenuhan Negeri BERADAT

Penyusun dan penulis

Ismail Hamkaz Mamak Sultan Kayo Muah

Khairul Fahmi

76 halaman + buku note book

Cetakan pertama 2012

Diterbitkan oleh

Dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten Rokan Hulu.

Berisikan tentang latar belakang lahirnya Motto Luhak Kepenuhan Negeri Beradat, sekaligus menjadi buku Agenda, karena ada beberapa tulisan tentang Adat Istiadat luhak kepenuhan untuk dapat di sosialisasikan oleh para puluh, tungkek, induk, mato-mato buah poik se luhak kepenuhan.

 

SEJARAH LAHIRNYA SEMBOYAN LUHAK KEPENUHAN NEGERI BERADAT

 

Nama memegang peranan penting dalam publikasi dan ketenaran. Nama akan memberikan makna dan stigma dalam fikiran tentang sesuatu yang dibicarakan. Nama Juga akan mengingatkan kita pada sesuatu telah kita kunjungi serta akan memberikan informasi akan sesuatu yang akan dikunjungi. Selain itu juga akan mengingatkan akan sesuatu yang pernah dilihat, didengar, dirasakan, dipegang atau sesuatu yang pernah ditangkap dengan panca indera. Sedemikian pentingnya arti sebuah nama maka scyogyanya nama mesti direneanakan. dirancang dan dibuat dengan sebaik-baiknya. agar nama dapat memberikan kesan positif terhadap orang yang mendengarnya. Selain   itu  nama   juga  diharapkan  merepresentasikan  sesuatu  sesuai dengan kenyataan yang ada.

Layaknya beberapa daerah yang sudah maju, maka Luhak Kepenuhan telah memberikan pola kehidupan adat yang masih tertata dirasa sangat perlu dan sangat butuh dengan keberadaan nama (semboyan) sebagai simbol dalam perekat kehidupan bermasyarakat. Semboyan ini sangat dibutuhkan sebagai sebutan dan penamaan daerah sehingga menjadi satu pemahaman bagi seluruh masyarakat di Luhak Kepenuhan maupun masyarakat dari luar luhak Kepenuhan bila mendefenisikan daerah ini.

 

Beberapa anak kemenakan Luhak Kepenuhan yang tergabung dalam "ompek sokawan" mendiskusikan ide penyusunan semboyan Luhak Kepenuhan ini. Dari intensitas diskusi yang dilaksanakan maka tercetuslah ide dengan pcmberian nama "Luhak Kepenuhan Negeri BERADAT". Semboyan ini diambil dengan latar belakang masih kuat dan sangat berperannya aturan adat istiadat di luhak Kepenuhan sampai saat ini. Semboyan ini dirasa dapat mewakili peran serta adat dalam pola kehidupan bermasyarakat. Selain itu semboyan adat ini terasa sebagai tali "poikek owek" dalam sendi kehidupan. Adat tak lapuk karena hitjan clan tak lekang karena panas sangat dijunjung tinggi, kegiatan adat masih sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari seperti acara pernikahan, "monamak kubua" (meninggikan tanak kubur). khitanan, nikah kawin (pernikahan), botinik (melobangi telinga untuk pemasangan anting-anting), perlimauan dan kegiatan lainnya. Selain itu dari dahulu sampai sekarang hukum adat masih sangat dominan digunakan di luhak ini sehingga semboyan NEGERI BERADAT ini semakin menguatkan peran hukum adat tersebut.

Dasar inilah menjadi landasan "ompek sokawan" yang terdiri dari Ismail, Khairul Fahmi, Afrianto dan Aprizal mengangkat ini menjadi semboyan Luhak Kepenuhan. Ide dan kreatifitas ompek sokawan ini dituangkan dalam lembaran naskah yang difoto kopi dan dipublikasikan di Luhak Kepenuhan serta di media cetak (Riau Pos, Media Riau, Hainan Riau, Harian Vokal, Metro Riau, Koran Riau) dan media elektronik (Riau Televisi) dalam jangka waktu yang cukup lama. Banyak dukungan dan penguatan yang diberikan oleh individu dan tokoh masyarakat terhadap ide dan gagasan ini, baik yang disampaikan secara langsung maupun melalui saran/alat komunikasi kepada "ompek sokawan". Dukungan ini menjadi cambuk dan dorongan yang sangat berharga hingga semboyan ini di sampai kan kepada Lembaga Kerapatan Adat (LKA) Luhak Kepenuhan, oleh Lembaga Kerapatan Adat Luhak Kepenuhan ide dan gagasan ini disetujui dan ditetapkan menjadi semboyan Luhak Kepenuhan.

 

Lembaga Kerapatan Adat Luhak Kepenuhan mendukung ide ompek sokawan ini dan menuangkan ide ini dalam keputusan lembaga adat menjadi semboyan Luhak Kepenuhan yang dapat di "pogang pakai(menjadi pedoman) untuk sekarang dan masa mendatang. Terkait dengan sudah adanya legalitas dan pengakuan maka ompek sokawan menganggap ini sudah merupakan milik dan kepunyaan Luhak Kepenuhan maka secara bersama-sama dengan lembaga adat dan anak kemenakan gencar melaksanakan sosialisasi semboyan ini, sebagai langkah kongkrit maka disepakati membuat gapura dan tugu negeri beradat di Luhak Kepenuhan, semoga langkah awal ini menjadi berkah yang sangat baik buat luhak ini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Buku luhak kepenuhan dalam bingkai berita

(aturan konsep, agenda dan realita) untuk indonesia

Penyusun : Ismail Hamkaz, S.Ag. M.Si

Zen Lendra

1058 halaman

Cetakan pertama 2014

Diterbitkan oleh

Dinas kebudayaan dan pariwisata rokan hulu

Berisikan Kumpulan Berita Media Cetak Dan Online Tentang Luhak Kepenuhan Negeri Beradat (Kecamatan Kepenuhan-Kecamatan Kepenuhan Hulu) dari tahun 2009 – 2014.

 

LUHAK KEPENUHAN DALAM BINGKAI BERITA

ANTARA KONSEP, AGENDA DAN REALITA UNTUK INDONESIA

 

Sebagai salah satu wilayah di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, sejak diberlakukannya Otonomi Daerah semenjak tahun 1999, Luhak Kepenuhan ( kecamatan Kepenuhan dan kecamatan Kepenuhan Hulu ) banyak mengalami kemajuan. Namun berbagai problematika masih banyak membayanginya. Baik konsekuensi dari berbagai perubahan yang ada. atau memang sudah terjadi sejak lama di Luhak Kepenuhan. Hal tersebut kemudian menjadi soroton berbagai media massa cetak. elektronik. maupun media online. Agar berbagai pemberitaan - sejak September 2009 hingga 2014 ( diterbitkannya buku ini - tidak hilang atau tercecer "berserakan" di puluhan media massa seiring berlalunya waktu maka dianggap penting kembali melacaknya satu per satu. kemudian dihimpun menjadi sebuah buku yang berjudul: Luhak Kepenuhan Dalam Bingkai Berita (Antara Konsep, Agenda, dan Realita) Untuk Indonesia.

 

Kita sering takjub ketika menyaksikan keindahan suatu daerah. Namun rasa tersebut tidak berlanjut pada perenungan. berpikir, apalagi muncul niat untuk mcwujudkannya terhadap daerah sendiri. Kehadiran buku ini adalah salah satu apresiasi dalam upaya memajukan Luhak Kepenuhan. Berbagai permasalahan di Luhak Kepenuhan semestinya menjadi tanggung jawab dan perhatian semua pihak. ino Awak Siapo Le (kalau bukan kita siapa lagi). Sering kita ucapkan. padalah secara filosofis mengandung makna bahwa semua elemen masyarakat bertanggungjawab untuk terus mau berbuat, sekecil apa pun bentuknya, untuk memperbaiki atau menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada tanpa harus saling menunggu pihak lain untuk mulai melakukannya.

 

Dengan diterbitkannya buku ini, selain agar jejak peristiwa sejarah yang terjadi di Luhak

Kepenuhan dapat terlacak dengan mudah. buku ini juga diharapkan bermanfaat bagi kalangan

intelektual. aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). akademisi, generasi muda. masyarakat. penggiat media massa. khusus bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Rokan Hulu, serta pemerintah provinsi Riau dan NKRI yakni perhatiaan pemerintah pusat, sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Dengan demikian. atas partisipasi semua pihak pada akhirnya berujung pada upaya mewujudkan gagasan besar yakni menatap masa depan Luhak Kepenuhan 2030, yakni adanya universitas (semangat dari Umah Kutab), Perpustakaan, rumah sakit, Islamic Centre, tempat wisata skala internasional, dan adanya lapangan ter

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA