Luhakkepenuhan.com Profil Tokoh

Riwayat Singkat Syekh Abdul Wahab Rokan

Diposkan Oleh : Luhak Kepenuhan |
Riwayat Singkat Syekh Abdul Wahab Rokan
Riwayat Singkat Syekh Abdul Wahab Rokan

Riwayat Singkat Syekh Abdul Wahab Rokan

 

Syekh Abdul Wahab dilahirkan dan dibesarkan dikalangan keluarga bangsawan yang taat beragama, berpendidikan dan sangat dihormati. Ia lahir pada tanggal 19 Rabiul Akhir 1230 H[13] di Kampung Danau Runda, Desa  Rantau Binuang Sakti Kecamatan Kepenuhan Kabupaten rokan hulu -  Propinsi Riau dan diberi nama Abu Qosim. Ayahnya bernama Abdul

Manaf bin Muhammad Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tambusei, seorang ulama besar yang ‘abid dan cukup terkemuka pada saat itu   Sedangkan ibunya bernama Arbaiyah binti Datuk Dagi bin Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim yang memiliki pertalian darah dengan Sultan Langkat. Syekh Abdul Wahab meninggal pada usia 115 tahun pada 21 Jumadil Awal 1345 H atau 27 Desember 1926 M.

 

Masa remaja Syekh Abdul Wahab, lebih banyak dipenuhi dengan mencari dan menambah ilmu pengetahuan. Pada awalnya ia belajar dengan Tuan Baqi di tanah kelahirannya Kampung Danau Runda, Kampar, Riau. Kemudian ia menamatkan pelajaran Alquran pada H.M. Sholeh, seorang ulama besar yang berasal dari Minangkabau. Setelah menamatkan pelajarannya dalam bidang al-Quran, Syekh Abdul Wahab melanjutkan studinya ke daerah Tambusei dan belajar pada Maulana Syekh Abdullah Halim serta Syekh Muhammad Shaleh Tembusei. Dari kedua Syekh inilah, ia mempelajari berbagai ilmu seperti tauhid, tafsir dan fiqh. Disamping itu ia juga mempelajari “ilmu alat” seperti nahwu, sharaf, balaghah, manthiq dan ‘arudh. Diantara Kitab yang menjadi rujukan adalah Fathul Qorib, Minhaj al-Thalibin dan Iqna’. Karena kepiawaiannya dalam menyerap serta penguasaannya dalam ilmu-ilmu yang disampaikan oleh guru-gurunya, ia kemudian diberi gelar “Faqih Muhammad”, orang yang ahli dalam bidang ilmu fiqh.

 

Syekh Abdul Wahab kemudian melanjutkan pelajarannya ke Semenanjung Melayu dan berguru pada Syekh Muhammad Yusuf Minangkabau. Ia menyerap ilmu pengetahuan dari Syekh Muhammad Yusuf selama kira-kita dua tahun, sambil tetap berdagang di Malaka.    Hasrat belajarnya yang tinggi, membuat ia tidak puas hanya belajar sampai di Malaka. Ia seterusnya menempuh perjalanan panjang ke Mekah dan menimba ilmu pengetahuan selama enam tahun pada guru-guru ternama pada saat itu. Di sini pulalah ia memperdalam ilmu tasawuf dan tarekat pada Syekh Sulaiman Zuhdi sampai akhirnya ia memperoleh ijazah sebagai “Khalifah Besar Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”.

 

Syekh Abdul Wahab dalam penelusuran awal yang penulis lakukan, juga memperdalam Tarekat Syaziliyah. Hal ini terbukti dari pencantuman namanya sendiri ketika ia menulis buku 44 Wasiat yakni “Wasiat Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi Naqsyabandi as-Syazali...”. Selain itu, pada butir kedua dari 44 Wasiat, ia mengatakan “apabila kamu sudah baligh berakal hendaklah menerima Thariqat Syazaliyah atau Thariqat Naqsyabandiyah supaya sejalan kamu dengan aku”. Hanya saja sampai saat ini, penulis belum memperoleh data kapan, dimana dan pada siapa Syekh Abdul Wahab mempelajari Tarekat Syaziliyah ini.

 

Pada saat belajar di Mekah, Syekh Abdul Wahab dan murid-murid yang lain pernah diminta untuk membersihkan wc dan kamar mandi guru mereka. Saat itu, kebanyakan dari kawan- kawan seperguruannya melakukan tugas ini dengan ketidakseriusan bahkan ada yang enggan. Lain halnya dengan Syekh Abdul Wahab. Ia melaksanakan perintah gurunya dengan sepenuh hati. Setelah semua rampung, Sang Guru lalu mengumpulkan semua murid-muridnya dan memberikan pujian kepada Syekh Abdul Wahab sambil mendoakan, mudah-mudahan tangan yang telah membersihkan kotoran ini akan dicium dan dihormati oleh termasuk para raja. Salah satu kekhasan Syekh Abdul Wahab dibanding dengan sufi-sufi lainnya adalah bahwa ia telah meninggalkan lokasi perkampungan bagi anak cucu dan murid-muridnya. Daerah yang bernama “Babussalam” ini di bangun pada 12 Syawal 1300 H (1883 M) yang merupakan wakaf muridnya sendiri Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja Langkat pada masa itu. Disinilah ia menetap, mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah sampai akhir hayatnya.

 

Di sela-sela kesibukannya sebagai pimpinan Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Wahab masih menyempatkan diri untuk menuliskan pemikiran sufistiknya, baik dalam bentuk khutbah-khutbah, wasiat, maupun syair-syair yang ditulis dalam aksara Arab Melayu. Tercatat ada dua belas khutbah yang ia tulis dan masih terus diajarkan pada jamaah di Babussalam. Sebagian khutbah-khutbah tersebut -enam buah diantaranya- diberi judul dengan nama-nama bulan dalam tahun Hijriyah yakni Khutbah Muharram, Khutbah Rajab, Khutbah Sya’ban, Khutbah Ramadhan, Khutbah Syawal, dan Khutbah Dzulqa’dah. Dua khutbah lain tentang dua hari raya yakni Khutbah Idul Fitri dan Khutbah Idul Adha. Sedangkan empat khutbah lagi masing-masing berjudul Khutbah Kelebihan Jumat, Khutbah Nabi Sulaiman, Khutbah Ular Hitam, dan Khutbah Dosa Sosial.

 

Wasiat atau yang lebih dikenal dengan nama “44 Wasiat Tuan Guru” adalah kumpulan pesan-pesan Syekh Abdul Wahab kepada seluruh jamaah tarekat, khususnya kepada anak cucu / dzuriyat-nya. Wasiat ini ditulisnya pada hari Jumat tanggal 13 Muharram 1300 H pukul 02.00 WIB   kira-kira sepuluh bulan sebelum dibangunnya Kampung Babussalam. Karya tulis Syekh Abdul Wahab dalam bentuk syair, terbagi pada tiga bagian yakni Munajat, Syair Burung Garuda dan Syair Sindiran. Syair Munajat yang berisi pujian dan doa kepada Allah, sampai hari ini masih terus dilantunkan di Madrasah Besar Babussalam oleh setiap muazzin sebelum azan dikumandangkan. Dalam Munajat ini, terlihat bagaimana keindahan syair Syekh Abdul Wahab dalam menyusun secara lengkap silsilah Tarekat Naqsyabandiyah yang diterimanya secara turun temurun yang terus bersambung kepada Rasulullah Saw. Sedangkan Syair Burung Garuda berisi kumpulan petuah dan nasehat yang diperuntukkan khusus bagi anak dan remaja. Sayangnya, sampai saat ini Syair Burung Garuda tidak diperoleh naskahnya lagi. Sementara itu, naskah asli Syair Sindiran telah diedit dan dicetak ulang dalam Aksara Melayu (Indonesia) oleh Syekh Haji Tajudin bin Syekh Muhammad Daud al-Wahab Rokan pada tahun 1986.

 

Selain khutbah-khutbah, wasiat maupun syair-syair, Syekh Abdul Wahab juga meninggalkan berbait-bait pantun nasehat. Pantun-pantun ini memang tidak satu baitpun tertulis namun sebagian diantaranya masih dihafal oleh sebagian kecil anak cucunya secara turun temurun. Menurut Mualim Said, -salah seorang cucu Syekh Abdul Wahab yang menetap di Babussalam saat ini- ia sendiri masih hafal beberapa bait pantun tersebut, seperti halnya dengan Syekh H. Hasyim el-Syarwani, Tuan Guru Babussalam sekarang. Dalam karya- karya tulisnya inilah, akan terlihat pemikiran-pemikiran sufistik Syekh Abdul Wahab seperti yang akan dijelaskan lebih lanjut.

 

Martin van Bruinessen menggambarkan sosok Syekh Abdul Wahab sebagai khalifahnya Sulaiman Zuhdi yang paling menonjol di Sumatera, seorang Melayu dari Pantai Timur... Ia mengangkat seratus dua puluh khalifah di Sumatera dan delapan orang di Semenanjung Malaya. Syekh Melayu ini memiliki pengaruh yang demikian luas di kawasan Sumatera dan Malaya sebanding dengan apa yang dicapai para Syekh Minangkabau seluruhnya...”.   Bahkan menurut Zikmal Fuad, mengutip pernyataan Nur A.Fadhil Lubis dalam sebuah seminar “Perbandingan Pendidikan Indonesia Amerika” di Aula 17 Agustus, Pesantren Darul Arafah Medan, tahun 1992 nama Syekh Abdul Wahab sangat dikenal dan diperhitungkan dikalangan Misionaris dan Orientalis di Amerika.

 

TAHUN SEJARAH BABUSSALAM

 

1230 H                  :  19 Rabiul Akhir 1230 H (28 Sept. 1811) Abu Kasim yang kemudiannya terkenal dengan Syekh A.Wahab Tuan Guru Babussalam, dilahirkan di Kampung Rantau Binuang Sakti, Danau Runda, Rokan Propinsi Kiau.

 

1270 H                  :  Panglima Itam atau Panglima Hasyim kemanakan Syekh A. Wahab termasyhur di desa Pantai Sumatera dan Malaysia, ia tobat setelah dipanggil Tuan Guru, akhirnya digelar dengan Khalifah Abdullah Hakim (Tuan Hakim), kuburannya di Selingkar, Kecamatan Gebang Kabupaten Langkat, Prop. Sumatara Utara.

 

1275 H-1279 H     :  Orang Indonesia asal Kubu, Tembusai dan Tanah Putih banyak mengerjakan ibadah haji ke Mekah.

 

1277 H                  :  Syekh A. Wahab pindah ke Sungai Ujung (Simujung) di Negeri Sembilan (Malaysia) dan mengembangkan agama di sana.

 

1279H-1285H       :  Syekh A. Wahab mengaji di Mekah dan bersuluk kepada Syekh Sulaiman Zuhdi di puncak Jabal Abi Kubis.

 

1285 H                  : Syekh A. Wahab kembali ke Indonesia dari Mekah.

 

1286 H                  :  Syekh A. Wahab pertama kali tiba di kerajaan Langkat, dari Kualuh, atas undangan Sultan Musa Al-Muazzamsyah,  dan bertempat tinggal sementara di Gebang.

 

1290 H                  : Syekh A. Wahab menyiarkan agama dan thariqat Naqsyabandiah di Riau, dan membangun sebuah kampung di Dumai, yang dinamakannya dengan Kampung Mesjid.

 

1291 H                  :  Syekh A. Wahab berkunjung ke Rantau Binuang Sakti, tempat kelahirannya, menziarahi famili.

 

1292 H                  :  Syekh   A.    Wahab   membangun    sebuah perkampungan baru di Kualuh Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara dinamakannya dengan "Kampung Mesjid". Di daerah ini beliau mengembangkan agama dan thariqat.

 

1294 H                  :  Syekh A. Wahab meninggalkan daerah Kualuh, pindah ke Langkat, H. Yahya putera Tuan Guru lahir.

 

1300 H                  :  13 Syawal Syekh A. Wahab dengan rombongan 160 orang pindah ke Babussalam.

 

1307 H                  :  Syekh A. Wahab dituduh membuat uang palsu di Kampung Babussalam. Akibatnya beliau pindah ke Malaysia. Madrasah Besar Babussalam diperluas menjadi 23 x 8 depa.

1308 H                  :  Kelihatan Syekh A. Wahab ikut dalam perang Aceh melawan Belanda, padahal beliau senantiasa di Babussalam.

 

1311 H                  :  Kampung Babussalam dalam keadaan sepi, ditinggalkan Tuan Guru.

1893 H                  :  Sultan Musa menyerahkan kerajaan Langkat kepada puteranya, Sultan A. Aziz A. Jalil Rahmatsyah, Syekh A. Wahab menghadap Sultan Siak di Siak.

 

1312 H                  : Syekh A. Wahab kembali ke Babussalam,dari Ma­laysia, setelah meninggalkannya selama 32 bulan. BPM (Pertamina) mulai dibangun di Pangkalan Brandan. H. Bakri, dikirim Syekh A. Wahab mengaji ke Mekah.

 

1314 H                  :  30 Zulhijjah, Sultan Musa Al Muazzamsyah mangkat di Tanjung Pura.

1316 H                  :  Syekh A. Rahman tiba kembali di Babussalam dari Tanah Suci Mekah. Anak-anak Tuan Guru mengerjakan ibadah haji ke Mekah atas biaya Tuan Guru. H. Bakri putera Tuan Guru tiba kembali ke Babussalam, atas panggilan Tuan Guru.

 

1320 H                  : H. Bakri diperintahkan Tuan Guru mengajar agama di Babussalam.

 

1325 H                  :  Syekh A. Wahab membangun Madrasah baru di Babussalam, pengganti Madrasah lama, berukuran 25 x 52 m, ditempat yang sama. Madrasah inilah sampai sekarang menjadi tempat orang sholat jamaah dan Jum'at dan disampingnya tempat kediaman Tuan Guru.

 

1330 H                  :  H. Bakri putera Tuan Guru diangkat menjadi Guru Keliling (pada masa itu disebut Guru Jajahan) di kerajaan Langkat.

 

1322 H                  :  Syekh A. Wahab mengutus puteranya, Pakih Tuah dan Pakih Tambah ke Jakarta (tempo dulu disebut Betawi), untuk mengadakan hubungan dengan pimpinan PSII H.O.S Cokroaminoto, Raden Gunawan, dan lain-lain.

 

1339 H                  :  H. Bakri diangkat menjadi guru keliling dikerajaan Asahan.

 

1340 H                  :  Ulang tahun ke 40 Kampung Babussalam, yang dihadiri puluhan ribu umat Islam dari berbagai penjuru. Karena banyak orang yang datang dengan kereta api, maka diadakan stasion yang sampai sekarang terkenal dengan stasion Kwala Pessilam.

 

1341 H                  :  11 jumadil Akhir (18 Januari 1924) : Syekh A. Wahab mendapat bintang kehormatan dari Kerajaan Belanda yang diserahkan langsung oleh Residen Van Aken.

 

1342 H                  : Kaedah, janda M. Yasin ipar Syekh A. Wahab meninggal dunia di Selingkar, Gebang dan dikuburkan di tempat itu juga.

 

1343 H                  :  H. Bakri mendirikan sebuah perkumpulan amal sosial di Sungai Pasir, Asahan, dengan nama Al-Jami’yatul Musa'adah, 24 Syawal 1343 H, H.A. Fuad Said (pengarang kitab ini), lahir di Babussalam Tanjung Pura.

 

1345 H                  :  21 Jumadil Awal (27 Desember 1926) Syekh A. Wahab wafat, dikebumikan di Babussalam, Pusarannya sampai kini setiap hari ramai diziarahi orang. Makam dan Maktab dibangun.

 

1346 H                  :  1 Muharram (1 Juli 1927): Sultan A. Aziz A. Jalil Rahmatsyah mangkat di Tanjung Pura.

 

1400 H                  :  15 Syawal 1400 H (27 Agustus 1980), peringatan ulang tahun satu abad Babussalam, perletakan batu pertama Gedung Serbaguna di desa Babussalam.

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA