Luhakkepenuhan.com Wisatafaganza dan Kuliner

Momen Bunga Bangkai Jaga Alam Sekaligus Dongkrak Pariwisata

Diposkan Oleh : Luhak Kepenuhan |
Momen Bunga Bangkai Jaga Alam Sekaligus Dongkrak Pariwisata
Momen Bunga Bangkai Jaga Alam Sekaligus Dongkrak Pariwisata

 

Momen Bunga Bangkai Jaga Alam Sekaligus Dongkrak Pariwisata
 
23 September 2017 - 09.34 WIB

RIAUPOS.CO - KEKAYAAN alam Riau tak kalah bandingnya dengan daerah lain. Bahkan beberapa di antaranya mendunia. Kita bukan bicara kekayaan alam berupa minyak bumi, gas alam, batu bara atau hutan alam. Karena itu sudah semakin jelas masa kritisnya. Kekayaan alam yang tak terbarukan itu terbukti kini tak selamanya menopang. Maka Riau harus melirik potensi sumber pendapatan baru. Harus.

Kekayaan yang berharga itu lebih spesifik. Salah satunya flora dan fauna yang langka. Bunga Bangkai (amorphophallus gigas) di Cagar Alam Bukik Bungkuk di Kabupaten Kampar salah satunya. Tak tanggung-tanggung. Disebut bunga bangkai tertinggi di dunia. Kurang sedikit empat meter. Jumlahnya bukan satu dua. Tapi puluhan. Sejak ditemukan dan informasinya tersiar lewat media, banyak warga yang berduyun-duyun datang ingin menyaksikan.

Temuan bunga bangkai raksasa ini adalah momen. Untuk mengenalkan Riau kepada dunia. Tidak hanya slogan atau kegiatan pariwisata seremonial nan berorientasi proyek. Jadikan momen ini untuk menarik perhatian dunia. Kenalkan Riau sebagai kawasan yang bisa dituju sebagai destinasi pariwisata. Pariwisata yang khas, khusus atau minat tertentu. Para peneliti dunia tentu tertarik ke Riau bila mendengar ada bunga bangkai yang tumbuh tinggi dengan jumlah puluhan. Atau bisa saja ratusan sebab tersembunyi di dalam hutan. Bisa dibuat model wisata menjajal hutan menemukan bunga bangkai yang tersembunyi.

Selain itu, momen penemuan bunga bangkai tertinggi ini juga bisa jadi media kampanye untuk menjaga hutan alam Riau supaya tak terus dirusak. Supaya para mafia kayu, tanah atau perkebunan berpikir panjang untuk memasukinya. 

Bunga bangkai itu tumbuh dalam ritme yang lama. Jika waktu sekarang ini tumbuh raksasa, itu hanya terjadi di kurun waktu panjang. Setidaknya 20 tahun. Menanti bunga bangkai selanjutnya mekar salah satu cara untuk terus mengawasi hutan alam tak dijamah perambah. Semua mata tertuju dan menunggu. Jika banyak mata memperhatikan, cara apapun perambah ingin masuk, pasti akan ketahuan.

Menjaga hutan alam di Riau yang masih tersisa tak mampu lagi dengan cara konvensional. Betapapun garangnya pemerintah, toh hutan itu sedikit demi sedikit digerogoti juga. Sebut saja TNTN, Bukit Rimbang Bukit Baling, Tahura sampai Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu. Semua hutan alam dengan ciri khasnya itu sudah dirambah. Berkurang drastis. Maka mengawinkan pariwisata dengan isu lingkungan seperti satu anak panah menyasar dua bidikan sekaligus. Sulit, memang. Tapi tetap bisa asal fokus.

Pariwisata Riau harus kita akui bukanlah berorientasi kepada keindahan alam. Sebab itu akan lebih unggul daerah pegunungan yang berhawa sejuk. Maka Riau harus menyasar para wisatawan minat khusus, khas dan religius. Sebagai daerah yang sudah mendunia lewat bencana kabut asapnya, maka pariwisata berorientasi kepada lingkungan diyakini akan menarik minat banyak wisatawan dari luar negeri. Mulailah dari sekarang menggalakkan pariwisata sekaligus menjaga alam Riau.***

 

Sumber : RIAUPOS.CO

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA