Korupsi Meningkat, Apa Langkah Pendidikan Kita?

Diposkan Oleh : Luhak Kepenuhan |
Korupsi Meningkat, Apa Langkah Pendidikan Kita?
Korupsi Meningkat, Apa Langkah Pendidikan Kita?

Korupsi Meningkat, Apa Langkah Pendidikan Kita?

2 Oktober 2017 - 11.02 WIB

RIAUPOS.CO - Hati nurani kita terus disentakkan kasus demi kasus korupsi, ada kepala daerah yang tertangkap tangan, ada pula yang yang sudah jadi tersangka namun sakit mendadak saat akan diperiksa. Entah betul entah tidak, tapi yang jelas tersangka KPK sering ”sakit” kalau akan diperiksa. Kasus korupsi di negeri ini semakin panjang dan melebar. Mulai dari kalangan politisi, pejabat, bahkan guru besar, seperti terjadi beberapa waktu lalu. Masih ingat kasus korupsi SKK Migas yang menyeret Prof Dr Rudi Rubiandini. Begitu juga kasus korupsi di Korlantas yang menyeret sosok Irjen (Pol) Djoko Susilo.

Para koruptor tokoh ini merupakan alumnus perguruan tinggi ternama. Rudi Rubiandini alumni peguruan tinggi teknik ternama dan Djoko Susilo alumni pendidikan polisi terbaik di negeri ini. Begitu juga pata koruptor yang tertangkap tangan, mereka umumnya mengenyam pendidikan tinggi. Yang menjadi pertanyaan, ada apa dengan lembaga pendidikan kita? Bukankah tujuan pendidikan di negeri ini menciptakan manusia yang kamil (paripurna). Tapi mengapa kenyataannya bertolak belakang dari tujuan pendidikan.

Apakah yang salah dalam hal kurikulum, guru, dosen, alat peraga yang tak mencukupi atau masalah lainnya dalam pendidikan. Agaknya kita perlu berhenti sejenak memikirkan faktor apa yang menyebabkan produk pendidikan di negeri ini tidak tahan godaan sogokan uang setumpuk. Pendidikan hanya sekadar mengisi otak saja, belum membentuk karakter pribadi yang kamil (sempurna).

Memang selama ini agaknya muatan pendidikan kita lebih banyak mencekoki otak dengan teori-teori, bagi yang kuliah di ilmu hukum maka ilmu teori hukum saja yang dipelajari tetapi jauh dari bagaimana nilai-nilai hukum itu menjadi karekter pribadi yang mulia. Begitu juga yang kuliah di bidang teknologi, mereka mendapatkan ilmu itu dari sang guru atau dosen sebatas ilmu, belum menjadikan ilmu itu sebagai ibadah yang diajarkan Tuhan kepadanya. Begitu juga yang belajar ilmu kemiliteran, ilmu militernya belum menyatu dalam jiwa sebagai pengabdian pada nusa dan bangsa. Maka jadilah ilmu sekadar ilmu, tapi kering dari nilai.

Kita masih ingat bagaimana sistem pendidikan masa penjajahan Belanda dan awal kemerdekaan negeri ini, walau dengan keterbatasan perangkat pendidikan namun mereka berhasil menelurkan jiwa-jiwa yang patriotisme yang tinggi. Artinya pembentuk karakter itu lebih diutamakan dibanding sekadar ilmu. Guru bukan hanya sekadar mengajar (mengajarkan ilmu) tetapi mendidik (membentuk pribadi). Yang terjadi selama ini adalah sang guru hanya menjadi pengajar, belum menjadi pendidik.

Bagaimana pun kita harus berhenti sejenak memikirkan model pendidikan apa yang kurang di negeri ini. Baik orangtua, guru, dosen dan seluruh komponen bangsa ini, mari kira pikirkan bersama, apa solusinya?

Ada adagium ungkapan pendidikan di Eropa, para guru akan merasa malu jika anak didiknya tidak bisa antre di antrean loket kerata api atau antrean lainnya, mereka tidak begitu risau anak didik mereka memahami matematika. Namun di negeri ini, orang tua dan guru sangat risau dengan ketidakmampuan anaknya tentang matematika daripada anak didik mereka tidak memahami sopan santun.

Belum lama ini salah seorang gubernur di Kalimantan diketahui menjiplak disertasi, dan rektor perguruan tingginnya pun dipecat. Sungguh mencoreng dunia pendidikan. Untuk memperbaiki bansga ini, bebas dari korupsi, agaknya dunia pendidikan agaknya perlu diperbaiki.***

Sumber : RIAUPOS.CO

Foto : Internet

Foto : Internet

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA