Luhakkepenuhan.com Dunia Islam

Inilah Ciri Haji Mabrur dan Tanda-Tandanya

Diposkan Oleh : Luhak Kepenuhan |
Inilah Ciri Haji Mabrur dan Tanda-Tandanya
Inilah Ciri Haji Mabrur dan Tanda-Tandanya

Inilah Ciri Haji Mabrur dan Tanda-Tandanya

Jakarta, Aktual.com – Berbicara tentang keutamaan haji mabrur, adalah suatu hal yang sudah jelas pada janji Allah Ta’ala melalui sabda baginda Nabi SAW:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya: “Barang siapa yang berhaji dan tidak rafats (berbicara hal yang berhubungan dengan jima’) serta tidak melakukan perbuatan fasiq (segala sesuatu yang keluar dari ketaatan kepada Allah) maka dia akan kembali seperti pada hari dia telah dilahirkanoleh ibunya “(HR. Bukhari).

Pada riwayat yang lain, Imam Ahmad menjelaskan bahwa:

“الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ”

Artinya: “Haji yang mabrur adalah tidak ada balasan kecuali surga” (HR. Ahmad).

Dua hadits tentang keutamaan haji ini tentunya sudah cukup menjadi motivasi bagi umat islam untuk melaksanakannya sesuai dengan anjuran Dzat yang mewajibkannya, dengan mengikuti uswah kita baginda Nabi SAW, yaitu firman Allah Ta’ala:

“فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ”

Artinya: “Maka barang siapa yang melaksanakan haji di dalamnya (bulan-bulan haji yang tertentu) maka tidak ada rafats (berbicara hal yang berhubungan dengan jima’), tidak ada kefasiqan (segala sesuatu yang keluar dari ketaatan kepada Allah) dan tidak ada perdebatan di dalam berhaji”(QS. Al Baqarah: 197).

Syarat inilah yang menjadikan seorang mukmin mendapatkan haji mabrur sehingga mendapatkan janji-janji Allah pada hadits di atas. Adapun ciri dan tanda-tanda seorang telah menjadi haji mabrur, para ulama telah membaginya menjadi tiga tanda dan adabnya.

Tanda yang pertama adalah tanda sebelum melaksanakan haji itu sendiri, yaitu pertolongan Allah kepadanya untuk bertaubat, mengembalikan hak orang lain yang telah didzaliminya, membayar hutang-hutang, menyediakan nafkah untuk orang-orang yang wajib ia nafkahi, mengembalikan barang-barang titipan orang lain yang telah diamanatkan kepadanya, menginfakkan dari harta yang halal untuk keperluan berangkat, biaya dan kepulangan haji dengan tidak bakhil, akan tetapimemberikan keluasan kepada orang yang membutuhkan apabilamemilki bekal yang lebih.

Gemar bershadaqah sebelum keberangkatannya, mencari teman yang shaleh, cinta dan mau menolong dalam kebaikan, berpamitan kepada keluarga, saudara, tetangga dan orang-orang shaleh agar mereka ikut mendo’akannya, karena Allah menjadikan kebaikan dalam do’a-do’a mereka.

Yang kedua adalah tanda ketika dirinya sudah memulai ibadahhaji ini, yaitu selalu melaksanakan kewajiban, menjalankan kesunnahan, menjaga waktu dan nafasnya, menjalankan tugas, menjaga harga diri, bersabar terhadap kepayahan perjalanan hajinya, menjauhkan dari segala hal yang menjadikan penyesalan di dalam keikhlasan tujuannya, tidak bakhil terhadap bekalnya, berjiwa mulia untuk melakukan kebaikan dan menafkahkan hartanya, karena sesungguhnya menafkahkan harta di jalan Allah adalah termasuk berjihad di jalan Allah, dimana satu dirham balasannya adalah tujuh ratus dirham.

Yang ketiga adalah tanda-tanda setelah melaksanakannya, yaitu dirinya senantiasa meninggalkan kemaksiatan yang telah ia lakukan sebelum menjalankan ibadah ini, mengganti teman-teman yang thaleh (tidak baik) dengan teman-teman yang shalih, mengganti kelalaian dengan majlis dzikir, dan selalu terlihat menafkahkan hartanya dengan hati yang ikhlas. Semua hal ini adalah menjadi tanda bahwa hajinya telah diterima oleh Allah Ta’ala. Wallahu A’lam.

Laporan: Abdullah Alyusriy

Sumber : Aktual.com

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA