Kontroversi Pribumi

Diposkan Oleh : Luhak Kepenuhan |
Kontroversi Pribumi
Kontroversi Pribumi

Kontroversi Pribumi

19 Oktober 2017 - 09.58 WIB

RIAUPOS.CO - Kursi Gubernur DKI Jakarta ternyata benar-benar panas. Baru sehari menduduki kursi itu, Gubernur DKI Anies Baswedan sudah dilaporkan ke polisi. Adalah Ronny Talapessy, mantan anggota tim kuasa hukum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang melaporkan Anies ke Polda Metro Jaya. Fenomena ini tentu saja memicu tensi politik, tak hanya tingkat lokal Jakarta, tapi juga secara nasional. Apalagi, yang melaporkan berasal dari kubu yang kalah. Lengkap pula dengan atribut partai saat melaporkan. Laporannya pun hanya sehari setelah Anies dilantik, seakan kejar target agar posisinya seperti Ahok yang akhirnya diputus bersalah oleh hakim. Masuk penjara.

Objek yang dilaporkan pun dianggap terlalu sepele oleh banyak kalangan. Anies mengucapkan kata “pribumi” dalam pidatonya. Konteksnya pun tidak jelas-jelas untuk menyinggung golongan tertentu. Anies sedang membicarakan soal kemerdekaan, dan kemudian meluncurlah kata “pribumi” itu. Lalu laporan pun dilakukan. Pro-kontra pun menyeruak di dunia maya. Sangat masif.

Dalam pidatonya waktu itu, Anies mengatakan, “Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka. Kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai seperti yang dituliskan pepatah Madura: itik telor, ayam singeremi. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami.”

Dalam klarifikasinya setelah kata “pribumi” ini heboh di media sosial, Anies menyebut bahwa konteksnya adalah pada era penjajahan. Tidak ada kalimat lain. Tapi kehebohan telah terjadi. Pro-kontra tak bisa dihindari. Tuduhan rasis langsung mengalir ke Anies. Apalagi, dalam waktu yang bersamaan kasus Teluk Jakarta juga mencuat. Isu di balik reklamasi Teluk Jakarta berkaitan juga dengan adanya warga nonpribumi yang akan “menyerbu” dan tinggal di sana. Belum lagi wacana dwikewarganegaraan yang tiba-tiba mencuat.

Tentu saja semua isu dan wacana itu bisa dikait-kaitkan. Bukan salah juga para netizen kemudian berkomentar yang akhirnya melebar ke sana ke mari. Situasi panas usai pilkada DKI Jakarta dan melebar secara nasional ternyata tak selesai sampai di sana. Ini ditambah sikap “tak sportif” mantan Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat yang memilih tak menghadiri pelantikan penerusnya di DKI. Dia malah berlibur ke Labuhan Bajo.

Tentu saja gonjang-ganjing seperti ini tidak produktif untuk sebuah pertunjukan demokrasi. Sudah seharusnya semua pihak bisa menahan diri agar situasi kondusif tak malah berlarut. Para pemimpinlah yang harusnya menjadi contoh. Kita sangat merindukan saling menghargai, menghormati kawan dan lawan politik. Sebab, ujung-ujungnya, nanti rakyatlah yang akan dikorbankan jika situasi politik dan kondusif. Semoga negeri ini tetap aman dan damai.***


Sumber : RIAUPOS.CO 

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA