Luhakkepenuhan.com Khasanah & Hikmah

Konsekuensi Iman

Diposkan Oleh : Luhak Kepenuhan |
Konsekuensi Iman
Konsekuensi Iman

 

Jumat , 03 November 2017, 05:00 WIB

Konsekuensi Iman

 Oleh: Abdul Syukkur


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA 
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau sebaiknya diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tamunya." (HR Bukhari dan Muslim). Dalam hadis ini, Rasulullah hanya menyebut dua paket keimanan, yaitu iman kepada Allah dan iman pada hari akhir. Alasannya, iman kepada Allah dan hari akhir tidak memiliki bentuk nyata seperti malaikat yang pernah menjelma sebagai manusia, ketika bertamu pada Nabi Muhammad SAW mengajarkan arti Islam, iman, dan ihsan.

Tidak seperti para nabi atau rasul yang kehadirannya bisa dirasakan langsung oleh umatnya. Tidak seperti kitab-kitab Allah yang isinya bisa dibaca dan ajarannya bisa dipraktikkan langsung oleh umat manusia. Pun tidak seperti qadha dan qadar yang dampak ketentuannya bisa dirasakan langsung oleh manusia. Sehingga, ketika seseorang sudah beriman kepada keduanya, yakni iman kepada Allah dan hari akhir maka akan sangat mudah untuk percaya atau beriman pada paket keimanan yang lain.

Ketika seseorang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, ia harus membuktikan keimanannya tersebut dalam kehidupan nyata. Pertama, berkata hal-hal yang baik dan kalau tidak bisa maka sebaiknya diam. Orang yang beriman kepada Allah semestinya selalu sadar bahwa setiap perkataan yang keluar dari lisannya tidak pernah luput dari pantauan Allah SWT, baik isi maupun motif mengapa perkataan itu muncul.

Sementara keimanan pada hari akhir akan membuat orang itu sadar bahwa setiap perkataan yang keluar dari lisannya akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di akhirat. Sehingga, keimanan kepada Allah dan hari akhir akan membuat seseorang berhati-hati dalam berbicara karena merasa dipantau oleh Allah dan merasa bahwa semua perkataannya itu akan dimintai pertanggungjawaban nanti di akhirat. Alhasil, orang itu akan selalu berkata baik dan meninggalkan perkataan yang buruk.

Kedua, memuliakan tetangga. Memuliakan artinya, di samping tidak menyakiti juga menghormati atau memuliakan para tetangga, yaitu orang-orang yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Hal ini juga termasuk bukti keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir.

Orang yang beriman kepada Allah akan merasa bahwa semua perkataan, sikap, dan perbuatan yang ia tujukan kepada para tetangganya tidak pernah lepas dari perhitungan Allah, dan juga tidak akan pernah sia-sia karena di akhirat nanti akan ada balasannya.

Ketiga, memuliakan tamu. Tamu adalah setiap orang yang datang berkunjung ke rumah kita, baik karena hubungan famili, pertemanan, bertetangga, maupun orang asing yang hendak bersilaturahim ke rumah kita.

Ketika ada orang bersilaturahim ke rumah kita, setidaknya mereka telah mengurangi kesempatan kita untuk bersua dengan keluarga, mengurangi waktu istirahat kita, bahkan bisa mengusik ketenangan kita. Oleh karena itu, tuan rumah yang bisa mengorbankan itu semua dan memuliakan orang yang datang ke rumahnya, menjadi bukti keimanannya kepada Allah dan hari akhir.

 

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA