Luhakkepenuhan.com Ekonomi Bisnis

Antrean Premium di mana-mana

Diposkan Oleh : Luhak Kepenuhan |
Antrean Premium di mana-mana
Antrean Premium di mana-mana
Antrean Premium di mana-mana
 
Selasa, 14 November 2017 - 11:31 WIB

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - JATAH Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium di Provinsi Riau telah dikurangi hingga 50 persen oleh PT Pertamina. Akibatnya, banyak kendaraan masyarakat antre panjang hampir di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) misalnya. Warga yang menggunakan kendaraan roda dua 

maupun roda empat, sama-sama antre panjang. Seperti yang terjadi SPBU Jalan Tuanku Tambusai, Pasirputih, tepatnya di ibukota kabupaten, Pasirpengaraian.

Pengawas SPBU Pasirputih, Desa Pematang Berangan Kecamatan Rambah, Sonny saat diwawancarai Riau Pos, Senin (13/11), membenarkan sejak Juni hingga saat ini, jatah BBM jenis premium di SPBU yang berada di Pasirpengaraian dikurangi 50 persen oleh PT Pertamina di Jalan Sisingamaraja Pekanbaru. Menurutnya, yang semula kuota BBM jenis premium untuk SPBU sebanyak 16 kiloliter per hari yang biasa dipasok Depot Pertamina Dumai, kini hanya dikirim sekitar 8 kiloliter atau dipangkas 50 Persen.

“Kita tak tahu apa alasan dari PT Pertamina untuk mengurangi pasokan BBM jenis premium ke seluruh SPBU di Rohul. Kondisi pengurangan kuota ini mengakibatkan terjadinya antrean panjang kendaraan bermotor untuk mendapatkan BBM jenis premium di SPBU kita,’’ jelasnya.

Diakuinya, selain memangkas pasokan premium, Pertamina juga melarang penggunaan mesin pompa dengan 4 nozzle. Khusus pompa premium, hanya memperbolehkan penggunaan dua nozzle. Sedangkan dua nozzle lainnya ditutup pakai sarung sehingga tidak cepat habis.

‘’Ketika premium tiba di SPBU sore hari, bakal habis dalam waktu lebih kurang 4 jam. Dan itupun terjadi antrean panjang kendaraan bermotor di ruas jalan Tuanku Tambusai Pasirpengaraian. Memang kita saat ini belum menyediakan pompa minyak pertalite, yang ada hanya pompa pertamax turbo,’’ katanya.

Diakuinya, cepatnya habis premium 8 ton itu selain antrean panjang kendaraan bermotor, momen itu ada dugaaan maraknya oknum yang melangsir premium.

‘’Kita sebenarnya memiliki rencana untuk menjual BBM jenis pertalite. Karena kita sudah beli pompa minyak untuk pertalite seharga Rp360 juta, dan rencana untuk membeli tangki pendam pertalite seharga Rp100 juta. Tapi kita khawatir terkait isu adanya rencana pemerintah untuk menghapuskan BBM premium, dan diarahkan penggunaan pertalite. Sementara tangki pendam pompa minyak premium ini akan mubazir nantinya,’’ katanya yang masih menunggu kebijakan pemerintah pada Januari 2018 untuk menyediakan pompa minyak pertalite.

Di Pekanbaru, kondisi antrean panjang kendaraan mengisi premium juga terjadi. Seperti di SPBU Jalan Sukakarya, Panam. Salah seorang karyawan di tempat ini juga menyatakan, pengurangan BBM jenius premium terjadi hingga 50 persen. ‘’Wah, sekarang premium susah, Mas. Kami hanya dapat 8 kiloliter per hari. Makanya antre. Dalam waktu sebentar saja, juga sudah habis,’’ katanya.

Di Kampar juga sering terjadi kelangkaan premium. Seperti di tiga SPBU, yakni di SPBU Rantau Berangin, SPBU Salo, dan SPBU Bangkinang Kota. Di SPBU Rantau Berangin bahkan sudah tiga hari kosongnya. Sehingga pengendara yang hendak mengisi premium, terpaksa harus berganti ke pertalite.

 “Pertalite cuma yang ada. Premium sudah tiga hari kosong,” kata Zul, salah seorang petugas pengisian di SPBU itu, Senin (13/11).

Sama halnya dengan SPBU Salo. Di sini, sempat beberapa hari terjadi kekosongan BBM jenis premium. Penggantinya pertalite. Bahkan pada Sabtu (11/11) malam lalu, sejumlah kendaraan rela antre panjang demi menunggu kedatangan premium ini. Rata-rata yang mengantre ini pedagang BBM eceran, dengan membawa jerigen.

“Kata petugasnya premium sedang dalam perjalanan. Kami tunggu saja,” kata dia. Namun warga yang tak mau menunggu lama, terpaksa beralih ke pertalite.

Lain halnya dengan SPBU Bangkinang Kota. Di sini, premium hanya tersedia untuk pengendara sepeda motor. “Kalau pun ada, cuma sebentar. Habis tu kosong lagi beberapa hari,” kata Sawal, salah seorang warga Bangkinang.

Sedangkan untuk pengisian mobil, hanya ada BBM jenis pertalite dan solar. Tidak tersedia premium. 

“Biasanya kalau mobil mau isi premium, ke mesin pompa sepeda motor itu,” kata Sawal.

Sementara di Kuantan Singingi (Kuansing) pada Senin (13/11) pagi, premium  di sejumlah SPBU masih tersedia. Namun, sekitar pukul 17.00 WIB, premium di sejumlah SPBU kosong. Hanya saja, pukul 22.17 WIB, Senin (13/11), premium sudah tersedia lagi.

“Seperti biasa, kalau menjelang sore memang habis. Tapi sekarang mobil tangki sudah datang,” ujar Zulfadri Rahman, salah seorang karyawan di SPBU Kuantan di Desa Sako Pangean, kemarin.

Kuota Riau Paling Tinggi
PT Pertamina mengklaim ketersediaan BBM jenis premium di Riau, masih lebih tinggi dibandingkan dengan provinsi tetangga. Pengurangan kuota sampai 50 persen itu disebut sebagai angka terendah. Kenyataan di lapangan, masyarakat sulit menemukan premium. Berbagai solusi terus jadi pembahasan dalam mengatasi kelangkaan. Mulai dari menjaga disparitas (selisih harga) harga antara premium dengan lainnya. Upaya mengajak masyarakat pengguna bahan bakar selain premium juga terus dilakukan. Namun hal tersebut belum memperlihatkan hasil optimal dalam langkah penanganan bersama atas kelangkaan premium tersebut.

 Menurut Marketing Branch Manager PT Pertamina Sumbar-Riau, Pramono Wibowo kemarin siang, sebenarnya tidak ada pengurangan kuota di Riau. “Premium dan nonsubsidi masih sekitar 48 sampai 50 persen, sementara provinsi lain seperti NAD sudah 35 persen, Sumut 25 persen. Jadi, secara volume, Riau masih tinggi,” ujarnya.

Secara nasional, katanya, premium kuotanya pada angka 35-45 persen. Ketersediaannya, lanjut Pramono, pada 2016/2017 memang Pertamina banyak mengeluarkan produk baru. Untuk itu yang dulunya produk premium dan solar, kini sudah banyak pilihan.

Memang diakuinya, ketersediaan jumlah nozzle akan mengalami penurunan untuk premium di SPBU. Namun, dulunya, sebelum pertamax masuk, ketersediaan untuk Riau sebenarnya tetap. “Switching terus dilakukan ke pertalite. Jadi masyarakat pengguna bahan bakar nonsubsidi agar dapat jujur dalam menggunakan bahan bakar ini,” tambahnya.

Sementara Area Manager Communication Relation PT Pertamina MOR I Wilayah Sumbagut Rudi Affrianto mengatakan, untuk Riau saat ini disalurkan BBM jenis premium sebanyak 1.284 kiloliter per hari. Khusus Pekanbaru sebanyak 546 kiloliter. Jumlah SPBU yang mendapat jatah premium di Riau sebanyak 151.  Khusus di Pekanbaru hanya 47 SPBU saja.

‘’Penyaluran BBM jenis premium ini sesuai Perpres no 191/2014 tentang penyediaan pendistribusian dan harga jual eceran BBM. Pertamina merupakan badan usaha resmi yang mendapat penugasan sebagai lembaga untuk menyediakan BBM jenis premium,’’ katanya.

Saat ditanya adanya pengurangan hingga 50 persen, Rudi tidak menjawab pasti. Ia hanya mengatakan penyaluran BBM jenis premium sesuai ketetapan pemerintah. ‘’Penyaluran disesuaikan dengan tren konsumsi masyarakat. Masing-masing SPBU tentu berbeda-beda jatahnya,’’ katanya lagi.

Sementara Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) Muhammad Fanshurullah Asa menegaskan, penyaluran BBM premium harus mengacu Perpres 191/2014. Khusus di luar Jawa, Madura dan Bali merupakan penugasan ke Pertamina.

“Seharusnya kalau mengacu kepada aturan maka Pertamina wajib hukumnya menyalurkan BBM premium di semua  SPBU,” tegas Fanshurullah merespons kelangkaan BBM premium di Riau.

Saat ditanya apakah Pertamina dibenarkan mengurangi jatah SPBU hingga 50 persen, sementara permintaan pasar masih tinggi, pihaknya menyatakan hal itu tidak dibenarkan.

“Ya nggak boleh dong. Itu kan hak rakyat, dan BPH Migas sudah memberikan kuota BBM solar dan premium untuk masing-masing provinsi dan kabupaten/kota,” ujarnya.

Di sisi lain Ketua Hiswana Migas Riau Tuah Laksamana yang meneruskan kepemimpinan H Arsyadjuliandi Rachman di organisasi tersebut mengatakan, jika berbicara soal premium, sebenarnya memang untuk Region 1 pemakaian premium Riau terbesar.

 
“Jadi kalau pengurangan, susah juga dibilang begitu. Region Sumbagut pemakaian premium kita terbesar. Melihat porsi pemakaian memang lebih pada perlunya kesadaran masyarakat yang mampu menggunakan BBM nonsubsidi agar jangan memakai subsidi,” katanya usai pertemuan di kantor gubernur.

Selain mengajak masyarakat agar tepat menggunakan bahan bakar, Hiswana Migas juga berharap agar Pemprov Riau mau menurunkan bea pajak bahan bakar kendaraan bermotor. Dengan demikian sebenarnya bisa dikurangi persentasenya 10 persen dari yang ditetapkan.

“Untuk pertalite agar bisa diturunkan, sehingga bisa menurunkan harga. Dengan demikian disparitas  premium bisa dijaga dengan pertalite. Jadi, pemprov sebenarnya sekarang bisa melakukan perhitungan untuk pajak bahan bakar yang tertuang dalam perda,” paparnya.

Secara standar harga premium dari Rp6.550 per liter dan pertalite dari Rp7.900 per liter atau terjadi disparitas harga sekitar Rp1.450. Memang, Pemprov Riau sesuai petunjuk pemerintah pusat, turut mengatur soal pajak bahan bakar kendaraan bermotor. Melalui Perda Nomor 4/2015 tentang Pajak Daerah.

Jika dilakukan perbaikan atas aturan, menurut Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Riau, memang perlu kajian panjang dan mengikuti aturan pusat karena sudah ada angka penetapan persentase atas pajak bahan bakar kendaraan bermotor dimaksud. Kepala Bapenda Riau Indra Putrayana melalui salah seorang Kabidnya Ispan mengatakan, untuk komponen bahan bakar sebenarnya ada PPN dan PPH. “Kalau dikurangi aturan yang ada sekarang maksimal 10 persen secara nasional, 10 persen untuk bahan bakar nonsubsidi, memang harus dilakukan pengkajian, karena harus dilihat kontribusi terhadap daerah,” katanya.

Dengan demikian maka perlu dilihat apakah volume penjualan atau pemakaian bertambah atau tidak. “Kalau tetap tentu daerah rugi. Jadi ini lebih pada kebijakan,” tutupnya.(epp/egp/*3/jps/fat/kun/ted)

 
Sumber : RIAUPOS.CO

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA