Sosulua Ayie

Diposkan Oleh : Luhak Kepenuhan |
Sosulua Ayie
Sosulua Ayie

Keberadaaan Pendatang

Jauh moncai suku dokek moncai kaum (Jauh mencari suku dan dekat mencari kaum),potatah-potitih ini mengandung dua ungkapan. Ungkapan pertama, jauh moncai suku. Sedangkan ungkapan kedua, dokek moncai kaum. Kedua ungkapan tersebut memiliki kesatuan maksud, namun sebelum sampai ke arah yang dimaksud tentang keberadaan pendatang ini, terlebih dahulu akan diuraikan pengertiannya satu persatu.

 

Jauh moncai (mencari ) suku

Penafsiran yang cocok mengenai potatah-potitih jouh mencari suku apabila didasarkan kepada Bhinneka Tunggal Ika, adalah sebagai pemersatu bangsa Indonesia dari masa ke masa tanpa ada satu pun yang mencoba untuk memecah belah kesatuan tersebut. Siapa pun di negeri ini bisa dan dapat diterima dalam suku mana saja. Hal tersebut tentu harus berdasarkan pada ketentuan dari suku yang bersangkutan ketika menerima seseorang untuk diangkat dalam sukunya. Kejadian seperti ini sering terdengar dan terlihat di media masa, secara luas ditayang-kan tentang seseorang diterima dalam suatu suku tertentu di nusantara ini.

Secara kedaerahan wilayah Kepenuhan masih tertinggal dengan empat luhak yang lainnya, yaitu: Luhak Rokan, Luhak Kunto, Luhak Tambusai dan Luhak Rambah. Meskipun demikian, namun pada prinsipnya mereka adalah satu keluarga besar yang kokoh dan dikatakan satu keturunan.

Karena memiliki sepuluh suku di Kepenuhan, jika ada sesorang ingin bergabung dalam persukuan, maka hamru disesuaikan dengan asam lazim (kebiasaan) orang Kepenuhan Maksud asam lazim di sini adalah sesuai dengan tata cara adat dan segala sesuatu yang berkenaan dengan adat istiadat Kepenuhan dalam segala bidang.

Jadi seseorang yang akan menjadi anak kemenakan dalam suku nan sepuluh harus menyesuaikan terlebih dahulu dengan kesukuan yang dimilikinya. Jika dalam suku nan sepuluh tidak termasuk dengan kesukuan yang ia memiliki, maka ia harus melihat kembali jati diri yang menurut pandangannya ada banyak kecocokan dalam kehidupan kesehariannya selama ini.

Tugas selanjutnya adalah salah satu suku yang menerimanya akan melakukan musyawarah dengan jajarannya dan anak kemenakan tentang calon anak kemenakan yang akan diterima. Hal ini penting dilakukan dalam menentukan garis kesukuan dan tanggung jawab yang harus diemban oleh yang bersangkutan.

Jika sudah ada kemufakatan dan yang bersangkutan telah tulus ikhlas menyangggupi semua persyaratan yang ada maka ia telah menjadi bagian dari salah satu suku. Akan tetapi ia baru dikatakan seorang anak kemenakan yang syah. Apabila telah dipotong seekor kambing serta dijamukan ke seluruh suku nan sepuluh dengan bantuan suku yang menjadi tempat berlindung untuk masa mendatang.

Pemotongan hewan korban seperti seekor kambing sebagai syarat utama, ini diibaratkan sebagai aqiqah sebagaimana dalam Islam. Hal tersebut sesuai dengan "Adatbersendikan syarak dan syarak bersendikan kitabullah". Syarat kedua adalah mereka harusberagama Islam. Jika belum beragama agama Islam maka belum dapat diterima dalam suku di Luhak Kepenuhan.

Ketentuan ini berlaku umum untuk seluruh suku, apalagi dengan akan diadanya walimahan atau jamuan makan bersama. Mutlak membaritahukan ke seluruh suku nan sepuluh dan masyarakat, bahwa yang bersangkutan adalah anak kemenakan dari Luhak Kepenuhan.

Ada sesuatu kekuatan sekaligus pengakuan hak dan kewajiban dari masyarakat Kepenuhan kepada mereka yang sudah masuk suku. Yang jelas mereka sudah sama keberadaannya dengan masyarakat adat Luhak Kepenuhan. Mereka mendapat andil yang tidak sedikit di dalam acara adat atau acara kemasyarakatan apa pun.

Bahkan dijumpai ada pula beberapa mereka yang masuk suku ini telah dipercayakan menjadi Ninik Mamak, rnendapat gelar kurnio dan sebagainya. Hal tersebut dibenarkan selama mereka betul-betul menyatu dengan masyarakat suku yang dimasukinya.

 

Dokek moncai kaum (dekat mencari kaum)

Dokek moncai kaum adalah tahap kedua setelah jauh mencari suku. Statusnya akan jelas, jika telah masuk ke salah satu suku nan sepuluh dan sudah diakui oleh semua suku. Jika sudah memiliki suku maka ia akan memiliki kaum.

Pucuk suku akan mengupayakan anak kemenakannya untuk hadir dalam suatu pertemuan adat dalam suku untuk memperkenalkan anak kemenakannya yang baru. Kegiatan ini ditandai dengan mo upah anak kemenakan masuk suku. Dengan demikian ia sudah tergolong dalam kesukuan dan memiliki status kesukuan.

 

Digodangkan (dibesarkan)

Istilah digodang merupakan ungkapan khusus diberikan kepada orang yang telah masuk suku sesuai dengan potatah potitih di atas. Haknya sama dengan hak anak kemenakan dari dalam suku tersebut. Digodangkan berarti memberikan kesempatan yang sama dari Mamak yang bersangkutan agar bersikap adil untuk menduduki jabatan adat, mulai dari Mato BuahPoik, Induk, Tungkek, dan Pucuk Suku apabila gilirannya sudah sampai.

Ungkapan digodangkan juga memiliki maksud bahwa anak kemenakan yang sudah masuk suku tadi diberi pembinaan keadatan yang ditandai dengan seringnya datang pada acara adat dan acara Induk atau suku. Pemberian pembinaan ini akan menjadi ajang kebijaksanaan Induk dalam melakukan alih regenerasi untuk masa yang akan datang.

Sumber : Buku yang berjudul  Sejarah dan Adat Istiadat Masyarakat Kepenuhan

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA