Luhakkepenuhan.com Info Gotah, Sawit dan Ikan

MASIH TERKENDALA PARLEMEN EROPA Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Belum Puas Hasil Banding WTO

Diposkan Oleh : Luhak Kepenuhan |
MASIH TERKENDALA PARLEMEN EROPA Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Belum Puas Hasil Banding WTO
MASIH TERKENDALA PARLEMEN EROPA Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Belum Puas Hasil Banding WTO
 
Rabu, 31 Januari 2018 - 00:09 WIB

JAKARTA (RIAUPOS.CO)  - Meskipun menghasilkan kemenangan di tingkat World Trade Organization (WTO), namun Indonesia belum mendapatkan kepuasan atas persoalan biodiesel dengan Eropa. Sebab,  parlemen Eropa tetap bersikeras untuk mengesahkan aturan larangan ekspor bio diesel.

Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsyad mengatakan  meskipun Indonesia me­nang gugatan di WTO tentang anti dumping Eropa terhadap produk crude palm oil (CPO), tapi parlemen Eropa tetap me­nyusun aturan pelarangan peng­gunaan CPO untuk biodiesel. "Itu belum pasti. Artinya bisa saja Eropa tetap melarang peng­gunaan biofuel. Kita masih pesi­mistis dengan hasil gugatan itu," katanya di Jakarta.

Menurut dia, jika Eropa tetap ngotot mengesahkan aturan yang tidak menggunakan CPO pada 2021, berarti mereka sedang memiskinkan Indonesia. Larangan tersebut bakal memukul Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Saat ini, total petani sawit mencapai 5,3 juta.

Karena itu, dia mengajak, semua produsen sawit untuk boikot ekspor ke Eropa. "Kami meminta Uni Eropa untuk menghentikan upaya pelarangan penggunaan minyak sawit untuk biodiesel," paparnya.

Ketua Umum Gabungan Pen­gusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono men­gatakan, Eropa tidak pernah berhenti untuk terus melakukan hambatan perdagangan sawit. Sebab, masalah utamanya adalah persaingan dagang, khususnya bisnis minyak nabati.

Dari aspek biodiesel, Eropa mempunyai kepentingan besar karena minyak rapeseed mereka. Jika Eropa patuh pada putusan WTO tersebut, bisa menjadi peluang baik bagi Indonesia lantaran peluang masuknya biodiesel Indonesia ke Eropa.

Namun kenyataannya, dalam perundingan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) Indonesia-Eropa, Negeri Benua Biru itu masih enggan untuk memberi kejelasan soal sawit. Selain itu, ada potensi tin­dakan Eropa untuk menghalangi masuknya biodiesel Indonesia. Ini bisa dilihat dari langkah Parlemen Eropa yang membuat resolusi pelarangan biodiesel.

Sebelumnya, Direktur Ekse­kutif Council of Palm Oil Produc­ing Countries (CPOPC) Mahendra Siregar mengungkapkan, Eropa bukan penentu kelangsungan ekspor sawit dan CPO Indonesia. Karena, meraka bukan negara tujuan ekspor utama di Indonesia. "Sebenarnya kalaupun akhirnya tidak ekspor ke Eropa dampaknya tidak sampai katakanlah sebesar seperti di waktu yang lalu kar­ena memang secara relatif ekspor Eropa lebih kecil dari yang lalu," ujarnya.

Saat ini, ekspor sawit kes­eluruhan ke Eropa kurang lebih hanya 20 persen atau hampir mencapai 4 miliar dolar AS atau Rp 54 triliun. "Tetap besar, tetapi enggak sebesar di waktu yang lalu," jelas dia.

Menteri Perdagangan, Eng­gartiasto Lukita mengatakan, putusan yang dikeluarkan Panel Badan Penyelesaian Sengketa (DSB) WTO menjadi keme­nangan telak RI yang akan membuka lebar akses pasar dan memacu kembali kinerja ekspor biodiesel ke Uni Eropa

"Tentunya akan membuka lebar akses pasar dan memacu kembali kinerja ekspor biodiesel ke Eropa bagi produsen Indo­nesia, setelah sebelumnya sem­pat mengalami kelesuan akibat adanya pengenaan bea masuk anti dumping (BMAD) atas produk tersebut," kata Enggar.(**)

 
Sumber ; RIAUPOS.CO

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA