Dr Djonieri SE MBA Ak CA Meneropong Rekam Jejak Calon Pemimpin Riau

Diposkan Oleh : Luhak Kepenuhan |
Dr Djonieri SE MBA Ak CA  Meneropong Rekam Jejak Calon Pemimpin Riau
Dr Djonieri SE MBA Ak CA Meneropong Rekam Jejak Calon Pemimpin Riau

 

15 Januari 2018 - 14.05 WIB

RIAUPOS.CO -  PLATO (427 SM-347 SM), filsuf Yunani kuno, dalam karyanya Politeia (Republik), yang berarti negeri, mengatakan bahwa pemerintahan yang ideal adalah pemerintahan yang dipimpin oleh seorang filsuf. Pertanyaannya, mengapa yang memimpin harus seorang filsuf. Menurut Plato, filsuf adalah seorang yang berilmu, adil, dan mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, melalui kebijakan-kebijakan yang diambilnya.

Suara Plato ribuan tahun yang lalu masih terasa relevansinya sampai saat ini. Riuh rendah kontestasi pemilihan kepala daerah saat ini, sejatinya adalah untuk mencari seorang pemimpin negeri yang mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Artikel ini meneropong rekam jejak para calon pemimpin Riau di masa depan pada saat mereka menjabat saat ini, misalnya gubernur, bupati, dan walikota, dalam konteks kontribusi mereka bagi kesejahteraan masyarakat. Tulisan ini mempunyai keterbatasan tidak dapat meneropong rekam jejak calon pemimpin Riau yang tidak menjabat saat ini dikarenakan keterbatasan data yang ada.

Gegap gempita kontestasi pemilihan kepala daerah yang akan dilakukan di Riau sekitar bulan Juli 2018 sudah mulai terasa riaknya saat ini. Masing-masing pendukung pasangan calon akan menganggap calon yang mereka dukunglah yang paling pantas memenuhi kriteria Plato, sehingga layak memimpin Riau lima tahun mendatang. Namun, masyarakat awam mungkin tidak mempunyai informasi tentang rekam jejak para calon pemimpin tersebut sebagai dasar untuk  memilih. Jika salah memilih pemimpin, sengsaralah masyarakat selama lima tahun. Oleh karena itu, meneropong rekam jejak mereka selama memimpin daerah masing-masing, seperti Kabupaten Siak, Rokan Hilir, Pekanbaru, dan Riau secara keseluruhan, akan bermanfaat bagi masyarakat sebelum menentukan pilihan. 

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS, 2017), sepanjang tahun 2013-2016, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Siak berturut-turut adalah -2,33, -0,97, -0,21, dan 0,35 persen, dengan rata-rata pertumbuhan -0,79 persen. Dan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Rokan Hilir berturut-turut adalah 2,38, 4,81, 0,52, dan 2,30 persen, dengan rata-rata pertumbuhan 2,5 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru berturut-turut adalah 5,59, 6,90, 5,57, dan 5,96 persen, dengan rata-rata pertumbuhan 6 persen. Untuk Provinsi Riau secara keseluruhan, laju pertumbuhan ekonomi tahun 2013-2016 berturut-turut adalah sebesar 2,48, 2,71, 0,22, dan 2,23 persen, dengan rata-rata pertumbuhan 1,91 persen. Dari data tersebut terlihat bahwa Pekanbaru mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata paling tinggi selama empat tahun, dan di atas rata-rata Provinsi Riau.

Jika angka pertumbuhan ekonomi di masing-masing daerah dilihat dampaknya pada tingkat kemiskinan, kualitas sumber daya manusia, dan besarnya pengangguran, maka akan tercermin prestasi dan kemampuan masing-masing calon pemimpin dalam mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kualitas  manusia, dan menurunkan tingkat pengangguran di daerah masing-masing.

Pengentasan Kemiskinan
Sepanjang tahun 2013-2016, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Siak berturut-turut adalah 23,2 ribu jiwa atau sebesar 0, 38 persen,  22,5 ribu atau 0,37 persen, 24,8 ribu atau 0,39 persen, 24,9 ribu atau 0,38 persen dari seluruh penduduk Provinsi Riau. Sedangkan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Rokan Hilir berturut-turut adalah 47,5 ribu atau 0,79 persen, 46,1 ribu atau 0,75 persen, 49,1 ribu atau 0,77 persen, dan 52,4 ribu atau 0,81 persen. Dan jumlah penduduk miskin di Kota Pekanbaru berturut-turut adalah 32,5 ribu atau 0,54 persen, 32,3 ribu atau 0,53 persen, 33,8 ribu atau 0,53 persen, dan 32 ribu atau 0,49 persen dari seluruh penduduk Provinsi Riau. Dilain sisi, jumlah penduduk miskin di Provinsi Riau secara keseluruhan adalah 511,5 ribu atau 8,42 persen,  498,3 ribu atau 7,99 persen, 531,4 ribu atau 8,82 persen, dan 515,4 ribu atau 7,67 persen dari seluruh penduduk Provinsi Riau. 

Sepanjang tahun 2013-2016, rata-rata tingkat kemiskinan di Siak tidak mengalami penurunan ataupun kenaikan. Sedangkan tingkat kemiskinan di Rokan Hilir meningkat  sebesar rata-rata  0,01 persen selama empat tahun. Namun demikian, Pekanbaru mampu menurunkan tingkat kemiskinan rata-rata sebesar 0,02 persen selama empat tahun. Begitu pula Riau secara keseluruhan mampu menurunkan tingkat kemiskinan rata-rata sebesar 0,25 persen selama empat tahun.

Dari data di atas terlihat bahwa selama empat tahun, Pekanbaru dan Riau secara keseluruhan dapat menurunkan tingkat kemiskinan masing-masing rata-rata  sebesar 0,02 persen dan 0,25 persen. Ini berarti Pekanbaru dan Riau secara keseluruhan dapat menurunkan tingkat kemiskinan lebih baik dari daerah lain. 

Kualitas Manusia
Indikator kualitas sumber daya manusia di satu daerah tercermin dari besarnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang tergambarkan pada kemajuan indikator pendidikan, kesehatan, standar hidup layak, usia panjang, dan pengetahuan. Semakin tinggi IPM satu daerah dibanding daerah lainnya, berarti semakin baik kualitas sumber daya manusia di daerah tersebut dibanding daerah lainnya.

Sepanjang tahun 2013-2016, skor IPM Siak masing-masing adalah 68,29, 68,67, 69,82, dan 70,21, dengan rata-rata adalah sebesar 69,25. Sedangkan IPM Rokan Hilir masing-masing adalah 70,60, 70,84, 71,29, dan 71,98, dengan rata-rata sebesar 71,18. Di sisi lain, IPM Pekanbaru masing-masing adalah 78,16, 78,42, 79,32, dan 79,69, dengan rata-rata sebesar 78,90. Dan besarnya IPM Provinsi Riau masing-masing 69,91, 70,33, 70,84, dan 71,20, dengan rata-rata 70,57. Dari data tersebut terlihat bahwa Pekanbaru memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) rata-rata yang paling tinggi dan jauh di atas rata-rata Provinsi Riau. Ini menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia, tingkat pendidikan, tingkat kesehatan, standar hidup layak, tingkat lamanya hidup, dan tingkat ilmu pengetahuan masyarakat di Pekanbaru lebih baik daripada daerah lainnya.

Pengurangan Pengangguran
Sepanjang tahun 2013-2015, tingkat pengangguran di Kabupaten Siak masing-masing adalah sebesar 5,38, 3,56, dan 10,02 persen, dengan rata-rata tingkat pengangguran sebesar 6,3 persen per tahun. Sedangkan tingkat pengangguran di Rokan Hilir masing-masing sebesar 6,04, 6,25, dan 8,62 persen, dengan rata-rata tingkat pengangguran sebesar 7 persen per tahun. Dilain sisi, tingkat pengangguran di Pekanbaru masing-masing sebesar 6,66, 9,2, dan 7,46 persen, dengan rata-rata tingkat pengangguran sebesar 7,8 persen per tahun. Dan tingkat pengangguran di Riau secara keseluruhan masing-masing sebesar 5,48, 6,56, dan 7,83 persen, dengan rata-rata tingkat pengangguran sebesar 6,6 persen per tahun. Dari data tersebut terlihat bahwa rata-rata tingkat pengangguran yang paling rendah selama tiga tahun adalah di Siak. Ini berarti, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata yang rendah selama tiga tahun, Siak mampu mempertahankan tingkat pengangguran di bawah rata-rata Provinsi Riau secara keseluruhan.

Dengan semua bukti rekam jejak masing-masing calon pemimpin Riau sebagaimana teropongan di atas, masyarakat Riau dapat menentukan pilihannya kepada kandidat gubernur yang sesuai dengan kriteria Plato di atas.***
Sumber : RIAUPOS.CO

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA