Luhakkepenuhan.com Desa Kepenuhan Timur

Safri, Anak Cacat Mental & Lumpuh Dari Kepenuhan, Butuh Perhatian Pemerintah

Diposkan Oleh : Luhak Kepenuhan |
Safri, Anak Cacat Mental & Lumpuh Dari Kepenuhan, Butuh Perhatian Pemerintah
Safri, Anak Cacat Mental & Lumpuh Dari Kepenuhan, Butuh Perhatian Pemerintah

 

April 3, 2018 23:32

PoskoNews.com – Sangat betul kata pepatah bahwa kasih ibu adalah sepanjang jalan. Banyak contoh dan kisah seorang ibu yang rela berkorban harta, waktu dan kasih sayang, bahkan korban nyawa demi anak yang dilahirkannya.

Seperti yang dilakukan seorang ibu di Pasir Pandak desa Kepenuhan Timur, Kecamatan Kepenuhan, Rokan Hulu (Rohul), Riau bernama Junita (31).

Junita rela berkorban merawat anaknya Faddli Pratama yang biasa dipanggil Safri berumur 12 tahun, namun mengalami cacat mental dan lumpuh sejak beberapa tahun lalu akibat demam tinggi sehingga sarafnya mengalami gangguan.

Safri hanya bisa tergolek, tidak bisa duduk ataupun makan sendiri. Dia hanya mampu menangis dan memanggil nama ayah dan ibunya saat minta makan dan minum.

Ya, sang ibu akan merawatnya, walaupun itu akan berlangsung sepanjang hidupnya dan hanya ingin bersamanya karena ibu begitu mencintainya, tidak pernah menyesal sama sekali mempunyai Safri yang mempunyai keterbatasan fisik, dia bahkan berdoa supaya dirinya diberi kesehatan dan juga umur panjang untuk merawat anaknya.

Junita yang hidup tinggal bersama suaminya Al Fahmi (35) serta tiga buah hati mereka, yakni si Safri dan dua adik perempuannya.

Kendati tergolong keluarga kurang mampu dan minim perhatian dari pemerintah, namun suami istri ini tidak pernah mengeluh, terus bekerja keras memenuhi kebutuhan mereka sehari hari, termasuk mengobati si bungsu Safri.

Tinggal di sebuah rumah sederhana berdinding papan yang berada tidak jauh dari pinggiran sungai Rokan di Pasir Pandak, keluarga ini juga selalu dihantui rasa was was, karena tanah tebing sungai yang berjarak beberapa meter dari rumah tak layak huni mereka sering runtuh atau longsor digerus air sungai, tentu saja sangat membahayakan.

Sang suami Fahmi hanya bekerja di sebuah bengkel kecil dan bekerja apa saja, terkadang hasilnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan mereka sehari hari, sehingga demi kesembuhan si buah hatinya Safri, Junita mencoba bekerja sebagai guru honor di TK sekitar Pasir Pandak.

Pekerjaan itu dilakukan untuk membantu suaminya agar cita cita mereka untuk membelikan sebuah kursi roda agar dapat membawa anaknya yang cacat untuk sekedat berjalan keluar rumah, namun telah sekian lama keinginan tersebut hanyalah sebuah harapan palsu baginya.

Namun, Karena gaji yang diharapkan tidak sesuai dengan yang di perkirakan, apalagi sering diterima tersendat, sehingga memasuki tahun kedua Junita pun mengundurkan diri dan lebih memilih mengurus rumah tangga dan merawat anaknya.

Junita hanya ingin anaknya Safri dapat hidup normal dan bermain sebagaimana layaknya anak anak lain di desa mereka, sehingga berbagai upaya dilakukan untuk mengobati anaknya, namun sekali lagi ketiadaan biaya membuat anaknya tidak bisa diobati secara layak.

“Saat ini yang bisa kami lakukan hanya menjalani terafi pengobatan setiap bulan di daerah SKPC,” kata Juni lirih saat PoskoNews.com berkunjung ke gubuknya.

Dan junita lebih memilih menjadi ibu rumah tangga yang baik. Dan sempat juga ibu junita jadi pencuci baju yang butuh bantuannya. Bagi Junita, tak ada kata menyerah di dalam kamusnya, demi impian dan harapannya yang inggin melihat anaknya berjalana dan berlari seperti anak-anak yang normal.

“Saya dan suami hanya bisa berusaha dan berharap kepada pemerintah atau dermawan, kalaupun tidak bisa membantu mengobati anak saya secara total, tolonglah membelikan sebuah kursi roda supaya anak saya bisa dibawa berjalan keluar rumah untuk menghirup udara segar agar tak menderita terus bermain berdiam di dalam rumah,” harap Junita sambil meneteskan air mata. (Mdwt/Yth)

 

Sumber : PoskoNews.com 

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA