Home Asal Usul Perjuangan

Asal Usul Perjuangan

204

Asal Usul Perjuangan

 

Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi terkenal dengan sebutan Tuan Guru Babussalam, ulama Wali Allah, pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah, dan pejuang kemerdekaan. la lahir pada 10 Rabiul Akhir 1230 H (28 September 1811), di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Tinggi, Rokan Tengah, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Ayahnya, Abdul Manap, anak dari M. Yasin, anaknya Tuanku Haji Abdullah Tambusai, seorang tokoh ulama terkenal bernama Arba'iah. Abdul Manap mempunyai beberapa oral isteri, dan dari perkawinannya dengan Arbai'ah, memperoleh empat orang anak, yaitu; 1. Seri Barat bergelar Hj. Fatimah, wafat 1431H, dikuburkan di kuburan umum Kampung Babussalam kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, tiak jauh dari makam Syekh Abdul Wahab; 2. M.Yunus, meninggal di Penang seberang Prai, Malaysia, dalam keadaan sedang menuntut ilmu; 3. Abu Qasim, bergelar Fakih Muahammad, belakangan terkenal dengan Syekh Abdul Wahab; 4. Seorang bayi, meninggal waktu kecil. Pada tahun 1300 H, yang masih hidup hanya Abdul Wahab dan Seri Barat.

 

Pendidikan.

Semasa kanak-kanak, ia belajar Qur'an kepada H. M. Saleh, oramg alim besar asal Minangkabau hingga tamat. Sesudah ayahnya meninggal dunia, ia melanjutkan pelajarannya kepada syekh Abdul Halim Tambusai dan Syekh H. M. Saleh, atas bantuan ayah angkatnya bernama Baharuddin. Adapun berbagai ilmu yang dipelajarinya dalam bahasa Arab, antara lain kitab-kitab Fat-hul Qarib, Minhajut Thalibin, Iqna' (Fikih), Tafsir jamal, Nahwu, Sharaf, Balaghah, Manthiq (logika), Tauhid, dan ilmu agama lainnya.

Karena rajin dan pintarnya, dia diberi gelar kehormatan dengan sebutan Fakih Muhammad. Fakih artinya ahli Hukum Fakih. Pada waktu belajar, ia pernah digoda seorang wanita untuk berbuat tidak senonoh, tetapi ia mohon dengan rendah hati dan khusuknya kepada Allah. Pada saat itu berhembus angin kencang dan hujan lebat, dan ia pun melarikan diri dengan selamat. Ketika pada suatu hari, kain sarungnya yang terletak di pinggir sungai, dilarikan seorang wanita, ketika wanita itu pulang ke rumahnya, menjadikannya suami. Namun ketika wanita itu pulang hampir sampai ke rumahnya, tiba-tiba perahunya tenggelam dan lenyaplah kain sarung yang dicurinya tadi.

Dalam rangka melanjutkan pelajarannya ke Mekah, ia lebih dahulu dibawa ayah angkatnya ke Malaysia, melewati Singapura, menetap di Simunjung (Sungai Ujung). Selain membantu ayah angkatnya berniaga, ia belajar kepada Syekh H. M. Yusuf, seorang ulama besar asal Minangkabau (1277 H - 1861 M), kuburnya di samping Masjid Azizi Tanjungpura, Langkat, Indonesia Sesudah dua tahun di situ, ia pun melanjutkan pelajarannya ke Mekah, ditemani Bahaudidin (1279 H - 1863 M), tinggal di kampung Qararah, tidak jauh dari Masjidil Haram, berguru kepada M.Yunus bin Abdurrahman Batubara. Selesai menunaikan ibadah haji, Fakih Muhammad diberi gelar oleh gurunya, dengan Abdul Wahab Tanah Putih, dan Bahauddin pulang ke Tambusai.

Selama di Mekah, ia belajar kepada beberapa orang guru asal Indonesia, seperti M. Yunus, Zainuddin Rawa, Ruknuddin Rawa dan Mufti madzhab Sayfi'I Syekh Syarif Dahlan, dan guru lainnya. Seluruh waktunya dipergunakan untuk menambah ilmu dunia dan akhirat.

Merasa ilmu pengetahuan agamanya belum memadai, maka dilanjutkannya dengan memperdalam Ilmu Tasawuf dan belajar Tarekat Naqsyabandiyah kepada Syekh Sulaiman Zuhdi yang membuka suluk di puncak Jabal Abi qubais. Berkat ketekunannya ia pernah berzikir selama enam jam di dekat Baitullah, dengan air wudhu yang tidak pernah batal, yakni antara Magrib danga Subuh. la senantiasa shalat berjamaah dan senantiasa berwhudu sejak bergelar Fakih Muhammad.

Syekh Sulaiman Zuhdi sangat gembira melihat kemajuan muridnya, sehingga mengangkatnya menjadi Khalifah Besar. Dengan begitu ia berhak mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah di seluruh Sumatera dari Aceh sampai Palembang, dan Malaysia. Syekh M. Yunus memberinya gelar dengan Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi.

Sesudah enam tahun di tanah suci, ia pun pulang ke tanah air. Namun sebelum meninggalkan Madinah, pada suatu malam sesudah Shalat Isya, ia berziarah ke makam Rasulullah SAW, dengan memberi salam, ternyata salamnya di jawab Rasullullah SAW, dan terjadilah sesuatu yang luar biasa pada dirinya.

 

Sifat dan Akhlaknya

Syekh Abdul Wahab berperawakan sedang, gagah, dan kulitnya putih kuning. Air mukanya bersih, cerah dan berseri menarik hati setiap orang yang melihat. Sehelai selendang senantiasa di pundaknya. Hidup sederhana. Pakaiannya sering berwarna putih, kadang-kadang hijau, karena putih menurutnya Sabda Nabi SAW adalah warna yang paling baik, karenanya disuruh mengapani orang mati dengan kain putih.

la jujur, dapat dipercaya, tidak pernah dusta, zuhud, rendah hati tekun beribadat, terutama dzikirrullah, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. la hanya tidur beberapa jam dalam sehari. Tegas menjalankan peraturan dan hukum, adil, pemurah dan dermawan. Setiap hari tetap bersedekah. Dia senantiasa mengutamakan kepentingan umum dan bergaul baik dengan keluarga, anak dan isterinya.

Tingkah laku dan perangai yang merupakan ciri-ciri khas beliau antara lain adalah istiqamah (tetap), tidak pernah tinggal wudhu, dan senantiasa shalat berjamaah. Dirinya selalu mengajar dan memberi nasihat setiap saat. Tidak sayang kepada mas dan perak. Makan nasi sekali sehari. Piringnya upih dan gelasnya tempurung. Tiada mau berkata yang sia-sia. Sayang kepada orang yang rajin beribadat dan benci kepada orang yang jahat. Benci serta marah melihat orang merokok. Lauk pauknya sederhana, tidak suka banyak ragamnya. Berjalan senantiasa bertongkat. isteri-isterinya dating bergiliran mendampinginya. Bila terdengar Orang menyebut kata "Neraka", keluar air matanya. Mengajarkan agama setiap pagi, sesudah Shalat Zhuhur, dan sesudah Shalat Magrib. Setiap Jum'at bertadrus Qur'an selama tiga jam. Sesudah shalat Isya, ia tidur dan bangun tengah malam untuk duduk rerzikir sampai waktu subuh.

Dia tidak pernah memutuskan harapan orang, dan tidak pernah menyimpan uang Rp.10,- dalam sebulan, dan suka membantu fakir miskin. la wara', jauh dari sepuluh sifat yang tercela dan tiada hanyut dengan kemewahan dunia. Pendeknya, dirinya mendekati akhlak Nabi Muhammad SAW.

 

Perjuangannya

Setiba di Kubu, Sungai Pinang, Provinsi Riau, beliau aktif mengajar agama dan tarekat, membasmi kebiasaan penduduk berlaga ayam dan berjudi serta meminum khamar. Pada 1285 (1869 M), ia membangun sebuah kampung di wilayah Kubu, dan dinamainya Kampung Masjid. Kampung tersebut menjadi pusat kegiatannya menyebarkan agama dan tarekat ke daerah-daerah sekitarnya, seperti Dumai, Bengkalis, Pekanbaru, Siak, bagan siapi-api, bahkan ke wilayah Provinsi Sumatera Utara, langkat dan Aceh, dan ke luar negeri seperti Negara Malaysia, Singapura dan Thailand.

Dari hari ke hari muridnya bertambah dan pengikutnya semakin banyak. Berpuluh-puluh guru dan mubaligh dikirimnya ke berbagai daerah yang bukan Islam, seperti sekitr sipirok, Padang Sidempuan, dan Gunung Tua di Kabupaten tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara.

Sesudah berumah tangga dengan Mariah, anak Datuk Cahay Tua, di Kubu, beliau meningkatkan kegiatannya dalam mengembangkan agama dan tarekat, dengan membuka suluk kadang-kadang 10 hari, 20 hari dan 40 hari. Khalifah pertama dari persulukan itu, H. M Saleh bin H. Bahaudin, asal Kubu, Sungai Pinang, yang ikut bersamanya pulang dari Mekah. Khalifah H. M Saleh inilah yang mula-mula mengembangkan Tarekat Naqshabandiyah di negeri Panai, Bilah, Kota Pinang, Kabupaten Labuhan Batu dan daerah lainnya di Sumatera Utara.

Adapun abangnya M. Yunus, melanjutkan pelajarannya ke Penang Seberang Prai, dan meninggal di sana. Dan saudaranya Bilal Yasin, sudah meninggal dunia. Seorang anaknya, bernama Aswad (Awat), artinya "hitam", belakangan bergelar dengan H. Abdullah Hakim. la telah menginjak Malaka, untuk menuntut ilmu dunia, hingga Batu Pahat, di wilayah Malaka, Kelang, Selangor, Sungai Ujung, Malaysia. Ilmu dunia yang dituntutnya membuat ia kebal, tak terbakar api dan tak ditembus besi. Karena ilmunya yang luar biasa itu, ia digelari dengan Panglim itam. Oleh karenanya, pada tahun 1270 H, menjadi kebanggaan di tanah Melayu kalau orang menjadi ahli sihir, pendekar, dan sebagainya.

Setelah kembali ke Kubu dari mengunjungi famili di tanah Putih, Syekh Abdul Wahab mengirim surat tiga kali kepada kemenakannya Panglima Itam. Sesudah panggilannya dipenuhi panglima itam, maka Abdul Wahab mengajaknya ke jalan Allah, mengaji dan bersuluk bersamanya. Akhirnya Panglima Itam bertobat, diangkat menjadi penyebar Tarekat Naqsyabandiyah keberbagai daerah. Beliau meninggal di Gebang dan dikuburkan di Selingkar.

Pada 1280 H, tersiar luas ke negeri Bilah, Kuallah, Kota Pinang, Asahan, dan daerah lainnya di Provinsi Sumatera Utara, tentang pribadi Syekh Abdul Wahab yang alim keramat. Beberapa raja di Sumatera Utara mengundangnya, untuk berceramah. kadang-kadang berceramah selama empat jam di istana yang dihadiri oleh para pembesar kerajaan. Demikian dilakukannya di Kualuh, Bilah dan Kota Piang. Kunjungan selama 15 hari di kerjaan itu, kepadanya diberi sampai 1000 ringgit atau 2500 rupiah (gulden Belanda). Setiap tahun ia mengirim sumbangan kepada gurunya di Mekah, Syekh Sulaiman Zuhdi dan M. Yunus antara 800 sampai 1000 gulden Belanda.

Menurut pendapatnya, rezki yang diterimanya, berkat ajaran gurunya. Barang siapa hormat kepada guru, rezeki murah, panjang umur, menjadi sesuatu pekerjaan dan selamat dunia dan akhirat. Sebaliknya barang siapa yang durhaka kepada guru, hidupnya susah ilmunya tiada berkat, berbagai macam bala dan ujian akan menimpanya dan mudah mati tanpa iman (su-ul khatimah). Sekembalinya dari Kualah, Labuhan Batu, beliau membangun sebuah kampung di dearah Dumai (Riau), dinamainya "kampong Masjid".

Pada 1872 M (1291 H), Sulthan Zainal Abidin mengawinkan putrinya, Tengku Padaka Siti dengan Syekh Abdul Wahab, di daerah kelahirannya Rantau Binuang Sakti, Riau. Pada suatu hari atas prakarsa Syekh Abdul Wahab, diadakan musyawarah keluarga Rokan, di Tambusai yang memutuskan beberapa hal berikut ini.

  1. Membentuk organisasi Persatuan Rokan, dipimpin oleh H. A. Mutalib Mufti, dengan tujuan mempersatukan pikiran untuk menyebar luaskan ajaran agama dan membebaskan rakyat dari tekanan penjajah.
  2. Mendirikan Lembaga Perhubungan Luar Negeri, dipimpin langsung oleh Sultan Zainal Abidin, bertujuan untuk mengadakan hubungan dengan luar negeri.
  3. Mendirikan Lembaga Pendidikan dan Pengajaran, diketahui oleh Syekh Abdul Wahab, bertujuan untuk meningkatkan pendidikan, terutama ilmu pengetahuan agama dan tarekat.

Melalui badan ini, telah dikirim beberapa utusan ke Perak Malaysia dan Turki, dan berhasil mempererat hubungan persahabatan dengan luar negeri dan memperoleh bantuan dana dalam usaha mengembangkan ajaran islam.

Pada tahun 1292 H (1873 M), atas permintaan Sultan Kualuh, Tuanku H. Ishak, beliau pindah ke daerah itu setelah baginda tertarik mendengar ceramahnya. Selama di Kualuh Kabupaten Labuhan Batu Provinsi Sumatera Utara, beliau membangun sebuah kampung baru, dinamainya Kampung Masjid.

Ketika Tuanku H. Ishak menunaikan ibadah haji sebelumnya Syekh M. Yunus menasehatinya, supaya belajar mengaji kepada Syekh Abdul Wahab, dan nasehat itu diturutinya. Di tempat ini gerakannya makin berkembang pesat dan pengaruhnya makin luas. Dari Rokan (Riau), menyusuri pantai Sumatera Timur sampai ke Labuhan Batu. Kabupaten Langkat, dan Tapanuli Selatan.

Pada suatu hari, beliau mengunjungi Sultan Siak Sri Indrapura, Kasim Abdul Jalil Saifuddin Ba'alawi, dengan tujuan mengajaknya ke jalan Allah. Ketika disodorkan tepak mas oleh baginda, beliau menolak dan baru mau memakan sirih dalam tepak biasa. Ajakan beliau tidak mendapat sambutan dari raja.

 

 

Sumber : Buku yang berjudul  Sejarah dan Adat Istiadat Masyarakat Kepenuhan