Home Lahirnya Suku Suku di Luhak Kepenuhan

Lahirnya Suku Suku di Luhak Kepenuhan

189

LAHIRNYA SUKU-SUKU DI LUHAK KEPENUHAN

 

Keberadaan negeri Kepenuhan pada mulanya telah dihuni oleh sekelompok masyarakat yang datang dari daratan (diduga dari Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Pagaruyung) dan lautan (Kerajaan Malaka, Malaysia). Mereka yang berdatangan ke daerah ini dengan berkelompok dan mereka silih berganti antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Untuk mengetahui secara mendalam tentang asal usul masyarakat Kepenuhan, penulis akan memaparkan terlebih dahulu tentang sejarah yang melatarbelakangi kedatangan para pendatang tersebut.

Suatu ketika berlayar sebuah perahu kapal dari Hindia yang berasal dari Gunung Himalaya menuju Malaka. Di tengah mengarungi lautan mereka berselisih dengan perahu kapal asal Jawa yang sedang menuju pulang ke Pulau Jawa. Sekelompok orang Jawa tersebut menyebutkan kata orang melayu, karena.perahu kapal milik Hindia itu begitu kencang berlayar. Malewati dari kata melayu di sini adalah orang berlari seperti karena dikejar demikian anggapan orang Jawa tersebut melihat kejadian it',, dengan menyebut-nyebut Mlayu! Mlayu! Mlayu!.

Sesampai di Selat Malaka, mereka berlabuh.Perahu kapalnya menepi dan berhenti beberapa saat guna menambah perbekalan, perjalanan berikutnya. Dengan kedatangan sekelompok masyarakat ini, penduduk setempat memiliki alibi bahwa rombongan orang Malaya. Tujuan dari rombongan perahu kapal tersebut adalah ke Rokan Kanan, tepatnya ke Kepenuhan. Setelah perbekalan yang dibutuhkan sudah didapatkan dan tali yang diikat sudah pula dilepas, pertanda perahu kapal akan berlayar menuju persinggahan berikutnya, yaitu Rokan.

Di tengah perjalanan, perahu kapal yang ditumpangi rombongan tersebut kandas di tengah laut, sehingga mereka terhenti. Dalam situasi demikian, para penumpang berusaha agar perahu kapal yang kandas dapat melanjutkan perjalanan dengan cepat. Sebagian mereka ada yang menahan aliran air, supaya air laut tersebut bisa pasang kembali.Ada yang menahan atau menumpu perahu kapal agar tidak lari arah dari yang direncanakan. Ada pula yang berdiam diri. Ada yang menjadi kapten kapal, baik di bawah, di tengah, maupun di atas, supaya rerahu kapal dapat terkendali dengan baik. Selain itu ada pula yang sibuk mengurus dirinya sendiri.

Demikianlah kondisi yang terjadi saat perahu kapal kandas. Menurut sejarah, dengan kejadian tersebut lahirlah suku-suku yang menunjukkan jati diri yang mereka miliki, yaitu menjadi tujuh kelompok. Mereka ini adalah Melayu, Kandang Kopuh, Pungkuik, Moniliang, Kuti, dan Mais, yang selanjutnya mereka berbagi menjadi tujuh suku.

 

SUKU MELAYU

Posisi suku Melayu pada kejadian perahu kapal kandas ini ada tiga tempat. Pertama, posisi di tengah-tengah adalah sebagai kapten kapal yang lebih dikenal dengan sebutan Tongah bahasa Melayunya. Posisi di atas adalah untuk mengatur layar yang lebih dikenal dengan sebutan Ateh bahasa Melayunya. Posisi di bawah adalah untuk tugas mekanik, yang lebih dikenal dengan nama pasak sebagai bahasa Melayunya.

Secara filosofis, maka tersirat yang dapat diambil dari peristiwa ini adalah Suku Melayu tidak memihak kepada siapapun karena keberadaannya adalah sebagai pemimpin dalam perjalanan tersebut. Tugas seperti itulah yang harus selalu dipegang orang Melayu dalam setiap menunaikan sesuaita yang diamanahkan kepada mereka. Yang diutamakan adalah bagaimana amanah tersebut betul-betul menjadi dapat diemban dengan baik sesuai dengan wewenangnya. Dengan demikian baru dapat dikatakan benar apa yang menjadi semboyan suku ini, yaitu Contiang Melayu yang berarti orang yang selalu memiliki sifat netral.

 

SUKU MONILIANG

Adapun sikap suku ini dalam kejadian perahu kapal kandas tersebut adalah mengelilingi perahu kapal, melihat ke sana sini sebentar melihat ke depan, kemudian ke belakang, entah apa yang akan dikerjakan. Moniliang berarti mengelilingi kapal. Mereka mengelilingi perahu kapal melihat air pasang akan menimpa perahu kapal, dan berkata: "Bono! Bono! Itu Bono datang!"Bono artinya air bergelombang besar. Mereka kemudian berkata lagi Itulah tadin ku sobuik aie akan datang, kolian onak bokojo juo, lotih miang awak!"(Dari tadi udah kubilang kalau air akan datang, namun kalian ingin bekerja juga, sekarang kita dapat capeknya saja)

"Godang kato bang!", ucap penumpang lainnya secara spontan melihat sikap yang mereka ambil. Ucapan dari penumpang tersebut lengket kepada mereka sehingga menjadi semboyan pula dalam Suku Moniliang yaitu Godang kato uwang Moniliang. Arti dari semboyan tersebut adalah mereka selalu meninggi, selalu merasa lebih, selalu merasa pintar, dan sebagainya.

 

SUKU PUNGKUIK

Sedangkan posisi Suku Pungkuik pada saat kejadian perahu kapal kandas tersebut adalah berdiam diri di dalam perahu kapal menunggu hasil yang didapatkan dari pekerjaan penumpang lain. Suatu ketika mereka mengira kapal akan tenggelam, dan mereka berupaya menyelamatkan diri namun anak mereka sendiri hampir tertinggal. Secara historis diperoleh informasi yang mengatakan, bahwa tidak banyak yang diperbuat suku ini, mereka hanya menanti dan menunggu apa yang akan terjadi.

 

SUKU KANDANG KOPUH

Salah satu suku di Luhak Kepenuhan dinamakan Suku Kandang Kopuh karena tugas yang diembankan ketika itu adalah. Mahan air atau lebih dikenal dalam bahasa Kepenuhan, Mongandang. Maksud kata tersebut adalah agar terkumpul sehingga kembali menjadi pasang dan kapal yang kandas dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Dalam menjalankan tugasnya, Suku Kandang Kopuh terus berupaya sampai kapal dapat berlayar untuk melanjutkan perjalanan. Begitu giatnya hingga bulu betis mereka habis tercabut atau putus oleh derasnya air ketika itu. Karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga, badan mereka terasa Kompuh (lemas) dan tidak bertenaga. Peristiwa tersebut menjadi ciri tersendiri dari suku ini, yaitu salah satunya adalah tidak memiliki atau tidak terlihat bulu betisnya.

Ini merupakan salah satu ciri yang terlihat dalam kesukuan di Luhak Kepenuhan. Begitu pula dengan suku lainnya yang miliki kekhasan tersendiri, sehingga bagi mereka yang betul memahami dan mendalami tentang kesukuan akan paham yang mana sukunya, karena terlihat dari keikhlasan yang dimiliki.

 

SUKU MAIS

Hidup pada zaman dahulu sebuah keluarga, terdiri dari ayah dan dua orang anak perempuan. Sumber kehidupan mereka adalah dari hasil pertanian. Mereka tinggal tidak jauh dari pinggir sungai yang banyak ikannya. Kedua anak perempuan ini sering membantu ibu memasak dan ikut pula membantu ayahnya bekerja di ladang. Setelah mereka membantu keduanya kebiasaan mereka sering mandi dan mencari ikan dan menangguk udang-udang yang bersembunyi dicelah-celah rumput sungai dan kemudian dimasak dan dimakan bersama dengan keluarga dirumah.

Konon begitulah kegiatan rutinitas kedua putri ini setiap harinya. Hari demi hari, berganti minggu, berganti bulan dan tahunpun berubah. Akhirnya tiba musim kemarau panjang, air sungai kuning, ikanpun sudah tiada lagi dan udang-udang dicelah rumput yang biasa mereka tangguk tidak lagi dapa dijumpai seperti biasanya. Kebiasaan anak perempuan yang paling tua tersebut bila dapat ikan atau udang biasanya di paih." (pais) sedangkan sibungsu biasanya ikan atau udang tersebut lebih suka di giling untuk dibuat sambal ikan.

Jumlah udang yang diperoleh pada hari tersebut tidak banyak, sedangkan mereka punya perbedaan selera dalam memakan ikan ini, maka hal ini membawa pertentangan peselisihan antara mereka. Akhirnya mereka dipisahkan oleh orang tuanya. Yang hoby makan paih ini menjadi suku maih (mais) sedangkan yang hoby menggiling ikan untuk dibuat sambal menjadi suku moniliang, karena pada awalnya mereka adik beradik makanya sampai sekarang perkawinan antara kedua suku ini (mais dan moniliang) tidak banyak yang sukses (selamat), kadang-kadang banyak yang membawa penyakit (conal) gila, cacat dan adapula yang hidupnya kurang mampu (miskin)

 

SUKU KUTI

Menurut hikayatnya, asal usul Suku Kuti terdapat dua persi. Dalam hikayat pertama dikisahkan kalau negeri asal Suku Kuti adalah Batipuh yang dipimpin oleh seorang Penghulu Adat (Pucuk Suku) bergelar Tuan Godang. Beliau adalah salab satu yang ada di balai Kerajaan Pagaruyung di abad ke IX.

Pada suatu ketika, Suku Kuti berpindah dari Batipuh ke Negeri Bonjol. Selanjutnya terjadi lagi perpindahan ke Negeri Rao. Dari Rao, dipimpin oleh tiga orang bersaudara beserta beberapa orang Kaum Soko (anak kemenakan) berangkat ke Tambusai melalui Sungai Siasik (Rokan IV Koto). Di dalam perjalanan mereka singgah di Permain (Tapanuli Selatan) beberapa bulan. Adapun anggota rombongan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Sutan Mangku Alam
  2. Sutan Batuah
  3. Faqih Maulana

Selanjutnya Sutan Mangku Alam dengan adik kandungnya bernama Faqih Maulana menetap di Tambusai. Sementara itu, Sutan Batuah beserta beberapa orang anak kemenakannya menuju ke sebelah timur Tambusai dan membuka lahan pemukiman baru di pinggir Sungai Batang Lubuh (Sungai Rokan kanan), tepatnya bernama Pasie Siahat.

Pasie Siahat terletak kurang lebih satu kilometer di hilir kampung Surau Tinggi sekarang. Beberapa tahun kemudian, sutan Batuah diikuti oleh kaum kerabatnya dari Rao yang terbagi dalam dua rombongan. Satu rombongan menuju dan menempati hulu Sungai Kumu atau yang lebih popular disebut dengan kumu Jua. Sedangkan rombongan yang satu lagi menempati hulu Sungai Somaong (sekarang adalah wilayah Batang Samo kecamatan Rambah Hilir).

Dari tiga tempat inilah secara evolusi Suku Kuti berkembang ke seluruh penjuru Luhak Rambah hingga sekarang. Hampir 400 tahun yang lalu di negeri Rambah telah dihuni manusia yang terdiri dari masyarakat kecil dan perkembangan sampai ke Luhak kepenuhan yang tergolong dari anak cucu Sutan Batuah.

Adapun nama-nama pemimpin rombongan pertama dari anak cucu Sutan Batuah adalah sebagai berikut.

  1. Majo Kaha
  2. Panglima Bansu
  3. Sotie Poloan (Sotie Pahlawan)

Ketiga orang bergelar ini menuju Kampung Terusan dan diikuti oleh beberapa Kaum Soko dan anak kemenakan. Mereka wafat di Kampung Sibelentung, yakni sebuah kampong yang terletak lebih kurang lima kilometer dari Kampung Terusan.

Adapun nama-nama pemimpin rombongan kedua sebagai berikut.

    1. Olang Bobega
    2. Gompo Cino

Kedua pemimpin ini menempati Pasie Pinang dan wafat di sana. Datuk yang bergelar Olang Bobega mempunyai kehebatan yang luar biasa di dalam Dobalang Raja. Orangnya kecil dan pendek, tingginya hanya tiga hasta.

Sementara itu, rombongan ketiga diberi penghargaan oleh Sutan Batuah, yaitu dua orang memimpin satu luhak, tetapi karena beliau masih mampu memimpin Luhak Rambah, maka dua orang tersebut diberi kekuasaan penuh di Batang Sosa ke hilir.

Adapun nama kedua orang yang diberi penghargaan  oleh Sutan Batuah tersebut yaitu:

  1. Golet
  2. Maksah

 

Merekalah orang pertama menempati Batang Sosa beberapa hari kemudian menyusul anak kemenakan dan Kaum Soko hingga terbangun pemukiman baru di tempat itu. Kampung tersebut bernama Kampung Sionah karena dua pemimpin ini bersikap rendah hati berkat petuah dari Sutan Batuah di Pasie Siahat dan dihargai oleh beberapa Kaum Soko.