Home Membangun Babussalam

Membangun Babussalam

144

Membangun Babussalam

 

Pada saat Kerajaan Langkat dipimpin oleh Sultan Musa Al Mu'azhzhamsyah (1292 H), Syekh Abdul Wahab berkali-kali mengunjunginya atas undangan baginda. Sultan dan keluarga diajari dan dipimpin ke jalan Allah, dengan memperdalam ilmu tarekat. Sesudah sampai saatnya mendapat gelar khalifah, maka beliau menganjurkan supaya melanjutkannya ke Mekah, kepada Syekh Sulaiman Zuhdi. Anjuran itu dipenuhinya, dan mendapat gelar Khalifah. Sultan Musa bersedekah kepada Sulaiman Zuhdi berupa sebuah masjid dipuncak Jabal Abi Kubais, dan berwakaf pula sebuah rumah kepada Syekh H. M. Yunus di Kampung Qararah. Sesudah setahun di tanah suci Mekah, baginda pulang dan lebih mempererat hubungan persahabatannya dengan Syekh Abdul Wahab.

Atas permintaan Sultan Musa, maka Syekh Abdul Wahab pun pindah ke Langkat. Mula-mula ditempatkan di Gebang dan ditawarkan supaya menetap di Kampung Lalang, kira-kira 1 kilometer dari kota Tanjungpura. Syekh Abdul Wahab menolak, dan meminta sebidang tanah untuk dibuka menjadi kampung.

Pada suatu hari, berangkatlah Syekh Abdul Wahab bersama Sultan Musa, Tuan Baki, Syekh M. Yusuf Duli menyusuri Sungai Batang Serangan ke hulu, dengan menumpang sebuah perahu. Setibanya di sebuah hutan seberang Sungai Besilam, Syekh Abdul Wahab memilih tanah itu dan naik ke darat. Pada waktu itu tanah tersebut ditanami palawija, pohon durian, cempedak, margat, dan lai-lain, sebahagiannya bekas kebun lada.

Selesai Shalat Zhuhur, Syekh M.Yusuf membaca do'a selamat, kemudian Syekh Abdul Wahab meresmikan tempat itu dengan Babussalam. Kata "Babussalam' berasal dari bahasa Arab, terdiri atas dua kata, yaitu bab dan salam. Bab artinya pintu, dan salam artinya keselamatan atau kesejahteraan. Dinamakan tempat itu dengan Babussalam, mengharapkan penduduknya kelak berada dalam keselamatan dan kesejahteraan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, belakangan ia lebih terkenal dengan panggilan .Tuan Guru Besilam (Babussalam).

Pada 15 Syawal 1300 H, pindahlah Syekh Abdul Wahab bersama rombongan 160 orang, yang terdiri atas keluarga dan murid-muridnya menuju ke Kampung Babussalam tersebut dengan mempergunakan tiga belas perahu.

Sejak menginjakkan kakinya ke tanah Babussalam, beliau mulai bekerja keras, merintis dan merambah hutan, sehingga berubah menjadi sebuah kampung. Mula-mula mushala, kemudian baru rumah tempat tinggal, mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW ketika mula-mula hijrah ke Madinah Mushala yang dibangunnya sangat sederhana, berukuran 10 x 6 meter. Sampai kini bangunan tersebut dinamakan Madrasah atau Mandarsah menurut dialek Babussalam. Bangunan itu tidak pernah dinamakan masjid, meskipun sebenarnya ia adalah menyerupai masjid.

Ibadah pokok yang dikerjakannya adalah shalat berjamaah, suluk, membaca Surat Yasin beramai-ramai setiap malam jum’at, membaca tahlil setiap malam Selasa, dan mengajarkan kitab Salikin di masjid setiap malam, sesudah shalat Maghrib menjelang Isya Mengajar laki-laki dan wanita setiap pagi dan sesudah shalat Zhuhur. Usaha lainnya mendirikan rumah suluk untuk laki-laki dan khusus untuk wanita, asrama fakir miskin, orang terlantar dan anak-anak yatim di langgar rumah perguruan.

Babussalam merupakan perkampungan Islam (Islamic Village) dimana peraturan dan hukum Islam dijalankan. Peraturan dibuatnya termaktub dalam satu risalah bernama Perahj Peraturan Babussalam. Dalam menjalankan peraturan pilih kasih. Anak kandung sendiri harus dihukum bila n peraturan. Hukumannya berupa taubat di depan Madrasah i selama beberapa jam mengucapkan kesalahan yane di! berulangkali, seperti ungkapan astaghfirullah, saya beri? mencuri ayam, astaghfirullah, saya bertaubat mencuri ayam begitulah seterusnya. Bila kesalahannya agak berat, maka itu diusir, tidak boleh tinggal di Babussalam.

Termasuk larangan merokok di depan umum, berkopiah hitam, berpangkas, dan beternak ayam atau kambing apabila tidak dapat menjaganya dengan baik. Penduduk memakai kopiah putih atau serban, dan bercukur gundul. Wanita dilarang memakai perhiasan yang mencolok. Dilarang mengutamakan kemewahan dunia, karenanya rumah harus sederhana, berlantai papan, berdinding tepas, dan beratap nipah, sebab menurut beliau semua harta akan tinggal sesudah kita mati.

Beliau sendiri makan dengan mempergunakan piring kayu atau upih pinang. Gelas minumannya adalah dari tempurung. begitu sederhananya,bahkan ketika Sultan bertamu pun dujamunya dengan piring dan gelas tersebut.

Barang siapa tiga kali berturut-turut tidak ikut shalat berjamaah di Madrasah akan dihukum. Jalan raya dibagi dua, satu untuk wanita dan satu lagi khusus untuk laki-laki. Wanita dilarang berpakaian yang nampak aurat, seperti baju rok atau kain tipis yang masih menampakkan warna kulit.

Babussalam mempunyai bendera dan lambang tersendiri, dan mempunyai lembaga legislatif yang bernama Babul Funun. Anggotanya terdiri atas wakil dari suku-suku, alim ulama, serta tokoh masyarakat. Dalam lembaga inilah dimusyawarahkan semua persoalan yang menyangkut dengan kepentingan babussalam.

Pada tahun 1307 H, madrasah lama diganti, menjadi 23 X 8 depa, menelan biaya 2000 ringgit Belanda, bantuan Sultan Musa, pada tanggal 18 Safar 1325 H diperbaharui lagi menjadi 25 X 52 meter, bertiangkan kayu, beratap genteng, berdinding papan dan dibubungannya dibuat sebuah menara.

Beberapa tahun kemudian didirikan pula rumah tempat tinggalnya di samping Madrasah Besar, berukuran 9 X 45 meter, terdiri atas beberapa kamar. Antara tempat kediaman dengan madrasah Besar dihubungkan oleh dua buah jembatan. Sebuah untuk wanita dan sebuah lagi untuk laki-laki. Rumah itu disebut juga Madrasah Kecil. Sepeninggalnya rumah itu didiami oleb mursyid dan Nazir penggantinya.

Letak dan susunan rumah penduduk, diatur dengan rapi. lorong Tambusai khusus untuk kediaman Suku Tambusai. Lorong Tanak Putih khusus untuk kediaman Suku Tanah Putih, Lorong Mandailing khusus untuk Suku Mandailing. Lorong Jawa (Darat), khusus untuk Suku Jawa. Kebersihan kampung dan kesehatan rakyat dijaga dengan rapi.

Anak-anak lajang, tinggal di dalam suatu kompleks khusus untuk mereka, tidak boleh tidur di rumah orang tuanya. Kampung Babussalam pada masa itu cukup maju, aman makmur. Sekali setahun atau dua kali setahun Tuan Guru mengunjungi daerah-daerah, menemui murid-murid dan jemaah.

 

Pertanian dan Peternakan

Tuan Guru tidak saja membangun mental spiritual, tetapi juga bergerak dalam pembangunan fisik atau material, ditandai dengan dibukanya sebuah perkebunan jeruk manis, satu anak tanah Kampung Babussalam pada tahun 1325 sebanyak 400 pohon. Tanam-tanamannya tumbuh subur, memperhatikan berbagai saran ahli pertanian dan menghasilkan 7000 gulden Belanda setahun. Murid-murid beliau banyak mengikuti jejaknya, dengan menanam jeruk sekedar 20 atau 30 pohon. Delapan tahun kemudian, tanaman ini rusak semuanya karena diserang hama.

Selain itu, beliau juga membuka kebun karet (1330 H) dimana bibitnya berasal dari Perak, Malaysia. Untuk menjeput bibit sebayak 18 goni itu, ditugaskan kepada putera beliau bernama H. Bakri dan Fakih Kamaluddin Tambusai.

Dari bibit ini, banyak penduduk menanam karet disekitar Babussalam sampai ke Stebat. Selain itu, beliau mengolah sebuah perkebunan lada hitam, jamaah yang ditanggung beliau dikerahkannya bergotong royong mengolah kebun itu beberapa jam sehari. Ada seorang pedagang ingin membeli kebun lada Tuan Guru itu, dengan harga 5000 ringgit, tetapi beliau menlak Malangnya, pada suatu ketika banjir melanda Babussalam mengakibatkan kebun lada itu musnah. Kemudian diganti beliau dengan kebun pala, kopi, pinang, durian, rambutan, jeruk, kelapa.

Dalam bidang perternakan, beliau tidak ketinggalan. Beliau memiliki kolam ikan. Penduduk boleh beternak ayam, kambing atau lembu dengan syarat sanggup menjaganya, tidak berkeliaran di sepanjang perkampungan. Beliau memiliki ternak lembu yang dipercayakan kepada Pak Selasa untuk mengurusnya. Usaha peternakan itu dilakukan secara tradisional. Untuk menjaga kebersihan kampung, semua hewan ternak harus dikandangkan, dijaga jangan berkeliaran. Pemilik ternak yang tidak menjaga hewannya, akan dihukum oleh Tuan Guru.

pada tahun 1328 H, H. Bakri, seorang putera beliau yang berpikiran maju bermusyawarah dengan beliau mengenai pembangunan Babussalam. Hasil musyawarah tersebut antara lain disarankannya supaya didatangkan guru-guru dari Mekah dan Mesir. Pelajaran tulisan dan bahasa Arab harus diintensifkan, industri tekstil dan pabrik tenun serta usaha kerajinan tangan supaya segera dibangun. Untuk keperluan itu, terlebih dahulu harus diutus tenaga-tenaga ahli yang mengadakan riset dan penetian ke beberapa negara. Untuk meningkatkan pembangunan dalam bidang penerangan dan penyiaran (komunikasi dan informasi), perlu dibangun sebuah unit percetakan. Proyek pertanian tersebut dimaksudkan dapat menghasilkan dalam jangka panjang, termasuk terhadap apa yang dikerjakan oleh pelajar-pelajar sesudah jam belajar dan usaha-usaha lain yang dapat meningkatkan taraf hidup penduduk Babussalam.

Saran-saran itu diterima baik oleh Tuan Guru, akan tetapi diingatkannya beberapa hal, yakni sebagai berikut.

  1. Uang itu bulat seperti bola. Hal ini menunjukkan orang yang mempunyai uang, kadang-kadang naik ke atas, kadang-kadang jatuh ke bawah. Mencari uang itu mudah, tetapi menyimpannya susah.
  2. Pada mata uang itu ada gambar kepala orang. Hal ini mengandung arti, kalau hati putih, ia dapat dibawa kejalan kebaikan. Tetapi kalau uang itu putih, sedang hati kita hitam, niscaya kita dibawanya hanyut ke dalam kejahatan.
  3. Uang itu keras. Hal ini mengandung isyarat hendaklah kita berkeras hati melawannya. Karena hati hendak bersedekah, tangan dipegang oleb 70 setan. Kalau setan yang 70 itu dapat dikalahkan, barulah sedekah kita terlaksana.

 

Mengingat kemajuan Babussalam sangat perlu dalam bidang komunikasi dan informasi, maka Tuan Guru menyuruh H. Bakri membeli satu unit percetakan dengan modal pertama 1000 ringgit, sebagai wakaf beliau. Sebuah unit percetakan langsung dibeli, inter type-nya letter Arab. Mesin cetak ini merupakan yang pertama di Langkat. Pada tahun 1329 H percetakan itu dipimpin oleh H. Bakri dibantu H. M. Zaidah dan H. M. Nur menantu Tuan Guru.

Kitab-kitab yang pernah diterbitkan, hasil percetakan antara lain sebagai berikut.

  1. Soal Jawab, sebanyak 1000 eksemplar.
  2. Aqidul Irnan, sebanyak 1000 eksemplar.
  3. Sifat Dua Puluh, sebanyak 1000 eksemplar.
  4. Nasihat Tuan Guru, sebanyak 1000 eksemplar.
  5. Sya'ir Nashihatud Din, sebanyak 1000 eksemplar.
  6. Berkelahi Abu Jahal, sebanyak 500 eksemplar.
  7. Permulaan Dunia dan Bumi, sebanyak 500 eksemplar
  8. Adabuz Zaujaini (Adab Suami Isteri), sebanyak eksemplar.
  9. Perang Jepang dengan Rusia, sehanyak 500 eksempla:
  10. Dalil Yang Cukup, sebanyak 500 eksemplar.
  11. Dan buku atau dokumen lainnya.

 

Percetakan ini dapat menampung puluhan tenaga Dengan perantaraan menerbitkan seperti brosur, pamflet informasi lainnya, maka tersiarlah nama Babussalam ke mana-mana, baik dalam maupun luar negeri, terutama ke Malaysia, Singapura, dan Thailand. Hubungan persahahatan pimpinan-pimpinan Islam di berbagai negara pun menjadi tambah erat pula.

 

 

Sumber : Buku yang berjudul  Sejarah dan Adat Istiadat Masyarakat Kepenuhan