Home Omak Awak Perempuan Pertama Melahirkan di Muka Bumi

Perempuan Pertama Melahirkan di Muka Bumi

151
Perempuan Pertama Melahirkan di Muka Bumi

 

Senin 20 May 2019 05:07 WIB 

Ada satu perempuan yang dijamin masuk surga dan sangat laik kita teladani.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Kita sering mendengarkan kalimat serperti ini Di balik laki-laki sukses ada perempuan hebat. Kutipan seperti ini tampaknya juga berlaku bagi para nabi dan rasul. Alquran, ketika membicarakan para manusia terpilih ini, juga banyak mengupas tentang perempuan-perempuan "di belakang" mereka, perempuan-perempuan yang menjadi istri para nabi dan rasul itu.

Alquran antara lain bicara tentang pujian, sanjungan atau penghargaan, serta kabar gembira bahwa mereka, istri-istri nabi dan rasul itu, kelak akan dimasukkan dalam kelompok yang masuk surga. Mereka ini adalah yang taat beribadah, percaya pada risalah kenabian, serta setia dan ikhlas mendukung perjuangan suami-suami mereka melawan kezaliman, penindasan, dan perlawanan orang-orang kafir.

Itu di satu sisi. Di sisi yang lain, Alquran juga bicara mengenai ancaman siksa neraka untuk istri-istri para nabi dan rasul yang mbalelo, yaitu mereka yang memihak pada godaan iblis dan setan terhadap perjuangan suami mereka untuk menegakkan agama Allah SWT.

Mereka bergabung dengan musuh, bahkan ikut menghambat tugas suci yang sedang diemban suami. Karena itu, semua bergantung pada peran dan perilaku istri para nabi dan rasul itu sendiri.

Di tulisan ini, saya ingin mengupas tentang satu perempuan yang dijamin masuk surga dan sangat laik kita teladani. Perempuan itu adalah Hawa. Orang Indonesia sering menyebutnya Siti Hawa.

Hawa atau Siti Hawa diciptakan setelah Nabi Adam. Alquran tidak menyebut nama Hawa. Nama Hawa disebutkan dalam hadis Nabi SAW bahwa ia diciptakan dari tulang rusuk kiri Nabi Adam di dalam surga. Alquran menyatakan pasangan Adam diciptakan dari dirinya (Adam).

Di surga, Allah SWT mengizinkan Adam dan Hawa menikmati semua hal, termasuk buah-buahan yang sangat lezat, kecuali satu pohon jangan sampai mereka makan (buah-buahan) darinya. Kata Allah SWT, "Hai Adam, bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim." (al-A'raaf 7:19). Ayat serupa juga disebutkan dalam surah al-Baqarah: 35.

Hawa dan Adam pun hidup nikmat di antara pohon-pohon dan buah-buahan surga sampai datang iblis terkutuk menggoda mereka. Beberapa ahli tafsir menyatakan tidak benar apa yang disampaikan sejumlah riwayat bahwa Hawa yang meminta Adam agar mereka makan buah dari pohon terlarang itu. Mereka mengatakan bahwa tidak ada ayat Alquran yang menyebutkan kesalahan itu datang dari Hawa.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, sejarawan dan ulama hadis (lahir 499 H/1105 M), dari Abi al-Qasim al-Baghwy, dari Anas menyatakan, bersabda Rasulullah SAW, "Adam dan Hawa turun dari surga dalam kondisi telanjang. Mereka hanya mengenakan dedaunan dari surga dan mereka kepanasan. Adam pun duduk dan menangis dan mengatakan kepada Hawa bahwa ia sakit kena panas. Maka, Malaikat Jibril datang membawa kapas. Adam pun meminta kepada Hawa agar memintal dan menenun kapas itu, lalu menjahit menjadi pakaian."

Pada waktu di surga, Adam belum mempergauli Hawa (seperti suami-istri) hingga mereka turun ke bumi karena kesalahan ketika memakan buah dari pohon (terlarang). Mereka tidur sendiri-sendiri (terpisah) hingga datang Malaikat Jibril yang memerintahkan Adam datang ke Hawa. Jibril lalu mengajarinya (Adam) bagaimana mendatanginya (Hawa). Berkata Jibril, "Bagaimana kamu menemukan istrimu?\" Adam menjawab, "Salehah!"

Siti Hawa pun menikmati banyak masa bahagia. Namun, dalam waktu lain ia juga pernah sangat menderita. Bayangkan, ia pernah menjadi ibu dari seorang pembunuh dan yang dibunuh pada waktu yang sama.

Syekh Dr Mustofa Murad, guru besar Universitas al-Azhar, Mesir, dalam bukunya, Istri-Istri Para Nabi, mengatakan, Siti Hawa merupakan ibu seluruh umat manusia. Ia pun seperti ibu-ibu lainnya, mengandung dan melahirkan. Ia adalah istri pertama dalam sejarah. Ia juga perempuan pertama yang melahirkan di muka bumi.

Allah SWT berfirman, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…." (al-Hujurat: 13).

Syekh Murad melanjutkan, Siti Hawa melahirkan dua anak kembar, Qabil dan saudara perempuannya--Luza. Setelah itu, ia melahirkan dua anak kembar lagi, Habil dan saudara perempuannya--Iqlimia. Anak-anak pun tumbuh dalam perawatan ibu mereka, Hawa, sampai Allah SWT memerintahkan Adam agar menikahkan Qabil dengan saudara kembar Habil dan menikahkan Habil dengan saudara kembar Qabil.

Namun, Qabil tidak bisa menerima pernikahan itu karena saudara kembar Habil kurang cantik. Qabil pun merencanakan untuk membunuh Habil. Dalam ketenangannya, Habil pun mengatakan seperti disampaikan Allah SWT dalam Alquran, "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam." (al-Maidah: 28).

Qabil pun benar-benar membunuh Habil. Firman Allah SWT, "Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah. Maka, jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi." (al-Maidah: 30).

Dalam buku Perempuan Para Nabi dalam Cahaya Alquran dan Sunah, Syekh Ahmad Khalil Jumaa menyatakan pembunuhan dan kematian Habil membuat sedih Siti Hawa dalam waktu lama. Pasalnya, pembunuh dan yang dibunuh adalah sama-sama anaknya.

Sejarawan at-Tabari (Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali at-Tabari: 839-923 M) meriwayatkan bahwa lima tahun setelah meninggalnya Habil, Siti Hawa akhirnya melahirkan seorang putra yang diberi nama Shith, yang bermakna 'karunia Allah'. Adam dan istrinya memberi nama ini karena dianggap telah mengembalikan keceriaan hidup sepeninggal Habil yang dibunuh oleh Qabil.

Shith pun kemudian mempunyai anak bernama Anush. Berbagai riwayah tidak menceritakan siapa istri Shith.

Ketika Shith lahir, Adam sudah berusia 130 tahun dan menjalani hidup hingga 800 tahun kemudian. Sementara itu, Shith, ketika mempunyai anak Anush, sudah berusia 165 tahun dan setelah itu ia hidup hingga 807 tahun kemudian. Selain mempunyai anak bernama Anush, Shith pun memiliki banyak anak, laki-laki dan perempuan.

Menurut sejarawan Ibnu Ishaq (Muhammad bin Ishaq bin Yasar/704-768 M), ketika ajal sudah menjelang, Adam pun memanggil putranya, Shith, dan mengajarinya berbagai hal tentang kehidupan serta mengajaknya beribadah kepada Allah SWT sepanjang siang dan malam. Ia juga memberi tahu bahwa akan datang banjir bah setelah itu.

Ketika Adam meninggal dunia—pada waktu itu hari Jumat—para malaikat mendatanginya dengan membawa kain kafan dari surga. Shith pun berduka selama berhari-hari. Ibnu Ishaq mengatakan, matahari dan bulan terus menyinari bumi selama tujuh hari tujuh malam.

Setelah Nabi Adam meninggal dunia, beban kenabian pun harus dipikul oleh anaknya, Shith. Menurut sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibu Hibban dari Abi Dzar, Shith tergolong sebagai nabi.

Kematian Nabi Adam jelas telah meninggalkan kesedihan mendalam bagi istrinya, Siti Hawa. Setahun kemudian, Hawa pun menyusul suaminya, kembali kepada Sang Pencipta. Adam dan Hawa pun dikebumikan berdampingan. Mereka telah dijanjikan surga sebagai tempat yang kekal.

Sumber :  REPUBLIKA.CO.ID