Home Kerajaan Kepenuhan Periode Ketiga Kerajaan Kepenuhan

Periode Ketiga Kerajaan Kepenuhan

117
Periode Ketiga Kerajaan Kepenuhan

Mamak Sultan Kayo Muah

Periode ketiga adalah periode kejayaan dan masa kemunduran kerajaan di Kepenuhan. Masa kejayaannya mulai tampak ketika Sultan Sulaiman menjadi raja di Kepenuhan, karena beliau adalah putra Kepenuhan.

Pada masa selanjutnya kerajaan diteruskan oleh Yang Tuan Muda Pagaruyung dengan Gelar Yang Tun Besar. Adanya hubungan antara Yang Tuan Muda Pagaruyung dengan Kerajaan Pagaruyung membuat eksistensi Raja Kepenuhan menjadi kokoh berdiri di atas kaki sendiri. Ini merupakan Sejarah yang pertama dialami oleh Raja Kepenuhan.

Pada masa sebelumnya, ketergantungan terhadap kerajaan di luar Kepenuhan sangat mereka butuhkan. Sedangkan pada masa itu, Kerajaan Kepenuhan sudah mampu berdiri sendiri. Mungkin inilah yang dimaksud dengan masa kejayaan Kerajaan Kepenuhan.

Namun masa kejayaan itu tidak bertahan begitu lama. Dalam catatan sejarah Kepenuhan tidak diterangkan penyebab keruntuhan Kerajaan Kepenuhan karena silsilahnya yang terputus sampai pada akhir masa Datuk Maruhum Merah Dada. Datuk Maruhum Merah Dada adalah Raja Kepenuhan setelah Yang Tuan Muda Pagaruyung lenyap dari sejarah.

Ketika Datuk Maruhum Merah Dada wafat, ia digantikan oleh Raja Tengku Mudo Sahak yang mati ditembak oleh Raja Rokan di Koto Menampung ke hilir naik ke Nabuh Sonokai. Setelah Raja Tengku Mudo Sahak wafat digantikan oleh Raja Montuan Mudo (nama kecilnya Mencong), sebenarnya beliau belum bisa menjadi raja dan yang seharusnya menjadi raja adalah Ujang Kasang.

Namun Ujang Kasang yang hanya dua bersaudara itu digilokan (seperti orang gila) oleh saudaranya karena terjadi perebutan kekuasaan di antara dua bersaudara tersebut. Kondisi tersebut dimanfaatkan untuk dapat menggantikan raja yang akhirnya didapatkan oleh Raja Montuan Muda.

Semas menjadi raja di Kepenuhan (mulai memerintah pada tahun 192 M), Raja Yang Tuan Muda menyekolahkan anaknya yang bernama Tengku Sultan Sulaiman (nama kecilnya Poak) keluar dari Kepenuhan dengan harapan di kemudian hari mampu menggantikan beliau sebagai raja. Setelah Yang Tuan Muda wafat, beliau digantikan oleh Tengku Sultan Sulaiman. Tengku Sultan Sulaiman wafat pada zaman penjajahan jepang pada tahun 1945.

Secara historis, pada tahun 1945, Kerajaan Kepenuhan bergabung dengan Republik Indonesia. Setelah itu keberadaan Kepenuhan dapat dikatakan hilang keberadaan pemerintahannya. Akan tetapi keturunan Sultan Sulaiman sampai sekarang  masih ada, mereka pada umumnya tinggal di Pekanbaru.

Untuk mengingat jasa yang telah diperbuat, maka dalam adat Luhak Kepenuhan keluarga kerajaan ini dimasukkan dalam bilangan suku-suku di Kepenuhan. Ketika diadakan Musyawarah Besar di Kota Tengah pada tahun 1968 dinyatakan, bahwa mereka tergolong salah satu Suku Tiga Piak.

Adapun yang termasuk dalam Suku Tiga Piak tersebut adalah suku bangsawan dengan pucuk Suku Tengku Sultan Sulaiman (mengambil nama raja terakhir), suku anak raja-raja dengan pucuk Suku Sutan Ibrahim dan suku nan seratus dengan pucuk Suku Datuk Nindo.