Home Khasanah & Hikmah Perusahaan Inggris Jatuhkan Soeharto dan Naikkan Thaksin?

Perusahaan Inggris Jatuhkan Soeharto dan Naikkan Thaksin?

332
Perusahaan Inggris Jatuhkan Soeharto dan Naikkan Thaksin?

Perusahaan Inggris Jatuhkan Soeharto dan Naikkan Thaksin?

Senin 02 April 2018 05:05 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Perusahaan induk konsultan politik Inggris Cambridge Analyctica (CA) dilaporkan kemungkinan telah beroperasi di Asia Tenggara sejak dua dekade yang lalu. Situs berita Quartz melaporkan, perusahaan tersebut disebut-sebut mengatur kerusuhan sipil di Indonesia dan membuka jalan bagi Thaksin Shinawatra untuk mengambil alih kekuasaan di Thailand.

Menurut dokumen perusahaan yang dikeluarkan sekitar 2013 yang diakses oleh Quartz, kelompok konsultan politik Inggris SCL mengklaim telah tiba di Indonesia setelah Presiden Soeharto dijatuhkan dari kekuasaannya pada 1998. SCL kemudian menjadi CA, yang kini diduga telah menggunakan data dari 50 juta pengguna Facebook untuk mempengaruhi para pemilih selama kampanye Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2016.

SCL mengatakan, mereka mulai beroperasi di Indonesia atas permintaan "kelompok pro-demokrasi" untuk membantu kampanye nasional dari reformasi politik dan demokratisasi di negara yang terjerat dalam krisis ekonomi Asia, serta hilangnya seorang pemimpin yang telah berkuasa selama lebih dari 30 tahun.

Quartz dimiliki oleh Atlantic Media, yang merupakan penerbit The Atlantic, National Journal, dan Government Executive.Secara total, Quartz melaporkan SCL mengklaim telah bekerja pada lebih dari 100 kampanye pemilu di 32 negara. Laporan media sebelumnya mengatakan ini termasuk klaim bahwa SCL telah membantu partai politik di Malaysia, India, Kenya dan Brasil.

Dorong Kerusuhan Sipil di Indonesia

Di Indonesia, menurut dokumen SCL, perusahaan tersebut telah mengoperasikan survei ribuan orang di Indonesia, mengatur komunikasi untuk politisi dan bahkan mengorganisir demonstrasi besar di universitas untuk membantu mahasiswa melecut semangat mereka.

SCL mengatakan, mereka ditugaskan dalam mengatur meningkatnya frustrasi dengan pemerintahan baru di bawah presiden BJ Habibie dan meninjau sebanyak 72 ribu dari 220 juta orang di Indonesia.

Di Indonesia pada 1998, SCL mengatakan bahwa pihaknya memutuskan untuk mensponsori kegiatan protes yang terorganisir untuk menarik siswa dan menjauhkan mereka dari demonstrasi kekerasan. Namun, pakar Indonesia Ian Wilson dari Universitas Murdoch Australia mengatakan klaim bahwa SCL membantu untuk mengendalikan kekerasan adalah "berlebihan".

Dokumen-dokumen yang diperlihatkan oleh Quartz menunjukkan, bahwa kelompok universitas dengan usia yang lebih muda terutama diatur untuk menghasut kerusuhan. Sementara generasi yang lebih tua merasa khawatir terhadap adanya pemberontakan, setelah ditindas begitu lama.

SCL memutuskan untuk fokus pada orang Indonesia berusia 18 hingga 25 tahun dan mengarahkan rasa frustrasi mereka dari kerusuhan sipil. Penelitian di sejumlah sekolah dan universitas menemukan banyak dari mereka tidak senang dengan meningkatnya kehadiran polisi dan militer di jalanan.SCL disebut telah membuat keputusan untuk mensponsori protes jalanan yang terorganisir, untuk menarik mahasiswa dan mengendalikan mereka dari demonstrasi kekerasan, yang tampaknya dengan kerjasama dari pemerintah Indonesia.

"Ini dicapai dengan membentuk komite pengumpulan dan aktivitas pendanaan dan cakupan di seluruh negeri. Peristiwa itu begitu besar, sehingga ada perasaan umum di kalangan siswa bahwa suara mereka benar-benar terdengar," kata dokumen SCL tersebut, seperti dilansir di Straits Times, Ahad (1/4).

SCL mengklaim metode-metodenya secara dramatis mengurangi kerusuhan sipil dan kemudian meyakinkan Presiden Habibie untuk mundur, yang selanjutnya mengarah pada pemungutan suara 1999 yang membawa Abdurrahman Wahid berkuasa. Dokumen-dokumen itu, kata Quartz, menunjukkan bahwa SCL menjalankan kampanye pemilihan dari Partai Kebangkitan Nasional (PKB) yang menyokong Abdurrahman.

Pakar Indonesia Ian Wilson, seorang dosen di Universitas Murdoch Australia, mengatakan klaim bahwa SCL membantu untuk mengendalikan kekerasan adalah berlebihan.

"Itu akan menjadi, setidaknya, satu elemen kecil di antara semua yang terjadi pada saat itu. Kekuatan dan kepentingan pada permainan dan desakan untuk pengaruh hanya pada skala yang terlalu besar telah dipengaruhi secara signifikan sedemikian rupa," kata Wilson kepada Quartz.

 

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID