Home Khasanah & Hikmah Rahasia Kehebatan Jenderal Soedirman: Menjaga Wudhu

Rahasia Kehebatan Jenderal Soedirman: Menjaga Wudhu

61
Rahasia Kehebatan Jenderal Soedirman: Menjaga Wudhu

Sajadah dan Krekal yang digunakan Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk mengaji.

 

Senin 28 Jan 2019 04:31 WIB

 Oleh: Silvy Dian Setiawan

Selain dikenal karena semangatnya yang pantang menyerah, Panglima Besar Jenderal Soedirman juga dikenal sebagai sosok yang rajin beribadah. Hal itu pun tergambar dari bekas kediamannya yang telah diubah menjadi Museum Sasmitaloka Panglima Jenderal Besar Soedirman. Museum tersebut terletak di Jalan Bintaran Wetan, Pakualaman, Yogyakarta. 

Sajadah dan krekel yang ia gunakan untuk beribadah masih tertata rapi di kamar tidurnya. Tempat shalat itu diletakkan tepat di samping tempat tidurnya yang ada di museum. 

Kepala Museum Sasmitaloka Panglima Jenderal Besar Soedirman, Heru Santoso, mengatakan, ada tiga kehebatan Soedirman dalam beribadah berdasarkan sejarah. Pertama, Soedirman merupakan sosok yang selalu menjaga kesuciannya dengan berwudhu. Kedua, saat wudhunya batal, ia akan berwudhu kembali. Bahkan, jika tidak dalam masuknya waktu shalat pun, ia tetap akan berwudhu.

Ketiga, Soedirman selalu menjaga menjaga wudhunya. Saat mendengar suara adzan, ia pun langsung melaksanakan shalat dalam keadaan apa pun.

Hery menambahkan, saat memimpin perang gerilya pun, Soedirman tidak pernah menunda untuk beribadah, termasuk dalam kondisi sakit. Saat bergerilya, Soedirman pun memerintahkan kepada ajudannya untuk membawa kendi yang berisi air. Air tersebut ia gunakan untuk berwudhu ketika saat perang gerilya. 

Soedirman juga sempat beberapa kali hampir tertangkap oleh Belanda saat mempertahankan kemerdekaan. Namun, sebelum tertangkap, ia pun berhasil menghindari hal tersebut. 

"Nalurinya kuat sekali akan keberadaan musuh. Misalkan ia merasakan sebentar lagi tidak aman, ia langsung bergerak. Saat di Wonosari, misalnya, baru bergerak 200 meter, langsung ada musuh. Mungkin karena beliau dekat dengan Tuhan," kata Heru menambahkan.

Untuk mempertingati hari kelahiran dan meninggalnya Soedirman, Museum Sasmitaloka punya acara rutin yang diisi oleh keturunan Panglima Besar. "Peringatan biasanya diawali shalat Isya berjamaah dan dilanjutkan bacaan Yasin dan doa, diakhiri dengan tausiyah tentang Islam, biasanya sama anak bungsunya, Pak Teguh. Juga ada pemberian santunan untuk yatim dan masjid," ujar Heru.

 

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID,