www.luhakkepenuhan.com Adat Luhak Kepenuhan Negeri Beradat

Adat Luhak Kepenuhan Negeri Beradat

Seluruh isi dari folder ini di ambil dari buku " Adat dan Istiadat Masyarakat Kepenuhan " ( saat ini, buku sedang dalam proses penulisan ulang, cetakan pertama tahun 1999, cetakan kedua tahun 2006 dan saat ini dalam proses revisi buku " Adat Istiadat Mayarakat Adat Kepenuhan ". Untuk isi buku telah dilakukan kegiatan dengan nama pengkajian tombo adat I tahun 1999, dan pengkajian tombo Adat II 2005 dan 2006 di balai adat luhak kepenuhan di Kota Tengah Kecamatan Kepenuhan Kab Rokan Hulu.

Edisi revisi akan dilakukan kembali pengkajian tombo adat luhak kepenuhan negeri beradat III, peserta dari pengkajian tombo adat ini di ikuti oleh sepuluh suku di Luhak Kepenuhan, mulai dari pucuk, tungkek, mamak/ induk, moto buah poik, anak kemenakan, tokoh agama dan tokoh budaya dari provinsi riau, terinspirasi dari musyawarah besar (Mubes) masyarakat kepenuhan tahun 1968 di gedung pertemuan Kota Tengah yang di prakarsai oleh Alm. Datuk H. Abdul Djalil.
 

PENDAHULUAN

Luhak Kepenuhan merupakan salah satu daerah diantara empat Luhak lainnya di wilayah Kabupaten Rokan Hulu yaitu Luhak Rambah, Luhak Tambusai, Luhak Kunto dan Luhak Rokan VI Koto sebelum akhirnya bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1945. Masing masing Luhak ini juga memiliki kerajaan, antara satu dengan yang lain saling berkaitan dan tak terpisahkan, dilengkapi dengan alim ulama sebagai pembawa dan penyeru agama dalam kehidupan, disinilah muncul potatah potith " Tigo tungku sojorangan, tali bopilin tigo ".

Pengertian Luhak menurut adat adalah suatu wilayah yang telah ditetapkan berdasarkan ketentuan adat, dalam ketentuan itu hanya dapat dipahami dan dimengerti berdasarkan adat sedio lamo, dimana dia tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas, sampai kapanpun sudah menjadi hukum tetap dan tak dapat diubah dalam bentuk apapun. Memang diakui bahwa ada lima Luhak di wilayah Rokan ini, sudah menjadi ketentuan hukum, sekalipun ada perkembangan dan perluasan atau pemekaran wilayah dalam suatu Luhak, maka pemekaran tersebut masih dalarn koridor Luhak dari yang di mekarkan.

Dalam hal ini untuk lebih dapat dipahami bahwa Luhak dipahami oleh sebagian tokoh adat dengan Kecamatan. Dengan ketentuan sekalipun daerah ini dimekarkan maka dalam pandangan adat dalam Luhak, mereka masih dalam koridor dari luhak yang bersangkutan, dalam pengertian bahwa perlakuan tata cara dilaksanakan dengan adat dan ketentuan adat. Sebagai misal, Datuk Bendahara sakti tetap satu dalam luhak sekalipun ada pemekaran wilayah berdasarkan Negara Kesatuan Repulik Indonesia, termasuk Gelar yang sudah ada dan para pejabat adat berjalan seperti biasanya dalam menjalankan aktivitas keadatan.

Kecuali ada suatu suku dalam induk disuatu Luhak untuk menambah Mato Buah Poik, maka jika sudah saatnya menambah diperbolehkan namun harus mengkaji secara mendalam tentang keturunan yang ada. Hal ini harus lebih dahulu dipahami, khususnya di Luhak Kepenuhan, dasar hukum atau ketentuan ini sudah dapat disosialisasikan sedini mungkin, sehingga keutuhan dari luhak Kepenuhan dapat di pertahankan eksistensinya dan membumi, sesuai pepatah adat " dimana bumi di pijak, disitu langit dijunjung ".

Sosialisasi pentingnya adat ini sungguh mendapat perhatian khusus dari pejabat adat dari semua tingkatan " bojanjang naik, botanggo turun ", rasa tanggung jawab inilah yang akan mengembalikan semangat yang selama ini sudah agak memudar. Bagi mereka yang dapat memahami adat dapat menyampaikan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan dimiliki.

Begitu pula halnya dengan keberadan dari kerajaan di Kepenuhan. Zaman dahulu Kerajaan Kepenuhan terletak di daerah Nogoi Tanjung Padang Kelurahan Kepenuhan tengah, kecamatan Kepenuhan. Namun sayangnya tanda kebesaran dari peninggalan sejarah di Luhak Kepenuhan ini sudah agak sulit ditemukan, salah satu peninggalan yang penting adalah Istana. Kerajaan yang megah pada masanya, namun saat ini sudah diratakan dengan tanah, tempat kerajaan tersebut telah pula berdiri diatasnya sebuah bangunan Balai Desa ( Bahasa dalam tulisan ini sebelum edisi revisi ).

Untuk Angaran tahun 2005 oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Rokan Hulu dan usulan dari berbagai elemen masyarakat Kepenuhan, maka telah pula didirikan Rumah Godang di Kecamatan Kepenuhan, berarti masyarakat dan perangkat serta keturunan kerajaan yang ada di Kepenuhan memahami dan mengerti akan makna keberadaan dari situs sejarah. Bukan hanya sebagai situs sejarah tapi merupakan nilai-nilai budaya yang tak ternilai harganya. Mudah-mudahan rumah godang ini akan memberikan suatu kekuatan tersendiri dari keluarga kerajaan dan masyarakat Kepenuhan.

Sedangkan peninggalan-peninggalan lain dari sisa-sisa kerajaan tersebut dapat disaksikan di Balai Adat Luhak Kepenuhan yang terletak di wilayah Gelugur Kota Tengah, itupun hanya sedikit saja yang tersisa, keluarga kerajaan dari raja Kepenuhan ini banyak berdomisili di Pekanbaru khususnya diwilayah Kecamatan Sail dan di wilayah Kulim Pekanbaru. Untuk melihat kehidupan keluarga kerajaan dapat juga ditemukan di wilayah Kasimang di Desa Kepenuhan Hilir Kecamatan Kepenuhan.

Dalam perjalanannya, kehidupan rnasyarakat Kepenuhan juga tidak terlepas dari tradisi atau adat yang menjadi sandaran hidup dalam keseharian. Tata laksana yang ada baik pada waktu kerajaan masih berkuasa maupun sudah bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia sedikit banyak mengalami suatu perubahan dari waktu ke waktu. Ini terlihat dari perkembangan kehidupan masyarakat yang lebih terlihat dari kehidupan adat yang mereka jalani, berdagang, bersosialisasi dan bermusyawarah akan terlihat suatu suasana kekeluargaan yang tidak tertulis dalam mengambil suatu kebijakan menjadikan hidup dan kehidupan sesuai dengan tradisi yang ada.

Kehidupan ini sebenarnya sudah turun temurun semenjak Datuk Bendahara sakti mempersatukan seluruh anak kemenakan dilingkungannya maupun para pendatang untuk mencari perlindungan kepada datuk tersebut ( lihat bahasan tentang Datuk Bendahara Sakti), ajaran yang diajarkan oleh datuk menjadi pedoman masyarakat Kepenuhan untuk masa-masa selanjutnya sampai pada saat ini. Hal ini dikuatkan kembali dengan nilai-nilai keagamaan yaitu pada tahun 1930-an yang dipimpin oleh Datuk H. Yahya Anshoruddin, perkembangan ilmu pengetahuan cukup tinggi, khususnya pendidikan agama Islam, dan suatu keberhasilan Kepenuhan pada waktu itu bahwa Kepenuhan merupakan Pusat ilmu pengetahuan di Wilayah kabupaten Kampar, banyak para santri yang datang untuk menuntut ilmu di Pondok Pasantren Darul Ulum dan juga Madrasyah Suluk Kepenuhan.

Perkembangan pendidikan agama islam di Kepenuhan ini sangat mempengaruhi cara pandang masyarakat Kepenuhan dalam menjadikan kehidupan kesehariannya, yaitu adanya, agama sebagai sandaran utama dan disisi lain adat sebagai cara atau sarana tunjuk ajar dalam mengaplikasikan norma agama yang dianut, maka muncullah pepatah Adat bersendikan Syarak dan syarak bersendikan Kitabullah.

Disinilah mulai terlihat suatu pandangan baru bagi masyarakat Kepenuhan dalam menjadikan kebiasaannya, karena agama yang dapat menuntunkan mereka kepada yang lebih baik dalam mengarungi hidup dan kehidupan yang sampai pada akhirnya diselenggarakanlah Musyawarah Besar (MUBES) masyarakat Kepenuhan pada tahun 1968 yang di ketuai oleh Datuk Haji Abdul Djalil sebagai penggerak untuk kembali membicarakan adat kebiasaan di Kepenuhan untuk menginterprestasikan dari pepatah adat tersebut.

Mulai tahun inilah (1968) kehidupan keadatan sudah menampakkan wujudnya tanpa menghilangkan dasar agama yaitu Islam. Kebiasaan-kebiasaan atau adat istiadat pun digelar yang ada hubungan dengan agama, walaupun bukan merupakan sebuah yang disyariatkan tapi menjadikan adat tersebut sebagai tradisi yang dapat menambahkan pendekatan diri kepada pencipta-Nya. Seperti Acara khitanan, Pencak silat, berlimau, Perkawinan, dan lain sebagainya yang dapat saudara baca pada bab-bab berikutnya.

Penguatan nilai-nilai adat ini kembali terasa oleh masyarakat Kepenuhan yaitu diadakan kembali pengkajian tombo Adat Luhak Kepenuhan, sekalipun tidak menggunakan nama yang sama dengan Musyawarah Besar tahun 1968, namun nilai yang terkandung dari penyelenggaraan acara tersebut merupakan finshing dari hasil penelitian dan pengkajian terhadap adat di Luhak Kepenuhan untuk dijadikan pegangan seluruh anak kemenakan dan para pejabat adat. Sehingga terbitlah buku untuk pertama kalinya di Kecamatan Kepenuhan malahan di Kabupaten Rokan Hulu tentang adat adat istiadat, yaitu dengan judul " Sejarah dan Adat Istiadat masyarakat Kepenuhan " karya anak negeri Kota Tengah yaitu Ismail Hamkaz.