www.luhakkepenuhan.com Potensi Daerah

Potensi Daerah

Untuk sektor pertanian, tradisi yang dimiliki masyarakat adalah berladang berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lain, karena masih memakai sistem bercocok tanam tradisinal.Hal ini masih dapat dijumpai di beberapa daerah pinggiran Kecamatan Kepenuhan yang mana masyarakatnya baru sedikit tersentuh oleh perkembangan kemajuan teknologi modern.

Cara bercocok tanam tersebut sangat melekat dalam kehidupan mereka karena satu dengan yang lainnya saling bahu membahu untuk membuat berladangan yang di mulai dari monobeh (menebas), monobang (menebang), momaka (Membakar), monuga (menanam padi), monyosok (membersihkan hal yang perilu dibersihkan untuk persiapan berikutnya), monuai (panen). Kebiasaan yang ada dimasyarakat Kepenuhan setelah panen adalah menanam kacang hijau dan jagung.Sedangkan padi yang sudah dituai tersebut ada yang dijadikan benih atau bibit untuk digunakan pada masa menanam berikutnya dan ada yang diperjualbelikan.

Sementara itu, sektor perkebunan di Kepenuhan, ditandai dengan banyaknya masyarakat yang menanam pohon karet, dan pada saat ini bagi masyarakat yang memiliki sedikit kemampuan sudah pula mulai membuka lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit.Sedangkan pada sektor perdagangan, sudah banyak pula membuka hati dan pikiran masyarakat kepenuhan untuk mencoba mengembangkan pola perdagangan sebagai hal baru untuk menambah biaya hidup.Pada dataran ini kebanyakan dilakukan oleh mereka yang memiliki modal usaha.Sebelumnya dan sampai saat ini untuk sektor perdagangan lebih banyak didominasi oleh orang-orang dari luar daerah Kepenuahan seperti dari Simpang kumu, Muara Nikum, khususnya dari Rambah Hilir (Muara Rumbai).

Keramaian di Kecamatan Kepenuhan pada sektor ekonomi terlihat pada hari kamis karena hari ini merupakan hari pasar rakyat Kepenuhan, dan kebiasaan ini masih berlangsung sampai sekarang. Kegiatan pasar pada hari kamis ini merupakan pasar tradisional yang sudah berlangsung sejak tahun 1940 an, dan bahkan pada tahun 1950 an Kepenuhan pernah menjadi pusat perdagangan di wilayah Rokan, khususnya perdagangan karet.

Di samping pasar tradisional, ada juga pasar yang baru diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu, yaitu pasar minggu.Hal ini mendapat respon yang sangat positif dari para pedagang dan masyarakat Kepenuhan, karena kegiatan pasar pada hari kamis sudah melampaui batas kemampuan daya tampung.Apalagi mengingat adanya sebagian masyarakat Kepenuhan yang memperoleh penghasilan dari perkebunan sawitnya setiap tanggal 15 sampai dengan 20 pada setiap bulannya.

Ketiga sektor tersebut mampu menyokong kesejahteraan masyarakat Kepenuhan. Kendati demikian, juga perlu didukung adanya fasilitas jalan dan transfortasi yang memadai, sehinggadiharapkan banyak para pedagang di luar Kepenuhan atau investor.yang melirik potensi lain yang dimiliki Kecamatan Kepenuhan. Sebelumnya masalah perhubungan antar daerah inimerupakan masalah klasik yang menjadi pembicaraa masyarakat dari masa ke masa. Selanjutnya hal tersebut teratasi dengan adanya kerja sama yang baik antar perusahaan yang ada di wilayah Kepenuhan dengan beberapa elemen masyarakat dan aparat pemerintah. Mencermati hal tersebut maka sampai saat ini bahkan ada beberapa wilayah kosong yang diupayakan, menjadi perkebunan sawit dengan pola KPPA dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kepenuhan.

Sebelumnya atau pada tahun 1980an, untuk sampai ke ibu kota provinsi dari Kecamatan Kepenuhan memakan waktu selama kurang lebih 12 jam atau bahkan hampir sehari semalam. Pada konteks ini masyarakat Kepenuhan sangat berterima kasih kepada Ulong Jufri yang banyak berjasa dalam hal transportasi.Seolah tak mau mengenal jalan yang begitu berat dilalui karena berlumpur, dirinya terus berusaha dan berhasil membawa penumpangnya agar sampai ke Pekanbaru. Begitu beratnya jalan berlumpur pada waktu itu, nyaris semua masyarakat Kepenuhan, termasuk penulis, pernah harus berjalan kaki karena tidak bisa ditempuh oleh kenderaan, atau terpaksa naik speedboat (sampan layar) dari Kota Tengah menuju Rangau, kemudian dari Ranngau dilanjutkan ke Duri dan selanjutnya baru terus ke Pekanbaru.

Memang diakui dari tahun ke tahun perubahan terus dapat dirasakan pada sektor perhubungan ini. Untuk anggaran 1999 dan 2000, Pemerintahan Kabupaten Rokan Hulu baru dapat mengalokasikan biaya pengaspalan sejauh 10 kilometer. Sedangkar untuk anggaran 2000 dan 2001, Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu mengalokasikan biaya pengaspalan sampai ke Simpang Kumu.Semoga hal serupa menjadi kenyataan sebagaimana yang didambakan oleh seluruh masyarakat. Jarak yang harus ditempuh oleh masyarakat Kepenuhan ke pusat ibu kota kabupaten adalah sejauh 45 kilometer. Dari 45 kilometer tersebut masyarakat Kepenuhan masih harus melewati jalan rusak sekitar 12 sampai 20 kilometer. Memprihatinkan memang, apalagi bagi daerah atau desa yang belum tersentuh sama sekali pada waktu itu.

Namun setelah menunggu cukup lama dan melakukan beberapa upaya yang melibatkan tokoh masyarakat beserta aparat terkait, maka mulai tahun 2005, jalan dari Simpang Kumu hingga ke Simpang Duri diaspal hotmit dengan menelan dana sebesar Rp 59 Milyar. Ketika buku ini dalam proses penulisannya sudah terlihat aktivitas pengaspalan yang dimaksud.

Dengan pembangunan jalan tersebut maka berbagai pengalaman masyarakat Kepenuhan sekitarnya tentu tidak akanterulang lagi. Pengaruh lainnya bahkan dapat menjadi daya tarik para investor agar mau menanamkan modalnya di Kecamatan kepenuhan.Di samping itu, bagi putra putri Kepenuhan yang ingin melanjutkan pendidikan di Pekanbaru tentu juga tidak mendapatkan hambatan transportasi sebagaimana sebelumnya lagi.