www.luhakkepenuhan.com Lahirnya Suku Suku di Luhak Kepenuhan

Lahirnya Suku Suku di Luhak Kepenuhan

Keberadaan negeri Kepenuhan pada mulanya telah dihunioleh sekelompok masyarakat yang datang dari daratan (diduga dari Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Pagaruyung) dan lautan (Kerajaan Malaka, Malaysia). Mereka yang berdatangan ke daerah ini dengan berkelompok dan mereka silih berganti antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Untuk mengetahui secara mendalam tentang asal usul masyarakat Kepenuhan, penulis akan memaparkan terlebih dahulu tentang sejarah yang melatarbelakangi kedatangan para pendatang tersebut.

Suatu ketika berlayar sebuah perahu kapal dari Hindia yangberasal dari Gunung Himalaya menuju Malaka. Di tengah mengarungi lautan mereka berselisih dengan perahu kapal asal Jawa yang sedang menuju pulang ke Pulau Jawa. Sekelompok orang Jawa tersebut menyebutkan kata orang melayu, karena.perahu kapal milik Hindia itu begitu kencang berlayar. Malewati dari kata melayu di sini adalah orang berlari seperti karena dikejar demikian anggapan orang Jawa tersebut melihat kejadian itu, dengan menyebut-nyebut Mlayu! Mlayu! Mlayu!.

Sesampai di Selat Malaka, mereka berlabuh.Perahu kapalnya menepi dan berhenti beberapa saat guna menambah perbekalan, perjalanan berikutnya. Dengan kedatangan sekelompokmasyarakat ini, penduduk setempat memiliki alibi bahwa rombongan orang Malaya. Tujuan dari rombongan perahu kapal tersebut adalah ke Rokan Kanan, tepatnya ke Kepenuhan. Setelah perbekalan yang dibutuhkan sudah didapatkan dan tali yang diikat sudah pula dilepas, pertanda perahu kapal akan berlayarmenuju persinggahan berikutnya, yaitu Rokan.

Di tengah perjalanan, perahu kapal yang ditumpangi rombongan tersebut kandas di tengah laut, sehingga merekaterhenti. Dalam situasi demikian, para penumpang berusaha agar perahu kapal yang kandas dapat melanjutkan perjalanan dengan cepat. Sebagian mereka ada yang menahan aliran air, supaya air laut tersebut bisa pasang kembali.Ada yang menahan atau menumpu perahu kapal agar tidak lari arah dari yang direncanakan. Ada pula yang berdiam diri. Ada yang menjadi kapten kapal, baik di bawah, di tengah, maupun di atas, supaya rerahu kapal dapat terkendali dengan baik. Selain itu ada pula yang sibuk mengurus dirinya sendiri.

Demikianlah kondisi yang terjadi saat perahu kapal kandas. Menurut sejarah, dengan kejadian tersebut lahirlah suku-sukuyang menunjukkan jati diri yang mereka miliki, yaitu menjadi tujuh kelompok. Mereka ini adalah Melayu, Kandang Kopuh, Pungkuik, Moniliang, Kuti, dan Mais, yang selanjutnya mereka berbagi menjadi tujuh suku.