www.luhakkepenuhan.com Agama dan Sosial

Agama dan Sosial

Williams James menegaskan bahwa, selama manusia masih memiliki naluri cemas dan berharap, selama itu pula ia beragama (berhubungan dengan Tuhan). Itulah sebabnya mengapa perasaan takut merupakan salah satu dorongan yang terbesar untuk beragama.

Murtadha Muthahari berkata :

Ilmu mempercepat anda sampai ke tujuan, dan agama menyesuaikan dengan jati dirinya. Ilmu hiasan lahir dan agama hiasan batin.

Ilmu memberikan kekuatan yang menerangi jalan dan agama memberikan harapan dan dorongan bagi jiwa.

Ilmu menjawab pertanyaan yang dimulai dengan "bagaimana" dan agama menjawab yang dimulai dengan " mengapa ".

 

Ilmu tidak jarang mengeruhkan pikiran pemiliknya, sedangkan agama selalu menerangkan jiwa pemeluknya yang tulus.

Demikian Murtadha Muthahari menjelaskan sebagian fungsi dan peran agama dalam kehidupan ini yang tidak mampu diperankan oleh ilmu dan teknologi. Manusia terdiri dari akal, jiwa dan jasmani. Tidak semua persoalan bisa diselesaikan atau bahkan dihadapi oleh akal. Karya seni tidak dapat dinilai semata-mata oleh akal, karena yang lebih berperan di sini adalah kalbu. Kalau demikian, keliru apabila seseorang hanya mengandalkan akal semata-mata.

Akal merupakan kemampuan berenang. Akal berguna saat berenang di sungai atau di laut yang tenang. Tetapi bila ombak dan gelombang telah membahana, maka yang pandai berenang dan yang tidak bisa berenang sama-sama membutuhkan pelampung.

Dalam pandangan sementara pakar Islam, agama yang diwahyukan Tuhan, benihnya muncul dari pengenalan dan pengalaman manusia pertama di bumi Di sini ia menemukan tiga hal, yaitu tindakan, kebenaran, dan kebaikan, Gabungan ketiganya dinamakan suci. Manusia ingin mengetahui siapa atau apa Yang Maha Suci dan ketika itulah dia menemukan Tuhan. Sejak itu ia berusaha berhubungan dengan-Nya, bahkan berusaha untuk meneladani sifat-sifat-Nya. Kerangka usaha itulah yang disebut beragama, atau dengan kata lain keberagamaan adalan terpatrinya rasa kesucian dalam jiwa seseorang. Karen itu, seorang yang beragama akan selalu berusaha untuk mencari dan mendapatkan yang benar dan baik lagi indah.

Mencari yang benar menghasilkan ilmu, mencari yang baik menghasilkan akhlak, dan mencari yang indah menghaskan seni. Jika demikian, agama bukan saja merupakan kebetulan manusia, tetapi juga selalu relevan dengan kehidupannya bicara tentang agama Islam dalam kehidupan modern, terlebih dahulu perlu digaris bawahi keharusan pemisahan antara agama dan pemeluk agama seperti ucapan Syeikh Muhammad Abduh bahwa ajaran Islam tertutup oleh prilaku kaum Muslim.

Islam memiliki prinsip-prinsip dasar yang harus mewarnai sikap dan aktivitas pemeluknya. Puncak dari pririsip itu. adalah tauhid. Di sekelilingnya beredar unit-unit bagaikan planet tata surya yang beredar di sekeliling matahari, yang tidak dapat melepaskan diri dari orbitnya. Unit-unit tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Kesatuan alam semesta. Dalam arti, Allah menciptakan dalam keadaan amat serasi, seimbang, dan berada di bawah pengaturan dan pengendalian Allah SWT, melalui hukum yang ditetapkan-Nya.
  2. Kesatuan kehidupan. Bagi manusia, ini berarti bahwa kehidupan duniawinya menyatukan dengan kehidupan ukhrawinya. Sukses atau kegagalan ukhrawi, ditentukan oleh amal duniawinya.
  3. Kesatuan Ilmu. Tidak ada pemisahan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu umum, karena semuanya bersumber satu sumber, yaitu Allah SWT.
  4. Kesatuan iman dan rasio. Karena masing-masing dibutuhkan dan masing-masing mempunyai wilayahnya sehingga harus saling melengkapi.
  5. Kesatuan agama. Agama yang dibawa oleh para nabi kese-muanya bersumber dari Allah SWT. Prinsip-prinsip pokoknya menyangkut akidah, syariah, dan akhlak, tetap sama dari zaman dahulu sampai sekarang.
  6. Kesatuan kepribadian manusia. Mereka semua diciptakan dari tanah dan Ruh Ilahi.
  7. Kesatuan individu dan masyarakat. Masing-masing harus saling menunjang.

 

Islam dalam urusan hidup di duniawi tidak memberi rincian petunjuk, karena "Kamu lebih mengetahui tentang urusan duniamu (ketimbang aku), Demikian sabda nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dari prinsip-prinsip semacam di atas, seorang muslim dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan positif masyarakatnya, dan karena itu pula Islam memperkenalkan dirinya sebagai agama yang selalu sesuai dengan setiap waktu dan tempat.

Kitab suci Al-Qur an mempersilakan umat Islam untuk mengembangkan ilmu, mengembangkan akalnya menyangkut segala sesuatu yang berada dalam wilayah nalar, yaitu alam fisika ini. Namun harus disadari oleh manusia, bahwa jangankan alam raya yang sedemikian luas, dirinya sendiri sebagai manusia, belum sepenuhnya ia kenal.

Islam tidak menghalangi umatnya untuk memperoleh kekayaan sebanyak mungkin. Bahkan harta yang banyak dinamainya khair (baik) dalam arti perolehan dan penggunaannya harus dengan baik. Islam juga tidak melarang umatnya bersenang-senang di dunia, hanya digaris bawahinya bahwa kesenangan duniawi bersifat sementara, dan karena itu jangan sampai ia lengah dari kesenangan abadi, atau melalaikan diri dari kewajiban kepada Allah dan masyarakat.

Umat Islam diperkenalkan oleh Al-Qur an sebagai umatan wasathan (umat pertengahan) yang tidak larut dalam spiritualisme, tetapi juga tidak hanyut dalam alam materialisme. Seorang muslim adalah memenuhi kebutuhannya dan mewarnai kehidupannya bukan ala malaikat, tetapi tidak juga ala binatang.

Manusia diakui sebagai makhluk yang amat mulia, dan jagat raya ditundukkan Tuhan kepadanya. la diberi kelebihan atas banyak makhluk-makhluk yang lain, tetapi sebagian kelebihan dan keistimewaannya baik material dan immaterial diperoleh melalui bantuan orang lain.

Bahasa dan istiadat adalah produk masyarakatnya. Keuntungan material tidak dapat diraihnya tanpa partisipasi masyarakat dalam membeli bagi pedagang, dan adanya irigasi walau sederhana bagi petani, serta stabilitas keamanan bagi semua pihak, yang tidak diujudkan oleh seorang raja. Kalau demikian, wajar jika hak asasinya harus dikaitkan dengan kepentingan masyarakanya serta ketenangan orang banyak. Pandangan barat yang menyatakan bahwa anda boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar  hak orang lain. Tidak sejalan dengan tuntunan moral Al-Qur an yang menyatakan: " Hendaklah anda mengorbankan sebagian kepentingan anda guna kepentingan orang lain ".