www.luhakkepenuhan.com Perkembangan Islam Pada Masa H. Yahya Anshoruddin

Perkembangan Islam Pada Masa H. Yahya Anshoruddin

Proses masuknya agama Islam ke Kepenuhan setelah kedatangan dua bersaudara tersebut, yakni Sultan Rimau dan Sultan Janggut, baru berlanjut setelah muncul nama mubaligh Yahya Anshoruddin sebagai salah seorang putra Kepenuhan yang bermaksud mengembangkan akan ajaran agama Islam di Kepenuhan.

Sebelum melaksanakan ibadah haji ke Mekah, ia bertugas di Luhak Kepenuhan sebagai pegawai raja dengan gelar Menteri Raja. Kemudian, karena belum mendapat ketenangan jiwa sebagai pedoman hidup, dia meninggalkan Luhak kepenuhan setelah meletakkan jabatannya dengan hormat. Ia Merantau ke Besilam, Langkat, untuk menuntut ilmu agama kepada ulama-ulama setempat.

Memang, Besilam ketika itu didatangi orang dari setiap penjuru, malah ada yang datang dari Malaysia, Rokan Kanan, Rokan Kiri, Tapanuli, dan daerah lainnya. Nama besarnya ketika di Besilam ialah Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan. Beliau berasal dari Kampung Rantau Binuang Sakti, Kepenuhan atau Desa Rantau Binuang Sakti sekarang.

Tuan Guru Syekh Abdul Wahab tinggal di Mekah beberapa tahun lamanya. Ilmu yang didalaminya adalah ilmu Tharikat Naksabandi dan ilmu lainnya. Setelah mendapat ijazah tarekat dari gurunya Syekh Sulaeman Zuhdi, ia kembali ke Indonesia dan membuat tempat beribadah di Besilam dengan persetujuan Raja Langkat (Sultan Langkat).

Setelah beberapa tahun Yahya Anshoruddin di Besilam meneruskan musafirnya ke Kedah, Malaysia, selama beberapa tahun untuk menuntut ilmu. Ketika di Kedah ia ke tanah suci, Mekah untuk menunaikan Rukun Islam yang kelima. Setelah menunaikan ibadah haji, ia menetap di Mekah lebih kurang 5 tahun. Di Mekah dia menuntut ilmu-ilmu Nahwu, Sharaf, Hadits Tafsir, Bayan, Wani, Badik, Usul Fiqh, Arud, Tauffid, Musthalah Hadits, Mansis, dan ilmu agama lainnya.

Setelah itu ia kembali ke Kepenuhan sekitar 2 tahun kemudian membuat kampung di Gelugur, Kelurahan Kepenuhau Tengah. Pada tahun 1929, di Gelugur baru ada 6 buah rumah, beserta nosah (Rumah Suluk) atau tempat menelaah AI-Quran. Setelah itu Yahya Anshoruddin kembali menunaikan ibadah haji ke Mekah dan menetap lagi di sana selama 4 tahun untuk menambah atau memperdalam ilmu yang dirasanya belum cukup.

Pada tahun 1934 beliau kembali lagi ke Kepenuhan dan mulai memberikan pelajaran kitab berbahasa Arab pada sore hari bertempat di nosah. Setelah belajar setahun di nosah tersebut, maka pada tahun 1935 didirikannya Makhtab Daral Ulum. Pada tahun 1935 itu juga dibangun Makhtab bagi kaum ibu, tempatnya persis pada rumah di depan Madratsah Diniyah Awaliyah Kota Tengah sekarang.

Menjelang makhtab baru selesai dibangun, murid-murid mengaji di rumah suluk. Setelah Maktab Darul Ulum siap, maka pada tahun 1936 dimulailah belajar di sana dengan sebanyak 7 kelas atau lebih dikenal dengan nama koleh tujuh. Pada saat itu, pada makhtab baru tersebut dimulai dengan belajar sampai di kelas IV, demikianlah pelajaran setiap tahun sehingga sampai kelas VII tahun 1939 M.

Para murid ketika itu telah dapat memulai pelajaran pada waktu pagi. Demikian terus berjalan sampai tahun 1942 M dengan kekalahan Belanda yang digantikan dengan kedudukan tentara Jepang. Makhtab mulai berangsur sunyi disebabkan muridnya banyak yang pulang ke kampung masing-masing karena ekonomi mengalami kemerosotan di segala bidang. Sementara itu, oleh pemerintah ketika itu, Yahya Anshsoruddin dibawa bekerja pada Majelis Islam Tinggi (MIT) yang kadang-kadang mengikuti konfrensi ke Pekanbaru. Adapun Makhtab Darul Ulum dikepalai oleh H. Abdurahman yang baru kembali dari Makkah. Kepulangan H. Abdurahman tersebut adalah disebabkan akan pecahnya Perang Dunia ke-II.

Orang-orang yang berada di Arab Saudi disuruh pulang ke negaranya masing-masing dengan kalahnya Jepang pada Perang Dunia ke-II pada Agustus 1945. Situasi Indonesia berubah, yaitu dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Wilayah Kepenuhan atau wilayah Rokan Kanan yang juga merasakan kebebasan, maka H. Yahya Anshsoruddin diangkat menjadi Qodi di Rokan Kanan yang terdiri dari tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Rambah, Kecamatan Tambusai, dan Kecamatan Kepenuhan. Adapun letak aktivitas Qodi berada di wilayah Pasir Pengaraian.