www.luhakkepenuhan.com Perkembangan Islam Setelah Darul Ulum Berdiri

Perkembangan Islam Setelah Darul Ulum Berdiri

Secara resmi, proses belajar mengajar di Darul Ulum dimulai pada tahun 1935 M 1355 H. Proses belajar rnengajar berlangsung pada waktu sore hari, karena di antara murid-muridnya Sekolah Desa banyak yang ingin ikut belajar mengetahuai terjemahan kalimat-kalimat Arab. Muridnya hanya terdiri dari kaum pria yang berjumlah sekitar 45 orang, termasuk dari  keluarga raja. Raja yang memerintah di masa itu adalah Tengku Muhammad yang bergelar Tengku Sutan Sulaiman.

Sang raja juga ikut belajar namun pada malam hari bersama pegawainya dan sebagian masyarakat dari jam 20.00 WIB sampai 23.00 WIB, dengan tenaga guru bantu dari H. Yahya Amaruddin yaitu bernama H. Hasan Kamil, putra Kepenuhan yang sebelumnya belajar di Kecamatan Rokan IV Koto pada tahun 1938. Raja Luhak Kepenuhan memberikan anugerah menurut adat kepada H. Hasan Kamil dengan gelar Yang Pertuan Besar Luhak Kepenuhan.

Sang raja senantiasa giat menuntut ilmu agama, terutama menyangkut membaca AI-Quran sehingga ia termasuk yang terbaik di Luhak Kepenuhan. Hal tersebut dicapai raja berkat kesungguhannya mempelajari Al-Quran beserta bacaan qiraah yang tujuh.

Setiap Bulan Ramadhan, raja menyediakan Majelis Tadarus AI-Quran di Madrasah Darul Ulum mulai pukul 21.30 WIB (sesudah Shalat Tarawih) sampai pukul 01.00 WIB. Setiap pembaca harus dapat mencapai kalimat Quran dengan qiraah yang tujuh. Siapa yang tidak dapat dituntun oleh pembaca yang lain, termasuk diutamakan menyangkut bacaan hukum tajwid yang lima.

Setiap sore Bulan Ramadhan diadakan pelajaran tajwid di lantai bawah Makhtab Darul Ulum yang diketahui oleh raja. Hal itu ditiru pula oleh seluruh rakyat di Luhak Kepenuhan yang hasilnya setiap malam seorang pun tidak ada yang rnembolos. Dengan demikian hukum Al-Quran semakin lekat sekali pada setiap pribadi pengikut tadarus. Begitulah seterusnya sampai saatnya pecah Perang Dunia ke-II.

Setelah didirikannya Makhtab Darul Ulum, maka berdatanganlah santriwan atau santriwati dari luhak-luhak sekeliling Kepenuhan, seperti Rambah, Tambusai, Pujud, Sedinginan, Sekeladi, Bagan Siapi-api, bahkan ada dari Malaysia, dan daerah lainnya.

Setelah banyak peminatnya, maka dibangun gedung baru berlantai dua, tepatnya pada tahun 1357 H atau 1936 M dengan 10 ruangan, di antaranya ruang untuk kantor dan satu ruangan untuk guru. Gedung tersebut didirikan di atas tanah 21 per 2 hektare. Selain untuk gedung Darul Ulum, ada juga dibangun untuk pemondokan lebih kurang 350 santriwan. Pada tahun 1359 M atau 1838 M didirikan lagi makhtab untuk santriwati berlantai satu, karena tidak tertampung dalam Makhtab Darul Ulum.

Kemudian Darul Ulum pun membuka cabang atas permintaan masyarakat setempat. Lebih jelasnya mengenai beberapa cabang Darul Ulum tersebut dapat dilihat pada pemaparan di bawah ini.

Pertama:

Di Muara Nikum, gurunya adalah Tengku  Bahrudin Tongku Boalim.

Kedua:

Di Teluk Riti, gurunya adalah Haji Arsyad Tengku Bahrudin.

Ketiga:

Di Muara Rumbai, gurunya adalah Khatib Harun Alim.

Keempat:

Di Batang Samo, gurunya adalah Soleh, Mantan Kepala Kantor Departemen Agama Kampar.

Kelima:

Dipesagang.

Keenam:

Di Rantau Kasai Kampar Luhak Tambusai, gurunya adalah T Harun (Almarhum).

Selama pendudukan Jepang, Darul Ulum masih meneruskan, proses belajar mengajar meskipun dalam keadaan mundur karena berbagai peristiwa di waktu itu. Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Darul Ulum terus berjalan dipimpin oleh P3NTR Marsanji dengan beberapa panitia yang diketuai oleh Kholifah Mudo. Pada waktu ini ada lagi cabangnya di Pekan Tebih dengan guru Fakih Karim, di Muara Musu gurunya Tuan Syekh Nazarudin, di Kampung Tambusai gurunya Tuan Syekh Nasarudin, K.H. Rahman, Datuk Arsyad dan K.H. Ali Ibrohim.

Pada tahun 1376 H atau 1955 M didirikan pula Darul Ulum di Pasir Pandak dengan nama Makhtabriya Madrasah Irsyadinnas. Tahun pertama berdiri, gurunya adalah K.H. Rahman Dt Arsyad Pada tahun berikutnya ditambah gurunya dengan K.H Amin, K.H. Abdul Halim dan K.H. Aspawi. Dalam perkembangan selanjutnya pendidikan ini tidak digemari masyarakat lagi karena lebih berminat pada pelajaran umum dan akibatnya segala cabang dan ranting Darul Ulum gulung tikar.

Kendatipun demikian, yang jelas pendidikan formal telah dimulai oleh H. Yahya Anshoruddin dan dilanjutkan kembali oleh para muridnya. Yang menggembirakan lagi, sampai saat iniDarul Ulum tersebut masih kokoh berdiri sabagai lambang perkembangan Islam di Kepenuhan juga sebagai lembaga pendidikan.

Dengan terjadinya perkembangan Islam yang cukup siknifikan di Kecamatan Kepenuhan, berbagai cabang lembaga dari Darul ulum menempatkan Kepenuhan sebagai daerah pendidikan pada masa itu. Perkembangan sejarah selanjutnya memang kurang menggembirakan khusus regenerasi setelnh H Yahya Anshoruddin.

Namun demikian, dari perkembangan pendidikan tersebut, di Kepenuhan telah berdiri bagai jamur di musim hujan tempat-tempat ibadah di seluruh penjuru negeri, baik masjid, Rumah Suluk, maupun mushala. Sekedar menggambarkan, sampai tahun 2005 terdapat sebanyak 36 mesjid di Kecamatan Kepenuhan.

Lebih jelasnya jumlah, nama, dan alamat rumah ibadah kaum muslimin di Kecamatan Kepenuhan tersebut adalah sebagai berikut (Kantor Urusan Agama Kecamatan Kepenuhan, 2005).

No

NAMA MESJID

ALAMAT/TEMPAT

1

2

3

4

Al- Ikhwan

At-Taqwa

Al- Hidayah

 Babul Jannah

Gelugur, Kota Tengah

Tanjung Padang, Kota tengah

Pasar, Kota Tengah

Sei Kuning, Kota Tengah

5

6

7

8

9 10 11

Al-lkhsan

Nurus salam

Baitur Rahman

Muslimin

Rahmat

 Istiqomah

Isti ala

Sei Emas, Kep. Barat

Galian Tanah, Kep. Barat

Kubu Baru, Kep. Barat

Tanjung Alam, Kep. Barat

Pasir Limau Manis, Kep. Barat

Kampung Panjang, Kep. Barat

Kesra, Kep. Barat

12 13 14 15 16 17

Al- Muhajirin

Jamiatul Muslim

Ikhlas

Istiqomah

Nurhidayah

Raya

Pekan Tebih

Dusun III Kep. Hulu

Kepayang

PSA/PIS

Pebadaran

Dusun II Pekan Tebih

18 19 20 21

Istiqamah

Darul Islam T

ajul Islam

Raya Babussalam

RW V Kepenuhan Timur

RW IV Kepenuhan timur

RW II Kepenuhan Timur

RW VI Kepenuhan Timur

22

23 24

At-Taufiq

AI-Kirom

Nurul Fajar

Kasimang, Kepenuhan Hilir

Rantau binuang Sakti

Ulak Patian

25 26 27 28

Nurul Hikmah

Al-Muhajirin

Darul Muttaqin

Al-lkhlas

RT 10/03 Kepenuhan Jaya

RT 04/02 Kepenuhan Jaya

RT 18/05 Kepenuhan Jaya

RT 21/07 Kepenuhan Jaya

29 30 31 32 33 34

Al- Falah

Al-lkhlas

Al-Muhajirin

Al-Anshor

Al-Muttaqin

Al- Istiqomah

SP I Jalur I Kanan, Kep. Jaya

SP I Jalur VI Kanan, Kep. Jaya

SP II PIR Trans

SP III PIR Trans

SP IV PIR Trans

SP IV PIR Tarns

35 36

Jami Baiturrahma Baiturrohim

MuaraJaya

MuaraJaya

 

Di samping itu, khusus kepada orang tua yang ingin mendalami ilmu agama, mereka dapat pula berguru ke Tuan Guru atau Mursyid di setiap daerahnya. Mereka dapat mengikuti pendalaman ilmu agama dengan pendekatan bathiniyah, di antaranya di berbagai rumah suluk berikut ini.

No

Nama Rumah Suluk

Alamat

1

Hidayatus salikin

Kota Tengah

2

Haiya alal Falah

Kota Tengah

3

Darul Mukmunin

Pasir Pandak, Kep. Timur

4

Darul Hikmah

Rumput Pait, Kep. Timur

5

Darusslam

Suka Jadi. Kep. Timur

6

Ubudiyah       

Babussalam, Kep. Timur

7

AI-Mukmin

Ulak Patian

8

Al-lslamiyah

Bunga Tanjung, RBS

9

AI-Hidayah

Kasimang, Kep. Hilir

10

Hidayatul Jannah

Kubu Baru, Kep. Barat

11

Mutmainnah

Galian Tanah, Kep. Barat

12

Nur Ilham

Kesra, Kep. Barat

13

Mardhotillah

Kampung Panjang

14

Nurul Iman

Kepayang

15

Mutmainnah

Kepenuhan Hulu

16

Surau Dingin

Pekan Tebih

17

AI-Mujahidin

Kep. Baru, Pekan Tebih

Sumber; KUA Kecamatan Kepenuhan, 2005

Keberadaan rumah suluk telah menjamur ke setiap negeri apalagi dalam kesulukan ini berkiblat kepada Tuan Guru Abdul Wahab Rokan yang ada di Langkat Babussalam, dengan air Tarekat Naqsyabandiyah.

Ada beberapa gerakan taswuf, misalnyaTarekat khalwatiyah, Tarekat Syattariyah, Tarekat Syaziliyah, Tarekat Qadiriyah Tarekat Rifaiyah, Tarekat Idrisiyah, dan yang terbesar di nusantara. termasuk di Rokan Hulu, adalah Tarekat Naqsyabandiyah. Menurut para sufi dan mursyidin di Rokan Hulu bahwa Tarekat Naqsabandiyah ada dua rombongan. Hemah atau Kemah Langkat di Sumatera Utara dan Hemah atau Kemah Kumpulan dari Sumatera Barat Adapun yang dimaksud dengan Hemah atau Kemah adalah pembawaan susunan asal turunan dalam menjalankan tarekat.

Sebagaimana Syekh Muhammad Bahauddin mengembang­kan Tharikat Naqsabandiyah dengan cara mengajarkan murid-muridnya zikir qalbi, khalwat, suluk dan berkhatam tawajub. Apabila menurut tilikannya sudah sampai saatnya, maka murid tersebut diangkat menjadi khalifah dan berhak pula membuka suluk dalam rangka mengembangkan tarekat di tempat lain sampai silsilahnya sampai kepada Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsabandiyah (1811-1 926M). Demikian pula yang berkembang hingga di Tiongkok, Turki, India, Arab Saudi. Berikut ini secara garis besar pelaksanaan suluk pada umumnya di Kabupaten Rokan Hulu.