www.luhakkepenuhan.com Datuk Bondaro Sakti

Datuk Bondaro Sakti

Nama Datuk Bendahara Sakti bukanlah suatu nama yang lahir begitu saja atau dapat dikatakan suatu gelar adat yang diberikan secara turun temurun. Gelar adat yang diberikan pa la jabatan adat ini juga bukan diberikan kepada orang sembarangan, karena gelar ini menjadi tempat berlindung masyarakat di Luhak Kepenuhan.

Datuk Bendahara Sakti berarti orang yang pintar, demikian orang-orang tua berucap. Ungkapan ini benar adanya. Di kalangan adat Luhak Kepenuhan, keberadaan Datuk Bendahara Sakti adalah sesuatu yang sentral dari sekian pucuk pimpinan yang ada di Luhak Kepenuhan. Artinya ia dipercaya untuk memimpin di dalam sukunya, Suku Melayu juga dipercayai untuk memimpin sembilan suku di Luhak Kepenuhan, termasuk masyarakat lain yang ada di Luhak Kepenuhan. Demikianlah sentralnya keberadaan Datuk Bendahara Sakti ini.

Coba ditelusuri jejak sejarah Datuk Bendahara Sakti dari masa ke masa. Pada masa awal (diperkirakan pada abad ke-14), yakni zaman kedatangan Bangsa Portugis dan Belanda. Masyarakat Indonesia pada waktu itu belum memiliki slogan atau pepatah "Bhinneka Tunggal Ika", belum ada Sumpah Palapa Gadjah Mada. Kehidupan masyarakat Indonesia masih terpencar-pencar di seluruh pelosok tanah air. Memang pada saat itu sudah ada suatu bentuk pemerintahan berupa suatu kerajaan atau kesultanan, namun keberadaan berbagai pusat kekuasaan tersebut bukan sesuatu yang permanen.

Yang ada adalah pemerintahan berdasarkan atas wilayah, sehingga tidak dapat dihitung berapa jumlah pusat kekuasaan yang memerintah pada waktu itu. Kondisi demikian melahirkan peperangan-peperangan kecil di antara pusat kekuasaan tersebut untuk mendapatkan wilayah baru sebagai upaya memperbesar atau memperluas kekuasaannya. Kondisi ini juga terjadi di daerah Kepenuhan dan sekitarnya. Akibat peperangan ini salah satunya adalah banyak para pengungsi yang mencari perlin-dungan sebagai upaya menghindarkan diri dari peperangan.

Pada saat itu hidup seorang Datuk di daerah Antau Binuang dengan beberapa pengikutnya. Di daerah inilah orang tersebut mendirikan rumah untuk bertempat tinggal. Datuk ini juga memiliki beberapa anak kemenakan untuk membantu dalam kesehariannya. Mereka hidup damai dan tenteram karena tempat yang mereka tempati jauh dari jangkauan para penguasa yang menginginkan tanah untuk memperluas kekuasaannya.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, akibat peperangan adalah banyak masyarakat yang mencari perlindungan atau melarikan diri dari daerah mereka ke tempat yang lebih aman. Ada sekelompok pengungsi datang dari wilayah Antau Benuang, mereka melihat ada suatu kehidupan yang tenteram dan damai. Mereka mencoba mendekati tempat tersebut. Tidak tahu apa yang menjadi harapan mereka, namun anehnya ketika mereka semakin mendekat, para pendatang ini berkata, "Di naun lai umah, colo...! Ado bondo auonyo, bondo auonyo...!".

Hal ini terus terjadi ketika para pengungsi yang berdatangan ke tempat Datuk dengan ungkapan yang sama, yaitu "Bondo auo, bondo auo..!". Hal ini terus menerus berlangsung sehingga semakin seringnya para pendatang itu menyebut Bondo auo, maka nama Datuk itu berubah menjadi dengan Datuk Bondo Auo.

Arti kata Bondo auo dalam perbendaharaan bahasa Indonesia sama dengan bendahara. Oleh masyarakat Kepenuhan diartikan dengan orang pintar. Hal ini terlihat dari kepiawaiannya atas anak kemenakan serta para pengungsi yang merasa aman dan damai. Mereka merasa terlindungi dari para penguasa yang akan mengejar mereka.

Kepiawaian Datuk ini tersebar ke mana-mana, sehingga raja pada waktu itu pun meminta beliau untuk dapat menyelesaikan masalah yang melilit pemerintahannya. Hal ini terungkap dari sebuah kisah yang menceritakan bahwa raja menginginkan sebuah istana yang permanen sebagai tempat pemerintahan baru Pada waktu itu kehidupan sosial keagamaan masih melekat dengan kepercayaan akan hai-hal gaib. Para penggawa kerajaan menyampaikan kepada raja bahwa dalam setiap mendirikan rumah yang baru harus ada sesajian berupa wanita perawan untuk dikorbankan sebagai pertanda keselamatan akan rumah yang akan didirikan.

Sang raja memiliki suatu pemikiran yang bertentangan dengan para punggawa kerajaan. Beliau justru memiliki berpendapat bangaimana agar sang perawan tersebut dapat terselamatkan. Dengan pengertian tidak ada yang dikorbankan. Akhirnya raja memberanikan diri untuk menyampaikan keinginan tersebut kepada para punggawa kerajaan. Para penggawa kerajaan tidak berani membantah atas keinginan sang raja. Namun hal itu tetap juga berlangsung.

Permasalahan  yang  dihadapi   sangat  rumit   untuk dipecahkan. Tetapi raja berpikir agar sang perawan dapat diselamatkan berkaitan dengan tata cara pada waktu itu, bahwa dalam mendirikan sebuah bangunan adalah dengan menggali lobang sedalam 2 meter dan lebar 1 meter. Lobang tersebut merupakan tempat persembahan korban. Di dalam lobang tersebut sang perawan ditempatkan sebagai persembahan atau sesajian kepada Yang Kuasa sebagai tanda kepercayaan masyarakat pada waktu itu.

Suatu ketika terdengar kabar oleh hulubalang kerajaan, bahwa ada seorang Datuk yang mampu menyelesaikan permasalahan tersebut. Maka sang raja menitahkan kepada hulubalangnya untuk mencari seraya membawa sang Datuk ke pusat kerajaan untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Datuk tersebut adalah Datuk Bondo Auo. Maka. sang raja menceritakan permasalahannya kepada Datuk Bondo Auo. Atas cerita raja tersebut, maka sang Datuk meminta waktu selama tiga hari menjelang hari pelaksanaan dilangsungkan untuk memenuhi pemintaan raja menyelamatkan perawan setiap pembangunan rumah baru.

Tugas yang diberikan sang raja amatlah berat. Datuk terus merenung dan berpikir mencari jalan keluar, agar keinginan raja dapat diwujudkan. Setelah berpikir hingga dekat dengan hari pelaksanaan penancapan tiang utama, maka Datuk mengambil tindakan untuk membuat terowongan tanpa diketahui oleh raja dan punggawa kerajaan. Waktu yang tiga hari tersebut digunakan Datuk untuk menggali terowongan dengan dibantu oleh beberapa anak kemenakan beliau.

Sampailah pada waktu pelaksanaannya. Para penggawa kerajaan dan masyarakat sudah berkumpul di tempat tiang utama akan ditancapkan dengan posisi sang perawan berada di dalam lubang tiang utama. Pelaksanaannya dipimpin langsung oleh raja meskipun dililit rasa cemas apakah Datuk dapat menyelamatkan perawan yang berada di lobang tersebut atau tidak. Masyarakat pun ikut merasa was-was apakah usaha yang dilakukan Datuk akan berhasil atau tidak.

Hitungan pelaksanaannya tinggal beberapa detik lagi. Pada waktu itu Datuk berada dalam lobang, di dekat terowongan yang sudah dibuatnya. Raja pun berhitung sebagai tanda akan dilaksanakannya ritual tersebut. Sesampainya pada hitungan terakhir, tiang pun ditancapkan, namun sesaat sebelum tiang menancap pada tubuh si perawan, perawan tersebut ditarik Datuk ke dalam terowongan yang dibuatnya.

Raja sangat gusar, khawatir kalau si perawan dan Datuk Bondo Auo ikut terkubur bersama tiang yang ditancapkan. Tanpa disadari oleh raja, para penggawa, dan masyarakat, Datuk Bondo Auo sudah berada di belakang kumpulan para penggawa kerajaan beserta raja dan masyarakat tersebut. Cukup lama mereka menunggu. Alangkah terkejutnya sang raja melihat Datuk dan si perawan sudah berada di depan beliau. Datuk bersama perawan itu keluar dari lubang tiang melalui terowongan yang dibuat oleh Datuk beserta anak kemenakannya. Beberapa saat kemudian Datuk pun menghadap raja di dekat tiang yang baru saja ditancapkan.

Dengan kejadian ini, raja menganggap Datuk memiliki ilmu yang sangat tinggi dan mumpuni. Oleh karenanya, atas titah raja sang Datuk mendapat penghargaan gelar, yaitu Datuk Bendahara Sakti, karena dianggap mampu menyelesaikan masalah yaru dianggap sangat sulit untuk dipecahkan.

Setelah menyelesaikan tugasnya, Datuk tersebut pulang kembali ke Antau Benuang berkumpul dengan anak kemenakan beliau untuk meneruskan kehidupan mereka. Kedatangan Datuk disambut oleh masyarakatnya dengan rasa bangga dan penuh suka cita. Namun Datuk tetap bersikap biasa-biasa saja. Beliau tetap ramah dan tidak menyombongkan diri atas keberhasilannya.

Perjalanan hidup Datuk beserta anak kemenakan beliau semakin hari semakin membaik. Anak   kemenakannya pun semakin bertambah banyak seiring dengan fisik Datuk juga sudah mulai renta dan lanjut usia.

Pendapat lainnya ada yang mengatakan bahwa saktinya sang Datuk Bendahara juga ditandai dengan harta pusaka yang dipegang olehnya. Tanpa memiliki alat pusaka tersebut, maka keberadaan sang Datuk belum dapat dikatakan sebagai orang yang sakti. Hal ini berkaitan pula dengan suatu kisah atau legenda Kepenuhan tentang ada dua orang bersaudara berlayar, yaitu Sultan Jangguik dan Sultan Harimau.

Mereka menggunakan sampan layar dan membawa beberapa perlengkapan untuk mendukung perjalanan mereka. Mereka pun tidak lupa membawa harta pusaka, yaitu:

a. Capuk kasau pusako sebanyak dua buah

b. Batu 4 biji

c. Satu buah keris

 

Dalam perjalanannya, mereka pun sampai di pertigaan aliran sungai. Di tempat tersebut mereka berdiskusi untuk menentukan pilihan perjalanan selanjutnya yang akan mereka lalui. Terjadi sebuah kesepakatan, yakni mereka berpisah. Perpisahan mereka itu bukan karena sengketa atau suatu sebab lainnya, namun lebih melihat kepada arti perjalanan yang mereka tempuh. Dengan perpisahan tersebut. tentu harta pusaka yang mereka bawa juga harus dibagi adil. Sultan Jangguik menuju ke Rokan Hulu, sedangkan Sultan Harimau mengarah ke Rokan Hilir. Menurut masyarakat Kepenuhan, tempat perpisahan mereka itu dinamakan dengan Kualo Sako, yaitu tempat pembagian harta pusaka.

Dari kisah tersebut, masyarakat Kepenuhan berkeyakinan, bahwa pembagian harta pusaka itu membawa berkah bagi mereka. Hal ini disebabkan dengan kejadian itu maka harta pusaka yang dimiliki oleh Sultan Jangguik menjadi harta pusaka pula bagi Suku Melayu yang ada di Luhak Kepenuhan. Selain itu juga dipercaya, bahwa barang siapa yang memegang harta pusaka tersebut, maka ia akan memiliki posisi sebagai Datuk Bendahara Sakti. Namun demikian untuk mendapatkan jabatan ini bukan sesuatu yang gampang. Untuk dapat memperoleh jabatan sampai ke tingkat tersebut, seseorang harus melalui beberapa tahapan yang berlaku dalam Suku Melayu.

Adapun silsilah keturunan Datuk Bendahara Sakti di Luhka Kepenuhan adalah sebagai berikut.

1. Datuk Bendahara Sakti

2. Datuk Bendahara Kumak

3. Datuk Bendahara lyo

4. Datuk Bendahara Boangin

5. Datuk Bendahara Liman (dari Induk Paso )

6. Datuk Bendahara Jaba (dari Induk Tanjung Padang Mudik)

7. Datuk Bendahara Kasim ( dari Induk Kepalo Padang )

8. Datuk Bendahara Kantan (dari Induk Anak Mato)

9. Datuk Bendahara Osat ( Dari Induk Kopalo Padang )

10. Datuk Bendahara Sholih (Dari Induk Paso)

11. Datuk Bendahara Ramli (Dari Induk Tanjung Padang Ilie)

12. Datuk Bendahara Sakroni (Dari Induk Kepalo Padang)