www.luhakkepenuhan.com Musyawarah Besar Tahun 1968

Musyawarah Besar Tahun 1968

Membangkitkan batang to-ondam (terendam) sebenarnya sudah berlangsung pada tahun 1968, diprakarsai oleh tokoh pemuda Kepenuhan yang melanjutkan pendidikan di Kota Pekanbaru, yaitu H. Abdul Djalil ( Almarhum ). Gelar adat yang pernah dipercayakan oleh adat Luhak Kepenuhan kepadanya adalah Datuk Perdano Montoi, diberikan setelah pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) tahun 1968 sampai tahun 1999.

Kondisi masyarakat adat di Luhak Kepenuhan pada waktu itu sungguh memprihatinkan hatinya. Beliau memaparkan hal ini satu minggu menjelang dipanggil Ilahi Robby kepada penulis, dengan mengambil tempat di Sekretariat Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Kepenuhan (IPPMK) Pekanbaru. Di samping beberapa tokoh IKK (Ikatan Keluarga Kepenuhan),  mayoritas yang hadir adalah para mahasiswa dan pelajar asal Kepenuhan yang menuntut ilmu di berbagai universitas dan sekolah di Pekanbaru. Kegiatan ini terselenggara disponsori oleh penulis sendiri dan mendapat tanggapan yang sangat positif dari yang hadir.

Maksud dan tujuan dari kegiatan ini adalah mensosialisasikan Mubes tahun 1968 dengan menghadir tokoh utama atau pelaku kegiatan tersebut. Pada pertemuan tersebut juga diberikan gambaran kepada generasi muda Kepenuhan di kota Pekanbaru akan pentingnya nilai-nilai sejarah.

Pertemuan tersebut membuat penulis menjadikan Mubes tahun 1968 tersebut sebagai satu fasal khusus, agar didapatkan suatu nilai yang dapat dipertanggungjawabkan. Pertemuan itu membuahkan hasil yang sungguh sangat menggembirakan, karena semangat dan antusias generasi muda Kepenuhan yang memberikan tanggapan balik atas pemaparan yang diberikan oleh mantan Datuk Perdano Montoi.

Semangat itu sebenarnya datang dari beliau sendiri ketika melaksanakan hajatan besar tersebut. Ketika ide tersebut tercetus, beliau pun pulang ke Kota Tengah untuk merealisasikannya. Pertama yang dilakukannya adalah dengan melakukan pendekatan persuasif kepada tokoh yang ada di Kepenuhan waktu itu, mulai dari Camat, tetua adat, alim ulama, dan beberapa masyarakat yang peduli terhadap ide yang dicetuskan tersebut.

Setelah mendapat persetujuan dari beberapa elemen tadi, dibentuklah panitia pelaksana kegiatan yang dipercayakan kepada beliau sebagai ketua pelaksananya. Kerja keras tanpa mengenal keluh kesah diperlihatkannya kepada generasi muda Kepenuhan. Kesungguhan inilah yang membuat acara tersebut menjadi momentum sejarah. Padahal kondisi di kepenuhan pada waktu itu cukup memprihatinkan dari segi ekonomi dan sosial. Namun dengan semangat kebersamaan terkumpullah dana dan berbagai perlengkapan yang diperlukan. Ketersediaan sarana dan prasarana tersebut bersumber dari sumbangan masyarakat sesuai dengan kemampuan dan keikhlasannya. Dengan meriahnya di dalam acara tersebut disembelih satu ekor kerbau besar sebagai  1 pertanda hajatan besar dimulai.

Yang menjadi isu utama pada pertemuan Musyawarah Besar I tersebut adalah, pertama, masalah adat, kedua, masalah pendidikan, dan ketiga, masalah kemajuan Kepenuhan. Yang paling menjadi perhatian utama penulis adalah masalah keadatan.