www.luhakkepenuhan.com Riwayat Hidup Almarhum Syeikh Abbas

Riwayat Hidup Almarhum Syeikh Abbas

Almarhum Syeikh Abbas adalah seorang ulama terkemuka dan pejuang Tarekat Naqsabandiyah sejak zaman penjajahan Belanda di Kepenuhan. Dia merupakan Tuan Guru pada Madrasah Suluk di Kota Tengah yang pertama.

Untuk mengetahui asal-usul serta perjuangannya secara ringkas kami uraikan di bawah ini, sementara menanti penyusunan riwayat hidupnya yang lebih lengkap dan sempurna.

Syekh Abbas adalah putera dari Duka (Pokak) Suku Melayu Induk Tanjung Padang Hilir. Beliau dilahirkan pada tahun 1299 H atau pada tahun 1880 M di Kota Tengah, Kecamatan Kepenuhan Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Sedangkan hari wafatnya yaitu 29 Rajab 1370 H (1951 M) di Kota Tengah dan dimakamkan di komplek perkuburan Masjid Raya At-Taqwa Tanjung Padang kelurahan Kepenuhan Tengah, tutup usia pada umur 71 tahun.

Setelah dewasa, yaitu pada tahun 1920 sampai 1925 M, ia berangkat ke Babussalam (Besilam), Langkat Provinsi Sumatra utara. Setelah sampai di sana ia menyerahkan diri untuk belajar menuntut ilmu agama dan bersuluk kepada Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan Alkholidi Naqsabandi, yang beliau adalah putra Kepenuhan lahir di Kampung Rantau Binuang Sakti.

Setelah lima tahun di Besilam, beliau kembali ke Kepenuhan dan mendapat kekuasaan dari Tuan Guru Babussalam, Langkat, karena beliau diberi izin untuk mengajar dan mengembangkan ajaran Tarekat Naqsabandiah di Luhak Kepenuhan.

Setelah sampai di Kota Tengah, beliau mendirikan Rumah Suluk/ khalawat di Sungai Kuning, Luhak Kepenuhan, pada tahun 1925 M. Setelah itu beliau pindah ke Kampung Babussalam (RW II, Gelugur) dan membangun Madrasah Suluk (madrasah tinggi).

Adapun sebagai pengganti beliau setelah wafat adalah putranya yang bernama Tuan Syeikh Maksum dari tahun 1951 sampai tahun 1976. Karena ia adalah ahli Tasawuf dan Fiqih, pada tahun 1952 oleh tuan mursyid Syekh Maksum dihimbau segenap lapisan masyarakat Kota Tengah bermusyawarah untuk meninjau bangunan madrasah tinggi yang dibangun semasa almarhum ayahnya Syekh Abbas. Karena Rumah Suluk tersebut sangat memprihatinkan (lapuk), maka didapat kata mufakat supaya diganti dengan yang baru dengan ukuran 8 X 20 meter.

Pada tanggal 2 Maret 1976, Syekh Maksum berpulang ke rahmatullah. Secara adab ia diganti oleh putranya yang kedua dan Syekh Abbas, yaitu Khalifah Muda. Beliau dengan giat mengembangkan tarekat ini sebagai penerus perjuangan ayahnya dan abangnya tersebut di atas.

Pada tanggal 6 Januari 1977, Khalifah Muda berpulang ke rahmatullah, ditunjuk pula sebagai penggantinya kemenakan menantu dari almarhum Syekh Abbas yang bernama Syekh H. Zakaria. Beliau ini cukup giat mengembangkan tarekat dan semakin banyaklah masyarakat yang mengamalkan ajaran Tarekat Naqsabandiyah. Pada masa beliau inilah madrasah suluk tersebut dapat direhap oleh pemerintah, yaitu Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kampar (Raden Subrantas, S) dengan bangunan semi permanen. Setelah selesai, bangunannya kembali dipakai untuk tempat ibadah shalat, bersuluk 4 (empat) kali setahun. Selanjutnya, pada masa beliau ini juga diundang beberapa tokoh ulama, cerdik pandai untuk bermusyawarah agar dapat membuat nama madrasah tersebut. Akhirnya diambil suatu keputusan para jamaah yang dibuat ataupun yang diusulkan oleh Khalifah Amiruddin (almarhum) dengan nama Madrasah Suluk Hidayatussalikin.

Pada tanggal 14 Maret 1982, Syekh H. Zakaria berpulang ke rahmatullah, sebagai penggantinya diangkat Khalifah Sulaiman Anak beliau tersebut diharapkan dapat meneruskan pejuangan ayahnya dan abang-abangnya tersebut.

Pada tanggal 30 Maret 1990, Khalifah Sulaiman berpulang ke rahmatullah di Duri, Kecamatan Mandau. Sebagai penggantiniya ditunjukkan pulalah H. Syekh Yasid sampai sekarang. Beliau pada masa dahulunya bersuluk di Madrasah Suluk, Syekh Ambia, Kemudian sebelum diangkat menjadi mursyid beliau telah bekerja di Madrasah Suluk ini sebagai wakil mursyid dan tetap tabah dalam meneruskan perjuangan guru-guru sebelumnya.

Kemudian pada tanggal 17 Mei 1991 telah dibentuk panitia pembangunan Madrasah Suluk Hidayatussalikin. Dalam musyawarah terpilih sebagai Ketua adalah Edy Elyas (almarhum), yaitu anak dari almarhum Syekh H. Zakaria. Oleh panitia pembangunan mengadakan musyawarah dengan tokoh masyarakat beserta unsur pemerintah setempat dan diambil keputusan yang mana waktu itu bangunan Madrasah Suluk telah memprihatinkan atau lapuk, maka bangunan yang lama dibongkar habis dan akan dibuat bangunan Madrasah Suluk yang baru ditempat itu juga dengan ukuran 11 x 22 meter. Bangunannya permanen bertingkat dua, sesuai dengan bestek yang telah disahkan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum tingkat II Kampar dan Bupati Kepala Daerah Kampar (H. Saleh Jasit, SH) tanggal 25 Juli 1995. Adapun peletakan batu pertama bangunan madrasah suluk sekarang ini dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 1997 oleh Bapak Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kampar oleh Drs. H. Beng Sabli.