Home Opini Menyambut Generasi Emas Indonesia Lewat Pendidikan Karakter

Menyambut Generasi Emas Indonesia Lewat Pendidikan Karakter

54
Menyambut Generasi Emas Indonesia Lewat Pendidikan Karakter

Mengajarkan pendidikan karakter. Foto: Republika.co.id

Selasa 22 Jun 2021 14:16 WIB

Pendidikan Karakter agar lahir generasi penerus bangsa memiliki akhlak baik.

 

Oleh : Fitria Handayani, Guru Sekolah Dasar

REPUBLIKA.CO.ID, Ketika Hirosima dan Nagasaki luluh lantak karena bom Amerika Serikat. Peristiwa itu membuat Jepang lumpuh total, jutaan orang meninggal dunia, ditambah efek radiasi bom yang membutuhkan puluhan tahun untuk menghilangkannya. Pascamenyerah kepada sekutu, Jepang langsung berbenah.

Kaisar Hirohito bertindak cepat demi memulihkan negaranya. Alih-alih bertanya berapa jumlah tentara kepada para jenderal yang dikumpulkan, Kaisar justru bertanya, "Berapa jumlah guru yang tersisa?" Pertanyaan yang membuat para jenderal heran karena mereka menegaskan masih bisa menyelamatkan Kaisar walau tanpa bantuan guru.

“Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang. Tapi, kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar, bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka, kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kerajaan ini, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan.”

Secarik sejarah itu sepatutnya menggugah kesadaran kita bahwa betapa bernilainya seorang guru. Bahkan, di mata Kaisar Jepang saat itu guru adalah bagian terpenting dalam penyelamatan negara. Tidak bisa dimungkiri, Jepang menjadi negara maju seperti sekarang karena peran dan jasa guru.

Kita mungkin sering mendengar kalimat "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa". Memang, guru memang bukan pahlawan yang berkorban darah di medan perang. Namun, guru sudah menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk mengajar, membimbing, dan menjadi teladan sebuah bangsa untuk menuju kemerdekaan. Merdeka dari kebodohan, merdeka dari kemiskian, dan merdeka dari keterpurukan akhlak.

Guru adalah salah satu pemegang kunci peradaban. Terbentuknya pola pikir anak salah satunya karena peran serta para guru yang mengajarkan siswanya di sekolah. Meski begitu, pembentukan karakter anak bukanlah tanggung jawab guru seorang, orang tua, dan faktor lingkungan juga memiliki peran penting di dalamnya.

Karena itu, guna memastikan para penerus bangsa memiliki pola pikir yang baik, pemerintah menggalakkan pendidikan karakter. Tujuannya memberikan pelajaran kepada anak mengenai etika dan sopan santun terhadap orang lain, khususnya kepada orang yang lebih tua. Pendidikan karakter juga dicanangkan untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang memiliki dasar-dasar pribadi yang baik, cakap dalam pengetahuan, perasaan, dan tindakan.

Sejatinya pendidikan karakter sudah digaungkan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara jauh sebelum Indonesia merdeka. Menurut Ki Hajar Dewantara, konsep pendidikan karakter...

Sejatinya pendidikan karakter sudah digaungkan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara jauh sebelum Indonesia merdeka. Menurut Ki Hajar Dewantara, konsep pendidikan karakter dalam pengajaran budi pekerti atau karakter adalah manusia yang selalu memikir-mikirkan, merasa-rasakan, dan selalu memakai ukuran, timbangan, serta dasar-dasar yang pasti. Dalam proses pendidikannya, Ki Hajar Dewantara memakai fondasi pancadharma, yakni kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Konsep pemikiran yang dilahirkan Ki Hajar Dewantara itu tetap relevan untuk bangsa kita yang saat ini mengalami degradasi moral. Karena itu, guru yang menempati menara gading sudah sepantasnya menjaga akhlakul karimah dan selalu meningkatkan kompetensi agar terus menjadi panutas dan contoh yang baik untuk para siswa.

Kita juga perlu belajar dari kegigihan Ki Hajar Dewantara sebagai saka guru pendidikan di Indonesia. Karyanya berjudul Als ik een Nederlander wes atau Andai Aku Seorang Belanda yang berisi kritikan mengusik kenyamanan pemerintah Kolonial Belanda. Hingga ia dipenjara di Pulau Bangka karena kerap membuat tulisan yang mengkritik Belanda. Namun, pengasingan itu tidak membuatnya patah arang.

Ada hikmah di balik dijebloskannya Ki Hajar Dewantara ke penjara di Pulau Bangka. Di Negeri Timah tersebut, pemikiran-pemikirannya untuk dunia pendidikan lahir.

Berbekal Europeeche Akta atau ijazah dalam bidang pendidikan yang dikantonginya, Ki Hajar Dewantara lalu mendirikan organisasi Taman Siswa hingga mampu mengembangkan aturan pendidikan di Indonesia. Taman Siswa dibentuk Ki Hajar Dewantara untuk tujuan mulia, yakni untuk memastikan seluruh anak pribumi tetap mendapatkan pembelajaran yang setara dengan kaum priayi dan warga Belanda/Eropa di Indonesia. Pada masa penjajahan, kelas pribumi dari golongan kurang mampu tidak bisa mendapatkan akses mencicipi pendidikan.

Ki Hajar Dewantara berjuang agar pendidikan Indonesia tidak ketinggalan kereta dari kaum bangsawan. Semboyan Ki Hajar Dewantara "Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani" (Di depan memberikan contoh, di tengah memberikan semangat, di belakang memberikan dorongan) menjadi warisan untuk anak bangsa agar tidak menyerah menimba ilmu setinggi mungkin.

Psikolog dari RSUP Sanglah Denpasar Lyly Puspa Palupi dalam berita di Republika berjudul Penguatan Karakter Sejak Dini Cegah Anak Bertindak KriminalAhad, 6 Desember 2020 disebut, mengatakan penguatan karakter yang dilakukan sejak dini dapat mencegah anak bertindak kriminal. "Kalau anak-anak terbiasa melihat tindakan kekerasan, perilaku membangkang dan lainnya, maka itu akan ditiru karena mereka menilai perilaku tersebut boleh dan normal. Untuk itu, penguatan karakter bagi anak harus dilakukan sejak dini," kata Lyly saat dihubungi di Denpasar, Ahad (6/12).

Ibu Lyly Puspa menyebut, pendidikan karakter di rumah maupun di sekolah memuat tentang perilaku-perilaku baik yang perlu ditunjukkan, dan perilaku-perilaku yang buruk yang perlu dihindari. Selain itu, dalam menerapkan pendidikan karakter itu juga wajib mencantumkan pengajaran kepada anak agar terbiasa mematuhi aturan, bertanggung jawab pada perbuatannya, sehingga keterlibatan remaja dalam tindakan kriminal dapat diminimalkan.

Ia berkata dilihat dari beban materi pelajaran atau kurikulum para siswa sekarang lebih didominasi penguatan kemampuan akademik, kemampuan berpikir atau kognitif sehingga pendidikan dengan muatan penguatan karakter terlihat kurang menjadi prioritas. Apalagi, situasi belajar daring saat masa pandemi Covid-19 menerapkan metode belajar yang satu arah, seperti guru mengajarkan, siswa mendengar dan mengerjakan tugas.

Dari paparan Ibu Lyly Puspa, kita sebagai guru rasanya perlu berkaca apakah dalam 1,5 tahun pelaksanaan pendidikan jarak jauh (PJJ), para peserta didik sudah mendapatkan tujuan dari pendidikan karakter. Sebab, berkurangnya interaksi secara tatap muka membuat kegiatan transfer ilmu, transfer perilaku, dan transfer nasihat kepada murid-murid jauh berkurang porsinya. Maka tak heran jika pendidikan kita yang sudah kalah langkah dari negara-negara lain, makin jauh tertinggal.

Selain karena masalah pandemi, sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan pendidikan Indonesia tertinggal. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ristek (Mendikbud-Ristek) Nadiem Makarim mengungkapkan penyebab pendidikan Indonesia tertinggal dari negara lain karena...

Selain karena masalah pandemi, sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan pendidikan Indonesia tertinggal. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ristek (Mendikbud-Ristek) Nadiem Makarim mengungkapkan penyebab pendidikan Indonesia tertinggal dari negara lain karena sektor pendidikan kita tidak boleh mengambil risiko. Padahal, Indonesia, menurut Mas Menteri, memiliki banyak potensi keberagaman. Sayangnya, anak-anak yang awalnya dituntut berinovasi dan berkreasi, dan ada kebijakan yang mendukung hal tersebut, justru dianggap berisiko sehingga inovasi yang sudah terbangun menjadi terhambat bahkan stagnan.

Guru, menurut Mas Menteri, memiliki peran yang sangat besar sebagai agen-agen perubahan. Guru punya peran penting mendorong anak-anak berinovasi dan berkembang. Karena itu, kalau para guru tidak diberikan kesempatan untuk menentukan cara belajar, tidak akan ada diferensiasi, apalagi sesuai kearifan lokal.

Harapan Mas Menteri dan juga harapan para anak bangsa adalah Indonesia berani mengambil risiko dalam dunia pendidikan agar kita tidak mengalami ketertinggalan dengan negara-negara lain di dunia. Bahkan, berdasarkan penelitian seorang profesor di Harvard University, Indonesia disebut perlu 128 tahun mengejar ketertinggalan dalam dunia pendidikan dari negara-negara lain.

Harus diakui, suka tidak suka, memang perlu adanya perubahan. Guru dikatakan sebagai pemegang peran yang sangat penting dan strategis dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan di setiap satuan pendidikan. Berapa pun besarnya investasi yang ditanam untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu pendidikan, tanpa kehadiran guru yang kompeten, profesional, bermartabat, dan sejahtera dapat dipastikan tidak akan tercapai tujuannya (UU No 14 Tahun 2005).

Dalam PP No 19 Tahun 2005 disebut tugas dan tanggung jawab guru sangat berat sehingga guru wajib memiliki standardisasi kualitas. Sanders, W. L., & Rivers, J. C. (1996) menyatakan faktor terpenting yang memengaruhi prestasi peserta didik adalah guru, dan faktor yang dapat meningkatkan prestasi peserta didik adalah guru yang berpengetahuan dan terampil sehingga menelurkan siswa yang berprestasi baik.

Faktor lesunya minat baca rakyat Indonesia juga menjadi faktor pendidikan di Indonesia tertinggal. Bayangkan saja, dalam dunia literasi Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara, seperti dalam survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019.

Dalam catatan UNESCO bahkan lebih buruk lagi. UNESCO menyebut Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia di mana minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!

Fakta tersebut adalah pekerjaan rumah bagi para tenaga pendidik yang tidak rampung hingga sekarang. Para guru perlu tidak bosan mengajak anak muridnya rajin membaca. Transfer pengetahuan lewat pembelajaran membaca juga menjadi bagian dari tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan karakter. Dengan begitu, target pada 2045 mendatang, bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan negara Republik Indonesia, target memiliki generasi emas yang mampu membawa kebangkitan dan kemajuan negara bisa tercapai. Cita-cita para pendiri bangsa agar kita sejajar dengan bangsa-bangsa lain pun terwujud.

 

Sumber : Republika.co.id

- Bertanjak -
Bertanjak
- Pucuk Suku Nan Sepuluh -
Banner Pucuk Suku Nan Sepuluh
- Makna dan Arti Logo -
Banner makna Logo luhak kepenuhan
UMKM Negeri Beradat
UMKM Negeri Beradat
KAI Negeri Beradat
KAI Negeri Beradat
Gssb
Banner gssb
Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
New Poster Luhak Kepenuhan Beradat
Banner Ismail Datuk Montoi
Banner Ismail Datuk Montoi
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Petuah Ketua LAM Rohul
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Sambutan Ketua LKA Kepenuhan
Banner Ketua LKA Kepenuhan
Banner Ketua LKA Kepenuhan
Sekapur Sirih Mamak Sutan Kayo Moah
Banner Sekapur Sirih
Banner Sekapur Sirih
Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Banner Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Banner Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Add
Banner ADD
Banner ADD
One Day One Juz
Banner One Day One Juz
Banner One Day One Juz
Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur
Banner Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur
Banner Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur

POPULER

Banner Gerakan Negeri Beradat
Banner Gerakan Negeri Beradat
Banner Buku Super Quotion
Banner Buku Super Quotion
Banner Lam Kabupaten ROkan Hulu
Banner Lam Kabupaten ROkan Hulu
Banner LKA Kepenuhan
Banner LKA Kepenuhan