Home Opini Ramadhan di Masa Pandemi Momentum Bangun SDM Unggul

Ramadhan di Masa Pandemi Momentum Bangun SDM Unggul

76
Ramadhan di Masa Pandemi Momentum Bangun SDM Unggul

Ilustrasi Ramadhan Foto: Pixabay

 

Rabu 28 Apr 2021 15:09 WIB

Puaa adalah jalan pintas mendongkrak kualitas ketaqwaan seorang ataupun umat Muslim.

Oleh: Hasanuddin Wahid, Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Anggota Komisi X DPR-RI

Ibadah puasa Ramadhan adalah salah satu syariah Islam yang mengandung nilai spiritual tinggi sekaligus memiliki dimensi sosial yang sangat luas. Puasa, bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum sejak terbit matahari sampai terbenamnya.

Puasa mempunyai tujuan yang jauh dari pada itu, yaitu mendidik jiwa, membiasakan manusia mengalahkan hawa nafsu dan mengendalikan hawa nafsu, supaya menjadi manusia yang kuat dan sanggup mengatasi godaan atau kecenderungan hati untuk berbuat dosa, dan menghadapi segala sesuatu dengan penuh kesabaran.

Nilai spiritual yang tinggi
Ditilik dari aspek spiritual, puasa adalah jalan pintas untuk mendongkrak kualitas ketaqwaan seorang ataupun umat Muslim. Puasa adalah suatu proses yang dilakukan umat Muslim untuk menjadi manusia beriman dan bertaqwa secara sempurna (insan kamil).

Secara umum, puasa mempunyai tiga tingkatan yaitu puasa biasa, puasa khusus (khas) dan puasa sangat khusus (khawasul khawash). Puasa biasa adalah puasa yang dilakoni umat Muslim kebanyakan dalam bentuk menahan diri dari makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu.

Pada tingkat kedua adalah  puasa khusus. Puasa ini dilakoni dengan cara  menahan telinga, mata, lidah, tangan serta kaki dan juga anggota badan lainnya dari perbuatan maksiat. Sedangkan, pada tingkat ketiga, puasa sangat khusus (khawasul khawash) adalah puasa hati yang dihayati dengan cara menjaga hati dari lalai mengingat Allah SWT.

Selama sebulan penuh umat Muslim diminta tak hanya menahan lapar dan haus tetapi juga menjauhkan diri dari dosa. Selama puasa, umat Muslim diperintahkan untuk lebih menyadari kehadiran Allah dalam kehidupannya dan berusaha menjadi lebih fokus serta lebih banyak beribadah dibandingkan bulan-bulan lain. Dengan demikian, melalui ibadah puasa, umat Muslim berpeluang mengembangkan kehidupan spiritualnya dengan  memperkuat hubungannya dengan Allah SWT.

Dimensi sosial yang luas
Selain mempertebal nilai keimanan dan ketaqwaan (kehidupan spiritual), puasa juga memiliki dimensi sosial yang luas. Sejarah pun mencatat, puasa merupakan titik balik peradaban manusia. Setelah Nabi Muhammad SAW memperoleh pencerahan spiritual dalam peristiwa di Gua Hira, beliau mampu merombak tatanan sosial di masyarakatnya dan memberlakukan tatanan kehidupan sosial yang baru. Yakni sistem kehidupan yang egaliter dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan.

Dengan demikian, puasa adalah juga suatu peringatan sekaligus ajakan bagi seluruh umat manusia untuk bertobat dan berubah menjadi insan yang sempurna, yaitu insan yang egaliter, saling menghormati, dan menghargai, saling bekerja sama dan menjujung nilai kebenaran dan keadilan. Puasa memiliki makna sosial yang dalam karena dalam puasa umat Muslim tak hanya menahan nafsu makan dan minum, tetapi juga diminta untuk menahan amarah, fitnah, dan kata-kata kasar.

Puasa adalah juga momen untuk mengasah kecerdasan emosional, terutama kesabaran. Sebab, selama 30 hari umat Muslim berlatih menahan hawa nafsu, mulai dari sabar menahan lapar, haus, dan emosi negatif. Apabila seseorang berhasil belajar sabar, maka ia akan lebih tenang menjalani kehidupan dan lebih siap menjalin hubungan sosial serta bekerja sama dengan orang lain.

Membangunan Karakter
Salah satu manfaat penting dari puasa adalah membangun karakter dan perilaku yang lebih baik. Selama bulan umat Muslim diajak untuk mengurangi perilaku dan kebiasaan buruk, dan menggantikannya dengan kebiasaan baik. Ini adalah manfaat Puasa sebagai ajang pembangun karakter dan perilaku yang lebih baik.

Makna puasa yang demikian sangat urgen untuk konteks pendidikan Indonesia saat ini. Soalnya, pada masa belakangan ini, para orang tua, masyarakat bahkan pemerintah sendiri cukup gemas dengan dunia pendidikan kita yang tampaknya kurang berdaya melindungi  generasi muda kita, terutama mereka yang sedang duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi dari berbagai perilaku dan kebiasaan yang negatif.

Belakangan ini kita sering mendengar, membaca atau menonton berita dari berbagai saluran media perihal kasus penyalahgunaan narkoba, kekerasan seksual, aksi perundungan, perampokan, pembalakan bahkan aksi teror yang melibatkan orang muda. Kekhawatiran akan hal tersebut dipertegas hasil penelitian para ahli dan praktisi pendidikan mengenai proses pendidikan terutama tentang penanaman pendidikan karakter dalam diri generasi muda.

Doni Koesoema A. lewat bukunya “Pendidikan Karakter di Zaman Keblinger” (2016) menyatakan, dunia pendidikan kita terkendala oleh kondisi  karakter para pendidik juga. Jika kita simak laju teknologi dan informasi, tampak jelas bahwa kemampuan guru dalam mengaktualisasi diri dan memperbarui pengetahuan seringkali ketinggalan. Guru/Dosen menjadi pendidik yang keblinger sehingga kewalahan dalam mengembangkan karakter para peserta didik.

Sementara pakar pendidikan, I Ketut Sumarta menyatakan bahwa pendidikan nasional kita cenderung mengedepankan pembentukan intelegensi berpikir dan agak mengabaikan perihal pengembangan kecerdasan batin spiritual dan moral (akhlak), dan kecerdasan sosial.  Dari kondisi yang demikian, tak mengherankan apabila lembaga pendidikan melahirkan  orang-orang cerdas secara intelektual dan berketrampilan tinggi di bidangnya masing-masing, tetapi longgar dalam prinsip-prinsip moral (akhlak) dan kurang memiliki kepedulian sosial.

Menurut penulis, puasa adalah salah satu peluang emas untuk mengatasi, atau paling tidak mengurangi masalah tersebut. Sebab, selama masa puasa biasanya para orang tua dan komunitas Muslim berupaya optimal untuk menjadi teladan dalam menghayati sekaligus menanamkan/mewariskan kepada generasi yang lebih muda nilai-nilai keimanan, ibadah dan akhlakul karimah.

Jadi, melalui ibadah puasa sebetulnya umat Islam secara tidak langsung membantu dunia pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi serta para guru/dosen) menjalankan fungsi dan tanggung jawab pendidikan terhadap generasi muda. Melalui Puasa, umat Muslim berperan aktif mengemban fungsi pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan, menumbuhkan karakter dan peradaban bangsa yang bermartabat guna mencerdaskan kehidupan bangsa.

Melalui ibadah puasa, umat Muslim juga ikut aktif menghidupkan program ‘Merdeka Belajar’ yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bahkan, dengan menjalankan puasa umat Muslim pun ikut memperjuangkan tujuan pendidikan nasional yaitu “melahirkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” (UU No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas).

 

Hikmah Pandemi Covid-19
Tahun ini, untuk kedua kalinya umat Muslim menjalani ibadah puasa dalam suasana pandemi Covid-19. Dalam banyak hal, kondisi tersebut tentu tidak cukup kondusif bagi umat Islam melakukan berbagai kegiatan yang disyariatkan untuk mengisi bulan suci Ramadhan.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sendiri telah menerbitkan Surat Edaran untuk memberikan panduan beribadah yang sejalan dengan protokol kesehatan, sekaligus untuk mencegah, mengurangi penyebaran dan melindungi masyarakat dari risiko Covid-19. Sebagai panduan beribadah selama bulan suci Ramadhan Menteri Agama menyatakan agar pengurus masjid/mushola dapat menyelenggarakan kegiatan ibadah seperti sholat fardu lima waktu, sholat tarawih dan witir, tadarus Alquran, dan iktikaf dengan pembatasan jumlah kehadiran paling banyak 50 persen dari kapasitas masjid/mushola. Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, menjaga jarak aman satu meter antarjamaah, dan setiap jamaah membawa sajadah/mukena masing-masing.

Meski dijalankan dalam panduan protokol kesehatan yang ketat, tentu saja makna dan manfaat puasa tidak akan berkurang. Sebaliknya, ibadah puasa tetap menjadi jalan pintas untuk mengasah kehidupan spiritual.

Puasa juga tetap menjadi kesempatan untuk mengasah kecerdesan emosional dan sosial. Dan tentu saja Puasa juga tetap berfungsi sebagai ajang pembangunan karakter, terutama para generasi muda. Jadi, ibadah puasa, walau berlangsung di tengah pandemi Covid-19, tetap menjadi cara dan kesempatan emas bagi umat Muslim untuk mewujudkan program ‘Merdeka Belajar” sebagai sebuah solusi pendidikan untuk menghasilkan SDM Indonesia yang unggul.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID, 

- Bertanjak -
Bertanjak
- Pucuk Suku Nan Sepuluh -
Banner Pucuk Suku Nan Sepuluh
- Makna dan Arti Logo -
Banner makna Logo luhak kepenuhan
UMKM Negeri Beradat
UMKM Negeri Beradat
KAI Negeri Beradat
KAI Negeri Beradat
Gssb
Banner gssb
Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
New Poster Luhak Kepenuhan Beradat
Banner Ismail Datuk Montoi
Banner Ismail Datuk Montoi
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Petuah Ketua LAM Rohul
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Sambutan Ketua LKA Kepenuhan
Banner Ketua LKA Kepenuhan
Banner Ketua LKA Kepenuhan
Sekapur Sirih Mamak Sutan Kayo Moah
Banner Sekapur Sirih
Banner Sekapur Sirih
Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Banner Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Banner Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Add
Banner ADD
Banner ADD
One Day One Juz
Banner One Day One Juz
Banner One Day One Juz
Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur
Banner Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur
Banner Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur
Banner Gerakan Negeri Beradat
Banner Gerakan Negeri Beradat
Banner Buku Super Quotion
Banner Buku Super Quotion
Banner Lam Kabupaten ROkan Hulu
Banner Lam Kabupaten ROkan Hulu
Banner LKA Kepenuhan
Banner LKA Kepenuhan