Home Opini Nuzulul Quran dan Budaya Literasi

Nuzulul Quran dan Budaya Literasi

253
Nuzulul Quran dan Budaya Literasi

 

11 Apr 2023, 03:30 WIB

Dakwah Islam harus memberikan edukasi untuk penguatan budaya dan tradisi literasi yang semakin baik.

Oleh JAENAL SARIFUDIN

Salah satu di antara keagungan bulan suci Ramadhan adalah karena pada bulan inilah kitab suci Alquran diturunkan. "Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelasan dari petunjuk itu serta sebagai pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (QS al-Baqarah [2]: 185).

Peristiwa agung ini dikenal dan dikenang dengan sebutan Nuzulul Quran. Diceritakan dalam sejarah bahwa pada suatu malam saat Nabi Muhammad SAW menyendiri (tahannuts) di gua Hira, datanglah malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama, yakni surah al-‘Alaq [96]: 1-5.

Peristiwa ini menurut Ibn Ishaq (wafat 150 H) terjadi pada malam Jumat tanggal 17 Ramadhan. Ibn Ishaq mendasarkan pendapatnya pada tafsir surah al-Anfal [8]: 41, “Jika kalian beriman kepada Allah dan terhadap apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari furqan (hari diturunkannya Alquran), yaitu hari bertemunya dua pasukan."

Hari bertemunya dua pasukan yang dimaksud merujuk pada peristiwa perang Badar yang terjadi pada hari Jumat 17 Ramadhan. Ibn Ishaq kemudian menyimpulkan bahwa hari dan tanggal pertama kali turunnya wahyu Alquran dan peristiwa perang Badar adalah sama: Jumat tanggal 17 Ramadan, meskipun berbeda tahunnya.

Pendapat Ibn Ishaq inilah yang kemudian dinukil dan dipopulerkan oleh banyak penulis buku sejarah Islam dari masa ke masa, seolah menjadi pendapat tunggal. Meski di sisi lain sesungguhnya ada pendapat berbeda.

Kalimat wahyu pertama adalah iqra yang bermakna perintah membaca.

Kalimat wahyu pertama adalah iqra yang bermakna perintah membaca. Hal ini menegaskan bahwa agama sesungguhnya sangat mendorong umatnya untuk rajin membaca dan menelaah. Membaca adalah jembatan ilmu dan jendela dunia.

Menurut para ulama ahli tafsir, makna iqra (bacalah) pada ayat ini sangatlah luas. Selain perintah membaca firman Allah SWT yang termaktub dalam Alquran, juga mencakup pengertian membaca dalam arti luas.

Membaca tulisan dan buku yang menjadi sumber informasi dan ilmu, juga “membaca” semesta ciptaan-Nya sebagai bagian dari ayat kauniyah sebagai sumber beragam ilmu pengetahuan dan hikmah.

Agama mengajarkan umatnya untuk meraih kebahagiaan hidup dunia akhirat. Jembatan untuk meraih kebahagiaan itu salah satunya dengan ilmu pengetahuan.

Membaca semesta ayat yang terbentang di alam raya ini adalah bagian dari perintah Allah SWT. Aktivitas membaca, mengamati, meneliti, dan tadabbur ini hendaklah dilakukan dalam bingkai asma Allah (bismi rabbik), sehingga akan membuahkan bertambahnya keimanan kepada Sang Pencipta. Di sisi lain juga akan mengantarkan manusia meniti peradaban yang tinggi.

Agama mengajarkan umatnya untuk meraih kebahagiaan hidup dunia akhirat. Jembatan untuk meraih kebahagiaan itu salah satunya dengan ilmu pengetahuan. Membaca adalah hal yang paling mendasar sebagai cara manusia memperoleh ilmu pengetahuan.

Melalui budaya literasi yang baik, umat akan memiliki kekuatan ilmu pengetahuan dan mampu mencapai peradaban gemilang. Maka pada hakikatnya budaya literasi adalah salah satu misi suci profetik, yaitu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya (liyukhrijahum minazhzhulumati ilannur). Kebodohan adalah sebuah situasi kegelapan dan ilmu adalah cahayanya.

Maka pada hakikatnya budaya literasi adalah salah satu misi suci profetik, yaitu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya

Adalah sebuah realitas yang memprihatinkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Hal inilah yang sering menjadi sebab berbagai problem sosial di tengah umat.

Kebodohan, sikap intoleran, radikalisme, dan kesalahan dalam mencerna informasi yang beredar adalah di antara contohnya. Di sisi lain juga masih mudahnya masyarakat terpengaruh oleh berita-berita hoaks yang tidak jelas sumbernya.

Penguatan budaya literasi menjadi niscaya untuk dilakukan di tengah umat. Apalagi di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan masyarakat mendapatkan pengetahuan secara instan.

Kemajuan teknologi informasi telah memberikan banyak kemudahan bagi manusia. Namun disadari atau tidak, ada dampak negatif jika tidak dibarengi dengan kearifan, yaitu kemalasan untuk membaca buku dan literatur yang standar. Juga begitu banyak waktu yang dihabiskan untuk berselancar di media sosial.

Banyak yang mencukupkan diri dengan pengetahuan yang bersumber dari media sosial. Padahal idak selalu dapat diverifikasi kesahihannya. Dakwah Islam harus memberikan edukasi untuk penguatan budaya dan tradisi literasi yang semakin baik.

 

Sumber : REPUBLIKA.ID

- Bertanjak -
Bertanjak
- Pucuk Suku Nan Sepuluh -
Banner Pucuk Suku Nan Sepuluh
- Makna dan Arti Logo -
Banner makna Logo luhak kepenuhan
UMKM Negeri Beradat
UMKM Negeri Beradat
KAI Negeri Beradat
KAI Negeri Beradat
Gssb
Banner gssb
Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
New Poster Luhak Kepenuhan Beradat
Banner Ismail Datuk Montoi
Banner Ismail Datuk Montoi
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Petuah Ketua LAM Rohul
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Banner Petuah Ketua Lam Rohul
Sambutan Ketua LKA Kepenuhan
Banner Ketua LKA Kepenuhan
Banner Ketua LKA Kepenuhan
Sekapur Sirih Mamak Sutan Kayo Moah
Banner Sekapur Sirih
Banner Sekapur Sirih
Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Banner Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Banner Buku Luhak Kepenuhan Negeri Beradat
Add
Banner ADD
Banner ADD
One Day One Juz
Banner One Day One Juz
Banner One Day One Juz
Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur
Banner Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur
Banner Rumah Tahfidz Kepenuhan Timur

POPULER

Banner Gerakan Negeri Beradat
Banner Gerakan Negeri Beradat
Banner Buku Super Quotion
Banner Buku Super Quotion
Banner Lam Kabupaten ROkan Hulu
Banner Lam Kabupaten ROkan Hulu
Banner LKA Kepenuhan
Banner LKA Kepenuhan